NovelToon NovelToon
Anti Fi Qolby Daiman

Anti Fi Qolby Daiman

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Spiritual / Tamat
Popularitas:424.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aidahlia

[Trailer sudah tersedia di you tube author]

Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.

Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.

Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.

“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter #21

Kesalahan yang memberikanku efek samping kegelisahan adalah kamu, tepatnya berani mengagumimu.

__________

Semua ucapan Artha yang sedikit melantur tidak sama sekali membuat Syahla baper atau lain sebagainya.

"Jadi kamu mau curhat atau ngungkapin kekaguman kamu ke aku?" tanya Syahla sedikit terkekeh.

Artha tersenyum miring, senyuman yang menjadi ciri khas seorang Artha.

"It's okay, i'm sorry."

"Kemarin sore papa sama mama pergi ke butik. Di jam delapan gua dapet kabar Mama meninggal karena kecelakaan di perempatan. Boleh enggak sih cowok rapuh? Gua enggak pernah merasa kehilangan, mama pergi, baru gua merasakan kehilangan yang nyata."

Syahla langsung konek. "Innalillahi ... berarti kecelakaan di perempatan itu ada mama sama papa kamu."

Setelahnya hening sesaat, Artha yang pikirannya entah kemana dan Syahla yang masih terlihat tidak menyangka.

"Ya Tuhan ... Tha, gua cari lu kemana-mana tau ...." Teriakan Rio seketika membuat keheningan terselesaikan.

Rio langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat Syahla ada di hadapan Artha.

"Oh ada Syahla." Tanpa meminta izin lagi Rio langsung duduk di samping Artha.

"Gua belum ngasih izin lu duduk," ucap Artha datar.

Syahla menggeleng seraya tersenyum kecil. "Aku ke kelas ya, yang sabar ya, Ar. Jadikan kejadian ini pelajaran buat kamu."

Artha lagi-lagi hanya tersenyum miring.

"Gua bener-bener kagum deh sama tuh cewek, lembut banget, adem banget dah kalo udah lihat dia, sejuk aja gitu kayak di pegunungan."

Artha langsung melayangkan jitakannya. "Dia jurusan gua, berani deketin dia awas lu."

Setelahnya Artha pergi meninggalkan Rio. Rio langsung mengejar Artha, tidak ada kata sakit hati bagi Rio, walaupun perkataan Artha setajam samurai. Ia tahu, hati Artha tidak setajam ucapannya, dan hati Artha tidak sekasar perbuatannya.

***

Karena kepala sekolah dalam keadaan berkabung, sekolah hari ini free. Guru-guru banyak yang pergi kerumah pak Natha. Sementara Artha, dia malah memilih untuk sekolah daripada melihat proses penguburan mamanya.

"Lu enggak sedih gitu, Tha, mama lu meninggal, terus kok lu enggak ikut proses penguburan mama lu sih?" tanya Angga.

Artha saat ini sedang berkumpul dengan teman-temannya di kantin.

"Gua selalu bilang sama lu semua. Gua paling geli sama laki-laki mellow dalam keadaan apapun. Gua punya cara tersendiri nyikapin kerapuhan gua, tanpa harus ada orang yang tahu. Udahlah enggak usah bahas ini. Gua paling enggak suka dipandang prihatin, apalagi dikasihanin."

Teman-teman Artha hanya menggeleng, dalam keadaan apapun Artha tetaplah Artha, si laki-laki keras kepala.

"Gua kira lu bakal berubah setelah ini, ternyata tetep aja, lu tetep keras kepala."

"Apa sikap gua ini ganggu lu?" tatapan Artha yang sebelumnya ke arah depan kini beralih ke wajah Angga.

"Ya jelas ngeganggulah, apa salah gua kasih pendapat ini ke temen gua? Enggak, kan? Gua cuma enggak mau lu terus kayak gini, Tha."

"Udahlah enggak usah perduliin gua."

Tanpa meminta izin lagi Artha pergi begitu saja. Tinggallah teman-temannya hanya menggeleng seraya mengusap dada. Laki-laki itu memang keras kepala, dia paling tidak suka dianggap remeh.

***

Artha memilih kebelakang kantin. Ia hisap kembali rokok yang sebelumnya sempat ia hindari. Dalam kesendirian ia bisa menikmati kerapuhannya tanpa ada orang yang tahu.

Bayangan wajah mamanya yang selalu membuatnya tersenyum, bayangan suara lembut mamanya yang selalu menasihatinya, bayangan pembelaan mamanya saat ia hendak dipukul papa. Tak terasa setetes airmata membasahi pipinya.

Berbarengan keluarnya asap dari hidung dan mulutnya, keluar pula airmata dari matanya. Sesak, kata itu yang hanya bisa ia ucapkan untuk mendeskripsikan bagaimana keadaannya sekarang.

"Tha?"

Artha langsung menghapus airmatanya kasar. Ia melirik tajam siapa orang yang berani-beraninya merusak momen kesendiriannya.

"Ngapain lu kesini?" Artha langsung membuang muka. Ternyata Anya yang datang.

"Gua lihat lu nangis, lu kenapa, Tha?" bukannya menjawab Anya malah balik bertanya.

Anya mendekat. Dengan beraninya ia duduk di samping Artha. Dan anehnya Artha malah diam saja.

"Jangan sadih, Tha. Gua tau kok lu itu laki-laki kuat. Gua sama sekali enggak berniat buat modus atau lainnya. Gua juga tau kok lu itu paling enggak suka dikasihanin."

Anya diam sejenak. Artha sepertinya mau mendengarkan ucapannya selanjutnya.

"Selama ini mama lu selalu bilang ke gua. Artha itu keras kepala, sulit buat lu lunak. Dari ucapan beliau gua bisa anggap biasa semua perlakuan lu ke gua. Semua perkataan lu ke gua. Dan Mama lu pernah titip lu ke gua. Kelemahan lu itu paling susah ngatur emosi kan, Tha? Mama lu itu orang yang baik, gua yakin kalo anaknya pun baik. Mama lu bakal senang kalo lu berubah walaupun dia udah enggak ada di samping lu lagi, Tha. Dia perempuan yang selalu membela lu, tanpa mencari tahu lebih dulu lu itu salah atau enggak."

Setelahnya keheningan yang tercipta.

"Gua harap lu bisa cari kesimpulan dari apa yang udah gua ucap tadi."

Anya bangkit dari duduknya. "Gua mau ke kelas dulu ya, Tha."

Tiga langkah menjauh, langkah Anya terhenti karena Artha memanggil namanya. Anya langsung menoleh.

"Thanks," ucap Artha tanpa menoleh ke arah Anya yang sedang tersenyum.

"Kesalahan yang memberikanku efek samping kegelisahan adalah kamu, tepatnya berani mengagumimu," ucap Anya dalam hati, di balik senyumannya. Setelahnya ia pergi meninggalkan Artha.

***

"Ukhwah, persaudaraan. Ada yang tahu apa itu ukhwah?"

Syahla yang sedaritadi fokus memperhatikan mengacungkan tangannya. "Saya Ustaz! Ukhwah menurut pandangan saya, em ... Sebuah keterkaitan hati dan jiwa satu sama lain."

Ustaz pengajar PAI itu tersenyum. "Bagus, Syahla."

"Ukhwah itu terbagi lima ya anak-anak. Yang pertama, Ukhwah islamiyyah atau ukhwah diniyyah. Yang kedua, ukhwah wathoniyyah. Yang ketiga, ukhwah insaaniyyah. Yang keempat, ukhwah fi kholqillah. Dan yang kelima, ukhwah nasabiyyah."

"Ada yang bisa memberikan pengertian singkat?"

Wardani langsung mengacungkan tangan. "Ukhwah islamiyyah atau ukhwah dinniyah itu saudara seagama, lalu ukhwah wathoniyyah itu saudara setanah air, terus ukhwah insaaniyyah itu saudara sesama manusia, habis itu, ukhwah fi kholqillah itu saudara sesama makhluk Allah, dan yang terakhir, ukhwah nasabiyyah itu saudara sedarah."

"Benar, Wardani. Berikan tepuk tangan kepada Syahla dan Wardani."

Pengisi kelas langsung memberikan tepukan tangan. Tidak terlalu riuh karena di kelas Syahla yang beragama Islam dengan beragama Kristen, jauh lebih banyak yang beragama Kristen.

"Anak-anak ... hal yang dapat menguatkan ukhwah islaminyyah diantaranya senyum, sapa, salam. Kalian pasti sudah kenal dengan 3S ini, kan? Tidak hanya itu, agar ukhwah islamiyyah kita kuat, kita harus rajin silaturrahmi, manfaat silaturahmi itu banyak lho. Selain memperpanjang umur, silaturrahmi juga membuat persaudaraan kita harmonis. Masyaallah."

"Setelah itu, kita juga harus memperhatikan yang enam. Apa maksudnya yang enam?"

"Yang enam itu, satu, salam, dua, apabila diundang hendaknya datang, tiga, apa bila ada yang minta nasihat, hendaknya nasihatin, empat, apabila ada yang bersin doakan, lima, apabila ada yang sakit jenguk, dan yang keenam, apabila ada yang meninggal, maka ta'ziah."

"Masyaallah, indahkan agama kita ini."

Tak lama setelah itu bel pertanda pulang terdengar melengking-lengking.

"Baiklah, kita akhiri pembelajaran kita. Sebelum keluar dari kelas ada baiknya, bahkan sangat baik, kita berdoa terlebih dahulu. Ketua kelas pimpin doa."

***

Syahla dan Husna berjalan beriringan dari kelas hingga sekarang sampai di lorong lantai satu.

Siang menjelang sore ini langit terlihat mendung. Udara juga terasa lebih dinging. Tepat saat sampai di gerbang hujan turun begitu deras. Syahla langsung menepikan motor ke samping tempat menunggu bus sekolah.

"Na, gimana nih?" tanya Syahla. Husna hari ini tidak bawa motor jadi nebeng.

"Yaudah kita nunggu hujan berhenti dulu aja, Syah."

Husna langsung melipatkan tangannya, mencari kehangatan dari tubuhnya sendiri, begitu juga Syahla.

"Syah, mau ikut ngaji Nahwu Shorof enggak?"

"Dimana? Dulu aku ngaji tuh kitab Nahwu Shorof. Pake kitab Al-Mutammimah sama abba. Baru sampai tanda ya saat nasab. Eh abba sibuk, yaudah berhenti, nyesel sih waktu itu aku enggak minta buat lanjutin. Abba mana tega maksa anaknya belajar, dia pasti ngiranya aku udah kuwalahan sama tugas-tugas aku di sekolah. Abba itu pokoknya ayah terbaik bagi aku."

Husna tersenyum. "Di ustaz Almeer. Rumahnya jauh cuma, Syah. Di gang H. Jufri."

"Setiap hari apa?"

"Setiap malam Minggu."

"Boleh tuh, enggak apa-apa. Nanti coba aku minta izin sama kak Syakib dulu."

Bertepatan saat itu terdengar suara klokson mobil tepat di hadapannya. Syahla sudah sangat kenal dengan mobil itu, apalagi kaca bagian kemudinya terbuka. Itu Kak Syakib. Panjang umur.

Kak Syakib keluar menggunakan mantel hujan seraya membawa dua payung untuk Syahla dan Husna.

"Kamu masuk ke mobil, biar Kakak titip dulu motor kamu, nanti kalau hujannya reda baru kita ambil."

Syahla mengangguk patuh.

Sebelum kembali ke rumah, Kak Syakib mengantar Husna terlebih dulu ke rumahnya. Setelah itu mereka baru kembali ke rumahnya.

Di rumah, Syahla langsung membereskan alat-alat sekolahnya. Setelah itu ia membersihkan diri dan bersiap untuk melaksanakan salat Ashar berjama'ah dengan Kak Syakib. Kak Syakib tidak bisa salat berjama'ah di masjid karena sudah tertinggal, ditambah hujan semakin deras. Jadi ada baiknya ia memilih menjadi imam untuk adiknya di musalah rumah yang sudah lama tidak terpakai semenjak abba meninggalkan dunia ini.

"Kak?" panggil Syahla.

Kak Syakib yang baru saja hendak keluar dari musalah rumah kembali duduk di samping sang adik.

"Kenapa?"

"Kak, jelasin aku tentang hal yang membatalkan wudhu menurut empat pendapat imam dong, nanti di UKK ada bab itu, sementara waktu itu aku enggak masuk sekolah, mau tanya ke ustaznya, dia lagi sibuk gitu, susah cari waktu luang."

"Hal yang membatalkan wudhu paling umum ya kentut, selain itu bersentuhan dengan lain jenis tanpa penghalang. Kalau menurut empat pendapat imam, hmm ... sebentar, sebelum Kakak jelasin Kakak mau tanya, siapa saja keempat imam itu?"

Syahla diam sebentar. "Hm ... Imam Syafi'i, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali, iya kan, Kak?"

"Jayyid."

"Kakak jelasin dulu pendapat menurut Imam Syafi'i, imam Syafi'i menyebutnya batal secara mutlak. Mutlak dalam artian, pokoknya mau dia bersyahwat ataupun tidak, jika saling bersentuhan maka batal wudhunya."

"Kakak tanya nih, kalau suami sama istri sudah berwudhu terus mereka bersentuhan, batal enggak wudhunya?"

"Batal, Kak."

Kak Syakib tersenyum. "Pintar."

"Terdapat tiga segi yang haram dinikahi, di antaranya. من حرّم نكاحها نسب. Haram dinikahi karena nasab, nasab itu sedarah, contohnya orangtua kita, jadi kita kalau sudah wudhu bersentuhan dengan mereka tidak batal."

"Yang kedua من رضاع, haram dinikahi kalau satu sepersusuan. Nih hati-hati ya, kamu kan perempuan, kalau sewaktu-waktu anak tetangga dititipin sama kamu, jangan asal kamu kasih ASI saat dia nangis, harus izin sama suami kamu dulu. Dan perhatikan, anak satu sepersusuan itu haram dinikahkan, karena masih dianggap satu darah, satu sumber, satu produk."

"Dan yang ketiga من مصاهرة, dan kepada mertua. Kenapa kok bisa? Menantu dan mertua itu tidak batal karena haram dinikahi. Jadi sudah dianggap sebagai orangtua sendiri."

"Tiga lagi nanti ya, Kakak mau nerusin ngetik skripsi, doain Kakak ya, semoga aja tahun ini bisa lulus."

Syahla mengangguk seraya tersenyum, "Aamiin, terima kasih, ya, Kak."

Selesai melaksanakan salat Isya Syahla langsung bersiap untuk belajar.

***

Baru saja hendak menyalakan laptop, terurungkan saat handphone-nya melengking-lengking di atas kasur. Terdapat nomor tidak di kenal disana. Syahla sebenarnya ragu untuk mengangkat, namun karena hatinya merasa tidak enak hati, takut-takut jika ada hal penting yang ingin diucapkan oleh orang di balik telpon, akhirnya Syahla pun mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum?" sapa Syahla.

"Gua harus jawab apa?"

Handphone yang sebelumnya menempel di telinga kini Syahla jauhkan. Ia menautkan sebelah alisnya. Suara laki-laki itu sangat tidak asing di telinga Syahla.

Syahla langsung mendekatkan kembali handphone ke telinganya.

"Gua ada di depan rumah."

Seketika tubuh Syahla mendadak dingin. Ada perlu apa Artha datang ke rumahnya malam-malam. Syahla langsung memutus saluran telepon. Setelah itu ia bergegas mendekat ke arah jendela. Dengan sedikit gugup ia buka kaca jendela. Benar, ada Artha di gerbang depan rumahnya. Tubuhnya basah kuyup, ia masih mengenakan pakaian sekolah.

Syahal kebingungan, ia tidak mau sampai kak Syakib tahu, ia takut terkena omelan, malam-malam mengajak laki-laki ke rumahnya. Padahal ia tidak sama sekali mengajaknya.

Syahla berjalan mundar-mandir di dekat jendela, mata ia pejamkan. Berpapasan saat ia membuka jendela kembali handphone-nya mengeluarkan nada dering pertanda pesan masuk.

+628***********

Gua udah pergi kok, enggak usah gusar gitu, gua cuma mau lu lihat gua, gua takut besok gua udah enggak ada di dunia ini. Dan rasanya gua juga udah cape hidup, gua udah terlalu banyak dosa.

Mata Syahla membulat. Ia langsung berlari keluar rumah. Satu payung ia lebarkan untuk menjaga kepalanya agar tidak terbasahi air hujan. Ia tidak mau kalau sampai Artha mengakhiri hidupnya dengan hal yang sangat buruk.

1
Mukmini Salasiyanti
😂😁
Mukmini Salasiyanti
Assalamu'alaikum
mampir and salken

Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Hi_Kiraa
Semangat Thor aku menunggu update yah.

Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen

Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.

Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Subhanallah... Masya Allah... Tabarakallahu...
Msyururriah
Thor jangan jahat ke syahla dong , masa menderita terus , kapan bahagianya?
Msyururriah
kok aku serasa malam pengantin
Msyururriah
Alhamdulillah sah
Msyururriah
satukan mereka dong thor
Msyururriah
syahla terima lamaran Artha ya thor
Msyururriah
terimakasih Thor syahlabtak berjodoh dengan Hasyim
Msyururriah
Thor jangan jodohkan syahla dengan Hasyim
Msyururriah
Thor jadikan Artha dan syahla berjodoh
Msyururriah
Thor kok aku nyesek ya mengamati kehidupan Artha , kasihan Thor beri hidayah dan bersatu dengan syahla , Ending bahagia Thor
Msyururriah
Thor saya minta endingnya pemeran utama bahagia , kalo bisa hidup bersama
Ummi Na Ssya
sayang ya novel sebagus ini gak masuk rangking novel pavorit
Ummi Na Ssya
aku nangis....😭😭😭😭😭
Ummi Na Ssya
saking khusyuk nya baca jadi suka lupa ngelike😁🙏
Ummi Na Ssya
kak ai....baru hijrah kah???
Ummi Na Ssya
kak ai cntik yah.....
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
Ummi Na Ssya
setuju banget....
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!