Summer Rindu Mahawira adalah bungsu dari empat bersaudara. Meninggalkan Indonesia menjadi pemberontak di keluarga Mahawira. Melepaskan impian Adyuta Mahawira, papanya dan menjalani hidup sebagai seniman.
Sementara ada Jason Cyrus Udayana sahabat kakak ketiganya Sean Alexi Mahawira yang tidak lelah mengejar Summer.
Kemudian di New York Summer bertetangga dengan pria berwajah mirip dengan Nicholas Saputra.
Selalu ada drama !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laplusbelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ain't No Sunshine
Summer membuka mata dan mendapati suasana kamar yang begitu asing, bukan kamar tidurnya di Palace bukan pula di kastil. Sebuah kamar luas
dengan pintu geser terbuka lebar menyajikan kolam renang dan tanaman hijau, setidaknya hal pertama yang menarik perhatiannya.
Ia kemudian mencoba menggerakkan badan, sakit pada tangan kirinya dan kepala. Summer meraba pada bagian yang telah berbalut kain kasa.
Perlahan ingatan menguat, tabrakan dan sosok suaminya yang terkulai.
“Finnie.” Ucapnya lemah diiringi pergerakan tubuh yang beringsut dari tempat tidur. Pada jejakan pertama, penglihatannya mendadak menghitam. Tubuh summer terperosot ke lantai dengan tangan sempat menggapai pinggiran tempat tidur.
Pun kakinya terluka, ia merasakan perih pada pahanya, tak ada kain kasa terbelit di situ. Hanya memar yang sangat biru kehitaman.
Akh ! pekik kecil meluncur dari bibirnya yang mencoba kembali untuk berdiri
Kriet
Daun pintu terbuka kasar. Sesosok tubuh tinggi besar berjalan mendekat
“Honey.” Jason meraih tubuh Summer yang kemudian tangannya ditepis dengan kasar
“Jangan menyentuhku !” teriak Summer tidak terima tangan Jason memegang bahunya. Pria yang tidak menerima penolakan mengangkat tubuh wanita yang mengenakan dress sepaha berwarna biru, sangat seksi terlebih itu adalah pilihan Jason.
“Tidak usah meronta seperti itu, kau malah membuat dirimu semakin kesakitan, Rinduku.” Dengan pelan Jason meletakkan Summer diatas tempat tidur.
Tatapan berkilat dan tangan lemah Summer memukul dada Jason, bukannya kesakitan malah pria itu terkekeh dengan bahagianya.
“Betapa aku merindukanmu, Rindu. Kau tahu setiap malam aku harus meminum obat penenang agar bisa tidur. Tapi sejak kau kembali, aku
mendapatkan tidur lelap tanpa bantuan apapun.” Ucap Jason sambil memegang kedua tangan wanitanya
“Aku tidak kembali ! Kau menculikku dan suamiku.. “ Summer terisak
Rahang Jason mengeras, menatap tajam Summer yang kemudian nyalinya menciut “Hanya ada satu suami dalam hidupmu Rindu dan itu aku ! Pria
itu hanya semu, dia tidak pernah hadir.”
Summer menundukkan kepala sembari menitikkan air mata, Jason tak ambil diam, ia pun menangkup wajah cantik itu dengan kedua jemarinya. Menyeka cairan bening yang menghiasi pipi pualam wanitanya.
“Dia selamat.” Jujur Jason menyampaikan kabar yang mungkin menghibur hati Summer yang ditariknya masuk dalam dekapan. Semula Summer berontak namun tangan kuat Jason menahan pergerakan badannya.
“Aku menyukai wangimu yang sekarang, Rindu. Lebih natural dibandingkan ketika malam pertama kita. Aku pun telah mencari wangi yang sama
untuk kau pakai, hanya mirip. Tapi kau akan menyukainya, sayang.”
Kata-kata Jason, sentuhan di puncak kepala Summer membuatnya muak. Ia sungguh membenci pria itu terlebih membenci dirinya yang tak berkutik dalam dekapan erat yang meremukkan hatinya hingga tak berbentuk.
Tuhan, aku harus bagaimana.
"Kenapa kau diam, Rindu ? Tidakkah kau senang melihatku ? Aku sangat bahagia, Honey .”
Lebih baik aku mati dibandingkan melihatmu kembali
“Demi dirimu aku melelang semua perusahaanku. Aku sungguh telah gila karena dirimu, Rindu. Semua akal sehatku seolah hilang jika mengingatmu. Bahkan aku menemui psikiater, sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Kau tahu apa kata psikiater itu ? Aku terlalu mencintaimu.”
Summer mengemertakkan gigi, ia ingin melarikan diri sejauhnya, kemana pun asal bukan seatap dengan Jason, pria teramat dibencinya.
Jason menggoyangkan tubuh Summer berirama, seolah berdansa di atas tempat tidur.
“Kali ini kita tidak akan terpisah, Rindu. Aku akan
menjagamu, menemanimu.”
“Aku mempunyai pria yang melakukan itu semua sampai kau merenggutnya.” Ucap Summer disertai desisan
“Rindu, sejak kapan tidak memanggilku dengan sebutan Kak Jason. Berhentilah memanggilku dengan sebutan kau, aku adalah suamimu.”
Kepala Summer memening mendengar ucapan Jason “Kita sudah bercerai.”
Jason meleraikan dekapannya dan menatap wajah Summer dengan tajam “Aku adalah suamimu, Rindu. Dia adalah semu. Kau tidak sadar jika dimanfaatkan oleh pewaris tahta itu, dia tidak benar mencintaimu.” Ucapnya memperalat Summer yang menatapnya dengan mata yang lebih berkilat dari sebelumnya
Ingatan Summer melayang kepada Finlay, kekasih jiwanya. Senyuman, dada hangatnya, suara yang mendayu menenangkan Summer. Sungguh
berbeda dengan pria yang berada di dekatnya. Mereka adalah perwujudan malaikat dan iblis di muka bumi.
Bunyi perut Summer membuat Jason tertawa kecil “Maafkan aku sayang, aku lupa jika kau belum pernah makan. Selama tidak sadarkan diri kau diinfus.”
Jason mengangkat tubuh Summer seringan kapas menuju ruang makan, saat itu pula Summer memerhatikan rumah persembunyian Jason.
“Aku mau bertanya.” Ucap Summer lirih menatap punggung Jason menyiapkan makanan yang harapnya itu adalah makanan beracun, agar ia bisa mati saja di depan pria itu.
“Apa sayang ?”
“Sudah berapa hari aku di sini ?”
“3 hari, Rinduku. Selama itu kau juga tidak sadar. Lukamu tidak seperti ini saat di Italy. omong-omong aku yang merawatmu, membersihkan tubuhmu.” Jason berbalik dengan memegang piring yang terbungkus alumunium foil, mereka saling berpandangan yang tak lama kemudian Summer menundukkan kepalanya
“Kalau boleh aku tahu, sekarang kita berada dimana ?”
Jason menyeringai sambil memasukkan piring kedalam microwave “Rahasia Rindu. Yang pastinya kau berada di tempat yang tidak terdeteksi oleh siapapun. Termasuk pewaris tahta itu. Kali ini kau tidak akan pergi kemana pun.
Kita akan hidup berdua untuk selama-lamanya.”
Summer sangat ingin membantah namun ia menahan diri. Semua terlihat baru baginya, rumah dan suasana di luar menunjukkan jika mereka berada jauh dari peradaban. Tidak ada bunyi kendaraan lewat, orang-orang bahkan deru pesawat yang terbang. Hanya bunyi hewan hutan bersahutan menjadi nada menenangkan batin
Summer yang bergejolak liar.
…
Finlay menatap kosong ke depan, ia tidak berdaya dengan segala macam luka di badannya. Tangan yang tergips, kepala diperban dengan 11
jahitan, wajahnya bengkak karena benturan syukurnya kakinya hanya tergores dan memar hebat bukan mengalami patah tulang. Sejak ia siuman dari masa kritis, Finlay telah memerintahkan para pengawal dan banyak suruhan lain untuk mencari Summer, istrinya.
Mengalami sendiri membuat Finlay sadar jika berhadapan dengan seorang monster. Ia sungguh lengah, memikirkan perceraian Summer dengan pria itu adalah akhir dari segalanya. Mendengar kabar terbaru jika pria itu telah menjual semua perusahaannya dan mengembalikan semua uang yang dipakainya di hari Finlay dan Summer mengalami insiden berdarah.
Mau tidak mau Finlay mengakui kelicikan pria itu, semua telah direncanakan sedetil mungkin, sedikit pun jejak Summer tidak bisa ditemukan hingga tepat seminggu setelah hari berdarah tersebut.
Finlay kini sudah kembali ke Mersia, dalam perawatan dokter Palace. Kepungan media di rumah sakit yang seharusnya Finlay menjalani pengobatan pun berpindah ke salah satu kamar
tidur di Palace. Kini ruang tidur telah disulap menjadi kamar perawatan VVIP dengan luas berkali lipat dibanding sebuah ruangan perawatan intensive di rumah sakit.
“Lord Finnie.”
Finlay menoleh malas menatap Riley yang berjalan mendekati tempatnya berbaring
“Kata perawat, kau belum menyentuh makan siangmu.” Riley menaruh makanan diatas meja yang ia bawa. Dokter yang menangani Finlay melaporkan kepadanya jika pasien menolak untuk menyantap menu makan siang. Riley pun
meminta koki Palace untuk menyiapkan makanan favorit Finlay, tak lain seafood khas laut utara.
“Aku tidak bisa makan, Iley. Memikirkan istriku berada di tangan monster itu. Tuhan, aku tidak bisa membayangkan perasaannya sekarang.”
Riley menarik napas dengan mata menatap raut wajah kakaknya yang telah kehilangan sentuhan kehidupan “Semalam kau masih makan, Lord Finnie. Walau itu sedikit. Tapi hari ini, kau menolak sarapan dan makan siangmu. Ini tidak boleh terjadi, kau harus menghabiskan makanan ini. Tolong, demi kesehatanmu.” Bujuk Riley
Finlay melirik sup seafood dengan smashed potato tanpa semangat “Iley, betapa hancurnya Summer ketika kami pertama kali bersama. Pria itu menghancurkan segalanya dan akulah memunguti pecahan hati istriku hingga
berbentuk lagi. Summer baru saja menikmati indahnya hidup dan kembali terenggut. Katakan Iley, apa yang harus aku lakukan ? Sementara para suruhan istana tidak bisa mendapatkan sedikit pun bekas tapak kaki istriku.” Ucapnya lemah
“Riley mengambil meja kecil dan menaruh makanan di atasnya “Makan, itu pertama kali harus kau lakukan Lord Finnie. Kau harus cepat sembuh dan kita akan mencari Dokter Summer. Melihatmu seperti ini, sungguh sangat mengherankan bagiku. Robert Finlay tidak selemah ini. Kau adalah pewaris tahta, kak.”
Mata Finlay sayu menatap adiknya “Bagaimana jika aku memberikan gelar pewaris itu kepadamu, Iley.”
“Jangan menggila, itu tidak akan terjadi. Segala sesuatu di kerajaan tidak bisa dirubah semudah membalikkan telapak tangan. Titel pewaris
telah kau dapatkan jauh sebelum dirimu lahir, Lord Finnie. Jangan mengubah apa yang telah dijalankan kerajaan ini. Cukup sudah dengan berita yang berkembang di Mersia saat ini.”
Finlay yang tadinya hendak menyuap sup seafood kembali menaruh sendoknya di mangkuk. Wajahnya menjadi lebih tegang.
“Kita tidak bisa menahan berita simpang siur itu, Iley ?”
Riley mengangguk menjawab pertanyaan kakaknya “Identitas Lady Summer of Mersia telah menjadi santapan publik. Walau banyak bersimpati dengan masa lalu sang putri namun yang membencinya pun tidak sedikit. Mungkin karena Summer yang membuatmu celaka, kau tahu jika mereka sangat memuja sang pewaris tahta Mersia. Jadi cepatlah sembuh dan bersihkan nama istrimu. Hanya kau yang bisa Finnie.” Bujuknya
Finlay mengembuskan napas pasrah karena ia tahu hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang, menghabiskan menu makan siangnya hingga habis. Mengisi tenaga, menyembuhkan luka dan membunuh monster itu.
Kelabatan cahaya di kepala membuat ia harus menghentikan suapannya “Iley, bisakah kau mencarikan sesuatu di meja kerjaku ?”
Riley yang sedang membalas pesan Nadine, kekasihnya, pun lalu menurunkan ponsel dan menatap sang kakak
“Carikan sebuah kartu berwarna hitam seperti kartu platinummu, hanya saja tulisannya berbeda. Black Panther.” Terang Finlay
Alis Riley saling bertautan “Black Panther ? Kau ingin berurusan dengan mafia ?”
Finlay menandaskan isi mangkuknya dan menyesap orange jus tak lupa meminum berbagai pil diatas piring kecil. Semangatnya seolah tumbuh mengingat satu sosok yang ia temui di New York.
“Mersia adalah kerajaan yang terkemuka di Eropa, Iley. Memiliki orang-orang berkemampuan khusus dan telah aku kerahkan untuk mencari istriku. Tapi lihat ? Sudah 7 hari, Iley. Summer belum ditemukan.”
Riley bergerak mendekat tempat tidur kakaknya “Tapi mafia, Lord Finnie. Jangan menambah masalah.”
“Coba pikirkan jika kau ada di posisiku ? Istrimu diculik ketika masih dalam suasana bulan madu! Akal sehatku sudah hilang, Iley. Aku memikirkan
Summer, dia sangat membenci pria itu.”
Riley terdiam sejenak menatap wajah kakaknya yang tidak bisa dijabarkan “Baiklah jika itu maumu Lord Finnie. Tolong lakukan dengan cara yang
halus dan tersembunyi. Jangan sampai ini mencoreng nama baik kerajaan.”
Finlay mendengus kasar “Aku ingin melihatnya mati, Iley.”
“Tuhan !” pekik kecil Riley menangkup wajahnya “Kemana Lord Robert Finlay yang kukenal selama ini, kau adalah pria penuh kasih, kak. Bukan seorang pembunuh. Nasib rakyat ada di tanganmu, mereka tentu tidak mau dipimpin oleh
seorang raja yang kriminal.”
“Aku tidak peduli !” balas Finlay menoleh ke arah jendela besar di sebelah kanannya. Ia bukan raja, hanya pewaris tahta dan seorang suami. Pria mana diluar sana bisa duduk santai sementara istrinya berada dalam cengkeraman monster dengan predikat mantan suami.
…
Summer menggeliat namun sepasang tangan mendekap erat tubuhnya. Matanya membulat melihat wajah Jason tak berjarak dengan dirinya. Mereka bahkan bertukar oksigen.
“Lepaskan !” teriak Summer di pagi buta, ia tidak tahu kenapa mereka bisa berakhir dengan tidur bersama.
Bukannya mendengar keinginan Summer, Jason malah mengecup bibir wanita itu dengan ringan
“Cara membangunkan yang sangat sempurna, Rinduku.” Dalam satu gerakan Jason telah menindih tubuh Summer
Air mata mengalir dari kelopak mata Summer “Tolong jangan lakukan ini.” Perihnya meminta
“Kau adalah istriku, Rindu. Aku berhak atas tubuhmu.”
“Tidak ! Aku adalah istri Robert Finlay !” ucapnya sambil mengoyangkan kepalanya menjauh dari bibir Jason yang hendak menyusuri lehernya
“Jangan pernah menyebut nama pria itu lagi di depanku.” Ucap Jason menurunkan tubuhnya dari badan Summer
“Dia adalah suamiku dan jangan pernah melakukan hal lebih dari perbuatanmu tadi.” Ancam Summer bergegas turun dari tempat tidur
Greb ! tangan Summer ditarik oleh pria tanpa mengenakan atasan “Suatu hari kau akan takluk, sayang. Kita masih punya waktu puluhan tahun untuk bersama. Perlahan cinta akan tumbuh di hatimu.”
Summer mengetatkan rahangnya “Apakah kau juga bersedia merawat anakku dari sang pewaris tahta ?”
Jason spontan mendudukkan badan lalu mengeraskan cengkeramannya pada tangan Summer “Rindu ! Kau hamil ?”
###
alo kesayangan 💕,
viva la drama 🤭
don't hate me, otak mafia author lagi jalan 😄
love,
D 😘
Tamat baca utk yg kedua kalinya ...
Dan tetap rinci baca dari tiap episode ....
Abis ini baca lagi Jace, Axel, Kai ...
Semangat author .... 🌹
who are you..?
D...
D...
D...
mm...
mm...
.....
mr. HB is back..!!
...
hiks..hiks..hiks...
huuuwaaa.....aaa...