NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sepertinya bukan anaknya

Nadia menyusun sarapan Nanda di meja makan dengan rapi.

Semangkuk nasi tim salmon masih mengepulkan uap hangat. Di sampingnya ada potongan kecil brokoli rebus, telur kukus, dan jus buah tanpa gula.

Tak lama kemudian terdengar suara blender dari dapur belakang.

Mbak Tari sudah datang.

Seperti biasa, perempuan itu menyiapkan sarapan khusus untuk Yuni.

Pintu kamar Nanda terbuka.

Raka keluar dengan wajah kusut. Sepertinya ia baru bangun setelah semalam tidur di kamar anak itu.

Tatapan Raka sempat bertemu dengan Nadia.

Namun hanya beberapa detik.

Lelaki itu langsung memalingkan wajah lalu masuk kembali ke kamarnya.

Sementara dari kamar tamu masih terdengar suara musik dari ponsel Ratna yang menyala cukup keras.

Nadia memilih masuk ke kamar Nanda.

Kasur kecil itu masih berantakan bekas dipakai Raka tidur. Nadia merapikan selimut dan bantal sambil sesekali mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Tangannya kemudian bergerak menyusun buku pelajaran Nanda sesuai jadwal hari ini.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka.

Nanda keluar dengan tubuh kecil terbungkus handuk.

Rambutnya basah menempel di pelipis.

Nadia langsung menghampiri lalu mengeringkan tubuh gadis kecil itu dengan handuk lembut.

Nanda malah memutar-mutarkan tubuhnya sambil tertawa kecil.

“Bunda jangan tinggalin Nanda ya,” katanya tiba-tiba.

Gerakan tangan Nadia berhenti sesaat.

Dadanya terasa nyeri.

Namun ia tetap tersenyum lembut.

“Pasti dong. Bunda akan selalu ada buat Nanda.”

“Benaran?”

“Benaran. Memangnya kapan Bunda pernah bohong sama Nanda?”

Wajah Nanda langsung cerah.

“Yeaaay!”

Nadia membantu memakaikan seragam sekolah muslimah berwarna putih dan ungu muda.

Dengan telaten ia membenarkan kerah baju, merapikan rok, lalu memakaikan jilbab kecil pada Nanda.

Setelah selesai, Nadia memandangi anak itu lama.

“Anak Bunda cantik sekali.”

Nanda langsung tersenyum bangga.

“Ya dong. Lihat dulu bundanya siapa.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Nadia benar-benar tersenyum.

“Sekarang kita sarapan, yuk.”

Nanda menggandeng tangan Nadia keluar kamar.

Namun langkah mereka terhenti ketika Ratna muncul dari kamar tamu.

Perempuan itu masih mengenakan celana pendek ketat dan tanktop tipis.

Dengan santai Ratna membuka pintu rumah lalu mengambil beberapa kantong makanan dari ojek online.

Nadia mengerutkan kening.

Ratna meletakkan satu per satu makanan itu di meja makan.

Ayam goreng pedas berlumur saus.

Mi instan pedas dengan minyak cabai menggenang.

Kentang goreng.

Sosis goreng.

Es teh manis ukuran besar.

Minuman soda dingin.

Aroma gurih menyengat langsung memenuhi ruang makan.

Ratna menyusunnya seolah sedang memamerkan sesuatu.

“Mbak Tari, tolong buang makanan ini,” katanya tiba-tiba sambil menunjuk nasi tim buatan Nadia.

Nadia langsung menoleh tajam.

“Ratna.”

“Apa?”

“Itu sarapan untuk Nanda. Kenapa mau dibuang?”

Ratna mengangkat bahu santai.

“Ah, Nanda enggak akan suka makanan beginian.”

Kemudian ia tersenyum manis ke arah Nanda.

“Nanda, sini sama Mama. Mama beliin mi goreng pedas, ayam crispy, sama es teh gula batu. Enak banget.”

Belum sempat Nadia bicara, suara Raka terdengar dari belakang.

“Ratna.”

Nada suaranya penuh peringatan.

“Apa lagi sih?”

“Nadia sudah menyiapkan sarapan sehat untuk Nanda.”

Ratna mendecakkan lidah.

“Anak kecil itu harus dikasih pilihan. Jangan dipaksa terus makan makanan sehat.”

“Enggak,” sela Nanda cepat.

Semua mata langsung tertuju pada gadis kecil itu.

“Nanda mau makan buatan Bunda.”

Ratna langsung terlihat tidak suka.

Sementara Nanda malah menarik tangan Nadia.

“Bun, temenin Nanda sarapan.”

Nadia duduk di samping Nanda tanpa berkata apa-apa.

Ratna tersenyum sinis.

“Nanda jangan takut. Kalau mau makan mi juga enggak apa-apa. Mama bakal belain.”

Tatapan Nadia langsung menusuk Ratna.

“Ratna, pagi-pagi jangan cari masalah,” tegur Yuni yang baru keluar dari kamar.

“Aku enggak cari masalah.” Ratna menyilangkan tangan di dada. “Kita ini orang tua. Harus dengar keinginan anak, jangan terlalu mendominasi. Nanti pas besar dia jadi kaku.”

“Sudahlah,” potong Raka dengan nada lelah. “Mari sarapan.”

Akhirnya semua duduk di meja makan.

Nanda makan dengan tenang ditemani Nadia di sampingnya.

Sesekali Nadia menyuapi brokoli kecil sambil mengusap kepala anak itu.

Sementara Raka terpaksa memakan ayam goreng dan kentang yang dibeli Ratna.

Namun diam-diam lelaki itu merindukan masakan Nadia.

Rumah terasa berbeda tanpa aroma masakan hangat buatan istrinya.

Ratna menjadi orang pertama yang selesai makan.

Ia sibuk bermain ponsel sambil sesekali tertawa sendiri.

Dan Nadia memperhatikan semuanya dalam diam.

Semakin lama, keyakinannya justru semakin kuat.

Ratna tidak benar-benar memahami Nanda.

Perempuan itu tidak tahu makanan apa yang cocok untuk anak itu.

Tidak tahu kebiasaan kecil Nanda saat makan.

Tidak menunggu Nanda menghabiskan sarapannya.

Tidak memperhatikan apakah anak itu nyaman atau tidak.

Ratna hanya ingin menang melawan dirinya dan itu memang sifat Ratna

Dan dalam hati Nadia perlahan tumbuh harapan kecil—

“Mungkin... Nanda memang bukan anak Ratna.”

Raka berdiri di depan cermin sambil merapikan kemejanya.

Beberapa kali lelaki itu melirik ke arah Nadia yang sedang membereskan meja makan.

Berharap seperti biasanya Nadia datang membantunya memasangkan dasi.

Namun pagi ini Nadia bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Tatapannya dingin.

Seolah Raka hanyalah orang asing.

Raka mengembuskan napas pelan.

“Duh, sayang... dasinya miring.”

Suara Ratna terdengar manja dari belakang.

Perempuan itu kini sudah berganti pakaian kerja. Rok span ketat dan blouse merah marun membungkus tubuhnya dengan mencolok.

Ratna sengaja berdiri sangat dekat dengan Raka.

Tangannya sibuk membenarkan dasi dan kerah kemeja lelaki itu sambil sesekali tertawa kecil.

Tatapannya melirik ke arah Nadia penuh kemenangan.

Namun Nadia tetap cuek.

Tidak cemburu.

Tidak marah.

Tidak juga sakit hati.

Sejak tahu Raka berhianat pada dirinya Nadia sudah tidak punya rasa pada Raka.

Kini lelaki itu terasa seperti sampah yang pernah ia perjuangkan mati-matian.

Dan Ratna...

Perempuan itu hanyalah tempat sampah yang dengan bangga menampungnya.

“Nanda mau dianter Mama enggak?” tawar Ratna sambil tersenyum manis.

“Enggak usah,” jawab Nadia tenang. “Mobil jemputannya sudah datang.”

Benar saja.

Dari luar terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah.

Nanda langsung berdiri semangat.

Gadis kecil itu menyalami satu per satu orang di rumah.

Mencium tangan Yuni.

Mencium tangan Raka.

Bahkan Ratna juga tak lupa ia salami.

Setelah itu Nadia menggandeng tangan kecil Nanda keluar rumah.

Udara pagi masih terasa sejuk.

Nadia membukakan pintu mobil jemputan lalu memastikan tas dan botol minum Nanda sudah terbawa.

“Nanda duduk yang manis ya.”

“Iya, Bunda.”

Sebelum masuk, gadis kecil itu tiba-tiba memeluk leher Nadia.

“Dadah, Bunda. I love you.”

Hati Nadia langsung terasa diremas.

Namun ia tetap tersenyum lembut.

“Love you too, Sayang.”

Nadia melambaikan tangan sampai mobil itu benar-benar pergi meninggalkan halaman rumah.

Tatapannya kosong beberapa detik.

Sungguh...

Momen sederhana seperti ini saja terasa begitu berat untuk ia tinggalkan.

Semakin lama keyakinan Nadia semakin bulat.

Ia harus membawa Nanda pergi sejauh mungkin dari rumah ini.

Nadia masuk kembali ke dalam rumah.

Di ruang tengah, Ratna sudah menggandeng lengan Raka dengan manja.

“Hai, pengangguran,” ejek Ratna sambil tersenyum miring. “Kami berangkat kerja dulu ya. Jaga rumah baik-baik.”

Nadia hanya menatap dingin.

Tak ada jawaban.

Tak ada emosi.

Sikap itu justru membuat Ratna kesal sendiri.

“Nadia, malam ini sepertinya kami enggak pulang,” sambung Ratna sengaja. “Mungkin nginap di hotel.”

Dalam hati Nadia hanya menjawab singkat—

“Bodo amat.”

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!