"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."
***
Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?
Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?
Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.
Slow Update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki yang Sama
"Jadi kamu memilih pulang ke Jogja karena permasalahan dengan Mia, El?"
Dua sahabat yang sudah lama tidak bersua itu berbincang hangat sambil menikmati irisan brownies kukus rasa pandan yang terasa begitu nikmat di dalam indera pengecap. Tak lupa, dua gelas teh hangat juga ikut menemani acara mereka yang bisa disebut sebagai acara temu kangen ini.
Ellana menyeruput teh hangat yang ada di tangannya. "Mungkin itu bisa jadi salah satu alasannya, Na. Aku benar-benar tidak bisa dekat dengan dua orang pengkhianat itu." Ellana membuang nafas kasar. Jika membahas Diko dan Mia, dadanya masih terasa begitu sesak. "Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, Na. Takut, kalau aku malah semakin dibuat emosi jika melihat wajah keduanya."
Nana mengangguk-anggukkan kepalanya. Berusaha mendengarkan dengan seksama cerita sahabatnya ini. "Oh jadi seperti itu? Aku malah sudah lama lost contact dengan Mia, El!"
Ellana sedikit terhenyak. "Benarkah seperti itu Na? Sejak kapan?"
Nana sedikit menyipitkan matanya, berupaya mengingat-ingat kapan terakhir kali ia berkomunikasi dengan Mia. "Kalau tidak salah sudah sejak dua tahun yang lalu, El. Mungkin sejak ia ikut ke Bandung untuk bekerja di sana."
"Aku benar-benar tidak menyangka Na, kalau Mia tega melakukan ini semua terhadapku. Padahal tinggal satu langkah lagi aku dan Diko akan menikah, tapi...."
Mata Ellana kembali memanas dan berkaca-kaca. Jika kisah tentang Diko kembali diangkat ke permukaan, hanya bisa menyisakan rasa sesak di dalam dadanya. Ternyata ia masih lemah. Lemah karena sebesar apapun upayanya menguatkan dirinya, ia tetap menangis.
Nana hanya bisa turut bersimpati dengan apa yang dihadapi oleh sahabatnya ini. Nana memeluk tubuh Ellana, dan berupaya membuatnya sedikit lebih tenang. "Ssssttt... Sudahlah El, jangan kamu ingat-ingat lagi tentang kejadian itu. Kini saatnya, kamu menata kembali hidupmu. Percayalah jika kebahagiaan sedang menantimu di masa depan nanti."
Ellana mengangguk di dekapan Nana. "Terimakasih banyak Na. Terimakasih banyak karena sejak SMA, kamu selalu ada ketika aku perlu."
Nana mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. "Sama-sama El. Aku berharap, meskipun saat ini hati kamu tengah terluka, tidak ada dendam yang bersarang di hatimu. Aku harap kamu bisa memaafkan Mia ataupun Diko."
"Aku sudah berusaha untuk memaafkan mereka Na. Tapi rasanya sangat sulit. Jika mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadapku, ingin rasanya aku mendoakan hal-hal yang buruk agar menimpa mereka, tapi..."
"Tapi kenapa El?"
Seutas senyum tiba-tiba terbit dari bibir Ellana. "Tapi ada seseorang yang mengatakan kepadaku, daripada aku sibuk dengan doa-doa buruk untuk mereka lebih baik aku menyibukkan diri dengan kebahagiaan dan kebaikan diriku sendiri. Aku baru tahu, jika dendam yang bersarang di dalam hati itu, hanya akan menyisakan rasa lelah yang tidak akan pernah ada penawarnya."
Nana ikut menyunggingkan senyumnya. "Apa yang dikatakan oleh orang itu benar El. Memang siapa orang itu?"
Ellana sedikit mengurai pelukannya dari tubuh Nana. "Emmmm.. Belum waktunya kamu untuk tahu Na. Tapi suatu saat nanti kamu pasti akan tahu."
Nana terkekeh pelan. "Kamu ini El, masih saja main rahasia-rahasiaan di depanku."
"Ya, karena aku rasa belum waktunya kamu tahu Na." Sambil mencomot sepotong brownies kukus, Ellana kembali melanjutkan ucapannya. "Kalau kamu sendiri bagaimana Na? Apakah kamu sudah punya calon suami?"
Mendadak pipi Nana merona. Selama ini, ia memang tidak pernah bercerita apapun tentang perasaannya yang telah lama terpendam untuk sosok laki-laki yang begitu ia dambakan kepada siapapun. "Aku belum mempunyai calon suami El. Namun sudah sejak lima tahun terakhir ini, aku memendam perasaan kepada seorang laki-laki."
Mata Ellana membulat. Ia sedikit tidak percaya jika sahabatnya ini bisa memendam perasaan dalam waktu yang bisa dikatakan sangat lama itu. "Lima tahun? Siapa orang itu Na? Kenapa aku tidak pernah tahu?"
Nana tersenyum simpul. "Ia putra dari teman bundaku. Aku beberapa kali bertemu dengan lelaki itu ketika ikut bunda kajian di salah satu pondok pesantren yang berada di pusat kota. Dan semenjak itu, aku benar-benar mengagumi lelaki itu. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menyimpannya di dalam hati."
Ellana terperangah. "T-tapi, mengapa kamu hanya diam Na? Mengapa kamu tidak melakukan apapun?"
"Aku hanya percaya bahwa jika berjodoh, aku akan kembali bertemu dengannya, El." Tetiba binar bahagia nampak jelas bersinar dari kedua bola mata Nana. "Dan sepertinya, hari ini aku akan kembali dipertemukan dengan lelaki itu."
Ellana tidak kalah bahagia dengan apa yang disampaikan oleh Nana. "Benarkah? Itu artinya, hari ini kamu akan bertemu dengan lelaki itu? Di mana, Na?"
Nana menganggukkan kepalanya. "Iya El. Pagi ini ia dan bundanya akan datang kemari. Aku benar-benar gugup El."
Ellana tersenyum simpul. Ia raih telapak tangan sahabatnya ini, kemudian ia genggam dengan erat. "Kamu cantik, baik, dan sholehah Na. Aku yakin, lelaki manapun pasti akan sangat bahagia bila memiliki pendamping hidup seperti kamu. Jadi, kamu jangan gugup ya."
Nana menghela nafas panjang. "Semoga El. Semoga."
"Na..."
"Ya? Ada apa El?"
"Bolehkah aku minta diajari memakai kerudung?"
Ellana sedikit kikuk menyampaikan maksudnya. Namun ia merasa bahwa Nana adalah orang yang tepat untuk menjadi kiblatnya dalam memulai proses hijrahnya saat ini. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengenakan pakaian tertutup.
Nana terperangah mendengar penuturan Ellana. Ia sedikit tidak percaya dengan apa yang terucap dari bibir sahabatnya ini. "Apa El? K-kamu ingin mengenakan kerudung?"
Ellana mengangguk pelan. "Iya Na. Aku ingin berhijab. Bisakah kamu mengajari aku?"
Binar bahagia sekaligus haru nampak jelas keluar dari raut wajah Nana. Ia benar-benar terharu, sahabat baiknya ini memiliki niat untuk berhijab. "Tentu saja El. Tentu saja aku mau mengajarimu mengenakan kerudung. Lalu, mulai kapan kamu mau belajar?"
"Sekarang, Na!"
"Mashaallah... Aku benar-benar tidak menyangka jika secepat ini kamu memiliki niatan untuk berhijab. Kalau boleh tahu, apakah ada sesuatu yang menjadi alasannya?"
Ellana tersenyum simpul. "A-aku hanya sedang berusaha untuk memantaskan diri, Na."
Dahi Nana sedikit mengerut. "Memantaskan diri? Maksud kamu bagaimana El?"
Ellana terkekeh pelan. "Na, meskipun aku ini seorang wanita yang banyak kekurangannya, namun aku juga ingin mendapatkan seorang pendamping hidup yang baik. Maka dari itu aku ingin memantaskan diriku terlebih dahulu, agar aku benar-benar pantas mendapatkan lelaki yang yang baik."
Senyum lebar semakin terlihat jelas di bibir Nana. "Mashaallah... Aku sungguh bahagia mendengarnya, El. Sungguh bahagia."
Nana kemudian beranjak dari duduknya. Ia melangkahkan kaki menuju almari pakaiannya, ia buka almari itu dan nampak dari kejauhan gamis dengan warna dan motif yang beraneka rupa, tertata rapi di dalam almari itu.
"Kemarilah El. Pilih lah salah satu dari pakaianku ini untuk menjadi awal hijrah mu!"
Ellana beranjak dari posisinya. Ia ikut berdiri di samping Nana untuk melihat pakaian-pakaian yang ada di dalam almari Nana. Entah mengapa, hari ini ia begitu bersemangat untuk memulai proses hijrahnya ini.
"Aku ingin memakai yang ini Na!"
Sepotong gamis modern motif floral dengan bahan sifon warna soft pink menjadi pilihan Ellana. Saat melihat pakaian itu, rasanya ia sangat yakin jika pakaian itu akan sangat cocok untuk ia kenakan.
Nana tersenyum. "Baiklah El, pakailah pakaian ini. Setelah itu, aku ajari kamu memakai kerudung."
Ellana dengan penuh semangat masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian ia keluar dengan gamis yang sudah dipilihnya tadi.
"Bagaimana Na? Apakah aku terlihat aneh?"
Nana tersenyum simpul. Di matanya, Ellana adalah wanita yang sangat cantik, tubuhnya juga proporsional jadi memakai pakaian apapun pasti akan cocok di badannya. "Kamu semakin terlihat cantik El, sangat cantik." Nana berjalan ke arah kursi kecil yang berada di depan meja rias. "Duduklah di sini, akan aku ajari kamu memakai kerudung."
Ellana menurut. Ia mendudukkan tubuhnya di atas bangku kecil itu. Dan dengan kepiawaiannya, Nana mulai membalut sehelai pashmina warna hitam untuk membalut kepala Ellana.
"Apakah dengan pakaian seperti ini, kamu tidak merasa gerah, Na?"
Nana terkekeh. "Lebih baik menahan rasa gerah di kehidupan yang sementara ini daripada menahan panasnya api neraka di kehidupan yang abadi nanti El." Perlahan, Nana menyematkan sebuah jarum di bawah dagu Ellana. "Untuk awal mungkin kamu akan merasa gerah, namun jika sudah terbiasa, kamu pasti justru merasa ada sesuatu yang hilang jika kamu melepas hijab ini."
"Benarkah seperti itu?"
Nana mengangguk. "Benar El. Oleh karena itu, sepanas dan se gerah apapun yang kamu rasakan, tetaplah istiqomah dalam hijrahmu ini ya. Ini hanya soal waktu, jika sudah terbiasa, kamu pasti akan bangga bisa mengenakan pakaian seperti ini. Karena pakaian seperti inilah yang menjadi bukti ketakwaan kita terhadap perintah Allah."
Ellana mengangguk. "Doakan aku agar bisa istiqomah ya Na."
"Itu sudah pasti Ellana." Nana menepuk bahu Ellana. "Sudah selesai, lihatlah wajahmu yang ada di pantulan cermin itu. Kamu terlihat sangat cantik, Ellana."
Ellana yang sebelumnya membelakangi cermin, perlahan mulai membalikkan badannya. Ia sedikit terkesima dengan apa yang nampak di dalam pantulan cermin yang ada dihadapannya ini. "Na, benarkah ini aku?"
Nana mengangguk. "Iya El. Ini adalah Ellana Alessia Safaraz Ismail."
"Ya Allah Na, mengapa aku terlihat cantik sekali."
Akhirnya salah satu sifat dari sang papa, hari ini menurun juga di tubuh Ellana. Ia yang begitu takjub dengan perubahan yang ada di dalam dirinya, tidak sadar memuji dirinya sendiri.
Nana terkekeh pelan. "Iya El, kamu sangat-sangat cantik."
Tok ..tok.. tok...
Suara ketukan pintu kamar yang diketuk dari luar, memangkas semua pembicaraan kedua orang sahabat itu. Nana melangkahkan kaki menuju pintu dan membukanya.
"Bunda!"
Lintang yang berdiri di depan pintu kamar mengulas sedikit senyumnya. "Na, itu tamu kita sudah datang. Ayo kita turun."
"Maksud Bunda, tante Widya?"
Lintang mengangguk. "Iya tante Widya dan putranya."
Deg ..!!
Mendengar nama Widya, membuat jantung Ellana berdegup tiada beraturan. Letak meja rias Nana tidak begitu jauh dari pintu kamar, oleh karenanya ia bisa dengan jelas mendengar perkataan bunda Nana yang berdiri di depan pintu kamar. Nama yang sangat tidak asing di pendengarannya. Dan membuat ingatannya langsung tertuju pada sebuah nama yaitu Rama. Namun Ellana berupaya menepis segala kegamangannya, bisa saja nama Widya yang dimaksud oleh bunda Nana ini berbeda dengan Widya yang merupakan bunda dari Rama.
Nana tersenyum simpul. "Baik Bun, Nana akan segera turun."
"Bunda tunggu ya Sayang."
Lintang kembali meninggalkan kamar Nana. Sedangkan Nana kembali menghampiri Ellana yang masih duduk di depan meja rias.
"El, ikut aku turun yuk. Aku perlihatkan kepadamu seorang laki-laki yang sudah mengusik hati dan pikiranku selama hampir lima tahun ini."
Mendadak hati Ellana dipenuhi oleh kegamangan yang begitu luar biasa. Ia takut jika lelaki yang dimaksud oleh Nana sama dengan lelaki yang membuatnya membulatkan niatnya untuk berhijrah.
"Na... Aku di sini saja ya. Aku tidak enak jika berada di sana. Aku takut mengganggu acara kalian."
"Apa kamu tidak keberatan jika aku tinggal di sini sendirian?"
Ellana mengangguk. "Tidak apa-apa Na." Ellana menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Na, kalau boleh tahu, siapa sih nama lelaki yang telah berhasil mengusik hati dan juga pikiranmu?"
Nana terkekeh pelan. "Namanya Rama. Rama Gilang Pradana."
Mata Ellana terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya menganga lebar sebagai bentuk dari rasa keterkejutannya. Terkejut, karena lelaki yang dicintai oleh sahabatnya ini adalah orang yang sama dengan lelaki yang kemarin meminangnya.
.
.
. bersambung....
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗
Happy reading kakak..
Salam love, love, love❤️❤️❤️
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹
lanjut thor...