Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 22. Apakah Kau Menolakku?
Dilematis yang di alami Aljav, membuat hatinya gusar sekaligus bingung. Dia hampir tak menemukan jawaban dalam setiap pertanyaan. Perjodohan selayaknya zaman Siti Nurbaya terpaksa harus di terima, karena rasa cinta kasih pada Mama dan Papa.
Sementara di sisi lain, dia juga harus mempertanggung jawabkan janjinya pada Naura. Menikah dan hidup bahagia. Itulah rencana keduanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Angan-angan untuk hidup bersama, memiliki anak yang lucu, dan tinggal di rumah sendiri, merupakan impian besar Aljav. Dia menjatuhkan impian itu pada Naura, sang kekasih yang ternyata berselingkuh di belakangnya tanpa dia ketahui.
Cinta Aljav pada Naura tulus tanpa syarat. Janji yang di ucapkan pria itu bukan sekedar bualan belaka, melainkan sebuah ikrar suci dengan sepenuh hati.
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Marina juga merasakan hal serupa. Dia menolak keras perjodohan itu. Tak pernah sedikitpun ada dalam benak Marina untuk menikahi Aljav. Bahkan jika hanya ada satu pria di dunia ini, dan itu Aljav. Marina lebih memilih hidup sendiri sampai mati.
"Ayah, bagaimana bisa Ayah menyetujui perjodohan itu tanpa bertanya dulu padaku," protes Marina tak terima dengan perjodohan.
"Sayang, Ayah dan Bunda sudah memutuskan kalian akan menikah. Javier dan Alea yang menginginkanmu menjadi menantunya sayang," jawab Ayah dengan suara pelan. Dia tak mau membuat hati Marina semakin terluka.
"Itu keinginan Tante Alea dan Om Javier. Bukan Aljav," tandas Marina masih tetap menolak.
"Sayang, apakah kamu tidak percaya pada Ayah dan Bunda?" tanya Ayah, menggoyahkan iman Marina.
"Aku percaya sama Ayah dan Bunda, tapi aku tidak percaya pada Aljav. Pria itu sangat menyebalkan Ayah. Setiap hari dia selalu mengejekku di kantor. Bahkan ketika Ayah dan Bunda ke Belanda, setiap hari kami bertengkar di rumah. Bahkan dia juga telah mencuri ci--" Marina tak melanjutkannya kalimatnya. Suara wanita itu bagai tercekat di tenggorokan. Hampir saja dia keceplosan mengatakan, bahwa Aljav telah mencuri ciuman pertamanya. Beruntung kesadaran wanita cantik itu kembali, dan yang sukses membuat Bunda terkejut adalah, ternyata selama ini Marina benar-benar tak nyaman pada Aljav. Ini pertama kalinya Marina mengeluh tentang Aljav di depan mereka.
"Dia mencuri apa dari kamu?" tanya Bunda penuh selidik. Marina salah tingkah dan canggung.
"Maksud Marina mencuri pisang goreng. Ya, pisang goreng," jawab Marina bohong. Namun, tak serta-merta membuat Ayah dan Bunda percaya begitu saja. Pasalnya, Marina tak suka pisang goreng.
"Pisang goreng? sejak kapan kamu makan pisang goreng? bukannya kamu tidak suka pisang?" sangsi Bunda. Marina semakin kehilangan kata-kata. Dia harus berpikir keras untuk menutupi kecanggungannya di depan Ayah dan Bunda.
"Ya..., sejak Ayah dan Bunda ke Belanda."
"Ah, sudahlah. Pokoknya Marina tidak mau menerima perjodohan ini. Marina tak mau hidup bersama pria angkuh itu." Selesai. Marina telah mengambil keputusan dan tak terbantahkan. Dia benar-benar tak berniat untuk mengubah keputusan itu. Bahkan jika di perlukan, dia akan pergi jauh dari negara itu demi hidup berjauhan dari Aljav.
Ayah dan Bunda pun tak bisa berbuat banyak. Tak baik bagi Marina jika memaksakan kehendak. Perjodohan itu tak semestinya ada. Atau memang seharusnya tak pernah di pikirkan.
"Aku bilang juga apa, Marina pasti menolak. Dan kamu lihat sendiri kan bagaimana putri kita tadi menolak Aljav?" ucap Bunda kembali meragukan perjodohan.
"Itu karena dia putrimu. Dia persis sepertimu. Awalnya menolak, tapi setelah saling mengenal dan menjalani, lama-lama juga jatuh cinta," goda Ayah seakan melupakan bagaimana perasaan Bunda.
"Tapi kita dulu memang saling mencintai sejak awal. Sementara Marina? mereka bahkan tak pernah akur," tandas Bunda tak mau kalah.
"Baiklah-baiklah, nanti aku akan bicarakan ini sama Alea dan Javier. Aku yakin mereka akan mengerti perasaan Marina," tutup Ayah menenangkan Bunda.
**
Senja hari yang cerah, kala cahaya matahari berwarna jingga di ujung langit. Sinar mentari itu hampir saja terbenam dari balik lautan pantai. Marina menatap lurus sinar mentari yang berwarna jingga itu dalam-dalam. Dia tak suka jingga, tetapi entah mengapa warna senja itu seolah meneduhkan hatinya.
Sembari menatap warna senja, Marina menunggu seseorang yang setengah jam yang lalu saling berjanji untuk bertemu di bawah langit senja pesisir pantai. Dan benar saja, orang itu telah datang dengan menggunakan kacamata hitam.
Dia berjalan angkuh dan memasang wajah datar tanpa ekspresi. Kini keduanya duduk berdampingan. Untuk sesaat keheningan menghampiri mereka. Tak ada yang mau membuka suara, hingga cahaya senja berubah menjadi gelap.
"Ada apa kamu memintaku bertemu disini?" tanya Aljav datar. Ya, Aljav dan Marina membuat janji untuk bertemu di pantai yang biasa keluarga besar mereka merayakan weekend dulu.
"Aku rasa kamu sudah mendengar tentang perjodohan kita, dan kamu pasti sudah tahu apa jawabanku," jawab Marina tanpa melihat wajah Aljav. Pandangannya lurus kedepan, masih di titik yang sama sewaktu warna senja tadi belum berganti hitam.
"Memang apa jawabanmu?" tanya Aljav datar. Pria itu seolah tidak tahu apa jawaban Marina. Padahal dia tahu betul bagaimana sikap Marina padanya selama ini.
Marina memutar kepalanya melihat Aljav yang tampak angkuh.
"Apakah kau benar-benar tidak tahu jawabanku?" tanya Marina kesal. Aljav tak menjawab pertanyaan wanita itu. Dia hanya menaikkan bahunya tak perduli.
Baiklah, tak perlu basa-basi lagi. Sudah saatnya Marina mengatakan isi hatinya. Menikahi Aljav adalah pilihan terburuk yang pernah ada.
"Aljav, aku tidak ingin kita menikah. Aku menolak perjodohan itu," tutur Marina dengan satu kali tarikan nafas, membuat harga diri Aljav terpojokkan. Apakah dia baru saja di tolak? padahal dia juga tak menginginkan perjodohan itu terjadi. Namun, entah mengapa Aljav merasa marah ketika mendengar penolakan Marina atas dirinya.
Aljav membuka kacamata hitamnya, dan menatap tak suka pada Marina.
"Apakah kau baru saja menolakku?" tanya Aljav datar. Namun, penuh penekanan.
"Anggap saja begitu. Lagi pula kita tak pernah akur. Dan satu lagi, aku sangat membencimu!"
Wusss,
Suara ombak di lautan mengalun deras di pesisir pantai. Menggeser pasir putih yang bening. Ombak itu menghantam karang di lautan, hingga hancur berkeping-keping. Karang itu ibarat perasaan Aljav yang hancur berantakan ketika Marina mengatakan, bahwa dia membenci dirinya. Entah mengapa hati Aljav terasa nyeri.
"Apakah kau pikir aku mencintaimu? apakah kau kira aku menginginkan perjodohan ini? simpan saja harga dirimu itu!"
"Ya sudah, katakan pada Tante Alea dan Om Javier, bahwa kita sama-sama menolak perjodohan ini."
Entah mengapa kalimat Marina membuat Aljav seperti tertantang. Benarkah wanita ini tak mau menikah dengannya? pikir Aljav.
"Apakah kau sungguh tak mau menikah denganku?" tanya Aljav datar. Namun, penuh penekan.
"Tentu saja tidak! apa kau pikir aku sudah gila mau menikah dengan pria dingin dan angkuh sepertimu? bahkan jika hanya ada satu pria di dunia ini, dan itu kamu, maka aku lebih memilih hidup menjadi perawan tua sampai mati!" tutur Marina meluap-luap.
"Apa kau pikir aku pria jahat? apa kau pikir aku tidak bisa membahagiakanmu ketika menjadi istriku?" balas Aljav tak mau kalah.
"Tentu saja kau akan membuatku tersiksa setiap hari. Kamu akan menyebutku titisan body losion setiap saat, dan itu membuatku marah dan sakit hati!" tandas Marina menggebu-gebu. Tanpa mereka sadari, perdebatan itu justru menghantarkan keduanya dalam ikatan pernikahan melalui perjodohan yang di sepakati sepihak, yakni Aljav.
"Baiklah." Aljav mengambil ponsel miliknya dari saku celana dan menekan nomor yang tak di ketahui oleh Marina.
"Halo Mama, Aljav dan Marina sudah sepakat untuk menikah. Atur saja pernikahan kami secepatnya," ujar Aljav pada Mama Alea seolah melupakan Naura kekasihnya.
Sungguh kesalnya Marina, dia benar-benar tak terima mengapa Aljav membuat keputusan secara sepihak? bukankah dia tahu jawaban Marina?
"Hei, apa yang kamu katakan pada Tante Alea? mengapa kamu bilang kita sepakat untuk menikah? apa kau sudah gila?" kesal Marina.
"Karena kau baru saja merendahkanku. Ngomong-ngomong soal gila, bukan aku yang gila nanti, tapi aku yang akan membuatmu gila dalam rumah kita," balas Aljav santai bagai tanpa beban seraya pergi meninggalkan Marina.
"Aljav, aku tidak ingin menikah denganmu! cepat katakan pada Tante Alea kalau aku menolak perjodohan itu!" teriak Marina pada Aljav yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan pantai. Dia melambaikan tangan dengan posisi membelakangi Marina dan terus berjalan menuju mobil.
"Brengsek kamu Aljav!"
Sungguh Marina tak bisa menikahi Aljav. Pria dingin dan angkuh itu bisa membuatnya mati perlahan. Ataukah justru sebaliknya? entahlah. Marina sangat ketakutan membayangkan bagaimana kondisi rumah tangganya nanti. Menikah tanpa cinta sungguh sangat mustahil.
To be continued.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗