Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 20|
"Kau pulang saja, Amara. Aku harus meeting. Aku yakin kau akan bosan jika di sini terus menerus," ucap Abiyasha. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya mengusir wanita itu pergi dari kantornya dan membiarkannya tenang. Alih-alih merasa tersinggung dan melangkahkan kakinya, Amara justru semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Abiyasha.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" ucap Amara.
Abiyasha bersumpah, seandainya ia bisa menghilang dari tempat ini, Abiyasha akan menghilang dan tidak kembali selama sebulan. Ia malu saat Yasmine menatapnya dengan pandangan seperti tadi. Bagaimana kalau wanita itu berpikiran yang tidak-tidak?
Tapi kenapa pula ia harus mementingkan pendapat wanita itu. Demi Tuhan, wanita itu bahkan tidak pernah menoleh ke arahnya sedikitpun.
"Kalau kau tidak mau aku akan meminta Ronald menarikmu keluar dari kantorku!" ancam abiyasha tegas. Ia akan benar-benar melakukannya jika Amara tidak juga beranjak dari kantornya dan bersikap kekanak-kanakan seperti ini.
"Aku ingin makan. Kau mau makan? Atau kita tinggalkan saja kantor dan berburu kuliner?" tawar Amara.
Abiyasha menggeleng. "Tidak bisa. Aku harus meeting sebentar lagi."
Dengan enteng Amara menjawab. "Batalkan saja. Satu meeting tidak akan mengurangi profesionalitasmu, kan? Tidak akan berarti apa-apa kalau kau yang melakukannya."
Abiyasha mengerutkan dahinya. "Kau pikir semudah itu? Amara cobalah bersikap dewasa dan berhentilah bersikap kekanak-kanakan!"
"Aku begini karenamu!" Amara tersenyum manja. "Kalau kau membalas cintaku, mungkin aku tidak akan begini."
Abiyasha memutar bola matanya. "Soal itu lagi. Kau benar-benar bebal!"
Amara tertawa. "Tapi aku suka dengan sekretaris barumu. Dia terlihat polos," katanya tiba-tiba.
Abiyasha menatap Amara, mencoba menebak apa yang ada di otak wanita itu. "Ya dia memang yang terbaik dari semua kandidat sekretaris tempo hari!"
"Aku harap kau tidak menyukainya, Abi. Pikirkan berapa lama lagi kita akan bertunangan," ucap Amara tanpa basa-basi.
Abiyasha tidak tahu dan tidak dapat menebak apa yang ada di dalam otak Amara. Tapi ia menyimpulkan kalau Amara tidak menyukai kehadiran Yasmine di antara dirinya dan wanita itu.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Amara. Kau jangan mudah menyimpulkan sesuatu yang tidak jelas kau ketahui!"
Amara mengangkat bahunya. "Apa salahnya bicara? Aku hanya memperingatkanmu jangan sampai Papaku bertindak hal yang buruk yang akan berimbas pada perusahaanmu!"
Abiyasha menatap Amara tanpa ekspresi. "Kau mengancamku?"
Ekspresi Amara berubah setelah itu, wanita itu kembali menjadi wanita yang manja dan menebar senyum. "Tidak, Sayang. Bagaimana mungkin aku bisa mengancammu? Tentu saja aku tidak akan pernah melakukannya."
"Oke. Sekarang pulanglah. Aku akan meminta Ronald menyetir untukmu." Abiyasha meraih ponselnya. "Aku akan menyuruhnya datang ke sini!"
"Apa? Pulang dengan sopirmu yang seperti batu itu?" tanya Amara. Wanita itu bergidik jikik. "Aku bener-benar takut jika ada di sekitarnya."
Abiyasha menggelengkan kepalanya. "Lalu kau mau pulang sendirian?"
"Tentu saja aku mau pulang denganmu. Kau pikir apa?"
"Amara! Kau pulang atau Ronald yang akan menyerretmu, huh?" tanpa sadar, Abiyasha membentak Amara.
"Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku, Bi?" tanya Amara wanita itu mulai berkaca-kaca. Abiyasha jadi bingung harus melakukan apa. Kenapa pula wanita harus diberi air mata yang berlebih oleh Tuhan dan memberinya keistimewaan untuk memanfaatkan air mata itu saat sedang terdesak?
Abiyasha mengusap wajahnya.
"Apa kau tidak tahu kalau selama beberapa hari aku selalu mencoba menghubungimu? Ke mana saja kau?" Amara terisak. "Apa kau tidak suka dengan perjodohan ini?"
Abiaysha memejamkan matanya geram. Lalu emosinya berubah menjadi kasihan ketika melihat Amara menitikkan air mata. "Bukan begitu maksudku, Amara. Kau paham kondisiku yang sedang dilema dengan perjodohan ini. Apa kau tahu kalau hubungan kita hanya didasarkan pada dua perusahaan yang saling bergantung? Tidak ada cinta dalam hubungan kita!"
"Tapi aku mencintaimu, Bi. Aku akan ikut denganmu kemanapun kau pergi."
"Kita sudah berteman lama. Aku bahkan sudah menganggapmu saudaraku sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa saling mencintai? Yang kau rasakan itu bukan cinta," putus Abi kemudian.
Ia kehilangan akal untuk menjelaskan pada Amara tentang apa yang sebenarnya wanita itu rasakan.
Murka karena Abiyasha membentaknya, ia bangkit dari kursinya. "Kalau begitu aku akan pulang."
***
Yasmine tidak bisa berlama-lama di toilet dan seperti ini. Ia mengusap wajahnya menggunakan tisu, memoleskan make up ringan pada wajahnya. Lalu ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari toilet.
Sebelum masuk, Yasmine bingung apakah ia harus masuk atau menunggu di luar saja. Bagaimana kalau kedatangannya malah menganggu? Bagaimana kalau Abi dan Amara memang sedang membicarakan sesuatu yang penting? Sangsi, Yasmine akhirnya memilih untuk masuk saja. Ia akan mengabaikan apa saja yang terjadi dalam sana.
Tangan Yasmine terangkat untuk membuka knop pintu. Hanya kurang dari setengah detik sebelum pintu dibuka dengan kasar, lalu tubuhnya tanpa sadar bertabrakan dengan Amara.
"Ahhh..."
"Aduh..."
Keduanya jatuh terduduk. Yasmine merasakan nyeri pada ujung sikunya karena tanpa sadar ia menyenggol pot bunga besar yang diletakkan di depan ruangan Abiyasha.
Menyadari kalau yang menabraknya adalah Amara, Yasmine bangkit terlebih dahulu. "Maafkan saya, apa anda baik-baik saja?" Yasmine mencoba membantu Amara bangun.
"Kau apa tidak bisa melihat pakai mata? Matamu cuma pajangan atau bagaimana? Bagaimana mungkin kau menabrakku?" omel Amara.
Abiyasha keluar dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa ini? Lho, Amara kau kenapa selonjoran di sana?"
Amara mencoba bangun tapi kemudian terjatuh lagi. "Sekretarismu yang menabrakku, Bi. Ah, kakiku sakit sekali!" Amara merintih, lalu memegangi kakinya yang sakit.
"Benarkah? Kau tidak apa-apa?" Abiyasha kini berjongkok di hadapan Amara. Pria itu menyentuh kaki Amara, dan pada detik yang sama Amara merintih lagi.
"Ah, sepertinya kakiku parah. Sakit sekali. Ahhh..."
Abiyasha membantu Amara berdiri, tapi wanita itu jatuh lagi. "Ku tidak bisa bangun?"
"Abi, bantu aku berdiri. Sepertinya kakiku terkilir
"Saya akan bantu anda berdiri." Kata Yasmine. Tapi tangannya ditepis oleh Amara.
"Ini semua gara-gara kecerobohanmu," kata Amara menunjuk Yasmine.
"Maaf, saya tidak sengaja. Maaf..." Yasmine jadi merasa bersalah. Ia bingung harus bagaimana. Memilih untuk tidak ikut campur, Yasmine diam saja. Sikunya berdenyut nyeri, tapi ia mengabaikan hal itu.
Abiyasha yang sigap segera menelepon Ronald dan meminta pria itu mengantarnya pulang. Setelah mengatakan hal itu, Abiyasha bangkit dengan menggendong Amara di kedua tangannya.
Pria itu hanya menatap Yasmine dengan lembut sebelum akhirnya pergi meninggalkan wanita itu sendirian di tempatnya. Yasmine mendesah. Semua ini gara-gara dirinya. Kalau saja Yasmine lebih bisa berhati-hati, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ini semua salahnya.
...***...
...Bab ini kupersembahkan untukmu, yang selalu membuatku bahagia disetiap detiknya....
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣