Reinkarnasi pasti tak asing di telinga kalian, hanya saja akan asing jika kalian mengalaminya. Tidak untukku, empat kali kesempatan hidup terbuang percuma.Yang aku dapatkan hanyalah warna hitam dan putih.
Reinkarnasi mungkin sudah menjadi hal yang wajar bagiku. Klasik. TAPI KENAPA AKU BISA ADA DI TUBUH ANTAGONIS DALAM SEBUAH NOVEL!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estellaafseena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.23
Prang!
"Nona! Kenapa anda selalu saja menjatuhkan cangkirnya!"
"M-maaf.. aku.. tidak sengaja."
Aku tersenyum canggung. Hari ini aku datang ke istana, sesuai janji. Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian itu.
Hari itu, setelah pemakaman selesai, banyak permintaan dari mereka untuk menangkap ku sebagai dalang dari kekacauan ini.
Raja menggeleng keras, membuat semua bangsawan yang menginginkan penangkapan ku kecewa dan marah.
Kerajaan mengalami kerugian besar, kini ibu kota sudah direnovasi. Namun masih banyak orang yang mengurungkan niat untuk pergi ke sana. Masih ada ketakutan yang tersimpan.
Banyak kejadian yang mulai muncul. Seperti kemunculan tiba-tiba monster bayangan di berbagai titik daerah kerajaan. Para bangsawan dan rakyat tak tenang, memikirkan bagaimana jika monster itu muncul di tempat yang mereka tinggali.
Raja seakan sudah lelah dengan ini, sepertinya dia akan mengalami gejala kebotakan karena stress.
Selama tiga hari aku mengurung diri di kamar. Setelah sarapan, makan siang dan makan malam, aku selalu pergi ke kamar. Tidak ada yang aku lakukan, hanya berbaring, memainkan kalung, menatap luar jendela, melamun di depan cermin. Aku tidak tahu harus apa. Bahkan sampai sekarang aku masih sering melamun.
Itu hal aneh yang aku lakukan selama hidupku. Lebih anehnya lagi adalah sikap Duke, Devian, dan Alvin selama satu minggu ini. Mereka selalu mengajakku mengobrol, namun aku hanya menjawab seadanya.
Seperti sarapan hari ini, "Kau akan pergi ke istana?" Duke bertanya sembari mengangkat cangkir tehnya.
"Iya." Jawabku singkat, memainkan makananku dengan garpu. Aku tak berselera akhir-akhir ini.
Sebuah tangan mengampil piring berisi makananku, aku mendongak, menatap tak senang. "Kenapa kau mengambil makanan ku? Kembalikan." Ujarku merajuk.
"Aku akan mengembalikannya jika kau makan dan tidak hanya memainkannya." Devian bicara tegas.
Alvin mengangguk setuju. "Benar. Kau harus makan, kak." Alvin mengambil piring yang dibawa Devian, memberikan sayur tambahan dari piringnya di atas piringku.
Aku mengernyit. "Jangan memanggilku 'kakak', itu sangat menjijikkan. Dan apa-apaan itu? Kau hanya mencuri alasan agar kau tidak makan sayur itu kan."
Alvin nyengir tidak bersalah, memberikan piring itu padaku. "Makan yang banyak, kakak. Sayur itu sangat baik untuk kesehatan tubuh. Karena itu kakak harus memakannya lebi-H !"
Aku menimpuk Alvin dengan serbet tepat di kepalanya. "Alasan saja kau!" Aku mendengus kesal.
'Akh! Sialan!'
Aku bisa membaca pikiran Alvin. Ya, sejak hari itu pengertian Character Devian dan Alvin meningkat.
Aku semakin kesal. "Siapa yang kau panggil sialan, sialan!"
Alvin berdiri, menunjukku. "Kau membaca pikiranku lagi!" Ujarnya berteriak.
Aku ikut berdiri, "Jangan salahkan aku! Salahkan saja kau yang tidak bisa menyembunyikan pikiranmu!"
Ya, inilah perdebatan sepele kami selama satu minggu ini. Kediaman ini menjadi ramai karenanya.
Duke dan Devian juga sudah mengetahui kemampuanku ini, mereka sudah bisa menyembunyikan pikiran mereka dariku. Itu sebuah keuntungan sekaligus kerugian untukku.
Keuntungannya, aku tidak terganggu dengan pikiran mereka yang terus-menerus ku dengar. Kerugiannya, aku menjadi tak bisa mengerti mereka sepenuhnya. Hanya mereka bertiga di kediaman ini yang mengetahuinya. Nakun hanya sekedar aku bisa membaca pikiran, tidak lebih.
"Jadi ini salahku? Ya, ya. Salahkan saja aku. Aku sudah terbiasa sejak kejadian di ibu kota lalu, mereka bahkan bilang kalau aku terlalu lemah..."
Aku seketika terdiam.
"...sangat cerewet. Kau yang terlibat kenapa aku yang harus mendengar ocehan mereka? Sialan. Padahal di ibu kota saat itu aku sudah membantu banyak sampai kake-"
"Alvin." Duke angkat bicara, suaranya tegas. Devian menatap Alvin tajam. Alvin seketika diam, dia menatapku.
Aku hanya tersenyum hambar, menatap ke arah lain. "Terimakasih makanannya, aku permisi."
Aku melangkah pergi dari ruangan. Sudah menjadi peraturan umum di kediaman ini untuk tidak membahas tentang kejadian itu.
Itu karena saat mereka membahasnya lebih jauh, kepalaku rasanya ingin pecah. Aku berusaha untuk melupakan kejadian itu. Dan beberapa hari lalu dengan nekatnya aku menggunakan sihir penyegel pikiran. Devian dan Alvin mengetahui hal itu, menghentikan ku melakukannya.
Hal itu terdengar sampai ke telinga Duke. Lalu mereka dia menetapkan peraturan itu. Sekarang tak ada lagi yang membahasnya.
Namun hal itu tidak menghindarkan ku dengan mimpi buruk. Aku sering terbangun di malam hari karena mimpi itu. Dan sialnya itu terjadi setiap hari, tidak ada yang tahu hal ini kecuali diriku sendiri.
Aku memutuskan untuk pergi ke istana. Dan inilah yang terjadi sekarang. Aku dan Irene bertemu di lorong menuju ke perpustakaan istana. Aku hendak bertemu dengan Jeremy di sana. Irene mengajakku untuk minum teh bersama. Namun, dia terus saja menjatuhkan cangkirnya dengan alasan tidak sengaja atau tangannya licin.
Aku menghela nafas tipis. "Apa ada yang membuatmu tak nyaman, Irene?"
Irene tersentak, menatapku resah. "T-tidak ada. Aku minta maaf..."
Sudah beberapa kali aku menanyakan ini. Tapi jawaban darinya masih saja sama.
Ini sudah pukul sepuluh pagi, aku harus cepat menemui Jeremy atau tidak dia akan marah nanti. Aku berdiri dari kursiku. "Maaf Irene, aku harus pergi menemui Jery. Kau tahu bukan bagaimana jika dia marah? Aku tidak ingin itu."
Kakiku melangkah, hendak pergi. Namun, Irene tiba-tiba muncul di depanku, menghentikan langkahku. Aku menatapnya.
Dia terlihat ragu. "B-bolehkah aku ikut denganmu?"
Tidak biasanya dia seperti ini. Tapi baiklah. "Tentu saja. Ayo kita kesana."
Aku berjalan mendahuluinya. Dia berjalan di belakangku. Kami melewati lorong dengan lantai pualam hitam megah dan mengkilat. Sampai kami memasuki sebuah ruangan dengan dua tangga utama didalamnya. Itu tangga menuju perpustakaan tempat dimana Jeremy belajar. Perpustakaan itu tepat setelah tangga ini.
Kami menaiki satu persatu anak tangga. Aku sempat heran, kenapa Irene selalu mengekor? Padahal saat kami ke mari aku sudah sering mengatakan untuknya berjalan menyejajariku.
"Mm.. Irene, apa kau yang baik-baik saja? Dengar, aku tidak suka jika kau- ! "
Saat aku balik badan di pertengahan tangga naik, betapa terkejutnya aku melihat tubuh Irene yang terhuyung hendak terjatuh. Bahaya.
Aku hendak menolongnya, namun..
"C-clea mendorongku."
Kenapa jadi begini?
^^^つづく^^^
Arigato for reading~(◕ᴗ◕✿)