Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.
Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22. Kecelakaan
Indira yang baru saja menerima pesan video dari Bi Qila terkekeh hingga tanpa sadar suaranya membangunkan Rafael.
Nyonya Veren dan Nyonya Ningrum saling melempar tatapan bingung melihat tingkah Indira yang mengagetkan seisi ruangan itu.
"Mami, Ibu, lihatlah ternyata wanita ular itu masih saja berusaha untuk mendekati Abian. Dasar tidak tahu malu dia sampai datang ke kantor."
"Wanita ular?" tanya Nyonya Veren tak mengerti siapa wanita yang di maksud anaknya.
"Apa Afrah?" tanya Nyonya Ningrum menduga karena tidak ada wanita yang lainnya lagi selain dia.
"Mami benar," jawab Indira masih tertawa puas lalu ia menghubungi Bi Qila.
"Bi, dimana Abian?" tanya Indira.
Bi Qilayang belum sempat mengatakan kini ponselnya sudah diraih oleh Abyan.
"Ada apa, Sayang? apa kau takut jika aku akan di goda wanita lain?" Abian menggoda istrinya hingga wajah yang tadinya begitu terhibur saya ketika tampak kesal.
"Abi, kau ini mengapa merebut ponselnya?"
"Kami sedang menuju ke perusahaan tempat Gibran bekerja. Kau jangan khawatir aku akan segera pulang setelah urusan selesai, oke?"
Indira mendengus kesal. "Iya-iya." jawabnya.
Panggilan telepon berakhir Indira kembali mengusap pelan Rafael yang sejak tadi sudah terbangun karena ulahnya.
"Indira, Ibu khawatir dengan wanita itu." ucap Nyonya Veren.
"Bu, Indira percaya dengan Abian. Ibu tenang saja." tutur Indira.
Abian tampak begitu sangat menyayangi putranya, sepanjang jalan ia terus memangku Rabian tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.
"Anak Papah ini sangat pintar, lain kali Rabian harus lebih nakal yah sama aunty itu?" tuturnya sembari mengusap lembut wajah Rabian yang masih tampak berkeringat.
"Jadi Bian boleh nakal, Pah?" tanya Rabian dengan girangnya.
"Tentu saja boleh. Rabian harus bikin aunty itu pingsan terus, oke?"
Rabian tersenyum mengangguk pada Abian.
Kini mereka menuju kantor di mana Abian akan bertemu dengan adik iparnya dan juga Rayker.
Sementara Afrah yang baru sadar dari pingsannya perlahan membuka matanya, ia menatap banyak wajah yang menontonnya saat ini.
"Astaga." ucapnya segera bangkit dan berusaha kuat membawa dirinya agar keluar dari perusahaan itu. Matanya menatap tajam pada setiap mata yang sudah mencibirnya.
"Anak sialan, aku tidak akan melepaskan mu begitu saja. Ingat aku akan membuatmu pergi dari kediaman itu bersama ibumu." ucap Afrah dalam hati.
***
Gibran yang sibuk bekerja terkejut saat Bram memanggilnya.
"Sekertaris Bram, silahkan masuk." Gibran mempersilahkan pria itu masuk namun Bram melirik ke arah Maureen yang duduk manis di sana.
"Tuan memanggil anda." sahut Bram.
"Kakak ipar? baiklah aku segera bertemu dengannya."
Gibran pun beranjak meninggalkan Maureen yang tengah berada di ruangannya.
"Kau tunggu di sini yah, aku pergi sebentar."
Maureen tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia menyandarkan kepala di sofa.
"Kakak ipar memanggilku?" ucap Gibran yang melihat sosok Rayker di dalam sana bersama Abian.
Abian membicarakan tentang perusahaan mereka, ia ingin antisipasi dalam pergerakan profit. Dari penerawangan Abian, ia bisa memperkirakan jika dalam waktu kedepannya mungkin akan mengalami banyak penurunan karena virus saat ini sudah mulai menyerang negara mereka.
"Rayker, kau orang yang paling aku percaya. Aku percaya padamu untuk mengurus seluruh pergerakan perusahaan kita di Amerika, dan sisanya biar Bram yang mengurus."
"Baik, Tuan. Saya sangat berterima kasih suatu kehormatan menjadi orang yang anda percaya. Saya tidak akan mengecewakan anda, Tuan." ucap Rayker patuh.
"Dan kau Gibran, sekarang pantau semua anggaran sebisa mungkin kecilkan pengeluaran karena kita akan menghadapi krisis kedepannya. Minimalkan pengeluaran perusahaan yang sekiranya tidak begitu penting."
"Baik, saya laksanakan."
"Yasudah sampai di sini kalian bisa berikan semua informasi pada Bram, ingat kita harus siaga saat ini."
Abian segera melangkah keluar dari ruang kerjanya, Rabian masih berada di dalam mobil dengan Bi Qila.
Bram dan Abian sengaja untuk meminta Bi Qila agar tetap di mobil. Karena mereka juga tidak akan lama.
Tiba-tiba seorang pria muncul dengan cepat dan masuk ke mobil, ia melajukan mobilnya.
Bi Qila merasa aneh, karena ia sibuk dengan Rabian sampai tidak sempat memperhatikan pria yang masuk tadi.
"Sekertaris Bram mengapa aneh? lalu di mana, Tuan? tunggu..."
Bi Qila sadar jika yang ada di hadapannya saat ini bukanlah orang Abian. Matanya terperanjak kaget setelah yakin jika dia bukanlah orang dari Abian.
Rabian masih sibuk bermain dengan robot kecil yang sengaja ia bawa pergi.
Bi Qila yang langsung menyergap pria itu dengan mencekiknya kini membuat perjalanan mereka jadi tak terkendali.
"Hentikan mobil ini!" hardik Bi Qila dengan sekuat tenaga sudah mengalungkan lengannya hendak meraih rem tangan mobil itu, namun sayang karena perkelahian di dalam mobil itu sangat sulit membuat dirinya mengendalikan stir mobil akhirnya mobil mereka menabrak mobil yang berlawanan arah.
"Aaaaaaa." teriak Bi Qila segera memeluk tubuh Rabian untuk melindungi bocah itu.
Di depan kantor Abian sudah membulatkan matanya.
"Bram, di mana mobil?" teriak Abian dengan nafas beratnya.
"Tu-an tadi saya memarkirkan di situ." sahut Bram yang juga panik.
"Hubungi Bi Qila Bram, cepat!" pekik Abian.
"Rabian." ucap dengan suara bergetar.
Abian berjalan kesana kemari mencari putranya, tiba-tiba ia teringat akan gps yang ia pasang di mobilnya.
Belum sempat Abian memberi tahu Bram, kini Bram sudah lebih dulu terkejut saat telponnya di angkat seseorang.
"Apa? mobilnya kecelakaan?" Bram terkejut bukan main. Orang yang paling pertama di ingat adalah Rabian begitu juga dengan Abian yang syok.
"Tuan, kita ke rumah sakit sekarang." Bram berlari meminta satu mobil perusahaan dan mereka melaju dengan cepat.
Sepanjang jalan Abian terus gusar, ia bergemetar menahan emosi dan juga rasa paniknya.
"Rabian kau tidak apa-apa, Nak? tunggu Papah." ucapnya dalam hati.
"Bram cepat lajukan mobilnya." teriak Abian.
"Baik, Tuan." jawab Bram cepat meski ia tahu jika mobil sudah sangat laju. Baginya cukup menjawab Baik tanpa membantah itu sudah cukup.
Abian tidak akan tahu apakah kecepatan sudah bertambah atau tetap masih sama.
Bi Qila memiliki luka di bagian kepala belakang karena terbentur ke bawah kursi mobil, sedang Rabian mendapatkan luka dari pecahan kaca jendela yang tertindis olehnya saat di peluk Bi Qila.
Rabian tidak sadarkan diri karena syok saat itu, sementara supir yang melaju tadi sudah kabur saat kecelakaan itu.
Salah satu pengguna jalan segera membawa mereka ke rumah sakit.
"Tuan, apa sebaiknya Nyonya tahu?" Bram memecahkan ketegangan di tengah perjalanan yang sangat laju itu.
"Iya kau benar, Bram. Aku harus memberi tahu Indira. Ini adalah salah ku, aku harusnya menurut apa yang Indira katakan tadi."
Abian meraih ponselnya dan menelpon Indira. "Ada apa, Abi? sudah aku tidak mencemaskan mu kan ada Rabian." Indira enggan berdebat dengan suaminya lagi.
"Rabian, Sayang. Pergilah ke rumah sakit x sekarang. Minta pengawal dan yang lainnya untuk mengawal." pintah Abian.
"Hah? Abi apa yang terjadi?" Indira seketika bangkit dari duduknya dengan wajah panik ia mengusap kasar wajahnya, tangannya tampak bergemetar.
Nyonya Ningrum dan Nyonya Veren mendekat pada Indira untuk menopang tubuh rapuh itu.
"Bi... katakan apa yang terjadi dengan Rabian ku?" Semua sontak membulat kan mata mereka mendengar ucapan Indira yang menandakan jika sedang terjadi sesuatu dengan Rabian saat ini.
Segera Indira melangkah cepat tanpa perduli lagi dengan keadaan nya saat ini, ia masuk ke mobil yang sudah di kerahkan oleh Bram.
ika widya
semoga lbh seru y....😘