NovelToon NovelToon
Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Christina De'audea

Novel Wanita - Anak Genius

Bagaimana jika anakmu menganggapmu sebagai seorang Kakek baginya hingga memanggilmu dengan sebutan Opa muda ??

Belva Evanthe (17) seorang pelajar dan pembantu rumah tangga. Belva diperkosa hingga hamil oleh Aryasatya Balakosa (40) seorang CEO arogan dan dingin sekaligus majikan Belva. Waktu tengah malam saat majikannya pulang dalam keadaan mabuk, di malam yang sama juga Belva di jebak dengan minuman bercampur obat perangsang.

Kejadian itu terjadi di rumah Satya tepatnya di kamar Satya. Saat itu Belva membuka pintu dan membantu majikan nya masuk ke dalam kamar Satya.

Hal itu terjadi karena dalam kondisi mabuk Satya mengira Belva adalah Sonia istrinya. Sedangkan Belva sudah mulai merasakan efek dari obat perangsang yang diberikan oleh Alya dan tak sengaja diminumnya. Rasa iri dan dendam membuat Alya berbuat jahat pada Belva.

Peristiwa kelam itu membuat Belva mendapatkan fitnah dan diusir dari rumah. Sempat berada dititik terendah memutuskan untuk bunuh diri. Namun, kehidupan nya tak berhenti sampai di situ. Belva tak meninggal justru diselamatkan oleh seseorang hingga diangkat anak oleh Tuan Hector. Sampai melahirkan anak-anak yang genius. Dan kedua anak itu justru memanggil ayah kandung nya dengan sebutan Opa muda.

Rintangan demi rintangan dalam kehidupan nya selalu dilaluinya bersama kedua anak kembar nya untuk mencapai sebuah harapan yaitu kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christina De'audea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Bertemu Alya 1

Hector Group tak kalah jauh besarnya dengan Bala Corp. Yang membedakan adalah pemimpinnya yang terkesan ramah dan baik hati. Tuan Hector selalu dengan senang hati menyambut sapaan para karyawannya. Menurutnya, mereka adalah orang-orang yang sama hebatnya dengan para petinggi yang lain. Jika tidak ada mereka apakah ia bisa berdiri di atas seperti saat ini ? Tentu saja tidak. Pemikiran yang begitu rendah hati, tidak membedakan dan merendahkan kemampuan orang lain.

Kebaikan hati pemilik Hector Group itu selalu terlihat di mata para karyawannya. Mereka semua merasakan bagaimana bos mereka itu bersikap baik terhadap mereka. Contohnya saja karyawan yang bisa dibilang oleh banyak orang dengan jenjang pekerjaan terendah di sebuah perusahaan besar seperti OB saja, pria tua itu tak risih dan sungkan untuk bercengkrama.

Seperti saat ini, setelah sampai di kantor ia lebih memilih untuk menatap taman kantornya yang ditata rapi sedemikian rupa agar para karyawan dan pengunjung kantor merasa nyaman.

"Sibuk mas ?" Sapa Tuan Hector pada seorang OB dengan usia yang masih sangat muda.

"Eh Tuan... Biasa ini pekerjaan setiap harinya." Jawab OB tersebut dengan senyumnya.

Semua karyawan yang ada di Hector Group tidak merasa canggung jika bercengkrama dengan bos besar itu. Tapi meski begitu mereka tetap menjaga jarak, kesadaran diri akan tingkat status mereka. Mereka tetap sopan dan menghormati atasan mereka.

Tuan Hector tersenyum menanggapi ucapan OB muda tersebut. "Sudah berapa bulan kerja di sini ?"

"Baru 6 bulan tuan." OB itu menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menjawab pertanyaan bos besarnya.

"Masih lumayan baru. Kamu masih muda baru lulus sekolah ?"

"Iya Tuan, lulus SMA langsung daftar kerja di sini begitu ada lowongan."

"Tidak melanjutkan kuliah ?"

"Emm... Tidak. Mau membantu keluarga saja daripada uangnya digunakan untuk membayar kuliah." Senyum OB itu tertarik sedikit lebar saat mengatakan itu. Ia merasa sedikit malu karena lebih memilih bekerja ketimbang melanjutkan kuliah.

"Tapi ada keinginan untuk melanjutkan atau tidak ?"

"Sebenarnya ada keinginan tapi perekenomian tidak mendukung Tuan hehe."

"Hahaha... Kamu masih muda, jika punya keinginan, wujudkan saja tidak usah ragu dan takut. Selama ada keinginan dan niat pasti ada jalan." Nasehat yang diberikan Tuan Hector pada karyawan OB nya.

Baru asik bercengkrama dengan karyawan muda itu, Roichi datang untuk memanggil tuannya. Ada hal penting yang hendak disampaikan olehnya saat ini.

"Permisi Tuan, bisa kita bicara sebentar ?" Ijin Roichi yang merasa mengganggu pembicaraan tuannya. Tuan Hector menoleh ke arah asistennya demikian juga sang OB muda itu menatap sekilas pada Roichi.

"Baiklah kita ke ruangan." Jawab Tuan Hector. Roichi masih menunggu bosnya beranjak dari tempatnya berdiri.

"Bekerjalah dengan benar. Berikan yang terbaik atas pekerjaanmu. Perusahaan ini selalu menghargai mereka yang loyal kepada kami. Jika kinerjamu bagus, tidak menutup kemungkinan kamu bisa melanjutkan pendidikanmu Nak." Tepukan semangat diberikan pada bahu OB itu.

"Siap Tuan. Terimakasih atas nasehatnya." OB itu tersenyum, ia merasa senang dan bersemangat saat dukungan ia dapatkan dari seorang yang begitu besar di perusahaan tempatnya bekerja.

"Semangat !!" Tuang Hector mengangkat tangan seperti seseorang yang hendak menunjukkan otot bisepnya.

"Lanjutkan pekerjaanmu, semoga kita bertemu lagi di lain waktu."

OB muda itu mengangguk, Roichi tersenyum saat melihat interaksi tuanya dengan karyawannya. Ia bangga pada bosnya yang begitu baik terhadap semua orang. Tuan Hector berlalu dari tempat itu menuju ruangannya, di barengi oleh Roichi.

"Ada apa Roi ?" Tanya Tuan Hector saat sudah duduk di ruang kerjanya.

"Felix mengatakan jika ada perusahaan baru yang mengajukan kerjasama dengan kita tuan."

"Perusahaan baru ? Siapa ? Apa kamu sudah mengetahui perusahaan itu ?"

"Memang baru bagi perusahaan kita Tuan tapi kita pernah bertemu dengan mereka sebelumnya."

Penuturan Roichi membuat Tuan Hector mengerutkan pusat dahinya. Menuntun penjelasan lebih lanjut dari sang asisten, dan Roichi pun paham akan hal itu.

"Perusahaan itu adalah Bala Corp. Perusahaan yang waktu lalu pernah mengikuti tender Mega proyek waktu lalu. Bahkan CEO dari Bala Corp pun mengucapkan selamat pada Tuan tanpa berjabat tangan."

Tuan Hector sedikit berpikir dan mengingat-ingat pertemuan dalam tender Mega proyek beberapa waktu lalu.

"Oh iya... Iya... Roi aku mengingatnya. Pria yang tampak sekali ketegasannya."

"Berikan proposalnya padaku Roi."

"Baik Tuan, saya akan ambil proposal itu dari Felix."

Roichi berdiri lalu keluar ruangan mengambil proposal yang dimaksud dari Bala Corp. Ia pun tampak berpikir mengapa perusahaan itu melakukan kerjasama dengan mereka. Setahu mereka perusahaan itu juga bergerak di bidang yang sama. Apakah ada proyek yang membutuhkan dua perusahaan properti ? Atau ada hal yang lain, Roichi pun belum mengetahui dengan jelas.

****

Beberapa hari Belva menjaga dan menemani budhe Rohimah. Masih saja belum ada perubahan, doa ibu muda itu tak pernah putus untuk kesembuhan dan kepulihan orang tersayangnya. Berharap semua doa dan harapannya dikabulkan oleh sang pencipta.

Di waktu jam besuk, Belva masuk ke dalam ruangan budhe Rohimah. Karena wanita renta itu berada di ruangan ICU karena kondisinya yang masih belum sadarkan diri.

"Budhe... Ayo bangun, Belva rindu. Apa budhe tidak merindukanku ? Apa budhe tidak bisa mendengarkanku ? Duo Kay bahkan mereka selalu ikut mendoakan kesembuhan Uti mereka."

Air mata Belva mengalir setiap kali belum mendapatkan respon apapun dari keluarga kandung satu-satunya itu. Ia terus mencurahkan perasaannya melalui air mata.

Tak jarang mata itu selalu terlihat bengkak saat pulang ke rumah.

Ditatap lekat wajah budhe Rohimah, wajah pucat itu masih sama seperti hari-hari kemarin. Pergerakan kecil dari kelopak mata Budhe Rohimah tertangkap oleh tatapan mata Belva. Sontak wanita itu terkejut, sedikit melebarkan kelopak matanya untuk memastikan apakah yang dilihatnya benar atau tidak.

Jari kelingking Budhe Rohimah bergerak-gerak, Belva melihat itu dan ia semakin yakin jika memang budhenya menunjukkan perkembangan lebih baik. Harapan itu sepertinya akan terwujud atas kesadaran Budhenya.

"Budhe..." Lirih Belva bahkan suaranya hampir tak terdengar.

Ia masih melihat bagaimana perkembangan Budhenya. Pergerakan itu semakin lama semakin terlihat, kelopak mata itu perlahan mengerjap. Sayu menatap langit-langit, Belva merasa haru dan antusias atas kesadaran Budhenya.

"Budhe sadar ? Tanya Belva tanpa sadar.

"Iya Budhe sadar. Dokter... Aku harus memanggil dokter." Gumam Belva.

Wanita cantik itu keluar dari ruangan khusus itu dan memanggil perawat dengan semangat.

"Suster... Suster... Budhe saya sudah sadar. Tolong periksa dia sus."

"Baik Nona tunggu sebentar saya panggil dokter terlebih dahulu."

Suster dengan gerak cepat memanggil dokter yang menangani Budhe Rohimah. Mereka berlari menuju ruangan khusus itu. Belva menunggu di luar ruangan.

"Bagaimana dokter ?" Tanya Belva saat dokter keluar ruangan.

Dokter tersebut tersenyum menatap Belva. Tampaknya kabar baik yang akan Belva dengar.

"Pasien sudah sadar, kami akan memindahkannya ke ruangan rawat."

"Haahh... Syukurlah. Semua baik-baik saja kan dok ?"

"Kita akan lihat nanti lebih lanjut, bagaimana reaksi pasien setelah sadar nanti. Kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja."

Dokter tahu apa yang dipikirkan oleh Belva. Sakit yang dialami Budhe Rohimah membuat Belva memiliki kekhawatiran tersendiri.

Dalam hati kembali dilanda rasa khawatir. Takut jika benturan di kepala budhe membuatnya hilang ingatan. Sungguh Belva tak menginginkan itu, ia baru saja bertemu dengan budhenya. Tak mau jika pertemuan itu akan membuat budhenya syok kembali dalam keadaan budhenya yang baru saja sadar.

Brangkar yang menampung tubuh lemah itu sudah didorong oleh para perawat. Belva mengikuti mereka hingga ke ruangan rawat. Budhe Rohimah masih terbaring lemah, beberapa hari tertidur membuatnya belum bisa bergerak dengan bebas. Tubuhnya terasa tak nyaman.

"Budhe..." Panggil Belva dengan lembut.

Wanita yang masih terbaring lemah itu menatap Belva dengan pandangan lemah. Ia belum mengeluarkan suaranya saat dirinya dipanggil.

Hati Belva merasa cemas, jantungnya berdebar menunggu reaksi budhenya. Dokter dan perawat pun masih berdiri di dekat budhe Rohimah dan menanti respon pasiennya mereka itu.

"Nduk..." Jawab Budhe Rohimah lirih.

Mata Belva melebar dan berkaca-kaca, senyum di bibirnya tertarik semakin lebar. Budhenya baik-baik saja setelah sadar. Itu yang diharapkan oleh Belva.

Dokter dan perawat yang mendengar respon pasiennya masih terdiam untuk memantau lebih lanjut.

"Nyonya... Apa yang anda rasakan ? Anda bisa mengingat siapa nona ini ?" Tanya dokter untuk memastikan.

Budhe Rohimah mengangguk lemah serta menjawab apa yang ia rasakan. "Pusing."

"Budhe... Budhe ingat denganku ?" Belva kembali memastikan agar dirinya benar-benar yakin.

"Tentu saja, keponakanku satu-satunya."

"Budhe... Terimakasih." Hati Belva sangat bahagia. Ia menghambur memeluk Budhenya. Matanya yang telah berkaca-kaca sudah melelahkan air mata yang sudah terbendung sejak tadi.

Dokter dan perawat, mereka merasa lega. Mereka pun ikut tersenyum melihat pasien baik-baik saja.

"Maaf Nona, pasien masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat." Dokter memberikan peringatan dengan sopan dan lembut.

"Ah iya... Maaf dokter. Lalu kira-kira kapan budhe saya bisa sembuh total dan bisa pulang ?"

"Itu tergantung dari semangat yang dimiliki pasien. Jika dia memiliki semangat untuk sembuh, maka secepatnya bisa pulih kembali dan bisa segera pulang. Lukanya juga sudah mulai mengering. Nanti mungkin hanya perlu sering kontrol saja untuk lukanya." Dokter menjelaskan karena memang budhe Rohimah sudah tidak terlalu parah lagi. Kesadarannya sudah kembali, bahkan selama dalam keadaan koma saja wanita tua itu kesehatannya masih stabil.

"Baiklah. Terima kasih dokter atas bantuannya." Senyum lembut Belva berikan pada dokter tampan itu.

Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki ketertarikan pada wanita tentu dia merasa senang dengan senyum yang Belva berikan. Perempuan itu masih muda dan cantik, dia belum mengetahui saja jika Belva sudah memiliki dua ekor saat ini.

"Emm... Ya sama-sama Nona. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Ucap dokter tersebut dengan sedikit grogi. Belva hanya tersenyum menanggapi pamitan sang dokter.

Setelah kepergian dokter dan perawat. Belva menggeret kursi untuk duduk di samping ranjang budhe Rohimah. Ia mengusap lembut lengan budhenya dengan lembut dan sayang. Merasa bersyukur akan harapan yang selalu dipanjatkan dalam setiap doanya agar budhenya segera sadar.

"Budhe.... Istirahatlah. Segeralah pulih agar budhe bisa pulang, bisa sehat kembali. Sudah terlalu lama budhe tinggal di tempat ini."

"Iya Nduk."

Belva membiarkan Budhenya berisitirahat meski wanita paruh baya itu merasa tubuhnya tak nyaman. Tulang-tulangnya berasa remuk karena tertidur beberapa hari. Ia bergerak lemah dan terlihat tidak nyaman. Belva menyadari itu dan pertanyaan yang diberikan pada Budhenya berakhir dengan pijatan lembut untuk budhe Rohimah agar wanita yang mulai renta itu bisa beristirahat dengan nyaman.

Belva sangat telaten dalam merawat budhe Rohimah. Bahkan ia sering menghabiskan waktunya untuk menjaga di rumah sakit. Pekerjaannya di kerjakan di dalam ruang perawatan agar bisa sekalian menjaga Budhenya.

Kabar sadarnya budhe Rohimah diketahui oleh Pak Jajak dan Mbok Yati. Mereka bergantian datang menjenguk saat Alya pergi. Mereka harus pintar-pintar memanfaatkan waktu dan saling bekerjasama agar bisa menjenguk Budhe Rohimah.

Keluarga angkat Belva pun juga mendengar kabar baik itu. Mereka juga turut membantu Belva dalam menjaga keluarga kandung satu-satunya milik Belva.

Beberapa hari berlalu, kini Pak Jajak memiliki kesempatan lebih lama untuk mengunjungi teman kerjanya itu. Dengan bantuan Mbok Yati, ia bisa berada di rumah sakit karena Alya sedang pergi bersama Jack pria yang menjadi kekasihnya. Selama budhe Rohimah sakit hingga beberapa minggu saja perempuan itu tampak tak perduli sama sekali. Menjengkuk pun tidak pernah, benar-benar hatinya sangat jahat.

"Bi Imah... Bagaimana keadaanmu saat ini. Apa masih ada yang sakit ?" Tanya Pak Jajak.

"Jak... Aku sudah membaik. Hanya kepalaku saja yang masih terasa sakit dan terkadang pusing."

"Banyak-banyaklah berisitirahat agar cepat sembuh dan cepat kembali. Kita bisa bekerja bersama kembali Bi."

"Aku tidak tahu Jak, masih melanjutkan bekerja di sana atau tidak." Budhe Rohimah tampak murung. Ia mengingat bagaimana kelakuan Alya dan sikap perempuan itu padanya.

Pak Jajak mengernyitkan dahinya, sudah lama dia ingin menanyakan hal ini pada teman kerjanya itu.

"Bi... Sebenarnya apa yang terjadi ? Ceritakan padaku, kita sudah berteman sangat lama."

"Kecelakaan Bi Imah apa ada hubungannya dengan Non Alya ? Aku curiga jika ada yang tidak beres Bi." Imbuh Pak Jajak yang hendak mengorek informasi dari budhe Rohimah atas kecelakaan yang terjadi pada wanita tua itu.

"Jak, apa kamu bisa kupercaya ?" Tanya Bi Imah dengan serius.

"Tentu saja bisa. Apa yang terjadi katakan padaku."

"Jangan katakan pada siapapun Jak apalagi pada Belva. Aku tak ingin semua jadi lebih kacau." Pak Jajak hanya mengangguk saat budhe Rohimah mengatakan itu.

"Kamu tahu kejadian beberapa tahun yang lalu pada Belva ?" Kembali Pak Jajak mengangguk, memang pria paruh baya itu tahu bagaimana kejadian itu. Tapi dia tak tahu yang sebenarnya terjadi pada Belva yang dia tahu hanya keributan dan pengusiran karena Belva telah menggoda tuanya.

Pak Jajak pun tak menyangka jika Belva berani menggoda Satya bahkan dia sedikit tak percaya akan hal itu tapi mau bagaimana lagi itulah yang dia dengarkan dan ketahui.

"Yang neng Belva diusir karena telah menggoda tuan ?"

Budhe Rohimah menggelengkan kepala. "Tidak Jak... Aku tahu bagaimana keponakanku, aku percaya dia tidak pernah melakukan hal tak bermoral itu. Dan keyakinanku benar adanya. Belva tak pernah menggoda Tuan Satya. Non Alya lah yang menjebak Belva hingga semua itu terjadi. Kasihan keponakanku dia diperlakukan dengan buruk, dijebak hingga difitnah dan akhirnya diusir dari rumah."

Mata Budhe Rohimah berkaca-kaca hingga melelehkan air mata. Mengingat semua hal yang Belva alami hingga keponakannya yang sangat disayanginya itu harus menderita akibat ulah anak majikannya.

Pak Jajak melebarkan kelopak matanya hingga alisnya terangkat naik. Ia terkejut akan penuturan dari budhe Rohimah atas kejadian yang menimpa Belva.

"Apa benar itu Bi Imah ? Kenapa non Alya melakukan hal itu pada neng Belva." Pak Jajak masih merasa tak percaya jika Alya tega melakukan hal itu padanya.

"Aku tidak mengarang ataupun berbohong Jak. Aku mendengar semuanya sendiri dari pembicaraan Nyonya dan Non Alya waktu itu saat Belva dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Saat itu Nyonya mendapatkan panggilan pemeriksaan di kantor polisi atas kematian Belva saat itulah Nyonya yang membereskan segala permasalahan yang terjadi pada Belva hingga awal mula kejahatan Non Alya tak lagi tercium."

Budhe Rohimah menghela nafas dan terdiam sejenak. Begitupun Pak Jajak, pria itu mengolah setiap cerita yang disampaikan oleh teman kerjanya selama ini. Budhe Rohimah orang yang jujur dan baik untuk hal seperti ini apakah masih bisa dia meragukan kebenarannya.

"Waktu itu bukankah neng Belva diusir dalam keadaan hamil Bi ?" Tanya Pak Jajak.

"Iya itu benar. Nyonya tidak ingin jika Tuan Satya tahu kalau Belva sedang mengandung anaknya. Maka dari itu mereka mengusir Belva bahkan ingin membunuh keponakanku yang malang. Dan apa yang terjadi padaku itu karena non Alya mencurigaiku atas rencananya yang ingin mencelakai Belva. Ia tahu jika Belva masih hidup bersama anak-anaknya."

"Anak-anaknya ? Maksud Bibi ?" Tanya Pak Jajak masih belum memproses kata-kata itu.

"Belva memiliki anak kembar." Jawaban singkat budhe Rohimah membuat Pak Jajak kembali melebarkan matanya.

"Itu... Itu... Anak Tuan ?" Tanya Pak Jajak memastikan. Dan Budhe Rohimah mengangguk. "Tapi kamu jangan mengatakan pada siapapun Jak. Tolong bantu aku agar keponakanku tetap aman bersama anak-anaknya. Sepertinya Nyonya belum mengentahui hal ini. Aku mohon."

Wajah budhe Rohimah terlihat sangat memohon dan memelas. Ia takut jika nanti akan ada yang mengetahui posisi Belva dan akan semakin membahayakan keponakan yang telah dianggapnya anak dan kedua cucunya itu.

"Iya Bi... Pasti Bibi tenang saja aku akan merahasiakan ini. Kasihan sekali neng Belva kenapa Non Alya tega sekali berbuat keji seperti itu. Apa salah neng Belva bukannya mereka dulu berteman sangat dekat ?"

"Entahlah aku juga tidak tahu kenapa Non Alya tega pada Belva." Sahut Budhe Rohimah.

"Jadi yang membuat Bi Imah kecelakaan seperti ini juga ulah Non Alya ?" Pertanya yang sangat diyakini oleh Pak Jajak jika memang semua itu terjadi karena ulah Alya karena pria itu curiga terhadap sikap Alya.

"Iya saat itu ia berniat akan mengurungku di gudang belakang. Aku takut Jak di sana kamu tahu banyak sekali ular dan hewan-hewan yang lain. Aku memberontak hingga terpeleset dan Non Alya juga sedikit mendorongku karena aku perpegangan padanya hingga aku terjatuh."

"Astaga... Jadi benar Bi Imah jatuh karena ulah Non Alya. Aku tak menyangka ia sejahat itu."

"Budhe... Benar yang kalian bicarakan ? Jika kecelakaan ini terjadi karena ulah Alya ?" Belva tiba-tiba masuk ke dalam ruangan budhe Rohimah. Ia mendengar pembicaraan kedua paruh baya tersebut saat akan memasuki ruangan rawat itu.

Pak Jajak dan Budhe Rohimah sama-sama menoleh pada Belva yang tiba-tiba saja bersuara mengagetkan keduanya.

"Nduk... Sejak kapan kamu datang ?" Tanya Budhe Rohimah. Ia terkejut, sebenarnya tak menginginkan jika hal ini diketahui oleh Belva karena ia tak mau jika akan membuat Belva bertemu dengan Alya.

"Katakan padaku Budhe. Benarkah itu ?" Raut wajah Belva terlihat sangat serius dan marah. Budhe Rohimah tak pernah melihat wajah keponakannya seperti itu.

"Bukan begitu Nduk... Budhe..." Kalimat budhe Rohimah terpotong oleh kalimat panjang lebar dari Belva.

"Budhe membela perempuan jahat itu ? Apa budhe tak tahu bagaimana aku mengkhawatirkan budhe. Sejak kejadian yang tak pernah aku lakukan dengan sadar itu aku sudah merasa bersalah pada budhe. Sejak aku pergi meninggalkan rumah itu aku selalu memikirkan budhe, hanya budhe keluargaku satu-satunya. Dan setelah kita bertemu kembali, belum lama budhe kecelakaan itu membuatku sangat sedih. Semua itu ulah Alya tapi budhe mau menutupinya dariku ?" Air mata Belva mengalir saking menahan emosinya karena ulah Alya. Suara yang biasa terdengar lembut itu kini sedikit meninggi.

"Tenang neng... Tenang. Budhemu baru saja sembuh jangan seperti ini." Pak Jajak menenangkan Belva yang terlihat meluapkan emosinya. Belva menghela nafas panjang, serta memejamkan matanya. Meredam luapan emosinya.

"Maaf Pak... Budhe maafkan aku. Aku hanya tak bisa lagi berdiam diri saat tahu wanita jahat itu tidak hanya menyakitiku tapi juga menyakiti Budhe." Suara Belva sedikit melunak.

"Budhe beristirahatlah. Aku membawakan makanan untukmu." Perintah Belva dengan lembut. Budhe Rohimah hanya mengangguk, ia merasa Belva sudah tak membahas lagi masalahnya dengan Alya.

"Ya sudah Bi... Aku harus pulang, besok Mbok Yati yang akan bergantian menjenguk. Cepatlah sembuh." Pak Jajak berpamitan pada budhe Rohimah.

Pria itu juga berpamitan pada Belva dan Belva mengantar Pak Jajak hingga depan pintu rawat inap.

"Budhe mau makan sekarang ?" Tanya Belva.

"Tidak, budhe masih kenyang. Budhe merindukan duo Kay Nduk."

"Sabar Budhe, cepatlah sembuh agar kalian bisa bertemu. Maaf aku tak bisa membawa duo Kay ke sini karena di sini banyak berbagai macam penyakit tidak baik untuk anak-anak."

"Iya Nduk... Budhe paham. Budhe tidur dulu."

****

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

Terimakasih buat para reader setia.

Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.

Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys 🙏

1
Ubie Rabiatul
saudara tiri
Ubie Rabiatul
ya, td x AQ berharap Belva melawan Sonya
Ubie Rabiatul
kok gak lapor polisi
Arwondo Arni
anak siwi ikut bpknya pastinya kan
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
semangat Thor.. akhirnya mereka bahagia juga tanpa gangguan orang ketiga
Nor Azlin
lama banget thor aku mengikuyi nya denhan sabar ...itung2 ada ngak sambungan nya yah kerana aku merasa cweitanya tergantung gitu yah.. semoga kesinambunhan nya lho thor 😁😁😂😂lanjutkan thor
Haninah Nina
cerita nya kurang bagus karna cerita nya ga ada ending nya
Wawa sakura Lavender
masih gantung macam kena hukuman gantung mandatori dan juga masih tenggelam belum juga timbul.
Obie Agoes Arra
siap nunggu thor
Titik Supadmi
next thor... sy msh setia menunggu thor...👍👍👍👍💪💪
Nor Azlin
aku akan setia thor kerana penasaran sama dengan kesudahan nya biar lama enggak up nya tetap aku tunggu deh ...kerana kita tau umum nya para author juga ada kehidupan & pekerjaan nyatanya juga sama kayak aku pembaca setia mu😄😄😄 jadi lanjutkan aja thor sekuramg2nya biar anak2 sampai besar remaja gitu kali yah itu terpulang pada author nya apa mau ditamatkan terus atau pun tidak itu hak nya author deh ...tapi menurut aku biar lah sampai tau siapa laki2 yang menghamili si siwi deh biar titik terang pada teka teki yang author berikan ini lho😄😄😄 kalau masih diteruskan sampai anak2 nya saya sama belva besar pun ok aja deh...semangat thor nulisnya
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
gmn tu reaksi Siwi pasti marah besar... tapi aku masih penasaran siapa sih yang tidur dengan Siwi sampai dia hamil
Jelita S
lanjut thor tpi jgn lama up nya
Osie
sumpeh sampe lupa aku ama alur ceeutanya sanking lama g up...ini seblm baca kudu scrol keatas dl baca bbrp bab biar nyambung
Eridha Dewi
anak nya siwi anaknya siapa thor, kok gak terungkap ungkap
Titik Supadmi
next thor... jgn lama ya thor... sampai lupa alur ceritanya... 😁😁😁
Osie
aku udah sabar nunggu lanjutannya eh gitu nongol ttp aja bikin aku kedal sama saya.. dah tau sini salah kok masih diksh pengharapan n perhatian.. jd enek aku sm saya.. napa g mati aja sih si satya lemot nih
Deaudea: hai kakak terimakasih banyak masih setia dg cerita receh ini. Ditunggu kelanjutan cerita nya ya. Sehat selalu 🙏
total 1 replies
Nor Azlin
iya lah bikin penasaran aja ni satya nya ...apa jua rencananya jangan sampai kamu melambatkan untuk memberikan kejutan buat si siwi ini deh memnuat kesal aja ini perempuan...jangan kata sekatarisnya satya yang jengah dengan sikap si siwi ini aku juga udah muak & jengah dengan kelakuan nya yang sok2 banget deh ...ayo lah satya jangan main tarik ulur lagi kerana terlalu lama nya kasus ini maka si siwi seenak nya aja pada kariawan mu juga deh memerintah ini & itu dasar enggak sadar diri ni suwi nya hancurkan aja terus deh ...lanjutkan aja thor
Nor Azlin: apa yang kamu bilang recehan thor jangan terlalu merendah diri dengan karya bagus mu aku sangat suka alur ceritanya ...cerita berkisar tentang rumah tangga tidak di dunia halu atau dunia nyata pasti ada yang melakukan perselingkuhan dari suami atau pun isteri ...ceritamu ini berkisar dari dunia nyata yang ada sekarang ini ...orang kayak si siwi juga banyak deh jadi jangan merendahkan diri babget ya thor kerana berkarya itu susah bagi aku yang tau hanya membaca karya yang bagus2 deh🥰🥰🥰 berkarya bukan mudah seperti makan cemilan ya berkarya memeras otak buat mencari idea2 bagus buat memuluskan jalan cerita nya ...bagi aku aku menghormati apa yang ditulis kalau aku suka aku ajan menunggu sampai novel nya tuntas & selesai ...pembaca mu yang setia menunggu kelanjutan nya sampai habis yah 😄😄
total 2 replies
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
siwi merasa bahagia sebenarnya apa rencana Satya untuk siwi... bikin penasaran
Deaudea: terimakasih cantik 😊
total 4 replies
Eridha Dewi
lha ini kabar berakhirnya siwi itu, anaknya siwi itu anaknya siapa
Deaudea: hai kak terimakasih masih setia menunggu dan membaca cerita receh ini. Ditunggu terus yaa kelanjutan cerita nya. Sehat selalu kakak 🤗🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!