NovelToon NovelToon
Terlambat Sudah

Terlambat Sudah

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Contest / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: heni

Seorang perempuan yang berstatus istri, pastinya ingin di cinta sang suami. Tapi Takdir kehidupan Fidiya begitu unik. Mendapatkan suami, mendapat status social yang mapan, tapi tidak mendapatkan kedudukan di hati dan di mata suaminya.

Di mata seorang Ridwan, hanya ibunya dan kedua adiknya, sedikitpun dia tidak memandang Fidiya. Ridwan hanya mendengari apa kata kedua adiknya, dan hanya mendengari kemauan kedua adiknya. Tanpa mau tau apa mau wanita yang menjadi istrinya.

Saat Fidiya menyerah dengan takdirnya, dia dipertemukan dengan Fadlan, seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Ridwan sadar dari kebodohannya, datang dengan segala penyesalannya, meminta Fidiya kembali.

Bagaimana kehidupan Fidya, Fadlan, dan Ridwan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Ini masih pagi, Ismi bingung harus kemana. Ismi terus melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. "Malang bener nasibku." Sesekali Ismi sengaja menghentakkan kakinya sekeras yang dia bisa di trotoar itu.

"Hey! Trotoar itu tidak salah padamu. Kenapa kau mencurahkan kemarahanmu padanya!?"

Ismi menoleh kearah itu dengan wajah cemberut. Menyadari siapa yang menegurnya, seketika wajah Ismi yang tadi masam dihiasi dengan senyuman manisnya. "Kak Fariz." Ismi begitu antusias berlari mendekati Fariz.

"Kau ini, katanya ke kota mau kerja, malah kelayapan!"

"Ada sesuatu kak."

"Sebentar, saat ini kakak kerja, tidak mungkin kakak bawa kamu pakai mobil majikan kakak, kamu tunggu di kost, nanti kakak jemput pakai motor kakak, ada hal lain juga yang ingin kakak bicarakan padamu."

"Iya kak."

"Ya sudah, pulang sana, ganti bajumu, masa kita jalan kamu pakai seragam cleaning service."

"Maaf ya kak, aku tidak bekerja dengan baik, kakak pasti usaha keras carikan aku pekerjaan, aku malah menyia-nyiakannya."

"Jangan ngomong begitu."

Ismi dan Fariz berpisah. Ismi segera pulang ke kost-annya, sedang Fariz kembali ke kediaman Ridwan, mengantar mobil sekaligus meminta izin.

*

Setelah izin di dapat, karena Retna tidak ada agenda ke mana-mana hari ini, Fariz di beri izin untuk pulang. Izin dari majikan di dapat, saatnya meminta izin pada ratu hatinya yang doyan sembunyi 'Elvina.'

El memberi izin pada suaminya untuk bertemu Ismi, Fariz memacu cepat motor bututnya menuju kost-an milik Ismi. Gadis itu juga sudah siap menunggunya di tepi jalan di depan kost-an yang dia tempati.

Fariz melajukan motornya menuju tempat hiburan, saat sampai di tempat tujuan, Fariz langsung mengajak Ismi masuk ke sebuah cafe, agar mereka bisa bicara bebas.

"Pesan minuman atau cemilan dulu," ucap Fariz.

"Iya kak."

Keduanya memesan makanan dan minuman yang mereka mau. Fariz memesan segelas kopi hangat, sedang Ismi lebih suka minuman dingin.

Sruppp!

Terdengar jelas Fariz menyerumput kopi hitam yang nampak mengeluarkan uap panas itu.

"Katakan, ada apa?"

"Aku nggak tau kak, tapi ibu dari atasan aku, meminta ku menjauhi anaknya, aku masih nggak ngerti kak."

"Kamu punya hubungan dengan atasan kamu?"

Ismi menjawab pertanyaan Fariz dengan menggelengkan kepalanya.

"Nanti kita cari tau. Selain masalah kantor, apa ada lagi?"

"Aku mendapat pesan dari Fidiya, kata dia, dia baik-baik saja. Tapi hatiku mengatakan dia tidak baik-baik saja."

Fariz terdiam, bingung menceritakan pada Ismi atau tidak tentang Fidiya. Ingin menceritakan pun, Fariz bingung harus mulai dari mana.

"Maaf mas dan mbaknya, mohon maaf, pelayan yang lain tidak tau, kalau ruangan ini semuanya sudah di pesan. Bersediakan kalian pindah ke meja lain?" pinta seorang pelayan wanita.

"Oh, nggak masalah mbak, tolong antar pesanan kami ke meja sana." Fariz menunjuk sebuak meja dengan dua kursi yang menghadap ke arah jalan raya.

"Baik mas, mohon maaf ya mas," ucap pelayan itu penuh sesal.

"Ayuk pindah Is, area ini sudah di booking orang."

"Iya kak." Ismi langsung berdiri.

Saat kedua mata Ismi memandang kearah pintu, senyuman seketika kembali mengihiasi wajah cantik itu. Ismi masih ingat dua wajah yang berjalan memasuki ruangan yang terlanjur mereka tempati. Ismi langsung berlari kearah tiga orang yang terlihat asyik mengobrol.

Fariz sangat terkejut melihat Ismi tiba-tiba berlari. Fariz menoleh kearah itu. "Mampus aku!" Telapak tangan mendarat diantara kedua alisnya, saat menyadari orang yang tengah Ismi dekati. Dia adalah Ridwan dan Ara.

"Selamat siang, kakak-kakak," sapa Ismi.

"Pagi juga, siapa ya?" sapa Ara.

"Kakak lupa ya, nggak apa-apa, karena kita baru ketemu sekali pas akad nikah kakak ini, menikah dengan Fidiya." Jari telunjuk Ismi menunjuk kearah Ridwan.

"Oh, maaf. Tapi antara kakaku dan Fidiy tidak ada apa-apa lagi, kak Fidiya sudah pergi dari rumah kami, dan saat ini proses perceraian mereka sedang di proses," jawab Ara.

"Cerai!?" Ismi dan wanita cantik yang berdiri di samping Ara sama-sama terlihat kaget.

"Iya kak Errie, kak Ridwan saat ini mengurus sidang cerai dengan istrinya," jawab Ara.

"Fariz!" Kata itu terlepas dari mulud Ridwan, yang mana sebelumnya mulut itu betah terkunci.

"Kenal sama kak Fariz?" sela Ismi.

Ridwan memandangi Ismi begitu tajam, bukan tatapan yang indah di pandang, melainkan sorot mata yang membuat bulu kuduk Ismi berdiri. Pandangan ramah dari Ridwan hanya terpancar untuk ibu, kedua adiknya dan wanita yang dekat dengan adiknya, selain itu hanya tatapan sinis dan angkuh yang ia berikan pada mereka yang ada.

"Hai, Tuan." Mau tak mau Fariz mendekati mereka.

"Wanita ini siapa kamu?" tanya Ara.

Fariz bingung menjawab apa, kalau menjawab jujur, makan ketahuan kalau dirinya dan Fidiya berasal dari desa yang sama. "Dia wanita yang pengen saya tembak." Hanya hal itu uang terlintas di benak Fariz.

"Kak!" Ismi tidak suka dengan kebohongan Fariz.

Fariz menatap Ismi dengan tatapan permohonan, agar gadis itu mau diam.

"Owh, gimana hasilnya?" tanya Ara.

"Biasa Non, jawabannya pasti lebih nyaman temenan, sia-sia perjuangan saya selama sebulan ini," kilah Fariz.

Heh!" Ridwan semakin memandangi Ismi dengan tatapan menghinakan.

"Tapi, saya sudah izin sama Nyonya besar." Fariz berharap agar tidak di tanya-tanya lagi.

"Iya, kami percaya. Sabar ya Riz," ucap Ara.

"Di mana Fidiya sekarang?" Ismi lebih memilih fokus pada sahabatnya.

"Mana kami tahu," jawab Ara ketus.

Mereka bertiga melenggang meninggalkan Ismi dan Fariz.

"Hei--" Ismi ingin protes dan bertanya banyak hal. Tapi Faris malah menutup mulutnya dan menyeretnya keluar dari ruangan itu.

"Patuhi kakak, ada kaitan dengan hal ini yang ingin kakak bicarakan sama kamu!"

Ismi menurut, dia berhenti berontak. Dia mengikuti kemana Fariz menyeretnya.

Ridwan tersenyum sinis melihat Fariz dan wanita itu. "Kelakuan gadis itu sama saja dengan Fidiya."

"Sudahlah bang, abang sudah berusaha yang terbaik, saat ini adalah yang terbaik bagi abang. Abang itu baik, abang pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Fidiya," ucap Ara.

"Memang kenapa mesti cerai? Parah ya?" sela Errie.

"Biasa kak, istri bang Ridwan ingin jadi ratu dan ingin menyingkirkan kami semua," jawab Ara.

"Oh, sudahlah mas. Tidakan mas itu benar, keluarga melebihi segalanya. Harta yang paling berharga adalah keluarga." Errie bersenandung lagu ost keluarga cemara.

"Kak Errie benar. Ayo kita bicarakan masalah pabrik," sela Ara.

***

Di ruangan yang lain.

Ismi sungguh tidak sabar menunggu cerita dari Fariz tentang Fidiya. Banyak pertanyaan yang ingin Ismi tanyakan. Sedang laki-laki itu terlihat santai mwnikmati kopinya.

"Bagaimana kakak bisa kenal dengan keluarga suami Fidiya?"

"Bagaimana ceritanya Fidiya cerai?"

"Di mana Fidiya sekarang?"

"Kenapa cerai? Salah Fidya apa?"

"Mereka menikah belum dua bulan, kenapa cerai?"

Pertanyaan itu terus Ismi lontarkan pada Fariz. Fariz berusaha santai menanggapi kepanikan seorang gadis yang dia anggap adik.

"Berhenti bertanya dan tenanglah, kalau kamu tjdak tenang aku tidak akan cerita." Fariz kembali menyerumput kopinya.

"Bagaimana aku bisa tenang, kalau orang yang aku sayang tidak tahu dia di mana dan keadaanya bagaimana?"

Faris melepaskan gelas kopinya, dia menaruh gelas itu diatas meja. "Kalau kamu nyerocos terus, maka aku tidak akan bicara!"

****

Mohon maaf atas typo yang tersebar di mana-mana, habis ngetik langsung setor gak punya waktu buat edit 😃😄😄😀😆😆😆😆

1
Ummi Na Ssya
tega banget ih....amit2
Ummi Na Ssya
kalo di reallife ada gak laki kaya gitu?
Ummi Na Ssya
apa laki2 rata2 suka wanita karena enak di pandang????
Diah Ratna
erlanz adalah fadlan
rain03
❤️❤️❤️❤️❤️
Sulaiman Efendy
SEKARANG RASAKAN MMANEN BUAH BUSUK YG KAU TANAM..
IDA WILDAKHRINI
ceritanya asyik.. setiap masalah solusinya bagus banget jd ga bikin pembaca naik pitam, seperti cerita diana permata dari desa semoga cerita berikutnya lebih seru lg
Chelsea Aulia
Kehancuran seorang nadine
Chelsea Aulia
Nadine merasa kesindir g tuch
Tatiraihan
terimakasih atas karya hebat ini, keren 👍👍👍👍👍
ρuʝi ¢ᖱ'D⃤ ̐🌻
astaga, pengen ketawa liat tingkah Fadlan yang malu-malu 🤣🤣🤣
Tatiraihan
keren.... alurnya g tetduga bgt, baru x ini baca novel yg berbeda dr yg biasa ad pemaksaannya👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌷🌷🌷🌷🌷
Dewa Rana
katanya gak punya hp malanya dikasih hp sama elvina
Dewa Rana
kok senandung thor? senandung kan lagu ya
Dewa Rana
fidiya hanya utk pelampiasan
Dewa Rana
ada apa, kenapa fariz kacau
Istiqomah
Thor knp Fadlan meninggal gax asik pemeran utama mati
Zuraida Zuraida
heran gua, ceo kok goblok
Zuraida Zuraida
keluarga gila
Tuti Dwie
rasain Lo Ridwan gembel gembel Lo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!