NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak masa lalu

Husnan pun bertanya kepada sopir,” siapa itu om kok namanya Teman masa lalu Om Hendra.?”

“Ah gak papa ini Hus , cuma masalah bisnis.”

Husnan hanya mengangguk, merasa ada sesuatu yang disembunyikan sopir.

Setelah sampai di dalam rumah, Husnan langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa tas, sesekali ia memandangi wajah sopir (pak Bambang) “aku merasa ada yang aneh dengan pak Bambang.

Keesokan paginya Husnan bersiap untuk berangkat ke sekolah , setelah sarapan ia berpamitan dengan Om Hendra seperti biasanya.

Namun kali ini berbeda, ia melihat wajahnya pak Bambang yang pucat itu.

“Pak kenapa bapak pucat sekali mukanya?”

Pak Bambang pun kaget karena Husnan mulai curiga.

“Gak papa Hus ,saya  tadi malam gak bisa tidur nyenyak” jawabnya.

“Kenapa tidak bisa tidur Pak?” Tanya Husnan .

“Eh karena banyak nyamuk Hus , tadi malam saya sibuk tepuk tepuk nyamuk hampir dua puluh lho”

“Beneran pak cuma gara gara nyamuk?”

“Iya… Hus cuma nyamuk.”

Husnan yang mendengar ucapan Pak Bambang yang nada bicaranya berbeda dengan biasanya semakin heran. Namun Husnan tidak bertanya lagi.

“Oh begitu ya Pak.”

Pak Bambang hanya mengangguk.

Setelah beberapa saat kemudian mobilnya tiba di depan sekolahan.

Husnan pun turun dari mobil sambil membawa tas “ makasih ya pak”

Sopirnya hanya mengangguk sambil mengendarai mobil menuju ke jalan.

“Aneh kenapa ya sopir itu tidak seperti biasanya?”

Di dalam mobil pak Bambang hanya bisa pasrah “semoga Husnan tidak tahu apa yang aku sembunyikan” gumamnya.

Di sekolah Husnan pun langsung masuk ke dalam kelas , sesampainya ia duduk di bangkunya dan melihat Fajar yang baru saja datang. Dan duduk di bangkunya.

“ Hai Jar kok tumben datangnya gak paling awal?”

“Iya ini Hus di rumah saya lagi ada masalah.”

Husnan seketika langsung terdiam “kok bisa sama Fajar juga lagi ada masalah, apakah ada hubungannya Om Hendra sama keluarga Fajar?”gumamnya di dalam hati.

“emangnya ada masalah apa Jar dirumah?”

“Aku juga gak tahu ayah saya tadi malam keluar, tapi tiba-tiba saat pulang sudah bonyok.”

Husnan mendengar itu langsung membeku . “Kamu tahu gak ayah kamu pergi ke mana?”

“Aku saja pas ayah aku pergi aku sedang tidur di bangunin ibuku saat ayah pulang”

“Lalu ayah kamu ditanya habis dari mana jawabnya gimana?”

“Ayah aku tidak menjawab seperti orang ketakutan “

Husnan terdiam ,ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Sekarang ayah kamu di mana?”

“Di rumah masih tertidur, ibu juga lagi jagain ayah.”

“Semoga ayah kamu tidak kenapa napa”

“Iya aku juga berharap begitu.”

Sebelum Husnan menjawab Ferdi tiba tiba datang sambil membawa buku.

“Eh kalian sedang lagi membicarakan apa?”

“Gak ada apa apa” jawab Fajar.

Ferdi memandangi wajahnya Fajar.

Serius amat mukanya ada masalah kah?”

“Ayah aku tadi malam pulang dengan keadaan tidak baik-baik saja.”

“Hah, kenapa itu?”

Fajar menceritakan sedikit tentang ayahnya.

Husnan hanya diam, dalam pikirannya teringat sama wajah Pak Bambang yang kembali terbayang.

Wajah pucat jawaban yang gugup setelah menerima pesan misterius kemarin.

Husnan mulai menghubungkan semuanya, meskipun ia sendiri juga tidak tahu , apakah semua itu memang saling berhubungan.

“kenapa ya akhir akhir ini orang orang di sekitarku bersikap aneh” pikir Husnan.

Tiba tiba bel sekolah berbunyi.

” Udah nanti ngobrol lagi” ucap Fajar.

Husnan mengangguk.

Bu gurunya pun masuk ke kelas “ pagi semua anak anak.”

“Pagi Bu”

Bu guru mulai mengajar di dalam kelas seperti biasanya.

Di tempat lain Om Hendra sedang duduk di kantor.

Ia duduk di meja sambil memeriksa brankas , namun pikirannya tiba tiba tidak enak seperti masalah sedang menuju ke tubuh Hendra.

Ponsel di meja itu tiba tiba menyala dan menampilkan pesan masuk dari suatu kontak.

“Hendra kita bertemu di coffee ada sesuatu yang mau aku bicarakan.”

Hendra membaca pesan itu, “ah orang ini kenapa masih ada , aku gak mau bertemu dia.” Gumamnya pelan.

Hendra meletakkan ponselnya di atas meja, ia mulai memeriksa brankas lagi.

Namun ponselnya berbunyi lagi dan ada pesan.

Ting..

Hendra kembali Menatap ke ponsel itu.

” Kalau kamu gak mau kesini biar aku yang kesana”

“Orang ini kok maksa banget sih, jangan sampai dia kesini.” Gumamnya pelan.

Hendra berdiri dari dari kursinya dan berjalan menuju ke jendela. Ia memandang keluar sambil memikirkan apa yang ia harus lakukan.

Sementara itu di dalam kelas , Husnan masih mengikuti pelajaran, pikirannya sesekali kembali teringat pada pak Bambang dan cerita Fajar.

“Kenapa semuanya akhir-akhir ini banyak yang aneh” gumamnya di dalam hati.

Fajar yang di samping Husnan menoleh ke arahnya.

“Hus kenapa dari tadi bengong”

“Enggak apa apa  Jar aku cuma lagi mikir.”

“Mikirin ayahku?”

Husnan terdiam sebentar.

“Iya… aku cuma merasa itu kejadian yang aneh.”

“Aku juga merasa begitu , makanya aku cerita sama kamu siapa tahu kamu lihat ayah ku.”

“Gak lah Jar aku jarang keluar kalau malam.”

“Husnan, Fajar kalian lagi membicarakan apa?”

“Ti… tidak ada apa apa Bu cuma meminjam pensil” jawab Fajar.

Ferdi langsung meledek dengan suara keras. “Huuu di kelas ngobrol aja gak sekalian debat.”

 Bu guru pun langsung menatap ke arah Ferdi” KAU DIAM” 

Ferdi langsung menundukkan kepalanya.

Bu guru pun mulai melanjutkan pelajarannya. Mereka pun langsung menatap ke arah buku .

Setelah beberapa menit kemudian, bel sekolah pun berbunyi.

Para murid mulai keluar dari kelas.

“Ayo kita ke kantin” ajak Ferdi.

“Ayo,”jawab Husnan.

Fajar masih duduk di kursi.

“Jar mau ke kantin gak?”tanya Husnan.

“kalian duluan saja, aku mau ke kantor guru minta izin telpon ibu”

“Telpon kenapa?”

“Aku mau tahu gimana keadaan ayah ku.”

“Ya sudah aku temani, Fer kamu duluan saja aku mau temani Fajar.”

“Ya sudahlah aku ke kantin dulu.”

Fajar langsung berdiri dari kursi dan menuju ke ruang guru bersama Husnan.

Sesampainya Fajar pun mengetuk pintu 

Dok dok

“Assalamualaikum Bu “

Bu guru pun langsung menoleh. 

“Iya Jar ada apa?”

“Bu saya mau minta izin untuk telpon ibu”

“Memangnya ada apa” tanya Bu guru.

“Saya mau tahu keadaan ayahku Bu tadi malam dia sedang kena apes.”

“Oh ini silahkan, tapi jangan lama lama ya” ucap Bu guru sambil menyodorkan ponsel ke Fajar.”

“Iya Bu terimakasih.”

Setelah beberapa menit. Fajar pun keluar dari ruang guru, yang tadinya pucat sekarang malah lebih pucat.

“Bagaimana Jar?” Tanya Husnan sambil menghampiri Fajar.

“Kata ibu aku , ayah masih belum memberitahu kejadian tadi malam.”

“Terus?”

Fajar menatap Husnan 

“Katanya juga, tadi malam Ayahku sebelum pulang ia bertemu dengan seseorang.”

Husnan mengerutkan dahinya ia langsung teringat sama pak Bambang.

“Siapa orangnya.?”

Fajar menggeleng.

“Ayah belum menyebutkan namanya.”

Husnan terdiam rasa penasarannya semakin besar.

“Kalau nanti ayahmu sudah cerita beritahu aku ya Jar”

“Iya Hus.”

“Yok kita ke kantin aja aku sudah lapar.”

Husnan mengangguk.

Mereka pun berjalan menuju ke kantin. Sesampainya Ferdi langsung melambaikan tangannya.

“Heh lama banget telepon.”

“Iya kami tadi mengobrol dulu sebentar.”

“Ya sudah sini duduk.”

“Hus kamu mau pesen apa ?” Tanya Fajar.

“Samain saja kayak kamu.”

Fajar mengangguk.

Husnan pun duduk di samping Ferdi.

“Heh Fer kamu dari tadi sendirian?”

“Ya iyalah kamu di tungguin malah nungguin” jawab Ferdi.

“Iya maap “

“Ya sudahlah jangan di bahas lagi”

Tak lama kemudian Fajar membawa dua mangkok berisi soto.

“Lho kok soto Jar, biasanya kamu nasi goreng?”

“Iya nih Hus biar sama denganmu.”

Ia pun duduk dan sambil makan dengan lahap.

“Jar pelan saja aku nungguin kok , gak akan ku tinggal santai.” Kata Ferdi.

“Iya iya aku dari tadi pagi belum makan”

“Lah kok belum makan? Ibumu gak masak?”

“Enggak kok Fer , aku cuma terburu-buru takut telat.”

“Boong kamu ya keliatan boong nya “ ucap Ferdi sambil tertawa.

“Apaan sih Fer kalau gak percaya ya sudah.” 

“Iya iya aku percaya.”

Husnan pun ikut tertawa.

Namun, di sisi lain ,pak Bambang sedang mengendarai mobil ke kantor Om Hendra.

Di perjalanan ponselnya bergetar.

Ia melirik ke ponsel.

“Aku tahu kamu masih jadi sopir Hendra.”

Pak Bambang langsung memperlambat mobilnya.

Wajahnya menjadi tegang.

“Kok tahu sih dia”

Namun ia tidak membalas pesan itu.

Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.

“kalau kamu ingin semuanya aman, datang ke coffee bareng Hendra.”

Ia kemudian kembali mematikan ponselnya lalu kembali mengendarai mobil.

Sementara Husnan masih tertawa bersama teman-temannya di kantin.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa pak Bambang dan om Hendra sedang menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia kira.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!