NovelToon NovelToon
Single Daddy

Single Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duda / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: kristikitt

Antares Bagaskara atau yang akrab dipanggil Ares adalah seorang pria tampan dan kaya, yang baru saja bercerai dengan istrinya. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Arkanio Bagaskara.

Antares atau yang akrab dipanggil Ares harus diperhadapkan dengan perceraian karena perselingkuhan istrinya. Disisi lain ia bertemu dengan Anita yang merupakan babysitter dari anaknya. Percikan asmara pun muncul diantara keduanya? Namun, semua itu tidaklah mudah. Lantas bagaimana seorang duda beranak satu memperjuangkan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kristikitt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Propose

Setelah gue mengutarakan alasan gue, gue merasa Kak Ares udah gak ngode terus ke gue. Dia justru bersikap biasa ajah, gak rewel minta nikah terus. Seneng sih sebenernya, tapi gue merasa ada yang kurang, atau mungkin gue belum terbiasa dengan hal itu.

Hari ini seperti biasa, gue mengantar Arka ke sekolah, tapi bedanya gue sendiri, Papanya Arka gak bisa. Katanya sih harus jemput klien di bandara, terus langsung meeting.

Mami sama Papi juga lagi keluar, gak tahu kemana, tinggal gue sendiri deh. Mau ngapain yah kira-kira? Bosan banget soalnya.

Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah Kak Ares. Sebenarnya dari dulu ada sebuah laci di kabinet ruang tengah yang bikin gue penasaran. Pengen banget gue liat isinya, tapi gue gak mau dibilang lancang. Makanya, gue simpen rasa penasaran gue. Akan tetapi, berhubung gak ada seorang pun dirumah, gue memberanikan diri buat membuka laci tersebut.

Alangkah terkejutnya gue ketika melihat isi dari laci tersebut. Isinya ternyata album foto. Gue mengambil sebuah album foto. Didepannya tertulis, Antares Bagaskara. Ah, sepertinya isinya adalah foto-foto Ares. Ternyata benar banget dugaan gue. Isinya foto-foto Kak Ares emua.

Pacar gue dari dulu lucu banget sih. Imut parah! Pokoknya gemesin deh. Gue langsung mengambil handphone gue dan mengabadikan foto tersebut. Terlalu imut buat gue abaikan sih. Hehehe..

Saat gue hendak membalikkan halaman album tersebut, gue mendengar bunyi mobil Kak Ares. Waduh, sebelum ketahuan mending gue taruh lagi deh albumnya, daripada ketahuan.

"Hai." Sapa Kak Ares ketika melihat gue.

"Hai juga." Balas gue sambil senyum. Sejujurnya, gue juga agak canggung ketemu Kak Ares, mengingat tentang ciuman pertama kami malam itu, sedikit membuat gue malu.

"Mami sama Papi lagi keluar yah?" Tanya Kak Ares.

"Iya, Kak." Jawab gue. Kak Ares malah berjalan mendekat kearah gue. "Kenapa Kak?" Tanya gue. Tetapi bukannye menjawab, dia malah menatap gue. Gue jadi grogi kalo ditatap gini.

Kak Ares memegang kedua tengguk gue. Ia menurunkan wajahnya sedikit demi sedikit kearah wajah gue. "Kak?" Tanya gue dengan suara yang sedikit bergetar. Ini gak baik buat kesehatan jantung gue.

Seiring makin dekatnya wajah kita, gue bisa merasakan deru nafasnya yang mengenai permukaan wajah gue. Secara refleks gue memejamkan kedua mata gue. Setelah itu bisa gue rasakan bibir Kak Ares menyentuh bibir gue. Berbeda dengan malam itu. Jika malam itu hanya sekadar kecupan, kali ini bisa gue rasakan bibir Kak Ares ******* bibir gue. Lembut. Hal ini membuat gue terbuai.

Sayangnya gue gak tahu cara berciuman yang baik. Gue hanya pasif menerima ******* demi ******* darinya. Disisi lain, jantung gue terus berdetak. Gue gak tahu cara mengendalikan jantung gue sendiri.

Mungkin karena merasakan gak ada respon dari gue, Kak Ares melepaskan pagutannya. Gue gak berani menatap dia, gue hanya menunduk.

"Lain kali jangan panggil aku 'kakak' lagi. Kalo emang kamu belum terbiasa, setidaknya jika hanya kita berdua panggil aku 'sayang' gituh? Kan lebih romantis." Kata Kak Ares kemudian tertawa.

"Gak mau ah." Tolak gue.

"Kalo gak mau ya aku cium lagi kayak tadi." Sontak mata gue terbelak. Apa-apaan, main cium ajah. Hedeh. Gak tahu apa kalo jantung gue kayak lagi maraton gituh? Berdetaknya kencang banget sih.

"Idih..." Ketus gue.

"Oho! Mau cium lagi?" Tanya Kak Ares.

"Enggak ah."

"Ya padahal kan aku mau, sayangggg.."

"Aku gak mau ah."

"Makanya, coba panggil aku 'sayang'."

"Gak mau." Tolak gue. Tapi Kak Ares malah pegang tangan gue sebelum gue beranjak dari hadapannya.

"Aku cium ah." Kata Kak Ares sambil mendekatkan wajahnya kearah gue.

"Yaudah! Aku panggil nih." Ucap gue.

"Jadi panggil aku apa?"

"Sa.. sayang.." Jawab gue sambil terbata-bata. Setelah itu gue langsung lari. Gue gak mau dicium lagi. Kak Ares malah ketawain gue. Gue mah bodo amat.

...***...

"Sa.. sayang." Panggil gue dengan agak canggung.

"Kenapa sayangkuh?" Tanya Kak Ares.

"Kenapa pulangnya cepat?" Tanya gue.

"Aku lagi mau meeting sama klien. Oh iya, kamu bisa kan jemput Arka sendiri?"

"Biasanya juga aku jemput Arka sendiri." Pikir gue.

"Hehehe.." Kak Ares malah nyegir. "Maksud aku sekarang. Kamu gak papa kan jemput Ares sendiri? Terus setelah itu kamu sama dia jalan-jalan kemana gituh, terserah kamu ajah. Bisa gak?"

"Loh emangya kenapa? Tumben banget minta aku kayak gituh."

"Soalnya ada klien aku yang mau meeting di rumah. Takutnya Arka malah rewel, kan gak enak. Mau bahas urusan penting soalnya." Jelas Kak Ares.

"Oh iyadeh." Angguk gue.

"Eits.. tapi jangan dulu pulang sebelum aku telepon yah." Kata Kak Ares lagi.

"Iya bosskuh." Kata gue ngeledek.

"Eh bilang apa?" Tanya Kak Ares yang membuat gue heran.

"Bosskuh." Jawab gue.

"Kan udah dibilang kalo berdua doang, panggil aku 'sayang'." Oops.. gue lupa. Tapi sebelum dia sempat memegang tangan gue, gue udah keburu lari. Hehehe..

"Jangan lari kamu Yang." Gue gak dengar! Gue gak dengar! Hahaha..

...***...

Sama seperti yang Kak Ares bilang tadi, setelah gue menjemput Arka, gue langsung ngajak dia jalan-jalan. Papanya sempat kasih sebuah kartu ke gue. Katanya gue boleh pake sepuasnya. Terserah gue deh pokoknya! Tapi gue kan enggak enak. Jadi gue pakai buat keperluannya anaknya ajah.

Pertama gue sama langsung menuju ke sebuah mall, hal pertama yang menjadi tujuan kami adalah makan. Perut gue sama Arka udah keroncongan soalnya.

Setelah itu gue langsung ngajak Arka buat main di arena permainan yang ada disni. Pokoknya gue mau nyenengin Arka deh.

Puas bermain Arka malah rewel. Mungkin dia ngantuk. Tapi kita belum bisa pulang, Kak Ares belum telepon soalnya. Padahal ini udah sore loh.

Karena bingung mau kemana, akhirnya gue membawa Ares pulang ke rumah gue. Sesampainya dirumah, gak ada Nisa. Mungkin dia masih kuliah.

Gue langsung membawa Arka kekamar dan menidurkannya. Gue juga ikutan tidur bareng sama dia.

...***...

Gue terbangun dengan keadaan sekitar gue yang udah gelap. Gue mencari hanphone gue untuk mendapatkan sumber cahaya. Ternyata ini udah malam. Gue sama Arka tidur pulas banget ternyata. Udah jam setengah 7 malam. Dan gue terkejut ketika melihat 22 panggilan tak terjawab dari Kak Ares. Dia pasti khawatir. Gue segera meneleponnya.

"Anita? Astaga Sayang.. kamu dimana?" Tanya Kak Ares panik.

"Maaf Kak. Tadi aku sama Arka ketiduran. Ini kita sekarang lagi dirumah aku." Jawab gue.

"Oh yaudah gak papa. Kamu mending siap-siap yah. Aku lagi otw jemput kamu."

"Iya Kak." Jawab gue.

Seperti yang Kak Ares ucapkan, gue segera bersiap-siap. Sayangnya Arka masih tertidur pulas. Akhirnya gue memutuskan untuk gak membangunkan dia. Nanti setelah gue udah siap baru deh gue bangunin dia.

Gue pun segera bersiap-siap. Tepat setelah gue selesai bersiap, gue mendengar suara ketukan pintu. Itu pasti Kak Ares. Gue langsung membuka pintu untuknya.

"Kakak rapi banget." Ucap gue saat melihat penampilannya.

"Mau ke kondangan. Tapi bareng kamu yah. Ini aku bawain baju buat kamu. Dipakai yah." Ucap Kak Arka sambil memberikan gue sebuah paper bag.

"Tapi Kak-"

"Gak usah tapi-tapi, Sayang.. ikut aku ajah yah. Masa aku kekondangan gak ada gandengan." Kata Kak Ares lagi.

"Yaudah deh. Aku ganti baju dulu yah."

"Arka mana?"

"Oh iya, dia masih tidur Kak. Pulas banget tidurnya, aku jadi gak tega buat bangunin dia." Jawab gue.

"Yaudah biar aku ajah yang urus dia. Kamu siap-siap ajah." Gue pun mengangguk.

Gue meninggalkan Kak Ares dan segera menuju ke kamar adik gue siap-siap. Kenapa gak dikamar gue? Karena ada Arka sama Kak Ares disitu. Gue gak mungkin ganti baju dihadapan mereka.

Baju yang Kak Ares kasih ternyata berupa gaun berwarna biru, senada dengan jas yang ia kenakan. Karena merasa terlalu simple jika hanya memakai gaun ini saja, gue berniat untuk sedikit berdandan. Setelah selesai, gue keluar dari kamar Nisa dan menemukan Kak Ares dan Arka yang tengah bercengkrama di ruang tamu.

"Kak?" Panggil gue. Kak Ares menoleh dan melihat gue. Dia menatap gue dari atas sampai bawah, bawah sampai atas, kemudian berhenti di wajah gue.

"Cantik banget sih." Pujinya. Hal tersebut tentu membuat gue tersipu. "Gak pernah dandan, sekalinya dandan, aku jadi pangling Yang." Ucapnya lagi.

"Jalan ajah yuk." Kata gue mengalihkan pembicaraan. Gak mau dibuat lebih tersipu lagi soalnya.

Model gaun yang gue pake emang simple banget. Tapi terlihat sangat anggun. Ditambah lagi gue membubuhi sedikit make up pada wajah gue. Warna dari gaun gue pun senada dengan jas Kak Ares, begitu pun dengan pakaian yang digunakan Arka, kemeja polos berwarna biru muda, lengkap dengan dasi kupu-kupu yang menghiasi bagian depan kemejanya. Entah sejak kapan pacar gue menyiapkan ini.

...***...

Sekarang gue, Kak Ares dan Arka sedang menuju ke tempat kondangan yang dimaksud Kak Ares. Tapi kenapa arahnya malah ke rumah Kak Ares?

"Papa mau pulang?" Tanya Arka.

"Papa lupa sesuatu, jadi kita balik dulu yah." Jawab Kak Ares yang membuat gue dan Arka mengangguk-anggukkan kepala.

Keadaan rumah benar-benar gelap. Lampu halaman yang biasanya menyala saat malam, saat ini justru enggak. Bahkan dari luar pun gue bisa tahu kalau lampu bagian dalam rumah pun sama sekali enggak nyala. "Kok padam semua lampunya? Padahal punya tetangga yang lain enggak loh." Tanya gue.

"Bunda... Alka takut." Ucap Arka sambil maju untuk duduk dipangkuan gue. Dengan senang hati gue mendudukan Arka di pangkuan gue dan mendekapnya.

"Kita masuk bareng yuk." Ajak Kak Ares.

"Enggak ah. Aku sama Arka tunggu disini ajah." Tolak gue karena gue juga takut. Jangan-jangan ada orang jahat didalam rumah itu.

"Gak papa. Kan ada aku." Ucap Kak Ares.

Akhirnya, Kak Ares, gue, dan Arka yang ada di pelukan gue pun berjalan. Gue sengaja mengang tangannya Kak Ares, takut sih soalnya.

Kami masuk kedalam rumah dengan bantuan cahaya senter yang kebetulan memang ada di handphone. "Kamu tunggu sini yah. Aku mau keatas dulu, cepat-cepat doang kok. Ini pegang hp aku ajah, kamu nyalain lampunya dulu." Jelas Kak Ares sambil memberikan hpnya yang kami pakai sebagai senter, hp gue ada di mobil soalnya. Belum sempat gue membalas ucapan Kak Ares, dia malah udah ngacir duluan tinggalin gue sama Arka.

Dengan sedikit keberanian yang gue miliki, gue menuju saklar lampu, saat hendak menekan saklar tersebut, gue justru mendengar suara teriakan Kak Ares. "Aaaaa..." Sontak hal tersebut membuat gue kaget setengah mati. Tanpa berpikir dua kali gue langsung menuju sumber suara tersebut.

Gue langsung berlari menuju halaman belakang. Dalam pikiran gue udah berkelibat hal-hal buruk. Misalnya Kak Ares dipukul penjahat, atau bahkan ia ditusuk sama penjahat. Pokoknya gue langsung menuju ke halaman belakang yang merupakan sumber suara tersebut.

Alangkah terkejutnya gue ketika gue sampai justru berbanding terbalik dengan pemikiran gue. Didepan gue terpampang sebuah karpet putih dan diujung karpet itu ada Kak Ares. Pada bagian samping dari karpet tersebut terdapat Mami, Papi, adik gue, dan juga Mikhael. Ah, mereka justru menghias halaman belakang dengan sangat bagus. Terdapat lilin yang mengapung pada permukaan kolam berenang. Dekorasi ini sangat indah.

"Arka sini." Panggil Kak Ares yang membuat Arka turun dari gendongan gue dan berlari meuju Papanya, meninggalkan gue sendiri.

"Anita..." Panggil Kak Ares lembut. "Aku tahu hubungan kita masih amat sangat baru. Tapi aku ingin membuktikan keseriusanku. Aku tak hanya ingin untuk sekadar bermain-main." Apakah gue mau dilamar saat ini juga?

"Kamu ingat, dulu kamu pernah bilang ke aku untuk menyembuhkan luka aku terlebih dahulu, kemudian aku harus bahagia?" Gue mengangguk.

"Anita makasih udah jadi obat buat aku. Kamu yang menyembuhkan luka dihati aku. Kamu juga yang membuat ku bahagia. Cara kamu memperlakukan Arka dan aku, membuat aku semakin jatuh cinta sama kamu." Gak tahu kenapa gue merasa sangat terharu.

"Anita?" Kak Ares memanggil gue lagi. Kemudian dia dan Arka berjalan menuju gue yang ada diujung karpet itu.

"Anita, aku sama Arka sadar kami benar-benar udah jatuh cinta sama kamu." Tepat didepan gue Kak Ares berujar demikian. Air mata gue udah gak terbendung lagi, akhirnya luruh sudah air mata gue.

"Anita.." Kali ini Kak Ares berlutut dihadapan gue. "Maukan kamu menikah denganku, menjadi Bunda dari Jinwoo dan anak-anak kita kelak?" Tanya Kak Ares sambil membuka kotak perhiasan yang tentu saja itu adalah cincin.

Gue terharu sejadi-jadinya. Gue gak pernah menyangka bakal dilamar dengan cara seperti ini. "Anita?" Panggil Kak Ares lagi. "Will you?"

Gue menatap adek gue, dia tersenyum buat gue. Kemudian dia menganggukan kepala. Gue tau, dia juga pasti ikutan senang kalo kakaknya senang.

"Yes." Jawab gue. Kak Ares langsung memakaikan cincin tersebut pada jari manis gue. Setelah itu ia berdiri dan memeluk gue. "Makasih yah." Ucapnya sambil mengecup puncak kepala gue.

"Yeayyy Alka punya Bunda." Teriak Arka heboh.

"Aduh.. Mami bahagia banget deh." Pekik Mami heboh.

"Selamat yang nak." Ucap Papi kepada gue dan Kak Ares.

"Kakakkk.... Adek seneng banget kalo Kakak sebahagia ini." Seru Nisa sambil memeluk gue. Sama kayak gue, dia juga ikutan nangis. "Udah ah, ini kan moment bahagianya Kakak. Gak boleh nangis yah." Hiburnya

"Kak.. cepat kasih kita ponakan yah." Celetuk Mikhael.

"Oh iya bener! Kalo bisa yang cewe yah Kakak." Tambah adik gue.

"Tenang ajah, pasti Kakak usahakan kok." Jawab Kak Ares. aduh si bapak, baru juga lamaran udah mikir sampe situ.

...-***-...

1
Apri
hai Thor dak ada kelanjutanya ya
Apri
lanjut dong
Fitria Sri widowati
semangat up kak, salam kenal dari si pemilik novel " romansa masa SMA" dan "your boss is mine!!! ", boleh kak mampir di novel aku😊😊
Fitria Sri widowati
sabar Nita, baru juga 2 minggu
Fitria Sri widowati
cowok idaman nih😘😘
Fitria Sri widowati
dih si Anita ngelamain aja, 🤔🤔
Fitria Sri widowati
co cuittttt
Fitria Sri widowati
YES,,, YES,,,
Fitria Sri widowati
semangat NIRES!! (nita dan ARES) 💪💪
Fitria Sri widowati
makin conplicated🤦‍♀🤦‍♀
Fitria Sri widowati
Nitaaa! pilih Ares aja sih 😁😁
Fitria Sri widowati
hhmm.... senengnya jadi Anita😁😁
Fitria Sri widowati
tuh kan,,, tuh kan,,
Fitria Sri widowati
kayaknya beneran suka si Ares, hopefully
fadhila
pilih pak duda bonus anaknya 😂😂😂
Sarini Sadjam
lanjuut donk
Sarini Sadjam
smoga si dede cepat hadir ya nita
Sarini Sadjam
biar cepet si arkan punya dede lembur trus
Sarini Sadjam
lah nita klo lo ga iklas jgn fj ajak bareng to abg genit
Sarini Sadjam
moga2 aja si sarah ga gangu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!