Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbang melayang
Udara malam hari ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Angin berhembus agak kencang, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Suara gemuruh mulai terdengar samar-samar. Sesekali kilat menghiasi langit yang hitam pekat tanpa bintang.
Jam menunjukan pukul 20.10, Rena masih disibukkan dengan cucian piring bekas makan malam mereka. Sementara mesin cuci di samping wastafel turut juga berputar menggiling baju. Baginya jika bisa dikerjakan sekarang kenapa harus tunggu nanti?. Belum tentu nanti ada waktu untuk meng-handle pekerjaan. Pekerjaan rumah tangga takan pernah ada habisnya, kecuali di tinggal pergi dan tak terlihat.
Yaahh begitulah ibu-ibu, segalanya dikerjakan sendiri tapi tak pernah terlihat hasilnya. Dan segala yang dilakukan hanya itu-itu saja, seperti lingkaran yang tidak akan pernah ada putusnya. Dari mulai membuka mata sampai menutup mata kembali.
Rena mungkin masih beruntung, suaminya masih mau membantu memegang beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan ketika Rena sedang sibuk. Seperti malam ini, Banu sedang menidurkan Hizam. Entah menidurkan Hizam atau ditidurkan Hizam,
Karena seringnya sang anak belum tertidur, Bapaknya malah sudah bermimpi indah dengan dengkuran halusnya.
Rena pun memaklumi pekerjaan Banu yang bisa dikatakan berat. Resiko yang di tanggung juga besar. Banu harus melakukan perjalanan jauh, menempuh puluhan KM dengan menggunakan sepeda motornya. Jalan yang dilaluinya juga sudah sangat ramai di lewati truk-truk besar. Belum jika hujan turun dengan derasnya, dan Banu belum samai rumah, wahh jangan tanya seperti apa perasaannya. Intinya hidup dijalan itu beresiko. Capek? Tentu saja, berjam-jam mengendarai sepeda motor punggung akan terasa panas, belum pa*tat yang akan terasa kebas.
Mungkin itu juga yang menyebabkan Banu menjadi muka 'bantal'. Sekejap saja merebahkan diri, pasti langsung terbuaii. Memejamkan mata hingga tak memperdulikan sekitarnya. Dan itu sudah menjadi kebiasaannya.
Setelah menyelesaikan urusan cuci mencuci, Rena membuat secangkir teh hangat. Hawa dingin semakin menusuk sampai ke tulang.
Sepertinya aku butuh kehangatan
Menarik kursi, kemudian didudukinya untuk menikmati secangkir teh hangat. Di hirupnya aroma wangi teh melati itu dalam-dalam, sebelum akhirnya di minum perlahan.
"Ngeteh sendiri? " Banu mendekatinya, menangkup kedua bahunya dan memberikan sebuah kecupan kecil di puncak kepalanya.
"Kirain sudah tidur, mau dibikinin teh sekalian apa? " Rena hendak beranjak, namun, Banu menahan pundaknya. Menahannya untuk tetap duduk.
"Udah ini aja, berdua lebih nikmat" Banu terkekeh pelan, melepaskan tubuh Rena, dan duduk di samping istrinya tersebut.
"Adek udah tidur? " Rena menggeser gelas yang masih berisi teh.
"Sudah." Banu langsung menyambut teh yang Rena berikan kemudian meminumnya sampai tandas " Manis, hangatnya pas". komentarnya.
"Mau dibikinin lagi? " Rena menawarkan.
"Gak usah. Bobok aja yuk udah malam. " Banu beranjak dari tempat duduknya, kemudian disusul Rena di belakangnya.
Ya, sejak berselisih paham dan mengutarakan perasaan mereka masing-masing siang tadi, mereka tidak banyak berbicara lagi. Terputus oleh bangunnya Hizam sehingga mereka menyudahi pembicaraan..
"Kemarin tidur dimana gak pulang? " Rena membuka obrolan ketika mereka sudah tengah merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Masjid Besar dekat alun-alun." Banu membimbing Rena untuk meletakan kepalanya di Bahu kanannya.
"Sekarang gak ke dana lagi? gak pingin tidur di sana?" Rena menggoda dengan mengusap pelan tangan kokoh Banu yang melingkar diperutnya.
"Setelah dipikirkan ternyata aku benar-benar orang yang merugi ya, cemburu buta, marah, kesal, tidur kedinginan, sendirian dan yang rugi banget tidak bisa begini." sambil memeluk Rena, dan mengecupi pipi kirinya.
"Terus? mau begitu lagi? apa sudah kapok? " Rena membalikan badannya, menghadap Banu dan memandang manik mata coklat sang empunya.
"Tidak, tidak akan pernah lagi!" Banu menjawab sambil menggenggam tangan Rena.
"ini benar-benar diluar kendali ku. Aku benar-benar menyesal, dan tidak akan pernah terulang lagi. Kapan pun. Sampai kapan pun". Banu mengecupi tangan Rena.
" Gak usah janji-janji segala, buktiin aja. Itu cemburu buta yang menyesatkan! gak baik untuk hubungan seperti kita ini, mau ku, kalau ada apa-apa bilang, tanya dulu, duduk perkaranya seperti apa, jangan asal bilang "saya sudah tau semua, gak ada yang perlu dijelaskan!" Rena menirukan gaya berbicara Banu saat kemarin marah padanya. " Asal kamu tau saja, tidak selamanya semua yang kita lihat dan dengar itu benar, mungkin ada bagian-bagian yang terlewat oleh mata dan telinga ini". Rena melepaskan genggaman tangan Banu kemudian menyentuh mata dan telinga Banu.
"Iya, dan untuk kesekian kalinya aku minta maaf, aku berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, dan aku minta tolong. Apapun, apapun yang kamu alami, tolong ceritakan, tidak ada alasan untuk menyembunyikan. Karena kita itu berdua. Kita itu aku dan kamu. Ya, sayang? " Reno merengangkan pelukannya untuk melihat wajah istrinya.
"Iya! janji! Semoga dengan kejadian seperti ini menjadikan kita lebih dewasa dalam bersikap". Rena tersenyum. Kemudian senyum yang merekah diwajahnya disambut oleh kecupan di bibirnya oleh Banu.
" Kenapa selalu manis begini rasanya? Hemm?" Banu melanjutkan kecupannya dan menuntut Rena untuk membalasnya, awal yang lembut berubah menjadi gigitan-gigitan kecil kemudian berpindah ke leher jenjang Rena. Saling menikmati sentuhan masing-masing.
Banu menjelajahi setiap jengkal, setiap lekuk tubuh Rena yang sudah menjadi candu. Menyelusuri dengan lembut, memberikan sentuhan-sentuhan lembut di titik-titik sensitif istrinya. Dengan sekali tarikan, daster yang dipakai istrinya terlepas.
Rena hanya diam mengikuti dan menikmati sentuhan suaminya, dengan sesekali menggigit bibir bawahnya, menyentuh dada bidang yang kokoh milik suaminya ketika ke*upan datang bertubi-tubi diseluruh badannya.
Tak berbeda dengan Banu,
tangan Banu yang tak bisa diam, terus mengeksplor bukit kembar Rena, dengan sesekali menggigit pelan puncak bukit yang membuat Rena semakin menggelinjang, meremasnya dan menyelusurinya semakin jauh hingga tiba di lembah yang terasa luas, dan sedikit rimbun. Dengan sekali hentakan Banu menyatukan tubuh mereka.
Sesaat membiarkan mereka bersatu, dengan pelukan yang semakin erat dan suara rintihan Rena yang membuat dirinya semakin ingin meledakan peluru atomnya yang sudah sejak tadi dia tahan. Banu terus mengeksplor dengan tempo yang pelan, agak cepat hingga menggunakan kecepatan maksimal dan dengan tangan yang terus bergerilya, menelusuri bukit kembarnya, sesekali me*emas yang membuat Rena semakin dibuat melayang tinggi. Hingga akhirnya ledakan kenikmatan membuncah dikeduanya. Dibarengi dengan terikan kecil Rena yang tertahan oleh sumbatan lu*atan Banu. Sebelum kemudian Banu melepaskan tautan bibirnya.
Banu merebahkan diri di samping Rena, mengecup keningnya "Terimakasih!" ucapnya dengan nafas masih memburu. Dan dengan tangannya yang masih membelai rambut hitam istrinya.
Rena hanya tersenyum, merasakan nikmat yang sudah puluhan kali dia rasakan oleh perbuatan Banu selama ini.
Banu selalu tau cara menyenangkannya, membuat dia melambung diangkasa, dan menjatuhkan kembali dengan rasa manis, "terimakasih". Kalimat sepele yang mampu membuat pipinya merona merah. Merasa dirinya benar-benar di inginkan.
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...