Sebelum membaca ini, mohon pahami Novel yang berjudul "PERFECT PARADISE" Bisa langsung baca di bab ke 350+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhewhy M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan.
"Bagaimana keadaan, Nona?"
Terdengar jelas dari suara dokter dan Willy di telinga Rebecca. Ia membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari untuk pemulihan. Dokter pribadinya juga mengatakan, jika Rebecca beraktivitas berat-berat seperti angkat barang, maka luka di pinggangnya akan merasakan nyeri yang tak tertahan.
"Apa? Luka ini? Ini semua disebabkan oleh racun yang digunakan Nenek Ling untuk membunuhku. Aku rindu dengan Bos Yusuf. Tiga hari sangat lama bagiku." ucap Rebecca dalam keadaan mata masih tertutup.
"Kemungkinan karena efek racun itu. Kami akan carikan penawarnya lebih lanjut lagi, takutnya akan mengalami kelumpuhan pada kakinya di kemudian hari," lanjut Dokter itu.
"Baiklah, Terima kasih sudah datang Dokter Gong," ucap Willy mengantar Dokter itu keluar.
Rebecca membuka matanya, perlahan ia bangun dan meraih belati emasnya. Menggenggam erat berkas penting milik Kakeknya yang tersisa. Semuanya sudah di rampas oleh keserakahan Nenek dan Ayah kandungnya sendiri.
"Nona, apakah anda sudah bangun?" tanya Willy.
"Hem, aku ingin istirahat. Bisakah kau membawakan aku air dan makanan, untukku? Perutku keroncongan," pinta Rebecca.
"Baik, Nona!"
Lengan yang luka itu mengingatkan keluarga yang ia idamkan semasa kecil. Di mana semuanya saling khawatir saat seseorang sakit. Saling membantu di saat membutuhkan. Hingga saling berkorban satu sama lain.
"Aghhhhrrrr…!"
Teriak Rebecca meluapkan emosinya dengan memecah seluruh barang yang ada di meja kamarnya. Lalu, ia menangis dan menggenggam erat selimutnya.
"Sejak kecil, aku didik untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. Ya! Aku percaya itu."
"Tapi kenapa Tuhan sangat tidak adil kepadaku. Aku lahir dari wanita yang belum menikah, lalu ibuku harus meninggal di saat aku di lahirkan. Aku bagaikan orang yang paling hina di dunia ini, keluargaku sama sekali tidak menginginkanku….."
"Bisakah aku ikut denganmu, Mama…."
---------------
Rintik hujan terdengar jelas dari kamar Yusuf. Cuaca juga sangat panas tidak enak di tubuh, mengingat dengan jelas kejadian siang hari di saat pernikahan sepupunya. Tak tahu harus bagaiman, Yusuf sangat ingin mempertahankan imannya, namun rindu kepada gadis bermata biru itu selalu meracuni pikirannya.
Beberapa waktu lalu saat seluruh keluarga berkumpul. Di sana, Ruchan membahas perjodohan Yusuf dengan gadis lain, cucu dari sahabat Ikhsan waktu belajar di Kairo dulu.
Hal itu tidak membuatnya heran. Sudah sangat wajar di pesantren banyak perjodohan. Yusuf juga tak menyangkal saat Ruchan, sang kakek mengatakan akan melaksanakan perjodohan itu. Karena di sisi lain, Rebecca juga sudah memiliki lelaki yang dijodohkan dengannya.
Namun, hati tak bisa berbohong. Meski Yusuf belum memiliki perasaan lebih kepada Rebecca maupun Cindy, akan tetapi, dirinya juga tidak memiliki wanita dalam hatinya saat ini.
"Entah kenapa, aku merasa tidak suka dengan perjodohan itu,"
"Padahal, harusnya aku bersyukur karena Kakung mau memperkenalkan gadis sholihah kepadaku. Tapi... Ya Allah, aku harus bagaimana?" batinnya.
Dibalik jendela, Yusuf menatap dunia luar yang gelap dan sepi karena hujan. Berfikir, bagaimana cara menolak perjodohan itu. Padahal dirinya dan gadis itu belum saling bertemu.
"Lusa, Kakung dan Uti akan membawaku bertemu dengan gadis itu. Sebaiknya aku turuti saja dulu."
Puas melihat gerimis dari jendela kamarnya, Yusuf pun kembali ke kasur dan merebahkan tubuhnya yang lelah karena mengurus katering di pernikahan sepupunya, Aminah dan Raditya.
Setelah berdoa, sedetik kemudian ia sudah terlelap dan menikmati nikmatnya di alam mimpi. Sementara itu, di kamar sebelah, Eun Mi masih murung berdiam diri duduk di balik jendela. Telapak tangannya menyentuh kaca jendela yang saat itu basah oleh tetesan air hujan.
"Hae Jun, apakah kamu yakin ingin menikahi gadis itu? Aku sangat mencintaimu, aku sudah mencintaimu sejak kita masih kanak-kanak. Apakah kau tidak ingin memperjuangkan cinta kita, Hae Jun?"
Sengaja Eun Mi menyusul Yusuf sampai ke kampung halamannya karena ingin pergi sebentar karena Hae Jun, lelaki yang ia cintai akan menikah dengan anak dari sahabat orang tuanya.
Pernikahan bisnis juga dilakukan oleh keluarga Hae Jun dan keluarga sahabat orang tua Hae Jun. Di Korea, perjodohan itu hal yang sangat wajar, karena di sana, kebanyakan orang akan sibuk dan tak sempat membina hubungan dengan kata berkencan/pacaran lama.
Pertemuan dengan kencan buta, beberapa kali pertemuan lagi saling mencocokkan dan akhirnya menikah. Tak sedikit dari mereka juga, pernikahan dilaksanakan hanya karena ingin memiliki rumah sendiri. Faktanya, di Korea itu kalau bukan golongan orang berpunya atau pendapatan bulanan yang cukup, akan sulit untuk mencicil rumah. Tak sedikit pula, kelahiran anak juga bisa menjadi syarat untuk cicilan rumah murah di sana.
---------------
Pagi hari yang cerah, seluruh keluarga mengantar keberangkatan Raditya dan Aminah ke Korea. Mereka berencana untuk menetap di sana, bersama Ayah Anam. Karena merasa hanya Ayah Anam lah yang Raditya miliki sekarang.
"Jangan penjarakan Mas Rasid. Aku tidak tega meninggalkan Ibuku sendirian, tolong ya. Aku tidak tega jika Mas Rasid harus mendekam di penjara," pinta Raditya kepada Raihan.
"Nanti aku akan bicarakan dengan Lek Kabir. Dia kan yang kemarin membawa Mas Rasid ke kantor polisi. Aku akan urus nanti," jawab Raihan menenangkan hati Raditya.
"Kamu terlihat letih sekali. Pas sholat subuh, kamu tertidur, 'kan?" tanya Raditya kepada Yusuf.
"Sepertinya aku demam, deh. Kalian hati-hati di jalan, ya...." jawab Yusuf.
Bukan hanya Raditya dan Aminah yang akan berangkat. Keluarga lainnya yang tinggal di luar negri pun akan kembali hari itu juga karena pekerjaan tak bisa di tinggal. Kecuali Hamdan dan Falih yang memang masih memiliki waktu dua hari di sana.
Lambaian tangan menandakan perpisahan mereka. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, mereka tak ingin berpisah seperti itu. Namun, harus bagaimana juga mereka sudah terlanjur memilih negara lain untuk dijadikan tempat tinggal masa depan.
"Cie yang mau ketemu sama calon jodoh," ledek Falih.
"Hm, saudara kita udah gede nih. Udah mau dijodohin aje," sahut Hamdan.
"Cie yang jomblo berkarat, jangankan jodoh dari keluarga. Cewek di dekat kalian aja kagak ada," balas Yusuf kembali.
"Independen, bukan jomblo!" ketus Hamdan.
"Yo,i. Kita mah masih menikmati masa kerja kita kali, hem!" timpal Falih dengan memalingkan wajahnya.
"Sudah-sudah, sebaiknya kalian ikut ke rumah Uti sarapan. Kamu juga ya Eun Mi. Aku lihat, sejak kemarin kamu terlihat lesu, ada apa? Kamu nggak betah tinggal di sini, di keluarga yang berisik ini?" Laila yang sejak kemarin sibuk pun akhirnya muncul juga.
"Aigo.. tidak eonni. Saya sangat menyukai keluarga ini, bahkan rasa ingin kembali ke Korea pun berat, hehehe," jawab Eun Mi. "Baiklah, aku akan sarapan yang banyak pagi ini." imbuhnya.
Bagaikan melayang-layang di udara. Menaiki rollercoaster yang sangat kencang ketika menurun. Permainan hati yang Yusuf dan Eun Mi rasakan memang membuatnya bingung dan tak mengerti. Jika mereka saling di dekatkan dengan seseorang yang mampu merubah hidupnya. Mengapa harus ada perjodohan di tengah-tengah hubungan mereka.
bagus
semangat
cerita yang unik
cerita islami+ mafia
siip lahhh
the best pokok e