Persahabatan yang sudah terjalin selama 20 tahun antara Moetia dan Manda diambang kehancuran karena kehadiran seorang pria bernama Bagas.
Manda yang sudah mencintai Bagas sejak kuliah tidak mengetahui jika Bagas adalah atasan Moetia di kantor nya.
Dan saat Moetia mulai jatuh hati pada Bagas, dia baru tahu bahwa sahabatnya juga mencintainya
Lalu siapakah yang dicintai Bagas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manda Koma
Moetia dan Bagas sampai di sebuah dermaga yang cukup besar.
Di sana terdapat beberapa Speedboat dan perahu berukuran tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, maksud nya sedang.
Bagas terus menggandeng tangan Moetia dan ketika mereka akan naik Speedboat, Bagas dengan hati-hati membantu Moetia.
" Hati-hati sayang " seru Bagas sambil membantu Moetia
Moetia tersenyum
" Terimakasih " jawab nya
Bagas lalu menghidupkan mesin Speedboat nya, dia sudah terbiasa mengemudikan nya.
Moetia dibuat takjub dengan pemandangan sepanjang perjalanan menuju pulau, angin nya sangat kencang hingga Moetia memilih untuk duduk saja di sebelah Bagas.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tepi pulau.
Mereka berdua turun dari Speedboat dan mulai menyusuri pantai.
" Kamu suka? " tanya Bagas lalu mengajak Moetia duduk di atas pasir dan memandang lautan yang luas.
" Iya " jawab Moetia singkat
" Dengan pantai nya atau dengan ku? " tanya Bagas lagi
Moetia tersenyum
" Keduanya " sahut Moetia
Moetia mengeluarkan minuman ringan dari kantong belanjaan dan menawarkan sebotol untuk Bagas.
" Mau minum? " tawar Moetia
Bagas mengangguk dan mengambil minuman itu.
" Sebenarnya aku juga punya sebuah villa tidak jauh dari sini? " ucap Bagas lalu meminum minuman nya
Moetia menoleh
" Benarkah? lalu kenapa kamu bisa kelaparan saat kamu menghilang kemari? " tanya Moetia
" Karena aku tidak kesana, aku hanya duduk disini. Lagipula jika aku kesana namanya jadi liburan kan? " seru Bagas
Moetia tersenyum
" Kamu benar! lalu apa ada yang mengurus villa itu? " tanya Moetia
" Ada, sepasang suami istri dan dua orang satpam yang juga masih kerabat mereka, tempat tinggal mereka juga tidak jauh dari pulau ini, apa kamu mau kesana? " tanya Bagas
Moetia mengangguk perlahan
" Tentu " ucap nya
" Sebelum itu, bolehkah aku ber fhoto dengan kekasih ku yang cantik ini ? " tanya Bagas lalu mengeluarkan ponselnya
Bagas mendekat ke Moetia dan memeluknya, dia mengambil beberapa fhoto mereka berdua, mereka tampak sangat bahagia.
Bahkan beberapa ekspresi aneh mereka buat saat berpose.
" Akan ku kirimkan ke ponsel mu " seru Bagas
" Ponsel ku mati, baterai nya habis " sahut Moetia
" Oh, baiklah " jawab Bagas
Mereka berdua kemudian berjalan menuju villa Bagas dengan bergandengan tangan dan bersenda gurau.
Sementara itu, di rumah Moetia.
Soraya dan Aries sedang panik karena tidak bisa menghubungi Moetia.
Tadi pagi, Malika menghubungi Soraya mengatakan kabar buruk bahwa semalam Manda mengalami kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit di Jakarta.
Tapi Berkali-kali di hubungi ponsel Moetia tidak tersambung dan tidak aktif.
" Bagaimana ini pa, apa kita pergi duluan ke Jakarta dan mengirim pesan saja pada Moetia? " tanya Soraya pada Aries
" Memang nya mama tahu kalau Moetia baik-baik saja, tidak bisa ditelpon dan semua temannya bilang dia tidak masuk kantor! Lalu kemana dia? " tanya Aries
" Semalam dia masih bisa di hubungi, katanya dia sedang merawat seorang teman yang sakit dan tidak tertolong lagi " jawab Soraya
Aries menghela nafas nya panjang
" Lalu jika kita ke Jakarta tanpa Moetia, bagaimana menjelaskan bahwa Moetia lebih mementingkan teman yang lainnya di bandingkan Manda, sahabatnya sejak lahir " terang Aries
Soraya terlihat panik
" Baiklah, mama akan terus mencoba menghubungi Moetia, papa pesan kan tiket saja untuk sore ini, mama juga akan membereskan barang kita dan Moetia " jelas Soraya
Aries mengangguk paham dan segera memesankan tiket pesawat.
Malam dimana Manda pergi ke jembatan dan menangis sejadi-jadinya, di malam itu ketika dia ingin kembali ke rumah.
Dia mengalami kecelakaan, karena emosinya dia tidak bisa mengemudi dengan baik.
Dia segera dilarikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang sedang berada di lokasi, kemudian orang-orang itu juga yang menghubungi Ahmad dan Malika.
Di rumah Sakit.
Malika terlihat sangat cemas karena sudah dua jam dokter yang mengoperasi Manda belum juga keluar dari ruang operasi.
Ahmad masih terus berdoa sambil menghibur Malika.
Beberapa kerabat Manda juga datang, bahkan Belinda juga sedang dalam perjalanan.
" Ayah, bagaimana ini? semua salah ibu! harusnya ibu tidak membiarkan Manda keluar dalam keadaan seperti itu! " sesal Malika
" Sabar Bu, kita terus berdoa saja ya, agar Manda dapat melewati operasi ini " seru Ahmad berusaha tetap tenang
" Sebenarnya kenapa Manda sampai semarah itu saat keluar rumah? " tanya Andini ( adik Ahmad )
" Ini masalah perjodohan nya Dini, Manda ngotot menerus kan nya, padahal kan kamu tahu sendiri respon Bagas bagaimana terhadap dia " keluh Malika
Andini menghela nafasnya panjang
" Inilah kalau anak muda udah jatuh cinta, kadang gak bisa realistis kak, yang sabar ya " sahut Andini sambil memeluk Malika
" Apa keluarga Bagas sudah di beri tahu? " tanya Denny ( suami Andini )
" Sudah, Belinda sedang dalam perjalanan " sahut Ahmad
" Lalu bagaimana dengan Moetia? " tanya Andini
" Soraya dan Aries bilang sore ini mereka akan segera kemari " jawab Malika
" Syukurlah, disaat seperti ini Manda akan sangat membutuhkan dukungan dari sahabat nya " ucap Andini
Mereka masih menunggu dengan cemas di luar ruangan operasi.
Setengah jam kemudian, tiga orang dokter keluar dari ruang operasi dan seorang dokter menghampiri Malika dan Ahmad.
" Bagaimana putri saya dok? " tanya Malika khawatir
Dokter itu membuka masker dan menghela nafasnya panjang.
" Begini pak, Bu, sebenarnya operasi nya sudah berhasil dan pasien sudah melewati masa kritis nya. Tapi kesadaran nya belum kembali, kami harus observasi lebih lanjut agar kami mengetahui penyebab nya " jelas dokter Bahar
" Manda belum bisa sadar, maksudnya gimana dok? " tanya Ahmad
" Pasien koma pak " jawab dokter Bahar
Malika sangat syock, dia hampir saja terjatuh jika Ahmad tidak berdiri dibelakang nya dan menahan nya.
" Saya permisi dulu, dan untuk saat ini pasien belum bisa di temui dulu, saya harap bapak dan ibu mengerti " jelas dokter Bahar
" Baik dok, terimakasih " jawab Ahmad
Dokter Bahar lalu pergi meninggalkan Malika dan Ahmad.
Andini dan Denny menghampiri Malika yang berdiri lemah.
" Mbak, yang sabar ya! yang penting Manda sudah melewati masa kritis nya " ucap Andini menenangkan Malika
" Tapi Manda koma Dini " lirih Malika yang sudah terisak
Andini memeluk kakak iparnya, dan ikut menangis.
Sementara itu di pulau Moetia dan Bagas yang dari tadi memasak bersama kini mereka sedang menikmati makanan yang mereka buat.
" Masakan kamu enak banget " puji Moetia pada Bagas
" Dan aku akan sering memasak untuk kamu nanti " jawab Bagas
" Nanti? " tanya Moetia
" Iya, jika kamu bersedia menjadi nyonya Bagas " sahut Bagas
Wajah Moetia merona lagi.
Sementara itu diluar ruangan yang tidak jauh dari meja makan, pelayan villa yang mendengar gombalan Bagas pun tersipu juga.
" Pertama kalinya aku mendengar tuan muda menggombal seperti itu, aku jadi malu sendiri " ucap pelayan wanita itu malu-malu.
" Huh dasar aneh, kalau malu ya jangan di dengar kan " jawab suaminya cuek.
Pelayan wanita itu kesal lalu memukul lengan suaminya dengan kain lap.
Smga jg bagus sprti ke 3 novel yg sdh ak baca 😊
♥️
⭐⭐⭐⭐⭐