Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.
Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.
...
Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.
Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.
Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.
Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stolen Kiss
Rasa manis dari bibir bertemu dengan bibir, kenapa hal itu bisa terasa begitu indah. Logika berkata itu hanyalah daging bersentuhan dengan daging, kunci jawaban dari itu semua adalah perasaan satu sama lain.
Biarkan terjatuh, bayangan rambutmu terurai dengan lambaian. Tentang senyummu yang memberi rasa suka, kau membawa nafasku dan datanglah pada caraku mencinta.
…
Sabtu malam yang ditunggu akhirnya tiba, pesta para bangsawan akan segera digelar. Keluarga Smith adalah Tuan Rumah yang mengadakan helaran tersebut.
Walaupun tidak bisa ikut, Juliet cukup merasa senang saat membantu J untuk bersiap. Calon ibu dari bayi kembar itu membantu memasangkan dasi sang suami dengan begitu rapi.
Tangan mungil dengan jemari dan kuku yang diberi warna peach cukup cekatan memasang tali yang terpasang di kerah kemeja putih suaminya.
Tanpa Juliet sadari bahwa saat ini J juga sedang sibuk menatap wajahnya yang terlihat tanpa noda. Seperti biasa raut wajahnya selalu datar, tapi jika diperhatikan lagi maka akan terlihat tatapan hangat dan sendu di saat yang bersamaan.
J merasa gamang pada sikap Juliet yang begitu hangat. Wanita itu menunjukkan perbedaan dari emosi di wajahnya. J tidak tahu apa itu, tapi dia merasakan ada ketulusan dari apa yang dilakukan Juliet.
"Sudah selesai!" ucap Juliet sambil mengusap dada dan bahu J, seolah ada debu atau kotoran yang menempel di sana. Dia bisa merasakan betapa kokohnya tubuh pria muda itu.
Ah, Juliet merasa wajahnya memanas sekarang, tentu dia pernah melihat segalanya yang ada pada tubuh J. Otot perut yang kencang, dada bidang, bahkan bahu yang lebar pria itu Juliet pernah melihatnya.
"Terima kasih," ucap J dengan nada yang lembut, membuat Juliet mendongak padanya. Ada sedikit getar dalam suara J yang menunjukkan ketulusan.
"Kapan saja," jawab Juliet, mereka saling menatap setelahnya. Pasangan suami istri itu hanya menikmati keindahan mata masing-masing.
Juliet merasa suka sekali pada tatapan mata jade milik J yang terlihat indah, mungkin dia juga tidak tahu bahwa tatapan safir miliknya juga menghipnotis sang suami.
Debaran dada Juliet semakin menggila karena merasa jarak wajahnya dengan J seperti terkikis dan bahkan dia bisa merasakan embusan napas pria itu menerpa wajahnya walaupun hanya sedikit.
Perutnya terasa begitu melilit merasakan sensasi, Juliet ingin sekali meremat dadanya yang berdebar tidak karuan. Dia gelisah tapi juga menantikan sesuatu yang akan terjadi walaupun dia tidak tahu apa itu.
Sementara J sendiri merasa tidak bisa mengendalikan gejolak, tatapannya tertuju mulai dari mata, hidung, dan bibir Juliet yang sedikit terbuka. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk tetap diam dan menikmati keadaannya sekarang.
Tok … tok …
"J!!!" Juliet berkedip beberapa kali dan jarak tubuhnya dengan J kembali melebar. Entah apa yang ia pikirkan sekarang, tetapi yang pasti dia merasa dada yang tadinya berdebar menyenangkan berubah menjadi terbakar amarah.
Suara Daisy cukup melengking di luar pintu kamar mereka ditambah wanita itu membuat keributan dengan suara ketukan pintu yang lebih tepat dikatakan wanita itu menggedor pintu cukup keras.
"Aku pergi dulu! Jaga dirimu, selamat malam!" J pamit setelah menghilangkan kecanggungan dengan Juliet.
Juliet hanya bisa mengangguk. "Aku akan mengantarmu sampai luar!" ucap Juliet sambil menggandeng tangan J. Tentu dia tidak akan membiarkan lengan J kosong atau digandeng wanita lain.
Juliet hanya merasa saat ini dia seperti seorang wanita yang takut jika wanita lain akan merebut suaminya. Pemikiran itu sedikit mengganggu dan membuat dia tidak terima, tetapi kenyataan memang berkata demikian.
Juliet kesal karena Daisy juga terlihat cantik malam ini, berterima kasihlah pada penata rias pribadi yang ada di rumah J. Dengan kepercayaan diri yang tinggi membuat Daisy semakin terlihat memukau, Juliet benci mengakui itu.
Setidaknya J tidak akan berangkat berdua dengan Daisy, masih ada Diaval yang juga menghadiri acara tersebut, sedangkan Antonio, entah dimana pria itu sekarang, mungkin masih dikamarnya dan menghabiskan waktu sendirian.
…
Juliet tidak suka dengan rasa kesepian karena J sedang pergi ke pesta sementara dirinya hanya bisa menunggunya pulang. Para pelayan mungkin sedang beristirahat setelah seharian bekerja.
Juliet memutuskan untuk pergi lagi ke perpustakaan, mungkin masih ada novel yang bisa menghiburnya dari bayangan-bayangan Daisy yang sedang menggoda J.
"Aishh!!" Juliet menepuk-nepuk pipinya dengan kedua telapak tangan. Kenapa pemikiran itu selalu mengganggu?
"Perasaan apa ini?" gumamnya dengan suara yang pelan, "aku tidak sedang cemburu!"
Deg …
Ada rasa sesak tersendiri dalam dada Juliet, dia masih terus menyangkal dari apa yang dirasakannya saat ini. Jika dia cemburu itu artinya dia- ….
"Tidak, tidak. Aku tidak sedang jatuh cinta!" keluhnya sambil meringis. Juliet bingung sendiri dibuatnya. Dia hanya mampu menopang dagu dan melupakan sebuah novel yang setia terbuka berharap mendapat perhatian dari wanita tersebut.
Juliet ingin sekali membuang pikiran itu. Dia mencoba membayangkan wajah Toddy walaupun itu sangat tidak pantas, Juliet menyadarinya tetapi dia hanya ingin mengenyahkan bayangan J yang terus bergelayut dalam pikirannya.
Tidak bisa.
Sulit sekali, dia sudah tidak bisa lagi mengingat senyuman Toddy yang sangat manis. Hanya wajah datar dan dingin yang bisa dia lihat dalam pelupuk matanya.
Juliet menepuk dada. Sesak sekali saat hanya wajah J yang mengambil alih ingatannya tentang Toddy. Mimik wajah dingin dan begitu tampan, itulah yang Juliet pikirkan saat ini, memberi rasa baru yang jauh lebih dalam.
Ceklek …
Juliet menyadari ada seseorang yang akan masuk. Lamunannya kembali buyar, entah kenapa dia malah beranjak dan pergi ke belakang rak buku tempo hari yang menyisakan tempat untuk menyimpan barang dan buku bekas.
Juliet melihat ternyata Antonio Bowers yang masuk ke ruangan tersebut. Dia memutuskan untuk diam dan bersembunyi di balik lemari.
Juliet mengintip dari celah rak diantara buku-buku yang tertata rapi. Dia hanya mengawasi gerak gerik Antonio yang tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.
Antonio merogoh ke dalam saku celana untuk mengambil ponsel. Sepertinya pria itu akan menghubungi seseorang. Juliet masih bersembunyi walaupun bau debu dari barang-barang lama membuatnya pengap.
"Hallo, Sayang?!" Juliet mendengar ayah tiri J menyapa seseorang di seberang sana.
"Aku rindu sekali, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku, Morgan!" Perut Juliet terasa mual. Apakah dia salah dengar? Suara di seberang telpon masih cukup jelas bahwa itu adalah suara seorang pria.
Lalu, kenapa panggilan Antonio begitu mesra pada orang itu. Juliet tidaklah bodoh untuk menafsirkan keadaan. Ayah tiri J punya kelainan penyimpangan dalam seksual alias penyuka sesama jenis. Menjijikan!
"Aku ingin kau pergi ke pesta keluarga Smith. J ada di sana, tolong lakukan sesuatu yang bisa membuatnya dipermalukan di depan banyak orang."
"Entahlah, mungkin dengan menciumnya di depan orang banyak."
Apa?
Juliet merasa jijik pada Antonio yang kelakuannya seperti pria dengan jiwa wanita. Pria itu seperti memohon pada pria di sebrang telpon.
Juliet marah karena nama J yang menjadi bahan pembicaraan dua pria sakit jiwa tersebut. Apakah Antonio merencanakan sesuatu yang buruk untuk J.
"Tentu aku masih marah dan dendam padanya. Dua belas tahun lalu, J membunuh kekasihku Diego."
Juliet menutup mulut dengan telapak tangannya, apa yang sedang dibicarakan Antonio? Sungguh Juliet tidak mengerti.
J seorang pembunuh?
'Aku pernah membunuh satu orang, dan kurasa masih bisa membunuh satu orang lagi.'
Lutut Juliet terasa lemas, dia ingat pada ucapan J saat pria itu marah padanya tempo hari. Air mata Juliet turun dengan sendirinya. Kali ini dia tidak ingin percaya dengan apa yang ia dengar.
"Baiklah, Sayang! Kita bertemu di pesta!" Penglihatan Juliet yang meremang dengan air mata, masih bisa melihat kepergian pria tersebut yang keluar dari ruangan dimana ia berada saat ini.
"J!" Juliet berusaha keluar dari persembunyian. Kakinya terasa begitu lemas dan gemetar sampai rasanya dia tidak bisa berjalan.
Juliet berusaha berjalan untuk cepat keluar dari perpustakaan. Dia harus melakukan sesuatu, dia tidak akan membiarkan seseorang menyakiti J.
"Mau pergi ke mana?" Juliet tersentak saat mendengar suara seseorang dari arah belakangnya.
Antonio Bowers sedang bersandar pada pintu ruang perpustakaan yang baru saja Juliet lewati. Berbeda dengan Antonio yang terlihat tenang, Juliet justru terlihat begitu cemas.
"Yang kau dengar tadi tidak salah, itu kenyataan yang harus kau ketahui tentang suamimu," ucap Antonio dengan nada yang dingin.
"J pernah membunuh seorang pria saat usianya empat belas tahun. Kau tahu kenapa? Karena dia mengalami gangguan kejiwaan," lanjut Antonio.
"Kau pikir aku akan percaya padamu? Cih, jangan harap!" timpal Juliet dengan suaranya yang bergetar.
"Tidak akan ada yang bisa menyangkalnya, termasuk J sendiri," kata Antonio sambil menjauhkan punggung yang semula bersadar pada pintu menjadi tegak kembali.
"Aku heran, apa kau benar-benar tidak tahu siapa suamimu itu? Ah, apa kau juga tahu jika dia pernah menjadi pasien di rumah sakit jiwa Los-Angeles?" tanya Antonio lagi.
Sungguh Juliet tidak tahan pada ucapan pria itu? Apakah yang dikatakannya itu memang benar? Bahwa J seperti apa yang Antonio katakan?
"Aku beritahu sesuatu, walaupun apa yang kau katakan itu benar, aku tidak peduli. Aku juga tidak akan terkejut karena J pasti punya alasan mengingat perlakuan kalian semua padanya," jawab Juliet panjang lebar. Dia segera meninggalkan Antonio karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan sekarang juga.
…
Juliet memanggil Corina untuk membantunya bersiap. Seorang penata rias yang tadi merias Daisy sekarang harus mendandani sang nyonya karena mendadak ingin pergi ke pesta menyusul suaminya.
Juliet memang memutuskan pergi ke pesta walaupun tanpa undangan, dia tidak peduli karena prioritas utamanya adalah sang suami.
Bukan tanpa alasan, Juliet pergi karena ada seseorang yang ingin melakukan hal buruk pada J. Terlepas dari perkataan Antonio tentang J, wanita itu memutuskan tidak berprasangka buruk pada pria itu untuk ke dua kalinya. Dia pernah salah menilai sikap J dan tidak ingin mengulanginya lagi.
Sebuah gaun abu-abu glamor membalut tubuh molek Juliet dengan begitu sempurna, warna gaun seperti menyatu dengan kulitnya yang bersih.
"Oh, Nyonya! Anda cantik sekali!" seru si penata rias yang didukung Corina dengan anggukannya.
Juliet menatap dirinya di cermin, wanita di dalam cermin memang begitu cantik, dia merasa itu bukanlah dirinya tetapi sebuah senyuman terpatri di bibir sang nyonya muda yang sedang hamil.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Juliet pada Corina.
"Sekarang aku paham kenapa Tuan J sangat mencintai Anda," ucap Corina sambil tersenyum, "saat Tuan melihat penampilan Anda, aku yakin dia tidak akan bisa melirik wanita lain," tambahnya.
"Corina!!" Suara Juliet terdengar seperti rajukan bahwa wanita tua Corina terlalu memuji.
"Semoga Tuhan memberi berkah pada pernikahan Anda dan Tuan J," ucap Corina yang dijawab senyuman bahagia oleh Juliet.
"Terima kasih!" ucap Juliet pada dua orang wanita yang sudah membantunya menjadi seperti bidadari.
…
J ingin menghindar dari keramaian yang tidak disukainya. Dia benci mendengar kebisingan, terlebih saat anggota keluarga King yang lain menatapnya penuh kebencian.
Rupanya hanya ada beberapa marga bangsawan yang hadir di sana termasuk para tamu asing dari luar negri. J sangat menyesal datang ke sana.
J memutuskan untuk pergi ke salah satu sudut dimana tidak banyak orang berada di sana, terlebih J merasa jengah pada Daisy yang juga mengundang keluarga Shayk yang artinya dia harus bertemu dengan Cherry. Memuakkan!
Tubuh J mungkin berada di kediaman keluarga Smith, tetapi hati dan pikirannya berada di rumah. Sudut bibirnya melukiskan sebuah senyuman yang begitu samar.
J mengusap jas di bagian dada, dimana ada bekas usapan tangan seseorang di sana. Untuk saat ini saja biarkan dia merasakan sesuatu yang asing dalam dadanya.
Dia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, tetapi rasanya itu membuatnya merasa senang. Perasaan itu memang begitu asing karena biasanya hanya ada rasa sesak dalam dadanya.
Rasanya tidaklah buruk, mengingat tatapan mata Juliet saat tadi sebelum berangkat, membuat dadanya juga menghangat serta desiran-desiran sakit tapi dia sangat menyukainya.
"Julie!" gumamnya, entah kenapa dia ingin menyebut nama panggilan Juliet. Pria muda itu begitu ingat mimik wajah sang istri yang akhir-akhir ini sering menunjukkan tatapan lembut.
Perasaan yang membuncah tidak mampu dia kendalikan, belum pernah dia merasakan hal itu. J ingat kenapa dia bisa terpaku pada Juliet saat pertama kali melihat wanita itu. Ada perasaan ingin memiliki dalam dadanya, tapi saat itu J tidak tahu caranya memulai awal yang baik.
"Tuan, sebentar lagi giliran Anda untuk mempublikasikan program unggulan perusahaan kepada para kolega!" Seorang pembawa acara menginterupsi lamunan J. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
J menghela napas, menyandang nama belakang King bukan hal yang membanggakan bagi dirinya, tetapi sebagai seseorang yang memiliki perusahaan dia harus bisa menempatkan diri secara profesional.
Acara yang diadakan keluarga Daisy tidak lebih dari ajang pamer prestasi atau apa yang bisa para pengusaha capai dalam membangun dan tetap menjaga supaya usaha yang mereka milikki tidak mengalami kemunduran.
…
Juliet merasa cemas saat perjalanan menuju kediaman keluarga Smith. Terlebih setelah mengetahui bahwa Antonio Bowers juga sedang menuju tempat tersebut.
Juliet meminta supir yang merupakan suami dari Corina untuk melaju lebih cepat supaya bisa sampai lebih dulu dari Antonio yang berencana untuk mempermalukan J di depan banyak orang.
Tentu wanita hamil itu tidak akan membiarkan J kembali merasakan hal buruk seperti di masa lalu. Dia ingat bahwa hari ini merupakan salah satu hari penting di mana semua keluarga King juga berkumpul untuk bersaing di bidang bisnis.
Juliet segera turun dari mobil setelah sampai di pelataran mansion megah Smith yang dijaga pengawalan ketat, beruntung dandanannya hari ini bisa membalut jati diri Juliet menjadi terlihat berkelas seperti para tamu undangan lainnya. Memuakkan!!
Dari arah yang begitu dekat dengan pintu masuk dia bisa melihat Antonio yang datang bersama dengan satu orang pria. Juliet langsung teringat pada sebuah nama yang ia dengar saat di perpustakaan.
Morgan dan Antonio, pasangan penyuka sesama jenis yang membuat Juliet merasa jijik pada mereka.
"Oh, Ya Tuhan! Aku harus menemukan J!" gumam Juliet, dia kembali mengingat tujuannya datang ke tempat tersebut.
Juliet tidak peduli pada orang-orang yang hadir di sana. Tatapannya kembali fokus pada pria bernama Morgan yang terus ia awasi. Seorang pria berwajah tampan dan terlihat maskulin tetapi punya kelainan dan penyimpangan seksual. Mengerikan!
Mengikuti langkah Morgan, Juliet akhirnya menemukan sosok yang ia cari dalam keramaian. J sedang berpidato di atas panggung yang tidak terlalu tinggi.
"Hallo, baiklah aku akan naik dan melakukan tugas darimu." Juliet yang berada di belakang Morgan mendengar semua percakan pria itu dengan seseorang yang menghubunginya.
"Oh, dia tampan sekali!" Juliet merasa perutnya bergejolak saat pria bernama Morgan berkata demikian ketika menatap J.
Pria itu tampak melihat ke sekeliling seperti seseorang yang ingin mencuri, dia menyelinap ke sisi panggung di mana ada sebuah anak tangga kecil yang terbuat dari besi.
Juliet berjalan ke sisi panggung lainnya walaupun gaun panjang sedikit mempersulit langkah. Beruntung dia hanya mengenakan sepatu dengan hak tidak terlalu tinggi yang bisa membuat pegal di tungkai.
"J!!" Juliet segera memanggil sang suami saat sudah naik ke atas panggung dia terus berjalan mendekat seolah berlomba dengan Morgan yang juga semakin dekat dari arah berlawanan.
Semua orang termasuk J tentu terkejut saat Juliet menghampiri orang yang sedang berpidato.
"J … cium aku!!" Juliet merangkul pundak J, sementara J masih terlihat kebingungan kenapa Juliet berada di tempat tersebut dengan dandanan yang begitu cantik di matanya, jangan lupakan permintaan aneh wanita itu.
Juliet juga melihat Morgan yang juga berada dekat dengan J. Melihat suaminya kebingungan ditambah dia juga panik, tanpa berpikir panjang dia semakin mempererat rangkulan tidak lupa menyentuhkan bibirnya dengan bibir J.
Entah itu keputusan yang baik atau salah yang jelas lampu-lampu kamera menyala dari semua sudut dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang banyak.
Degup jantung Juliet semakin menggila saat dia merasakan rangkulan di pinggang. J membalas ciumannya dengan lembut, membuat Juliet merasakan sensasi ribuan kupu-kupu yang seperti ingin keluar dari perutnya.
Juliet akhirnya melepaskan dan sedikit menjauhkan wajah dari J yang sedang menatap penuh tanya. Juliet juga melirik pada Morgan yang seperti hilang kesempatan dan berjalan mundur secara perlahan.
Suara tepukan tangan menyadarkan Juliet kembali terutama saat mengingat apa yang ia lakukan baru saja terhadap J. Wanita itu menutup mulut dengan wajah yang memerah.
"Ma-Maafkan aku!" Juliet ingin mundur, tetapi tangan J mencekalnya walaupun tidak dengan tenaga yang besar. Setelahnya ia merasakan sebuah tarikan dari tangan J.
Juliet tidak tahu akan kemana J membawanya, mereka semakin menjauh dari keramaian hanya berdua. Gaun yang cukup panjang membuat Juliet sedikit tertahan dengan gerakan terbatas.
Juliet tidak menolak pun berteriak atau bertanya pada pria dingin yang setia membawanya ke sebuah tempat paling atas kediaman keluarga Smith.
Juliet hanya berharap apa yang ia lakukan tadi tidak memperburuk keadaan. Semoga J tidak marah, sedikit gelisah Juliet mengingat kemarahan J tempo hari. Sejujurnya dia mulai ketakutan.
TBC
See you next chap
Siap² untuk next problem ya ...
Bisa ga Juliet menyadari siapa J sebenarnya?
I Love You all 🌺🌺🌺
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang