Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kubur Hidup Hidup!
Nara melirik arlojinya dengan cemas, "Lima menit lagi acara makan makan, sebaiknya aku mengaku sebelum makan atau sesudah makan?" Gumam Nara frustasi, "Aku sudah memikirkan ini seharian tapi aku benar benar takut!" Nara menjambak rambutnya kesal.
"Naranika!" Sapa senior Nara.
"Pak Adrian."
"Kamu tidak cepat cepat membereskan barangmu untuk pulang? Kan kita mau pergi makan." Pak Adrian sudah selesai berkemas tas kerjanya dan hendak berjalan menuju pintu kembali menghampiri Nara.
"Ah iya aku sebentar lagi." Nara merasa enggan berkemas.
"Nara." Bisik pak Adrian rendah, dan menoleh ke kanan kiri sebelum berbicara lagi. "Kamu tau berita tentang direktur eksekutif, ibu Yolanda."
Nara membelakkan matanya, "Apa? Ada apa?"
"Dia DI.PE.CAT!! persoalannya gara gara MEM.BO.HONGI direktur." Bisik pak Adrian penuh penekanan.
Dalam sekejap kepala Nara terdengar suara petir menyambar. JEDEEEEEERRRRRRR!!!
"Dia di pecat sore tadi saat hendak pulang kantor, bahkan dia tidak sempat berkemas. Banyak yang berpikir dia pasti akan sulit disingkirkan karena pihak direksi Kendra berada di pihaknya namun dia lenyap dalam sekejap dalam murka direktur." Tambah pak Adrian.
Nara benar benar merasakan saat ini dia telah di sambar petir, petir dosa!! Hingga kakinya berubah meleleh seperti lilin yang habis terbakar yang akan luruh ke lantai lumer bersatu dengan ubin, Kepalanya berubah menjadi batu dan perlahan retak hingga hancur berkeping keping. Nara sampai tidak bisa berkata kata hanya bisa bergetar shock ketakutan.
"Nara, kamu sakit? Kenapa wajah kamu pucat dan badan kamu gemetar seperti itu??" Pak Adrian mendadak cemas melihat Nara. "Kamu flu?"
"A.. aku tidak apa apa." Nara tertawa pias namun menangis dalam hati.
"Kamu yakin tidak apa apa? Kita kan harus pergi makan makan. Sebaiknya kamu segera minum obat, karena perintah bu manager makan makan ini mutlak hukumnya!"
"Sebaiknya aku ke apotik!!" Nara mengambil tas nya dan bergegas pergi.
"Titip obat penghilang mabuk yah!!" Teriak pak Adrian yang sudah tidak di jawab lagi oleh Nara.
Nara berlari menuju lift, menarik rambutnya kesal dan meringis.
Di.. direktur eksekutif di pecat gara gara ketahuan berbohong? Lantas.. apa yang akan terjadi pada diriku yang hanya karyawan berpangkat rendah ini? Sudah pasti seperti hanya membersihkan debu saja!
Nara memasang wajah shock dan frustasi, secepat kilat dia menggelengkan kepalanya kuat kuat.
Tidak! Naranika kamu telah bertekad kan untuk jujur?! Mengaku saja dulu baru memohon untuk di selamatkan.
Namun Nara teringat kembali ucapan Rey kemarin,
BAGAIMANA CARA UNTUK MENG.HUKUM.NYA
BAGAIMANA CARA UNTUK MENG.HUKUM.NYA
BAGAIMANA CARA UNTUK MENG.HUKUM.NYA
BAGAIMANA CARA UNTUK MENG.HUKUM.NYA
Kalimat itu terus terngiang ngiang dalam kepala Nara.
Masih untung jika aku hanya di pecat saja?! Bagaimana jika aku di jebloskan dalam penjara dengan tuntuttan penipuan?!!!! Nara kembali bergetar ketakutan.
"Harusnya saat itu aku tidak termakan godaan uang! Harusnya aku makan saja ketombeku atau daki atau apa saja yang akan membuatku sadar! Kenapa aku tidak bisa memakan semua itu?!"
"Anda tidak bisa makan apa?"
"Hah?" Nara menoleh ke belakang dan terkejut.
"Di.. direktur!" Nara panik dan langsung membungkukkan badannya memberi hormat.
"Anda tidak bisa makan apa? Daging sapi?"
Rey berasumsi Nara membahas acara makan makan mereka.
'Ketombe!!!!'
Rasanya Nara ingin berteriak seperti itu tapi mana mungkin. Meski akan di pecat setidaknya aku tidak ingin di kenal dengan sebutan wanita berketombe!!
"Haha haha tidak, bukan apa apa. Hari ini cerah mendung yah pas sekali makan bbq daging sapi." Nara tertawa canggung.
"Hari ini cerah tuh." Rey berkata datar.
"Anda mau pergi ke tempat makan makan kan? Karena sudah bertemu disini, ayok kita berangkat bersama." Rey menekan tombol lift.
Nara melihat situasi kini mereka hanya berdua, mungkin ini saat yang tepat untuk dia jujur.
"Tung.. tunggu pak direktur, ada yang ingin saya bicarakan."
Rey memasang wajah datar dan menunggu kalimat Nara selanjutnya.
*Hening*
Mulut Nara seakan terkunci,
"Apa yang ingin anda katakan?" Tanya Rey.
"A.. anu. I.. itu." Nara mulai panik.
"Per.. perjodohan."
"Perjodohan?" Rey masih menunggu Nara.
"Te.. terima kasih!!!!" Nara membungkukkan badannya dalam dalam membuat Rey menautkan kedua alisnya. "Saya ingin mengucapkan terimakasih pada pak direktur yang mendedikasikan waktu dan hidupnya untuk perusahaan ini agar maju, sampai anda pasti tidak punya waktu untuk datang ke perjodohan!!" Nara mengepalkan tangannya memberi semangat. "Pak direktur semangat!!"
*Hening*
Rey hanya memandang Nara datar.
"Haha haha haha!" Nara tertawa hambar.
Rasanya aku mau menangis saja!!
****
Natha berjalan keluar kantor lesu, dari kemarin dan sepanjang hari ini dia memikirkan Bastian yang mengikuti perjodohan. Rencananya dia hanya akan pulang kerumah dan merarapi nasibnya.
"Natha."
Natha terdiam melihat Bastian di hadapannya.
"Bas..." Natha terdiam, "Ada apa?" Tanyanya sedikit ketus.
Bastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bagaimana kabar kamu?"
"Kabar aku?" Natha menipiskan bibirnya, "Kabar aku baik baik saja berkat kamu."
"Ah maaf bukan maksud aku begitu, aku.."
"Sudahlah, ada keperluan apa kamu kemari?" Natha menghela nafas.
"kemarin aku ikut perjodohan itu tapi.."
Natha berdecak kesal mendengar kata 'Perjodohan', "Kenapa melapor pada aku? Kenapa tidak laporkan pada direkturmu yang loyal itu? Sepertinya kamu juga senang sekali dengan perjodohan kemarin yah sampai harus kesini? Aku mau pulang!" Natha hendak berjalan pergi.
Bastian menarik tangan Natha, "Bukan seperti itu, aku hanya ingin bilang kemarin aku datang ke perjodohan dan langsung pulang begitu minum 1 gelas wine setelah juga menceritakan bahwa saya hanya menggantikan direktur."
"Apa sih?" Natha berusaha menghalau tangan Bastian yang memegang pergelangan tangannya, "Kemarin kan kamu sudah bilang akan ke perjodohan dan tidak perlu melaporkan ke aku, laporkan saja pada direkturmu!"
"Karena aku khawatirin kamu!"
Natha melebarkan matanya tidak percaya, "Kam.. kamu apa?"
"Maaf udah ganggu kamu, aku cuma mau bilang itu saja." Bastian menganggukkan kepalanya dan hendak pergi.
"Tunggu!" Natha menarik ujung jas Bastian, "Kenapa kamu... maksudnya apa?"
Bastian hanya menoleh sedikit kearah Natha, telinganya merah dan dapat juga di pastikan wajah Bastian saat ini sudah merah padam dan tidak terlalu kentara hanya karena terselamatkan oleh remangnya lampu jalanan malam itu. "Ramen itu lebih enak.." Bastian menjeda, mendadak dia menjadi sangat gugup. "Dibanding steak mahal atau wine berkualitas, ramen yang aku makan di malam itu sama kamu jauh lebih enak dan membuat aku bahagia. Ka.. karena aku suka kamu Nathania Wan."
Mata Natha semakin membelak lebar mendengar ucapan Bastian hingga dia tidak dapat berkata kata. Degup jantung keduanya memacu kencang, "Aku pulang yah." Bastian memecah keheningan stelah beberapa saat.
"Mau ga malam ini kita makan ramen lagi?!" Tanya Natha spontan, matanya berkaca kaca dan pipinya merona karena bahagia. "Ramen, nasi goreng, mie instan atau bakso apapun itu terserah.."
Bastian tersenyum hangat, "Aku yang traktir." Ucapnya lembut.
****
Acara makan makan divisi Nara berlangsung meriah, ternyata mereka tidak mengira bahwa direktur akan membawa mereka makan all you can eat daging sapi berkualitas di restoran korea yang terkenal. Bahkan Rey juga memesan soju dan beer untuk dinikmati, sedangkan Nara duduk di pojok sendiri menikmati minumannya dan terus bergumul dengan pikirannya.
"Kapan sebaiknya aku jujur?" Nara menengak gelas beer nya untuk kesekian kalinya.
"Ini." Sepiring makanan ringan di sodorkan pada Nara dan membuat dia mengadahkan kepalanya.
"Pak direktur.."
"Setidaknya pakai cemilan kalau mau minum sebanyak itu, memangmya perutmu gapapa?"
"Ah iya." Nara mengambil sedikit cemilan itu dan memakannya, karena grogi dan terus kepikiran kapan dia akan jujur membuat Nara semakin banyak meminum beernya.
Di tengah riuh suasana ruangan private yang bahkan juga menyediakan fasilitas karaoke, semua bergembira dan bernyanyi bersama, Nara pun ikut terseret. Dengan keadaan sedikit mabuk, Nara cukuo banyak bersenang senang. Tapi setelah kesadarannya semakin menipis, Nara memilih untuk keluar restoran untuk mencari angin segar setelah dari toilet agar tetap sadar. Nara duduk dibangku taman dekat restoran, memijat keningnya dan memakan eskrim yang dijual d restoran. Eskrim rasa lemon yang asam itu cukup membuat kesadaran Nara sedikit terjaga, "Aduh para senior sepertinya sangat memanfaatkan makan makan gratisan ini." Nara membuang bungkus es yang sudah habis dan menunduk, beberapa kali mengerjapkan matanya untuk tetap sadar.
"Anda tidak apa apa?" Rey keluar menghampiri Nara dan melihat wanita itu duduk dengan menopang kepala pada kedua tangannya.
Nara mengadahkan kepalanya melihat Rey, "Eh kamu, tuan Reynold yah?"
Rey mengernyitkan alisnya dan duduk di sebelah Nara. "Kamu sepertinya mabuk banget, kamu minum berapa gelas beer?"
"Beneran ini tuan Reynold Orlando Giordan?" Nara mencubit pipi Rey.
Rey mengernyitkan alisnya, "Benar, jadi tolong lepas! Kalau sudah sadar sana masuk lagi!" Lalu pria itu hendak bangkit berdiri.
"Tung.. tunggu!!" Nara menarik tangan Rey hingga pria itu terjatuh duduk kembali.
Rey membelakkan matanya terkejut, Tenaganya kuat juga.
Apa karena lagi mabuk?
"Tunggu pak Direkt.. eh bukan tuan Reynold. Ada yang ingin saya katakan."
Rey menaikan sudut bibirnya, "Kali ini apa? Yel yel semangat lagi??"
"Tidak kali ini sungguhan! Setiap kali tuan Reynold bilang sampai bertemu besok aku hampir gila, menerka nerka itu salam atau janji! Sampai besok, sampai besok, sampai jumpa besok. Mana yang benar? Janji bertemu atau salam??" Nara meracau khas orang mabuk dengan wajah yang serius. "Saya sampai tertekan memikirkan itu, jika hanya salam yah gapapa tapi kalau itu janji untuk bertemu besok, apa yang harus saya lakukan dan siapkan semua membuat saya frustasi!" Nara menepuk nepuk dadanya sendiri dengan frustasi.
Rey menghentikan tangan Nara yang menepuk dadanya sendiri cukup keras, "Bicara saja tidak perlu begitu."
Nara terdiam melihat Rey menahan tangannya, "Baiklah kali ini saya benaran akan bicara, saya telah menipu direktur. Direktur ingat kan wanita berambut coklat ikal panjang yang selalu berias tebal ala smokey eyes, bertubuh S line dan yang datang pada acara perjodohan. Sebenarnya wanita cantik dan seksi itu adalah Saya!!!" Nara menunjuk jarinya keatas dengan semangat.
"Tapi kalau direktur tidak suka, direktur boleh hilangin kata cantik dan seksi itu." Nara terkekeh.
Rey terdenyum tipis melihat Nara "Oke baik, tapi kamu bilang kamu belum pernah ke perjodohan?"
"Pernah!" Nara menjawab tegas, "Tapi hanya satu kali itu saja dengan pak direktur." Cicitnya.
Rey semakin tersenyum senang dan lucu melihat tingkah Nara yang mabuk, dia menopang dagunya. "Jadi selama ini kamu menipu aku??"
"Benar!!" Tegas Nara lagi, "Eh.. bukan, saya juga di tipu!! Saya di tipu oleh hawa ***** akan uang, saya juga tidak tau kalau yang datang ke perjodohan itu ternyata direktur." Nara menjeda dan memasang wajah memelas, "Jadi apa saya akan di pecat??"
"Pecat?" Rey menaikkan sebelah alisnya.
"Saya tau pak direktur sangat benci kebohongan, dan juga saya masih ingat pak direktur bilang kalau saya karyawan anda pasti sudah di pecat. Tapi kalau benar saya akan di pecat.."
"Nona Naranika itu.."
"Saya sudah memakai uang perusahaan, bukan.. saya bukan mencuri ataupun korupsi. Tapi saya memakai fasilitas pinjaman untuk karyawan, uangnya saya pakai untuk membuka bakery untuk orang tua saya."
"Maka dari itu, nona Naranika.."
"Meskipun hanya bakery kecil tapi kedua orang tua saya bekerja keras membangun bakery itu, rasa rotinya juga enak tidak kalah dengan bakery besar di mall. Kalau perusahaan direktur tidak maju mungkin direktur juga mau membuka bakery. Kami akan membimbing dengan baik."
"Nona Nara dengarkan saya dulu!" Rey mulai kesal.
"Karena itu saya mau berterimakasih karena bunga pinjaman kantor yang rendah! Semoga di berkahi!!!!" Nara mengamit tangan Rey dan tersenyum lebar.
Rey menipiskan bibirnya dan menahan senyum,
Wanita ini... sungguh tak terduga.
Lalu Rey melepas tangan Nara dan bangkir berdiri.
"Hah? Apa saya akan di pecat???!"
"Tidak, teruslah bekerja." Rey tersenyum manis.
"Benarkah???!" Rey tampak bersinar di mata Nara bagaikan dewa penyelamat, "Terimakasih! Yaaay direktur memang terbaik!!"
Rey tersenyum miring melihat Nara yang kegirangan.
Hanya di pecat karena menipuku itu terlalu lemah, anda harus di kubur hidup hidup nona Naranika!!!!! Di kuburan yang disebut PERNIKAHAN!
Tiba tiba bulu kuduk Nara bergidik, "Aduh kok tiba tiba menggigil." Nara mengusap tangannya dan bangkit berdiri. "Baiklah direktur, terimakasih!" Nara tersenyum lebar dihadapan Rey meski matanya juga masih sayup sayup. "Berarti takdir kita berhenti sampai disini yah haha haha haha. Oleh karena itu saya akan lunasi hutang saya!"
Nara berdiri dekat Rey dan semakin mendekat, lalu meletakkan tangannya di bahu Rey. Berjinjit untuk menyamai tinggi badan Rey.
"Nona Naranika apa yang anda lakukan?" Rey melepas tangan Nara, tapi gerakan Nara lebih cepat, wanita itu menempelkan bibirnya pada bibir Rey.
Mata Rey membelak sempurna, meski awalnya sangat terkejut, tak lama Rey memejamkan matanya dan menarik tengkuk Nara membalas ciuman bibir itu.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.