Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28. Liburan malam
“Muka kamu langsung merah," ungkapnya dengan kekehan geli.
Aku masih mencoba mengalihkan pemikiranan mesumku itu. Masalahnya satu, bisa-bisa aku tak bisa menolaknya. Apalagi tempatnya mendukung. Karena sebelumnya kami tidak pernah dalam posisi yang seperti ini.
Ya, maksudku di dalam kamar. Di atas tempat tidur, dengan dirinya berbaring rileks tanpa pakaian bagian atasnya itu.
Atau mungkin, pakaian bagian bawahnya pun sudah enyah entah ke mana?
“De…" Ia mengusap lenganku yang tidak tertutup pakaian ini.
Aku tengah mengenakan dress tanpa lengan. Bahkan tanpa lengan lagi, tapi dress tali pita. Ya, tali sebesar jari kelingking saja yang menempel di bahu kanan dan kiriku.
“Bangun, Mas. Udah petang ini," kataku, dengan menunduk memperhatikan jam tanganku.
Aku tak mau bertemu pandang dengannya. Aku khawatir ia memahami bahwa khayalanku sudah jauh.
Apa wanita sepertiku ini juga disebut wanita mesum?
“Iya ini udah bangun, Sayang.” Ia bangun dan langsung memelukku.
Ia seperti anak kecil yang baru bangun tidur, kemudian baru menemukan ibunya.
“Peluk Mas, De," pintanya dengan ia mengeratkan lagi pelukannya padaku. Jangan lupakan kepalanya pun bersandar manja di bahuku.
“Dea…” Ia menggerak-gerakkan tubuhnya seolah tengah protes padaku karena aku tak kunjung memeluknya.
"Iya ini, Mas,” sahutku dengan melingkarkan tanganku ke punggungnya.
Ya ampun, dadaku menempel pada dadanya.
Cepat-cepat aku menyadarinya, kemudian aku melepasnya. Lalu, aku segera melepaskan pelukannya padaku.
"Cium dulu, mau ke mana?” Ia mencekal tanganku, ketika aku bangkit dari dudukku.
Aku merasa serba salah. Aku takut terpancing di suasana petang ini.
"Udah sih, Mas! Lepasin duh…" Aku gelisah sendiri ketika ia menarik pergelangan tanganku.
Dan, happp.
Benar saja, aku mendarat di atas dada bidangnya. Kemudian, ia langsung menggulingkan tubuhku ke samping kirinya. Dengan gerakan manja, ia langsung memutarku membelengguku kembali dengan pelukannya dari belakang tubuhku.
“Mas nggak bakal ngapa-ngapain, De. Mau peluk aja," akunya dengan menaikan satu kakinya ke atas pahaku.
“Mas kangen," lanjutnya dengan nada lembutnya.
Hufttt, hanya seperti ini saja kan?
Baiklah.
“Mas dari mana ini?" tanyaku di sela kegiatannya yang katanya kangen padaku itu.
“Dari Singapore, De. Kan Mas ada bilang kan pas kamu masih di Aceh. Nanti tiga bulan Mas datangi lagi, Mas usahain kamu, De," ungkapnya yang membuat ingatan seolah kembali di kamar penginapan itu.
Ohh, kejadian itu sesaat setelah ia mengusap part belakangku ya?
“Udah habis masa iddah kamu, Mas udah bebas dekati kamu," ungkapnya dengan menyesapi bau di bagian punggungku.
Ya ampun, aku tak tahan.
"Jangan gitu sih, Mas,” elakku menolak. Itu adalah bagian sensitifku.
Area leher, tengkuk, punggung, pokoknya jangan.
Namun, giginya menancap di sana. "Kamu mau ke mana, ayo kita habiskan malam ini berdua,” ujarnya setelah melepaskan giginya pada punggungku.
Jika disentuh, pasti bagian bawahku sudah basah. Aku sudah terbangkitkan, tinggal paksaan saja sedikit lagi.
Tapi lebih baik jangan. Aku belum ingin bermain laki-laki, apalagi dari kampung belum ada kabar jika mas Galih sudah mengurus perceraian kami.
Apa ia tidak ingin kawin lagi kah? Kenapa ia tidak segera memprosesnya sih?
“Ke mana aja, yang penting lepasin aku dulu, Mas," pintaku dengan mata terpejam.
Tubuhku merespon sentuhannya dengan baik.
“Kalau di kamar aja gimana?" tawarnya dengan hembusan napasnya yang berada di tengkukku.
Ya ampun, Mas.
Rasanya aku ingin diperkaos saja.
“Mas Barraq! Jangan cium-cium gitu ih, nggak sopan," protesku setelah merasakan bibirnya di sana.
“Pengen ya?" ledeknya dengan kekehan geli. Untungnya, detik itu juga ia melepaskanku.
Jika terus di kamar ini, bisa-bisa aku yang naik ke atasnya.
“Ayo siap-siap, kita keluar aja." Aku berguling ke sisi lain tempat tidurku, kemudian duduk dan membenahi pakaianku.
Aku harus membentengi diri.
Jika boleh begituan dengan laki-laki tanpa menikah, aku akan melakukannya setiap hari. Tapi aku paham, itu adalah dosa besar.
Beberapa saat kemudian, aku dan mas Barraq sudah berada di dalam mobil milikku yang sengaja dipindahkan dari Jakarta. Aku di sini memiliki dua mobil, ya satunya memang mobil perusahaan.
Lampu malam kota Medan mulai menyala di sepanjang jalan, membias indah di kaca jendela mobil. Malam ini kami berencana menghabiskan waktu di salah satu tempat hiburan malam terbaik di pusat kota.
Namun, alih-alih merasakan debar antusias yang biasa hadir, atmosfer di dalam kabin mobil justru terasa makin menyesakkan sejak kami berangkat.
Mas Barraq tidak berhenti bicara. Dengan suaranya yang berat dan nada dominan yang tak terbantahkan, ia terus memberikan instruksi. "Jangan posting apapun malam ini, De. Jangan ada story, jangan ambil foto suasana di sana, apalagi sampai memberi tanda lokasi di mana kita berada. Simpan ponselmu!"
Aku hanya terdiam, memandang keluar jendela sambil meremas jemariku sendiri di atas pangkuan. Instruksi yang berulang-ulang itu terasa seperti dinding tebal yang sengaja ia bangun untuk menyembunyikanku.
Ada rasa sakit yang perlahan mencubit dada, membuat rencana liburan yang indah ini mendadak terasa kelabu. Aku tahu dia selalu suka memegang kendali, tapi larangan ketat kali ini terasa berbeda, seperti sebuah rahasia yang memalukan.
Seolah menyadari perubahan sikapku yang mendadak bungkam, mas Barraq menghela napas panjang. Saat mobil terhenti di lampu merah jalanan Medan yang padat, ia mematikan musik, lalu menoleh ke arahku.
Sorot matanya yang tajam kini melunak, digantikan oleh gurat kecemasan yang jarang ia tunjukkan.
Ia membawa tangan kananku, kemudian mencium mesra punggung tanganku. "Keluarga Mas mulai menekan, Dea," ucapnya akhirnya, membuka suara yang sejak tadi tertahan. Tangannya bergerak, meraih tengkukku dan mengusapnya perlahan.
Sentuhan dominan yang protektif, namun kali ini terasa sarat beban. "Mereka minta Mas untuk bisa memposisikan diri Mas ke kamu. Mereka semua tau kalau status kamu belum resmi menjanda."
Kalimat itu telak menghantam kesadaranku. Sentuhannya yang biasa memabukkan kini terasa seperti pengingat pahit. Di balik gemerlap malam kota yang menanti kami, ada realitas rumit yang siap menarik kami jatuh kapan saja.
Denting gelas beradu dengan dentuman bas yang menggeturkan dada. Di bawah pendar lampu neon ungu dan biru yang berpendar remang, dunia luar seolah lenyap. Malam ini hanya ada aku, keriuhan club malam ini, dan sosok pria di depanku, mas Barraq.
Sejak kami melangkah masuk, atmosfer di antara kami langsung berubah. Mas Barraq, dengan kemeja coklat yang lengannya digulung setengah, memancarkan aura yang begitu kuat.
Dia tidak banyak bicara, tapi setiap gerakannya penuh tuntutan. Saat kami berdiri di dekat meja tinggi, tangannya perlahan mendarat di pinggangku.
Sentuhan itu hangat, namun tegas. Sebuah klaim bisu yang membuat bulu kudukku meremang.
"Suka tempatnya, De?" bisiknya tepat di telingaku. Suaranya yang berat mengalahkan bising musik, mengirimkan gelenyar halus ke seluruh tubuhku.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, mendongak untuk menatap matanya yang tajam. Mas Barraq tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat kuasa yang selalu berhasil membuatku tak berkutik.
Jemarinya yang kokoh perlahan bergerak naik, membelai tengkukku sebelum menarikku sedikit lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara kami. Sentuhannya selalu seperti ini dominan, protektif, dan memabukkan. Aku sengaja membiarkan diriku hanyut, menikmati bagaimana dia mengendalikan ritme malam kami.
Saat ia menyesap minumannya, tatapannya tidak pernah lepas dariku, mengunci seluruh kesadaranku. Tangannya yang bebas kini beralih menggenggam jemariku, meremasnya lembut namun erat, seolah memastikan aku tidak akan bisa lari ke mana pun.
Di bawah dominasi mas Barraq yang begitu pekat, aku merasa sepenuhnya aman sekaligus berdebar tanpa henti. Liburan ini baru saja dimulai, namun di tempat remang ini, di bawah kuasanya, aku tahu malam ini akan menjadi milik kami sepenuhnya.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠