Kesetiaan itu memang ada. Hanya saja, situasi dan kondisi yang membuat itu tiada. Saat kita menerima dia sepenuh jiwa, tapi kondisi memintanya sesuatu yang tak terduga. Maka, kita harus bersiap dengan kemungkinannya yang akan membuat kita kecewa dan menderita.
Pengorbanan hati dan harga diri demi dia yang kita sayang. Apakah dia akan menerima meski hati terluka, atau dia akan menjauh dengan hati yang runtuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Mulai dari episode ini, POV nya akan saya ganti jadi POV 3 atau POV penulis. Biar bisa leluasa menceritakan semua kejadian. Agar kalian juga merasa puas dan bisa merasakan apa yang ingin aku sampaikan.
Happy reading, Readers. Love U all.🤗😘😍
...🌺🌺🌺...
...Kuingin saat ini...
...engkau ada di sini...
...🌺🌺🌺...
Di dalam kamar dengan dekorasi princess itu, seorang putri penghuni istana sedang menangis.
Bukan hanya malam ini, tapi malam-malam yang telah lalu pun dia habiskan dengan deraian air mata.
"Harusnya aku sadar dari awal, cinta Kak Andre bukan untukku. Dia hanya baik."
Gadis itu bergumam disela Isak tangisnya. Kesalahan karena jatuh cinta pada orang yang dianggapnya salah, membuat dia patah hati. Menorehkan luka begitu dalam.
Raya. Dia yang diam-diam selalu mengikuti Andre. Dia yang selama ini telah jatuh hati pada tukang ojek yang tampan dan baik hati. Dia yang rela melakukan apa saja demi tukang ojek tersebut. Dan dia jiga yang rela menerima hukuman demi tukang ojek online tersebut, kini kecewa pada dirinya sendiri.
Dia yang bukan tidak ingin membuat Andre bertahan di sisinya, tapi mencoba bersikap ikhlas, tidak menyangkal harus seberat ini merasakan sakit.
Ya. Raya si gadis manis itu tidak ingin menghancurkan hati Andre untuk ke dua kalinya. Bagaimana mata Andre begitu bahagia meski mulutnya terdengar marah saat pertama bertemu lagi dengan Mia, membuat Raya menyerah. Dia mundur karena ingin Andre bahagia.
Papi, Mami, Bahkan Bundanya, telah berusaha agar Raya tidak kuliah ke luar negeri. Mereka tidak bisa membiarkan anak semata wayangnya pergi jauh. Tetapi tidak ada yang bisa melarang keinginannya jika bukan dirinya sendiri.
"Yaya! elu beneran tega sama orang tua lu? masa, sih, demi cowok, elu mau ninggalin mereka? gila aja!"
"Bukan demi cowok itu. Semua ini demi diri gue sendiri."
"Indonesia itu luas. Elu gak harus kabur ke luar negeri hanya untuk menghindari dia."
"Elu gak ngerti, Rin. Elu gak akan ngerti." Raya kembali menangis di hadapan Airin, sahabatnya.
"Halaman rumah gue, tempat gue makan, tempat gue nongkrong, tempat gue belanja, semuanya pernah dia kunjungi. Gue dan dia pernah pergi bersama. Gimana caranya gue bisa lupa? setiap langkah dan nafas gue, selalu ada bayangan dia. Gue haru apa, Rin? gue harus ngapain?" Dengan terbata-bata, disela tangisannya Raya mencoba mencurahkan isi hatinya.
"Ya ampun, Yaya. Segitunya elu cinta sama dia. Padahal ada Zidan yang dari dulu tulus sama Elu."
"Zidan udah gue anggap Kakak. Lagi pula, dia bukan suka sama gue, Rin."
"Masa, sih? bukannya dia rela ngasih ini itu buat Lu? inget, gak? waktu kita kelas dua dulu, dia bahkan sengaja nyewa satu bioskop buat kita nonton."
"Elu sadar, gak? di sana bukan cuma gue sama Zidan."
"Iyalah. Gue juga kan ikut."
"Nah, Elu tau."
"Apaan?" Airin penasaran. Gadis itu tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud Raya.
"Iiih. Kesel, deh! gue kan lagi sedih, ngapain ngomongin Zidan, sih?"
"Yaya. Gue punya ide bagus, nih. Dengan ide gue,satu dayung dua pulau terlampaui. Sambil nyelam minum air. Satu pukulan dua sasaran."
"Elu lagi ngomong apa, sih? udah, ah! gue mau packing aja kalau Elu udah gak mau dengerin gue."
"Tunggu dulu!" Airin menarik tangan sahabatnya untuk kembali duduk. "Dengerin, nih. Biasanya, seseorang akan merasa kehilangan setelah memiliki."
"Kebalik dodol!" Raya menoyor kepala sahabatnya.
"He he he. Iya, itu maksud gue. Nah, begini. Elu minta Zidan buat jadi pacar boongan. Elu bawa, deh, Zidan pergi ke tempat yang biasanya ada Kak Andre, lihat tuh reaksinya gimana."
"Astagaaa ...." Raya tampak berbinar. Airin senang karena idenya dianggap brilian.
"Norak? bueddd!"
Airin cemberut. Dia kecewa karena idenya tidak terpakai.
"Ya udahlah. Kita tidur aja. Aneh-aneh aja Elu, sih!"
"Eh, Ya! kalau Zidan gak suka sama Elu, terus sama siapa? aku penasaran, deh." Airin terus saja menganggu Raya yang sedang bersiap untuk tidur.
"Ya, jawab, dong. Jangan diem aja. Entar, gue mati lajang, gimana?"
"Kagak! Zidan pasti akan ngelamar Elu."
"Zidan? kenapa harus dia. Ahhh, Yaya! jawab, dong. Kesel deh!"
Raya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Berharap agar Airin tidak menggangu dia lagi.
Lampu sudah dimatikan. Airin sudah terlelap dalam tidurnya.
Raya kembali bangun. Dia mengambil ponsel lalu membuka file galeri.
Dengan isak tangis yang dia tahan, tangannya perlahan menggeser satu persatu foto-fotonya bersama Andre.
Rasa cintanya begitu besar sampai harus menghunus jantungnya sendiri.
Merelakan dia bahagia bersama orang terkasih, adalah keputusan Raya sebagai bukti cintanya pada Andre.
"Aku harus gimana, Beb? mempertahankan kamu buat terus di sisi aku, takutnya malah kamu yang sakit. Tapi ...." Suara tangisan Raya terdengar sedikit keras. "Sekarang malah aku yang terluka. Bahkan, aku merasa jika mati adalah hal yang jauh lebih baik."
"Yaya ...," lirih Airin yang ternyata belum tidur sepenuhnya. Dia hanya berpura-pura.
"Gue harus gimana, Rin? hati gue sakit. Gue hancur, Rin."
Baik Raya atau Airin, menangis. Mereka saling berpelukan.
Beb, salah gak kalau aku ingin kamu di sini?