[Dilarang Promosi!]
World of Super powers :The journey of Gray.
{Dunia kekuatan super : Perjalanan Gray.)
Kekuatan super berasimilasi dengan bumi, berkat meteor misteri yang membawa partikel cahaya yang tidak diketahui. Manusia dengan kekuatan super bermunculan, membawa perubahan besar pada dunia.
Perpecahan dunia tak dapat terelakkan, dunia kembali jatuh ke medan perang dan bersamaan dengannya, organisasi kejahatan terlahir.
Sekolah yang mendidik generasi muda dengan kekuatan super tercipta, dengan tujuan membina pemuda-pemudi ke jalan yang baik. Dan disebuah sekolah, seseorang yang kelak dikenang bagai Pahlawan tengah menempuh pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22— Datang Dan Temui Aku
Seseorang yang tidak dikenal identitasnya dengan pasti membuat kegemparan dan mengajukan sebuah permainan yang dinamakan Demon King Game.
"Fuahahaha, Kalian semua para murid tahun pertama yang akan menjadi cecunguk monyet yang menghadapi diriku untuk menjadi Pahlawan. Kalian tahun kedua dan tiga sangat membosankan karena itulah aku tidak mengajak kalian, jadi jangan menangis!"
"Permainannya akan sangatlah mudah sampai bayi akan mengerti. Untuk mengakhiri ini semua kalian diharuskan mengalahkanku dengan kekuatan kalian, namun jangan berpikir ini akan mudah. Dalam setiap perjalanan kalian akan selalu ada anak buahku yang akan menghalangi kalian, jadi mereka harus dikalahkan jika ingin mencapai tempatku! Arenanya adalah sekolah ini sendiri, final stage, tempatku menunggu ada di arena pertarungan. Datang dan hiburlah aku, Fuhahahaha!"
Semua orang dalam ruangan diam mendengarkan perkataan itu dengan seksama. Hal paling mengejutkan dari tahun kedua dan tiga adalah mereka tidak panik sama sekali, jauh berbeda dengan tahun pertama.
"A-ada apa ini? Terorisme?!" tanya seorang murid tahun pertama berkaca mata, diikuti murid tahun pertama lainnya.
"Ki-kita harus segeralah melarikan diri!"
Terhadap reaksi kedua orang itu, Putri ikut panik dan segera menarik lengan baju Gray dengan gemetar ketakutan.
"Gray, ki-kita juga harus melarikan diri..." matanya berkilau karena air mata yang tertahan di kelopaknya.
Berbeda dengan Gray yang mencurigai kejadian ini, Putri serta murid lainnya nampak panik dan sangat jelas tidak mencerna informasi sebelumnya. Menyadari bahwa terdapat kejanggalan situasi, tatapan tajam dia berikan kepada Ketua OSIS Hanami, tanpa perlu menyembunyikan kecurigaannya.
"Sebagai Ketua OSIS, aku menjamin penuh bahwa kami tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa ini. Tidak ada jalan lain selain menuruti perkataan orang itu dan membiarkan kalian tahun pertama mengatasinya."
"Apa? Bukankah kau Ketua OSIS?! Mengapa kau tidak mau turun tangan?!" bentak murid tahun pertama.
"Sayangnya itu memang tidak bisa. Kamu seharusnya mendengar perkataannya bahwa tahun kedua dan tiga dikecualikan, kemungkinan besar si pelaku sudah menyiapkan sesuatu yang membuat kami tidak dapat campur tangan."
Itu jelas bila sudah dipikirkan baik-baik karena tidak ada orang yang cukup bodoh menyerang sekolah ternama tanpa persiapan yang matang. Selain itu, sesuatu telah menyelimuti sekolah ini. Tatapan Gray tidak berubah, ketenangan para senior sangat mencurigakan.
"Bagaimana dengan para guru? Apa mereka juga tidak dapat melakukan apa-apa sama seperti kalian?" tanya Gray, tetap pada tatapan tajam namun wajahnya datar sama sekali.
"Kemungkinan besar begitu, meski aneh aku yakin dia tidak akan melewatkan satu hal apapun. Yang bisa kita lakukan hanyalah menurutinya sampai dia sendiri puas. Tenang saja, tidak akan terjadi hal buruk dengan mengikutinya. Kalian tahun kedua dan tiga, sebaiknya kembali ke kelas kalian masing-masing sampai semuanya berakhir. Rapat ditunda, pemberitahuan lebih lanjut akan diumumkan setelah semua berakhir, itu saja. Bubar."
"Gray, mari kita kembali ke kelas dan berkumpul bersama mereka!" Putri mendesak Gray untuk bergegas dan menariknya ke pintu.
Gray tetap menatap Nanami, mereka saling menatap satu sama lain hingga sedikit keringat muncul di dahi ketua OSIS Hanami.
"Sedikit banyaknya aku menebak ini bukan yang pertama kali..." meninggalkan kata-kata yang membuat Theodore tertegun, Gray mengikuti Putri untuk keluar ruangan.
Meski dapat menduga beberapa hal, kekhawatiran tetaplah ada. Terdapat kemungkinan 50:50 ini murni terorisme atau hal lainnya...
"Ada apa Gray? Kita harus bergegas menuju kelas!" Putri menatap Gray yang berhenti berlari dengan bingung selagi tetap panik dan ingin cepat-cepat ke kelas.
"Maaf Putri, bisakah kau ke kelas sendirian? Aku ingin memastikan keselamatan Lina terlebih dahulu. Maaf, kuserahkan sisanya padamu!"
"Tung— Gray!"
Tanpa perlu menunggu jawaban apapun, Gray meninggalkan Lina dalam pelariannya dan menuju ke kelas Lina, sebuah kelas orang-orang kuat berada.
"Jika sesuatu sampai terjadi kepada nonaku, tidak akan pernah aku maafkan kau..."
Sesuatu yang seakan membakar dadanya mulai muncul, mungkin ini yang dinamakan emosi kemarahan. Sesuatu yang hanya akan muncul jika itu menyangkut keselamatan nonanya.
"Gray!"
Dia terhenti terhadap suara yang memanggil namanya dan berlari mengejarnya secepat yang dia bisa.
"Sebaiknya kau kembali ke kelas, Nico, aku akan menyusul saat sudah memastikan keadaan Lina."
"Maaf saja tapi..., aku juga mengkhawatirkan keselamatanmu, sebagai sahabat aku akan berada di sampingmu!"
Tidak ada waktu untuk mereka berdebat sehingga Gray mengabaikan keberadaan Nico yang sulit bernafas selagi mempertahankan kecepatannya untuk tetap berlari di sisi Gray.
"Ke sini, aku tahu jalan pintas menuju VIP tahun pertama!" mengambil persimpangan ke kiri, Nico memimpin jalan.
"Sialan, aku benar-benar penasaran apa yang sebenarnya sedang terja...—ah, Lina, Rin!" Nico yang hendak mengeluh teralihkan terhadap orang-orang yang baru saja berpapasan dengan mereka.
Begitu nama mereka dipanggil, Rin dan Lina beserta beberapa temannya berhenti dan menghampiri mereka.
"Gray, Nico! Syukurlah kalian baik-baik saja..." Rin mendesah lelah dan sangat bersyukur.
"Sepertinya kita memiliki pemikiran yang serasi." tukas teman Lina.
Gray mulai merasa tenang dan api tak terlihat yang membakar dadanya mulai padam namun tidak berarti dia bisa menarik nafas lega di tengah situasi kacau ini. Dia segera menatap wajah-wajah asing yang menjadi teman Lina dan menyadari dua orang tidak biasa. Salah satunya dia pernah jumpai meskipun hanya sesaat.
"Yea, namun tidak ada waktu untuk kita bersantai. Situasi ini nampaknya berbahaya, mungkin saja ini serangan *******."
"Yeah..., namun anehnya para senior di club-ku bersikap biasa-biasa saja dan menyuruh kami tahun pertama untuk bergegas ke kelas dan bekerjasama menghentikan ini. Aku benar-benar penasaran tentang sikap mereka itu."
Bila menggabungkan apa yang diberitahukan Nico dengan apa yang dia jumpai, jawaban abstrak mulai terbentuk dalam benak, namun hal itu tidak menjadikannya sebuah jawaban mutlak.
"Apa mungkin mereka merasa bahwa ini akan baik-baik saja dan sekolah sendiri yang akan menyelesaikannya?" tanya salah satu gadis kembar.
"Aku pikir ada hal lain dibalik ini, Rie..." Rin mulai memeras otak dan menyangkal pendapat gadis bernama Rie.
"Aku setuju. Seperti apa yang dia katakan sebelumnya, sikap para senior yang apatis sungguh mencurigakan."
"Diriku juga setuju dengan apa yang dikatakan Flugel Boy. Nampaknya kau juga mengamati mereka saat dalam perjalanan, ya."
Gray hanya diam dan mendengarkan informasi yang ada, dia juga akhirnya mengetahui bahwa nama murid yang belum lama dia jumpai ketika istirahat adalah Flugel.
"Bagaimana menurutmu, kak? Apa yang harus kita lakukan terhadap ini?"
Menatap mata Lina yang penuh kekhawatiran, Gray hanya bisa tersenyum lembut.
"Situasinya sendiri cukup memilukan dan terdapat lubang dibeberapa tempat. Namun, sepertinya tidak ada jalan selain menunggu murid tahun pertama menyelesaikannya atau kita bisa mencoba mengorek informasi dari para senior. Mungkin saja mereka tahu sesuatu."
"Aku setuj—..."
Gedung sekolah mulai bergetar akan sesuatu, Flugel yang hendak berbicara menatap langit-langit dan ekspresinya yang sama tenangnya dengan Gray mulai diliputi kegelisahan.
"Baiklah semuanya, tanpa perlu basa-basi lagi, mari kita mulai permainannya! Datang dan temui aku, tahun pertama. Kalian harus mencari jalannya sendiri, aku sudah menyegel sekolah ini dan kalian tidak bisa menerobos keluar, jalan satu-satunya hanyalah mengalahkanku, Fuhahahaha! Labirin diaktifkan!"
Sinar kebiruan yang disertai aliran listrik menyelimuti seluruh gedung sekolah, bahkan terdapat pembatas berbentuk lingkaran yang menyegel seluruh lingkungan sekolah.
"Demon King Game dimulai, datang dan temui aku..."
semoga lancar lagi up nya thor