Arumi Bakhtiar tak kuasa menahan isak tangisnya kala mendapati perselingkuhan suaminya di hari pertama pernikahannya .Wanita itu merasa terkhianati karena kelakuan Raihan. Saat menjadi janda , ia sering menerima bulian dari teman sekantornya. Hingga ia bertemu dengan seorang loper koran yang akan membuat cintanya kembali menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Arumi merasa iba sekaligus kasihan pada laki - laki yang telah menolongnya tersebut. Mukanya terlihat bonyok dan wajahnya banyak yang memar akibat terkena pukulan dari Raihan saat berkelahi tadi. Dalam hati , mulai timbullah rasa kagum dalam diri Arumi pada keberanian Reza .
Tangan Arumi menyentuh wajah Reza , berupaya membersihkan wajah laki- laki itu dengan sapu tangan miliknya .
Reva mengambilkan kotak P3K dan menyerahkannya pada Arumi agar putrinya membersihkan wajah Reza yang sudah babak belur tersebut.
"Arumi Sayang ,bersihkan wajah Nak Reza dengan ini Sayang ",saran Reva pada putrinya yang kemudian diangguki oleh Arumi. Arumi menangkap kotak obat yang diberikan sang mama padanya tersebut.
Arumi kembali menatap Reza yang ada dihadapannya , dalam beberapa detik netra keduanya beradu. Ada rasa kikuk dalam diri keduanya karena ini adalah kali pertama Arumi berada diposisi terdekat dengan Reza .
"Biarkan aku membersihkan lukamu ya ! Bertahanlah mungkin ini akan sedikit sakit ",ijin Arumi pada Reza .
"Iya Bu ",Reza menjawabnya dengan gugup .Ada rasa sungkan dan tidak enak dalam sudut hatinya yang terdalam mengingat dirinya hanyalah OB dari wanita cantik yang ada dihadapannya tersebut.
Dada laki - laki itu gemetar hebat saat Arumi menyentuh wajahnya . Tangannya lembut dan halus saat menyentuh wajah Reza dan rupanya hal itu bisa membuat detak jantung Reza makin berdetak jauh lebih kencang . Laki - laki itu berharap Arumi tidak mendengar isi jantungnya yang melompat - lompat hendak keluar tersebut .
"Auw...", nampak suara erangan Reza terdengar di telinga Arumi , merasa kesakitan saat bosnya tersebut menutulkan sapu tangannya dan berusaha menghentikan darah Reza yang mengalir dan berupaya membersihkan lukanya dengan alkohol .
"Sakit ya ? Maaf ya Reza ...Baiklah sekarang lebih pelan lagi ", ucap Arumi ketika Reza mengerang kesakitan .
" Saya tidak apa - apa Bu Arumi . Saya harus segera mengambil dagangan koran saya pagi ini sebelum kesiangan .... ",ucap Reza untuk menutupi kegugupan hatinya .Laki - laki itu tidak enak saat orang nomer satu dikantornya tersebut merawat dirinya yang terluka kecil seperti itu. Saat Reza berpaling dan hendak meminta ijin pergi , Arumi menghentikan niat laki - laki tersebut.
"Reza tunggu ! Sakit seperti ini masih juga mikirin kerjaan . Sini duduk bentar , aku akan mengobati lukamu sebentar ", Arumi menarik lengan tangan Reza dan menghentikan langah Reza yang hendak pergi bekerja dan mengabaikan rasa sakitnya .
Dengan telaten , Arumi mengobati luka Reza dengan peralatan P3K yang diambil mamanya tadi di mobilnya
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit Nak Reza ? Agar Dokter bisa mengobati luka memar yang ada diwajahmu ",saran Mahesa yang sedari tadi memperhatikan Arumi saat membersihkan luka diwajah Reza .
"Tidak perlu Pak ! Luka saya tidak terlalu serius Pak ! Memar ini akan hilang dan sembuh dengan berjalannya waktu ",tolak Reza secara halus .
Laki - laki itu terlihat sangat tulus saat menolongnya dirinya tadi .Diam - diam Arumi mulai kagum pada keberanian Reza yang secara jantan menolongnya dari Raihan yang masih mengharapkannya.
Ada rasa malu didadanya karena selalu berkata kasar pada Reza selama dikantornya beberapa saat yang lalu.
Mahesa bergerak maju dan menepuk pundak Reza yang terlihat menahan sakitnya itu .
" Terima kasih Nak Reza, sudah dua kali kamu menolong putriku . Aku berhutang kebaikan padamu. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu Nak ! Entah bagaimana caranya aku harus berterima kasih padamu Nak Reza", ucap Mahesa tulus pada kebaikan Reza meskipun laki - laki itu hanya berstatus OB dikantor putrinya.
" Pak Mahesa ,sekali lagi saya katakan bahwa saya sangat tulus menolong Bu Arumi. Saya tidak mengharapkan imbalan apapun untuk itu ",jawab Reza dengan jujur.
Mungkin bagi sebagian orang kaya dan berharta , kebaikan seseorang selalu dinilai dan diukur dengan uang dan harta . Mereka akan membayar kebaikan seseorang dengan uang yang mereka punya . Namun hal yang demikian , tidak berlaku untuk Mahesa dan keluarganya . Keluarga Mahesa tidak pernah memandang manusia dari status sosialnya .
Mahesa dan Reva memaksa Reza untuk mampir kerumahnya dan sarapan bersama. Meski dengan tidak enak hati , Reza pun menuruti permintaan mereka yang mengajaknya sarapan dirumahnya.
Tia ternganga.
Tak percaya dengan ancaman yang baru dilontarkan Michael padanya.
Jadi..Tia ikut atau menolak ?
Baca novelnya "MENGEJAR CINTA KAKAK KELAS"
Klik aja akun ini..
Selamat membaca 😘
bagus
semangat