NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Liburan

Sore itu, suara roda kereta yang bergesekan dengan rel menjadi latar yang aneh bagi suasana yang semakin menegang. Para penumpang mulai menjauh dari sudut peron, sementara beberapa petugas keamanan stasiun tampak saling memberi isyarat, tetapi masih ragu untuk mendekat karena melihat aura mengintimidasi dari orang-orang yang berdiri di sana.

Bara tetap berdiri tegak. Napasnya memang sedikit berat akibat duel barusan, namun sorot matanya tidak berubah.

Danu tersenyum tipis. "Namamu siapa?"

"Bara."

"Bara..." Danu mengangguk pelan, seolah mengingat nama itu. "Bagus. Nama yang sederhana."

Arif yang sedang membantu Zian berdiri berbisik pelan kepada Okid.

"Kalau nama sederhana itu dipuji, nama gue berarti premium."

Okid hanya melirik sekilas.

"..."

"Yaudah, gue ngomong sendiri lagi."

Ani yang mendengar celetukan itu langsung menahan tawa.

"Minimal lu konsisten, Rif."

Di tengah situasi mencekam, tingkah Arif sukses membuat Bella dan Cindy terkekeh pelan. Bahkan Bara sempat menghela napas kecil sambil menggeleng.

Danu memperhatikan semua itu. "Menarik."

"Apa yang menarik?" tanya Bara datar.

"Kalian." Dani yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.

"Jarang ada anak SMA yang habis berantem masih sempat bercanda."

Arif mengangkat tangan. "Maaf, Bang. Saya memang multitalenta."

Semua langsung menoleh. Bara menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.

"Rif..." panggil Bara

"Iya?"

"Diam sebentar bisa?"

"Bisa."

"..."

Lima detik kemudian Arif kembali berbicara.

"Tapi lima detik doang."

"Ya ampun..." gumam Melani sambil menepuk dahinya.

Suasana yang sempat mencair itu kembali berubah ketika Johan melangkah maju.

"Bang Danu."

"Hm?"

"Kalau boleh... biarkan aku yang menyelesaikan urusan dengan mereka."

Danu menggeleng pelan. "Tidak."

Johan terlihat terkejut. "Tapi bang"

"Kamu terlalu terbawa emosi."

Kalimat itu membuat Johan membisu. Danu menatapnya tanpa ekspresi.

"Petarung yang baik menggunakan kepala sebelum menggunakan tangan."

Johan mengepalkan tinjunya. "Maaf."

Bara memperhatikan interaksi keduanya. Dalam hati ia mulai menyusun kesimpulan.

"Jadi benar... Johan adalah salah satu anggota four men crew."

Artinya, orang bernama Danu ini jauh lebih berbahaya.

"Bara." panggil Danu

"Ya."

"Kamu tahu Four Men Crew?"

"Tidak."

Danu tertawa kecil. "Jawabanmu jujur."

"Lalu?"

"Bagus. Tetaplah tidak tahu."

Bara mengernyit. "Maksudmu?"

"Karena semakin banyak kamu tahu... semakin sulit kamu keluar."

Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Angin sore bertiup pelan melewati peron. Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Tiba-tiba suara Zian memecah keheningan.

"Kalau memang kalian sehebat itu..."

Semua menoleh. Zian sudah berdiri kembali meski bibirnya masih berdarah.

"...kenapa Johan sampai harus pura-pura lupa sama sahabatnya sendiri?"

Johan memalingkan wajah.

"Diam."

"Tidak."

"Diam, Zian."

"Gue cuma pengen tahu!"

Nada suara Zian mulai meninggi.

"Kita latihan bareng hampir lima tahun!"

"Tiga tahun."

Zian terdiam. Johan tanpa sadar baru saja mengoreksinya. Bara langsung menangkap hal itu. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Jadi... ternyata kamu masih ingat."

Johan membeku. Danu ikut melirik Johan.

"Kau bilang tidak mengenalnya."

Johan menggertakkan giginya. "Aku..."

"Ternyata kau berbohong."

Dani menyilangkan tangan. "Ini pertama kalinya aku melihat Johan melakukan kesalahan sekecil ini."

Wajah Johan berubah semakin gelap. Zian melangkah perlahan.

"Jo..."

"Jangan panggil aku begitu!"

"Aku cuma mau bantu."

"Aku tidak butuh bantuan siapa pun!"

Bentakan itu menggema cukup keras. Namun kali ini Bara memperhatikan sesuatu. Suara Johan bergetar. Bukan karena marah. Melainkan...

Menahan sesuatu. Bara menarik napas pelan.

"Otaknya bilang pergi." "Hatinya bilang tetap."

Melani menoleh. "Hah?"

Bara berbicara pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Johan. "Dia sengaja menjauhkan Zian."

Bella mengernyit. "Maksudnya?"

"Kalau dia benar-benar benci, dia tidak akan repot-repot mengoreksi berapa lama mereka latihan bersama."

Semua langsung sadar. Bahkan Zian ikut membelalakkan mata.

"Jo..."

Johan mengepalkan kedua tangannya. "Berhenti menganalisis aku!"

Bara mengangkat bahu. "Aku cuma menyampaikan fakta."

Danu tersenyum makin lebar. "Semakin menarik."

Ia berjalan mengitari Bara perlahan seperti sedang mengamati sebuah barang antik.

"Kau bukan hanya kuat."

"Tapi juga tenang."

"Lalu?"

"Kau bisa membaca orang."

Bara tidak menjawab. Danu berhenti tepat di depannya.

"Kalau suatu hari nanti..." Ia berhenti sejenak. "...kau bosan hidup biasa."

"Aku tidak akan bosan." Jawaban Bara begitu cepat.

Danu tertawa pelan. "Belum tentu."

"Aku lebih suka hidup damai."

"Semua orang juga begitu."

"Bedanya?"

"Tak semua diberi kesempatan."

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi mengandung ancaman yang sangat halus. Belum sempat Bara menjawab, suara pengeras stasiun berbunyi.

"Kereta tujuan Surabaya Gubeng akan segera diberangkatkan. Seluruh penumpang dipersilakan memasuki gerbong."

Bella langsung panik. "Ya ampun!"

"Keretanya!"

Ani ikut menoleh. "Mati kita kalau ketinggalan!"

Arif langsung refleks mengangkat koper.

"Lariiii!"

Ia baru dua langkah ketika koper yang dibawanya tersangkut bangku besi.

*Bruk!*

Arif terjatuh dengan posisi tengkurap.

"Aduh..."

Cindy menutup mulut menahan tawa.

"Baru juga teriak lari."

Bella ikut tertawa.

"Belum lima meter udah check-in sama lantai."

Arif bangkit sambil mengusap hidungnya.

"Gue lagi tes kualitas keramik stasiun."

Okid akhirnya membuka suara setelah sekian lama diam.

"Lulus?"

Semua langsung menoleh. Arif melongo.

"ANJIR!"

"OKID NGOMONG!"

Ani sampai menunjuk-nunjuk Okid. "Rekam! Rekam!"

Okid kembali diam. "..."

Arif memegang pundaknya. "Kid, ngomong lagi, Kid."

"..."

"Yah, masa promonya doang."

Bahkan Johan yang sedari tadi memasang wajah dingin tampak sedikit mengangkat sudut bibirnya, meski hanya sepersekian detik.

Zian melihatnya. Ia tidak berkata apa-apa. Namun dalam hatinya muncul secercah harapan.

"Dia masih Johan yang dulu."

Danu melirik jam tangannya. "Sudah cukup."

Ia menoleh kepada Johan. "Kita pergi."

Johan tetap diam. "Bang..."

"Perintah."

"..."

Johan akhirnya mengangguk pelan.

"Sebelum aku pergi." Danu kembali menatap Bara. "Aku akan memberi satu nasihat."

Bara menunggu.

"Kalau suatu hari nanti kau melihat lambang empat singa hitam..."

Danu mengangkat telunjuknya.

"...jangan mendekat."

"Kenapa?"

"Bukan karena kau akan kalah."

"Lalu?"

Danu tersenyum tipis. "Karena sejak saat itu..."

"...hidupmu tidak akan pernah sama lagi."

Setelah mengatakan kalimat tersebut, Danu berbalik. Dani mengikuti di belakangnya.

Johan melangkah paling akhir. Saat melewati Zian, langkahnya sempat terhenti. Hanya sekitar dua detik. Tanpa menoleh, Johan berkata lirih.

"...Maaf."

Suara itu begitu pelan hingga hanya Zian yang mendengarnya. Sebelum Zian sempat bereaksi, Johan kembali berjalan mengikuti Danu dan Dani hingga ketiga sosok itu menghilang di balik kerumunan penumpang.

Zian berdiri mematung. Bara menghampirinya.

"Apa yang dia bilang?"

Zian tersenyum tipis, meski matanya mulai memerah. "...Tidak ada."

Bara tidak memaksa, ia tahu. Kadang, ada kalimat yang lebih baik disimpan daripada diceritakan.

"WOI!"

teriak Arif dari depan gerbong.

"Kalian mau reuni keluarga di situ apa gimana?!"

"Keretanya udah mau jalan!"

Ani ikut melambaikan tangan.

"Kalau ketinggalan, pulangnya naik odong-odong!"

"Itu mah muter kampung, Nii," sahut Bella sambil tertawa.

"Ya siapa tahu sampai Surabaya."

Mereka semua akhirnya berlari menuju gerbong sambil saling mengejek seperti biasanya. Beberapa menit kemudian, kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun.

Bara duduk di dekat jendela. Di sebelahnya, Zian masih menatap ke luar, memandangi peron yang semakin menjauh.

Entah mengapa, firasat Bara mengatakan bahwa pertemuan mereka dengan Johan hari ini bukanlah akhir.

Melainkan awal. Awal dari sebuah konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar tawuran antargeng sekolah.

Sementara itu, jauh di ujung peron yang mulai sepi, Danu berdiri memperhatikan kereta yang menghilang di balik tikungan rel. Dani menyulut sebatang rokok.

"Menurutmu anak itu memang istimewa?"

Danu tidak langsung menjawab. Ia terus menatap kereta yang semakin kecil di kejauhan.

"Lima tahun."

Dani mengernyit. "Maksudmu?"

"Lima tahun aku mencari anak dengan naluri bertarung seperti itu."

"Lalu?"

Danu tersenyum tipis. "Akhirnya aku menemukannya."

Angin sore kembali bertiup. Dan tanpa disadari siapa pun di dalam kereta yang melaju menuju Surabaya, roda takdir mereka baru saja mulai berputar lebih cepat dari sebelumnya.

1
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!