NovelToon NovelToon
Istri Cantik Tuan Presdir

Istri Cantik Tuan Presdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asti Amanda

Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________

Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.

Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.

Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?

Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.

Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Masih Curiga

...[Beri like dan vote]...

Raka yang ada di rumah Dokter Frans kini ia akhirnya keluar dari rumah itu. Terlihat Dokter Frans sedang berdiri di pintu bersama Raka. Sepertinya mereka telah berbicara sesuatu yang berbuhubungan dengan Sovia.

"Bagaimana, apa kamu akan ke rumahku hari ini?" Raka bertanya untuk memastikan Dokter Frans untuk melakukan sekali lagi terapi untuk Sovia.

"Bisa sih, cuma aku kuatir akan terulang seperti kemarin." jawab Dokter Frans menyentuh keningnya yang luka.

"Tenang saja, hari ini aku akan tetap di rumahku," ucap Raka nampak akan membantu dan menemani terapi Sovia hari ini.

"Baiklah, aku pulang dulu. Aku tunggu kedatanganmu, Dokter Frans." lanjut Raka mulai berbalik, namun tiba-tiba saja suara kecil menghentikannya.

"Tunggu Paman Laka!" panggil Gio yang tiba-tiba berdiri di dekat Ayahnya.

Raka dan Dokter Frans pun segera menoleh melihatnya.

"Ada apa, Gio?" tanya Raka.

"Hehe itu. Boleh tidak, Gio ikut pelgi ke lumah Paman Laka?" tanya Gio sedikit malu.

Raka yang mendengarnya merasa heran. Terlihat ia mengangkat sebelah alisnya mendengar permintaan Gio. Dokter Frans yang melihatnya, ia langsung menjelaskan maksud permintaan Putranya itu.

"Ahaha ... gini loh Raka. Aku sering ceritakan ke dia soal Putri yang itu. Nah kebetulan tuh Gio bisa bermain dengan Putrimu itu. Ya itung-itung menemaninya gitu." jelas Dokter Frans.

"Ya Paman, Gio mau belmain dengannya. Gio bosan di lumah tidak ada keljaan." Gio berkata dengan senyum manisnya.

Raka yang mendengarnya kini mulai berpikir.

"Em, bagus juga. Kalau ada anak ini, Dean tidak akan menggangguku berduaan dengan Sovia," pikir Raka.

"Baiklah, Gio nanti ikut saja sama Papamu." lanjut Raka mengacak-acak rambut Gio.

Tiba-tiba Gio memberikan sebuah mainan kincir angin kepada Raka. Ia bermaksud memberikan kincir angin itu ke Dean sebagai hadiah.

"Paman, ini buat dia." ucap Gio sambil tersenyum manis.

"Ahaha, baiklah." Raka cuma tertawa kecil melihat tingkah Gio lalu mengambilnya.

Raka pun berbalik lalu berjalan ke arah depan rumah. Sedangkan Dokter Frans kini masuk serta Gio yang juga ikut masuk ke rumahnya.

Kini Raka berdiri sambil menghubungi seseorang. Ia juga tak lupa melihat jam ditangannya yang kini menunjukkan pukul 11.33 Siang. Ternyata bahas soal Sovia cukup makan banyak waktu baginya.

Terlihat kini panggilan akhirnya terhubung. Raka nampak menyebut nama seseorang dan panggilan itu pun berakhir.

Raka pun melihat kincir angin di tangannya. Seketika ia sedikit tersenyum kecil mulai memikirkan yang aneh-aneh.

"Hm, bagus juga nih buat cadangan menantu di keluargaku kelak." gumam Raka senyum-senyum memikirkan kembali yang aneh-aneh.

Beberapa saat saja, sebuah mobil langsung berhenti tepat di hadapannya. Raka pun masuk lalu menyuruh anak buahnya pulang ke kediamannya langsung. Terlihat mobil itu pun melaju pergi meninggalkan rumah Dokter Frans.

_____

Sementara Sovia. Wanita muda cantik itu kini berada di kamar Dean. Ia terlihat menepuk jidatnya melihat tingkah Dean yang lagi bermain drama di depannya sambil teriak-teriak tak jelas.

"Mami! Jangan diam saja! Mami bantu aku lawan peri jahat itu." Tunjuk Dean yang sok-sokan jadi pahlawan. Ia menujuk beberapa pelayan yang ikut bermain drama.

"Cantik, sekarang lebih baik tidur ya. Ini waktu jam tidurmu, sayang." ucap Sovia berdiri sambil meraih tangan Dean agar berhenti bermain.

"Tidak Mami! Tugas Dean sebagai Dewi kebenaran belum selesai. Dean harus mengalahkan para peri jahat itu!" Tunjuk Dean berdiri di atas ranjangnya sambil menunjuk para pelayan menggunkan tongkatnya.

Gadis kecil itu sangat bersemangat siang ini bermain drama apalagi ada Ibunya yang menemaninya. Ya begitulah Dean, isi kepalanya hanyalah bermain dan itu sudah ia cita-citakan jika besar nanti dia akan jadi Aktris terkenal.

"Cantik, sekarang tidur ya. Nanti setelah tidur, Dean bisa lanjutkan lagi." Sovia kembali menyuruh Dean untuk menghentikan dramanya.

"Tidak Mami. Dean belum ngantuk." Dean menolaknya.

"Kalau tidak tidur, gimana mau cepat besar. Kalau Dean masih kecil nggak bakal jadi Aktris dong, sayang."

Sovia mengelus kepala Dean dengan lembut sambil merayunya sedikit. Seketika Dean langsung melihat Ibunya. Ia sangat terkejut mendengar ucapan Sovia.

"Baiklah, Mih. Dean akan tidur," ucap Dean segera masuk ke dalam selimutnya.

"Oh ya, Mih. Dean itu mau jadi Aktris, jadi kalau Dean sudah besar terus Dean dah jadi Aktris. Mami jangan lupa nonton film-film Dean ya." lanjut Dean terdengar begitu senang akan impian besarnya. Ia tersenyum begitu manis memikirkan dirinya kelak akan bermain drama yang ada di TV itu.

"Haha ... ya sudah. Kalau begitu Dean tidur ya." Sovia pun tertawa kecil mendengarnya.

"Baik, Mih." ucap Dean menurut lalu ia memejamkan matanya. Perlahan-lahan para pelayan yang nampak kelelahan akan permainan Dean tadi, mereka kini mulai keluar satu persatu.

Sovia yang melihat mereka cuma geleng-geleng kepala. Ternyata putrinya satu ini lebih parah untuk diurus dari pada Deva. Pasti begitu lelah selama ini mengurus Dean waktu dulu.

Sovia perlahan membelai rambut Dean dan tak lupa tersenyum. Sovia terlihat begitu menyayangi anak-anaknya. Kelembutan dan kenyaman tentu akan ia berikan kepada dua anaknya itu.

Dean yang telah tertidur pulas. Sovia pun memberikan kecupan lembut pada kening Dean.

"Maafkan, Mami ya." desis Sovia sambil tersenyum kecil.

Sovia pun beranjak dari tempat tidur Dean lalu menyelimuti putri kecilnya dengan hati-hati. Setelah itu, ia pun berjalan ke arah pintu lalu menutup pelan pintu kamar Dean.

Sovia kemudian berjalan ke arah kamarnya untuk beristirahat juga. Ia lelah akibat menemani putrinya itu bermain.

Namun tiba-tiba, ia mulai lagi kesakitan pada kepalanya.

"Argh! Astaga, kenapa mulai lagi sakitnya," ringis Sovia menahan denyutan yang begitu hebat.

"Argh, kenapa sakitnya bertambah parah." lanjutnya kini menahan satu tangannya pada dinding di sampingnya. Terlihat Sovia berjalan perlahan menuju ke kamarnya.

Namun tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang dan itu sangat membuat Sovia terkejut. Sontak Sovia pun segera berbalik dan ternyata itu Andis yang ternyata sudah pulang dari sekolahnya.

"Kak, kau baik-baik saja?" tanya Andis melepaskan tangannya pada pundak Sovia.

"Ah, tentu baik, kok." jawab Sovia berpura-pura terlihat baik. Senyuman palsunya itu tidak bisa menipu Andis.

"Lebih baik tidak usah paksakan dirimu, Kak. Itu akan membuatmu sakit." ucap Andis nampak memperhatikan kesehatan Sovia.

"Em, terima kasih. Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Kamu pergilah makan." ucap Sovia tersenyum kembali lalu berbalik pergi ke arah kamarnya meninggalkan Andis yang masih berdiri.

"Apa tadi dia berpura-pura lagi?"

"Ck, wajah polos kak Mira benar-benar dapat menghipnotis orang di sekitarnya. Aku jadi penasaran, kenapa Bang Raka malah mencintai wanita seperti kakakku."

Andis mendecak lalu berbalik ke arah lain menuju ke kamarnya. Nampak dari ucapan Andis, bocah itu masih saja mencurigai kakaknya sendiri. Entah kenapa ia malah berpikir yang tidak-tidak kepada Sovia.

______

Eitss ... Masih ada part lagi malam ini. Kalian tunggu ya.

Terima kasih buat readers MTMD yang setia membaca cerita ini. Kalian adalah teman baikku. Semoga kalian terhibur ya. See you readers❤

1
caca
kayaknya pelaku kecelakaannya pak Hendra sih
arfan
up
Anonim
Anita lu gk tau diri
Aurora Almera
lanjut kakak
Ana Uhibbuka Fillah
aku mampir thor
Ernita Anggara
thor lia kn profesor... d awal baca dy kn yg membantu si tian Al....
Ernita Anggara
mata merah jangan2 it ayah nya mira. ato saudara ayah nya mira... y kan thor
uhuuuyyy
akyuuu sukaa cerita nyaa...maachii yaa thoor...selamat..karyamu sungguh menarik..hebaatttt😍😘
uhuuuyyy
ooh ikut bahagia thoor😍😍
uhuuuyyy
semakin seru
uhuuuyyy
apakah itu kakaknya mira
uhuuuyyy
haduuh perutku mules ngekek aja
uhuuuyyy
uhuuyyyyu coo cuiiit ..anita n willy😘😘😍😍
uhuuuyyy
haizzzh pasti modus ini si mira n liana n kevin🤭
uhuuuyyy
papa hendra mau menguasai harta keturunan welfin kyk nya
uhuuuyyy
pasti dalang di balik pertengkaran paman Al rachel dan ayahnya welfin adalah papa hendra..
uhuuuyyy
waah pak hendra gk beres niich
uhuuuyyy
ikutan tegang thoor🙈
uhuuuyyy
bahagia nyaa mrk bersatu dan berkumpul lagi😍
uhuuuyyy
berati Raka putra nya tuan Al...makanya Raka sperti tuan Al bisa melihat makluk astral
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!