Kisah ini sekuel dari ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Andra tumbuh bersama keluarga angkatnya yang tidak lain adalah sahabat dari mendiang bundanya. Andra juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat manja bernama Lala.
Walaupun sering ditinggal tugas oleh ayah kandungnya, Andra tidak pernah kehilangan kasih sayang keluarga lengkap. Bersama orang tua angkatnya Andra dididik dengan kedisiplinan dari Andi sang papa angkat serta dari mama Rani, Andra didik dengan kejujuran serta berpikiran terbuka.
Andra besar dengan impian tinggi menjadi pengusaha dan berhasil mewujudkan impiannya setelah mewujudkan kuliah S2 di Singapura.
Akan tetapi huubungannya dengan sang adik tiba-tiba harus renggang karena status mereka tidak sedarah.
Bagaimana kisah Andra selanjutnya???
Happy Reading...🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wow...Rasanya Seperti Odading
Sore hari...
Matahari sudah beranjak ke ufuk barat menandakan petang menjelang. Seorang gadis masih betah bermain. Sudah menjadi kebisaan sitiap azan ashar mereka akan berhenti dan pulang kerumah masing-masing.
Mereka akan kembali setelah mandi dan shalat ashar. Rani selalu mengingatkan anak-anak agar mereka tidak membuat orang tuanya murka di rumah dengan bermain tidak ingat waktu. Setiap hari setelah pulang sekolah, makan siang dan shalat zuhur mereka akan pergi ke pantai untuk bermain, padahal sampai disana juga bukan selalu dihabiskan untuk main. Terkadang mereka juga tertidur dengan sejuknya angin laut.
Saat azan ashar berkumandang mereka akan kembali ke rumah masing-masing seperti yang Rani ajarkan supaya ibu mereka tidak marah dan melarang mereka main lagi. Anak-anak itu cukup patuh, tidak jarang ibu mereka menitipkan makanan untuk Lala dan keluarganya.
Orang tua mereka juga sudah saling mengenal dengan Rani dan Andi. Mereka juga mengetahui kondisi Lala dan senang ketika kehadiran anak-anak mereka membuat Lala semangat kembali.
Untuk hari minggu, mereka sudah tidak heran lagi jika anak-anak mereka tidak makan siang dirumah. Karena setiap hari minggu Rani dan Andi sengaja memasak banyak untuk mereka makan bersama dengan kelima bocah.
Hidup Rani dan Andi sungguh berbeda saat setelah memutuskan pindah ke Aceh. Disini kehidupan terasa berwarnah, serasa hidup dalam lingkungan keluarga sendiri. Berbeda dengan di Samarinda, biarpun memiliki teman tetapi tidak seterbuka sekarang.
Orang-orang disini menyambut kehadiran mereka dengan tangan terbuka, sikap ramah serta apa adanya menjadikan setiap orang baru merasa diterima tampa harus merasa semua hanya palsu.
Lala yang sudah terlihat rapi setelah mandi kembali ke pantai, duduk disebuah pondok dengan tatapan menghadap laut lepas. Kelima bocah belum juga sampai, tapi Lala masih setia menunggu sampai suara seorang wanita menyapanya.
"Apa kamu mengenal Rian?" Tanya sang wanita yang tidak lain adalah ibunya Rian yang kembali datang dengan adik perempuannya.
"Ibu siapa?" Lala tampak bingung menatap kedua perempuan beda usia di depannya saat ini.
"Saya ibunya dokter Rian yang tadi datang kemari membawa buah-buahan." Jawabnya ketus.
"Oh iya, Bang Rian sering kemari bermain sama kami." Jawab Lala sedikit tersenyum.
"Jadi anak saya sering kemari? Apa kamu pacarnya?"
Deg..
"Iya, dia sering kemari tapi saya bukan pacarnya." Jawab Lala sopan.
"Baguslah kalo begitu, saya harap kamu berhenti mendekati anak saya, dia itu dokter masa depannya juga cerah, saya tidak mau di berhubungan dengan gadis sembarangan."
Lala diam sejenak sambil mencerna perkataan seorang wanita di depannya. "Maaf Bu, saya tidak mengundangnya kemari. Saya tinggal disini dan anak ibu sendiri yang kemari. Kalo ibu mau melarang, seharusnya ibu larang anak ibu untuk tidak kemari lagi."
Plakkk....
Suara tamparan itu menggema, kelima bocah sampai terkejut melihatnya. "Kak Lala." Mereka berlari mendekati Lala dan ibunya Rian.
"Ibu ini kenapa memukul Kakak kami? Saya laporin polisi baru tau." Protes Aziz yang punya bapak seorang Polisi.
"Diam kamu anak kecil, jangan ikut campur urusan orang tua. Saya ingatkan sekali lagi jauhi anak saya!" Setelah mengatakan kalimat terakhir, si ibupun akhirnya pergi disusul anak perempuannya.
"Kak Lala, pipinya!" Tunjuk Mae yang melihat pipi Lala merah. Lala tersenyum getir, ada luapan emosi yang sudah lama tidak dirasakan. "Kakak gak pa-pa, kalian lama, capek Kakak tunggu."
"Kak Lala, ibu itu siapa? Kok dia pukul Kakak?" Lirih Andra.
"Dia ibunya bang Rian, ibunya bang Rian tidak suka jika bang Rian sering kemari atau dekat dengan Kakak. Ibunya pikir Kakak pacar bang Rian, makanya kemari buat ingatin Kakak biar gak dekat-dekat lagi sama bang Rian." Lala menyampaikan semua itu dengan tersenyum. Tidak ada yang namanya sakit hati, karena memang dia tidak pernah menaruh hati pada Rian.
"Kak Lala serem, hiii." Ucap Mae yang dari tadi memperhatikan Lala.
"Kenapa?" Tanya yang lainnya kompak.
"Tuh, senyum-senyum sendiri, habis dipukul kok senyum, habis dipukul itu nangis." Jawab Mae. Sementara yang lainnya kembali menatap Lala yang masih tersenyum.
"Ih, kalian ini ada-ada aja. Kak senyum karena senang. Selama Kakak hidup bari sekarang ngerasain dipukul ternyata sakit ya?" Gelak tawa keluar setelah Lala mengatakan itu.
Lain halnya dengan kelima bocah yang hanya menggelengkan kepala tandan tidak mengerti dengan pikiran Lala. "Ada apa nih? Kayaknya seru banget." Tanya Rani yang baru datang dengan suaminya.
"Itu Kak Lala habis dip..." Lala langsung membekap mulut Andra. Rani dan Andi menatap curiga pada putrinya mereka. "Gak ada Ma, kami cuma lagi becanda aja." Bohong Lala pada orang tuanya.
Insting Rani sebagai seorang ibu tentu tidak akan mudah menerima perkataan anaknya. Apalagi melihat pipi anaknya terlihat seperti bentuk jari-jari tangan orang.
"Oh iy, nanti malam kita bakar-bakar jagung mau gak?" Tanya Andi.
"Mauuuu."
"Kalo gitu siapa mau bantuin Bapak buat ambil jagungnya di rumah Bang Ilham? Nanti kalian pamit sama orang tua dulu ya sebelum kesini!" Pinta Andi pada kelima bocah.
"Bang Ilham yang punya kebun jagung belakang bukit Pak? Andra aja ya? Sekalian mau minta lebih buat ibu di rumah."
Andra segera naik motor yang dibawa Andi. Sedangkan Rani kembali ke rumah menyiapkan bahan-bahan untuk nanti malam. Andra turun dari motor tepat didepan kebun jagung Ilham saudara sepupunya.
Saat hendak masuk ke area kebun, tangannya dicegat oleh Andi. "Sekarang bilang sama Bapak, apa yang terjadi sama Kak Lala?" Andi menatap serius kedua mata bocah tersebut.
"Tadi kami melihat Kak Lala ditampar sama ibu-ibu, Kak Lala bilang itu ibunya bang Rian. Ibu itu minta Kak Lala jauhi bang Rian karena dia pikir Kak Lala pacar bang Rian. Bapak jangan bilang sama Kak Lala, nanti dia marah sama Andra ya!" Andi mengangguk pelan, diusapnya kepala bocah tersebut.
Tiba-tiba hatinya merindukan Andra, putranya yang sudah besar. Sudah lama Andra tidak memberi kabar padanya.
Andi menghela nafasnya, rahangnya mengeras mengingat putrinya ditampar oleh orang lain. Selama hidupnya, dia tidak pernah bermain tangan pada anaknya, tapi sekarang anaknya malah ditampar oleh orang lain yang tidak punya hak sama sekali.
Setelah mengambil jagung yang sudah di pesan tadi pagi, Andi dan Andra kembali ke rumah. Andra juga mendapat jatah jagung untuk dibawa pulang. Setelah meletakkan jagungnya, Andi kembali mengantar Andra le rumahnya karena teman-teman yang lain sudah pulang semua. Suasana hati memang tidak mampu menutupi rasa yang diperlihat oleh wajah. Sang istri yang memiliki insting tajam tentu dapat menangkap guratan marah pada wajah suaminya.
***
Hai... Readers tercinta, makasih ya masih setia nunggu updatenya. Jangan lupa like, komen dan votenya yach...
Happy Reading...😘😘😘