NovelToon NovelToon
Malaikat Pelindung

Malaikat Pelindung

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Tamat
Popularitas:81.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Sariyah

Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.

Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.

Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?

Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps. 22 Sekolah Favorit

"Apa?" tanya Aska yang mendengar ucapan Arifah.

"Hahaha tidak Mas, ayo kita pulang. Aku lapar sekali"

Setelah puas jalan-jalan, Arifah dan Aska memilih pulang kerumah. Diperjalanan pulang, Arifah masih penasaran dengan Vika. Berbagai pertanyaan berada dipikirannya, bagaimana mungkin Vika dan Siska membuat surat palsu itu? Lalu Febri siapa? Ah aku benar-benar bingung, aku pasti tidak akan bertemu lagi dengan mereka setelah ini.

Aska yang sedari tadi melirik Arifah yang tengah berpikir pun berdehem.

"Eemm."

Arifah tersentak "Mas ngagetin aja."

"Kamu lagi mikirin temanmu tadi? tanya Aska mencoba menebak.

"Iya, dia yang membuat ku bermasalah disekolah. Semua guru pun jadi membenciku terutama Bu Dewi" ucap Arifah memanyunkan bibirnya.

"Oh ya, bagaimana dia melakukannya?" tanya Aska penasaran.

"Dia tidak sendirian Mas, aku tidak menyangka mereka akan melakukan itu padaku. Padahal aku tidak punya masalah apapun dengan mereka."

"Kamu yakin dia yang melakukannya?" tanya Aska lagi sembari fokus menyetir.

"Aku yakin, Putri yang mengatakannya, ups.." Arifah keceplosan menyebut nama Putri, ia menutup mulutnya.

"Siapa Putri?"

"Eh tidak, aku hanya yakin saja mereka yang melakukannya" ucap Arifah gelagapan.

"Kalau tidak terbukti dosa loh kamu" ucap Aska.

Arifah tersenyum merapatkan giginya yang rata, untung saja tidak bertanya siapa Putri secara detil.

***

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Arifah masuk kesekolah favorit dikota itu. Penampilannya pun berubah drastis, ia mengenakan baju lengan panjang rok panjang dan memakai hijab. Arifah belum pandai memakai hijab dengan menggunakan pentul, alhasil berantakan.

"Bagaimana penampilanku Mas" tanya Arifah pada Aska sembari berputar-putar.

Aska tersenyum simpul, "Kamu semangat sekali ya. Mas suka dengan penampilan kamu seperti ini."

Aska pun mengantar Arifah berangkat kesekolah.

Sesampainya disana Arifah bertemu lagi dengan Januar, Maya dan Tama. Mereka sedang bercakap-cakap didekat pagar sekolah.

"Arifah!" ucap mereka serempak ketika melihat Arifah juga mendaftarkan diri disekolah itu.

Januar terkesima dengan penampilan Arifah yang baru, cantik, pikirnya. Meskipun dengan hijab yang berantakan namun tetap terlihat cantik dimata Januar.

"Kalian mendaftar disekolah ini juga?"

"Ya, aku juga tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mu disini" ucap Tama yang sedari tadi memperhatikan Arifah, ia tampak senang dengan kehadirannya disekolah itu.

Arifah tersenyum kecut, kenapa dia juga mendaftar disekolah ini sih, menyebalkan!

Bel sekolah berbunyi. Arifah, Januar, Maya dan Tama berbaris dihalaman sekolah. Kepala sekolah memberikan ucapan selamat datang kepada siswa dan siswi baru, serta memberikan semangat untuk belajar dalam meraih prestasi.

Arifah kembali duduk sebangku dengan Maya, ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan sahabatnya itu. Demikian juga Maya.

Sementara dikelas yang sama Tama dan Januar juga memilih duduk sebangku, mereka mulai akrab meskipun belum pernah saling sapa.

"Aku sering melihatmu bersama Arifah disekolah dulu" ucap Tama membuka pembicaraan. Tentu saja Tama masih penasaran dengan hubungan Arifah dan Januar.

"He'em kami kan berteman"

Serasa mendapatkan seteguk air ditengah-tengah padang yang tandus, ia tersenyum, hanya berteman, bagus banget berarti aku punya peluang.

Januar yang menyukai Arifah sejak lama pun mencuri-curi pandang, ia sangat senang bisa sekelas dengannya, itu artinya ia bisa lebih dekat.

Tak berapa lama wali kelas memasuki ruangan dan memperkenalkan dirinya, Ibu Wiji Astari, panggil saja Bu Wiji, katanya. Tak lupa kami pun diminta memperkenalkan diri kami masing-masing. Mulai dari nama, sekolah asal sampai tempat tinggal.

Jam istirahat Arifah, Januar, Maya dan Tama menuju kantin bersama-sama. Serempak mereka memesan bakso dan melahapnya sampai habis tak tersisa. Banyak sekali yang mereka bicarakan sampai tak terasa bel pun berbunyi, pertanda masuk. Berhubung guru Biologi saat itu tidak masuk, maka Bu Wiji sebagai wali kelas mengisi kekosongan.

"Sekarang kita memilih ketua kelas, siapa kira-kira yang berminat unjuk tangannya!"

Januar dan Tama secara bersamaan menunjuk diri mereka, mereka saling tatap.

"Karena ada dua orang yang berminat maka kita lakukan polling" saran Bu Wiji.

"Siap Bu!" teriak siswa siswi bersamaan.

Setelah dilakukan perhitungan maka yang menjadi ketua kelas adalah Januar sebagai terpilih ia akan berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.

Januar curi-curi pandang kearah Arifah, namun Maya menangkap tatapan Januar pada Arifah, ada rasa bergejolak didalam hatinya, cemburu.

"Kita pulang sama-sama" tawar Tama pada Maya, Januar dan Arifah setelah jam sekolah berakhir.

"Aku tidak bisa, Mas Aska pasti sudah menungguku didepan. Aku duluan ya. Maya mari ikut aku, aku akan mengantarmu pulang" tolak Arifah sembari menarik tangan Maya menjauh dari Januar dan Tama.

"Aku naik bus saja"

Raut wajah Arifah tampak kecewa karena Maya menolak ajakannya. "Kalau gitu aku duluan, bye, sampai jumpa besok"

"Bye" Januar, Tama dan Maya serempak.

"Aku juga duluan ya" ucap Tama ngeloyor pergi.

"Januar, selamat ya akhirnya kamu jadi ketua kelas" ucap Maya ramah, tersenyum semanis mungkin.

"He'em makasih" ucap Januar cuek sembari menatap punggung Arifah yang makin lama menghilang menjauh dari pandangannya.

"Kita pulang sama-sama yuk" tawar Maya mengalihkan tatapan Januar kepadanya.

"Ayo."

Mereka berjalan bersama-sama menunggu bus, kebetulan rumah mereka searah. Maya tersenyum senang.

Sementara itu..

BRUKK..

Seseorang menabrak Arifah.

Tasnya terjatuh..

"Maaf, aku tidak sengaja" ucap orang itu sembari mengambil tas Arifah yang terjatuh.

"Kamu!" Arifah menunjuk orang itu dengan jari telunjukknya.

Febri!

Febri yang mengenali Arifah berlari sekencang-kencangnya, ia takut kalau sampai bertemu lagi dengan saudara kandung Arifah.

Setelah dirasa sudah cukup jauh, dengan nafas terengah-engah, "Gila, dia sekolah disini pula. MATI AKU!" gumamnya sembari mengacak-acak rambutnya.

"Dia orang yang bekerja sama dengan Vika kan?" tanya Arifah pada Putri.

"Ya."

"Dia sekolah disini rupanya" ucap Arifah mengangguk-angguk.

"Dengar, kamu harus bersikap biasa saja padanya. Jangan ada dendam didirimu. Ini adalah peringatan pertama dan terakhirku. Jika kamu masih seperti itu aku akan pergi meninggalkanmu" ucap Putri, tidak ingin Arifah terkotori oleh kebencian.

Arifah ingat waktu ketemu Vika ditaman kota, ia sangat membencinya dan merencanakan sesuatu untuk balas dendam.

"Baiklah, aku tidak akan berpikir seperti itu lagi. Jangan pergi dari ku" Arifah memohon.

"Aku tidak akan pergi, aku hanya membersihkan hatimu saja. Kelak jika tiba saatnya aku akan pulang."

Arifah mengangguk-angguk mengerti.

"Mas Aska kemana, biasanya selalu menjemputku tepat waktu" gumamnya.

Duhh mendung pula..

Tak lama hujan turun dengan derasnya. Arifah mencari tempat untuk berteduh, yang ternyata dijarak yang tidak begitu jauh Siska ada disitu, namun Arifah tidak melihatnya karena yang berteduh lumayan ramai.

***

"Maafkan aku karena tidak jadi kerumahmu" sesal Aska.

"Tidak apa. Tapi kalau boleh aku tahu, untuk apa kamu bertemu orang tuaku?" Viona penasaran.

"Aku mau melamarmu" ucap Aska menatap lekat Viona. Wanita ini yang sudah membuatnya jatuh cinta.

Viona tersenyum sumringah, wajahnya seketika memerah, ia sangat senang.

.

.

.

Jangan lupa like 👍 dan juga Vote 😁 Biar aku makin semangat 😍

1
Novellette (akun thor hiatus)
bc lg judulnya" Pacarku super Idol " cr aja dikolom pencarian dn bc juga karyaku judulnya, "Wu lan zhang" cek diprofilku maaf gak sopan ttp sukses
Novellette (akun thor hiatus): tunggu,ya
total 2 replies
Novellette (akun thor hiatus)
udh mampir
Irena Marsha
stlh skian lama,terucap juga..lanjuut thor. 😁😁
🍬🧀Kara
Terus berkarya Thor😘
Author Rie: makasih yakk 💪
total 1 replies
Kohaku
mantab
Author Rie: makasih 😊
total 1 replies
YouTrie
Ok lanjut..support buat author..
Author Rie: maaciw budhe 🤗
total 1 replies
Ria Diana Santi
Wah, selamat!🥳🥳🥳 Sukses terus!
Author Rie: aamiin, maaciw 🤗
total 1 replies
alisha
rate 5 dan vote
Author Rie: maaciw 🤗
total 1 replies
Anindyta
semangat terus ya thorr
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
Yuniarti Muskan Sanir: udah habis ya Thor ??
total 2 replies
Yuniarti Muskan Sanir
lanjut
ͼӈªȋϩȧ
semangat up
Syl_Vien
RYU hadir ka👍🥰

lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Ria Diana Santi
Semangat up-nya Thor.
Ferly Ina
6 like mendarat 🤗🤗
🍬🧀Kara
Dukungan mendarat
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️
HIATUS
Like it 💕 semangat thor 💪 salam dari novel Cinta Beda Status Sosial 😘
HIATUS
Like 💞like 💞 like 💞
HIATUS
Like it 💕
HIATUS
Jempolll 👍
HIATUS
Like thor ❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!