Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 22
Di rumah, Nadia keluar kamar sambil membawa keranjang pakaian milik Nanda.
Ia berjalan menuju halaman belakang untuk menjemur pakaian.
Kini Nadia sudah tidak peduli lagi dengan siapa pun di rumah itu.
Satu-satunya yang masih ia pikirkan hanyalah Nanda.
Baru beberapa langkah berjalan, suara Yuni menghentikannya.
“Nadia, kenapa kamu enggak bantu aku minum obat?”
Nada suara wanita tua itu terdengar kesal.
Nadia menoleh sebentar.
“Sudah ada Mbak Tari, Bu,” jawabnya datar.
“Sampai kapan kamu mau bersikap seperti ini terus, Nadia?”
Nadia menghentikan langkahnya.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Sampai Mas Raka menceraikan Ratna.”
Yuni langsung mendecak kesal.
“Raka enggak mungkin menceraikan Ratna.”
“Ya sudah,” jawab Nadia tenang. “Tinggal Mas Raka ceraikan saya.”
“Bisa enggak kamu dewasa sedikit, Nadia?” suara Yuni mulai meninggi. “Poligami itu hal biasa.”
Nadia tertawa kecil tanpa humor.
“Bukankah Ibu juga bercerai karena mantan suami Ibu menikah lagi?”
Kalimat itu langsung membuat Yuni terdiam.
Wajah wanita itu berubah kaku.
Apa yang dikatakan Nadia memang benar.
Dulu, saat hubungan mereka masih baik, Yuni sering bercerita tentang masa lalunya. Tentang bagaimana ia memilih bercerai karena tidak sudi dimadu.
Ia membesarkan Raka sendirian demi harga dirinya.
Dan sekarang...
Ia justru meminta Nadia menerima poligami.
Kontradiksi itu membuat Yuni kehilangan kata-kata.
“Bicara sama kamu bikin emosi saja,” gerutu Yuni sambil membuang muka.
“Ya sudah,” jawab Nadia dingin. “Jangan bicara sama saya.”
“Pergi sana!” bentak Yuni.
Nadia tidak menjawab lagi.
Ia langsung pergi ke halaman belakang sambil membawa pakaian.
Sementara Yuni menatap punggung Nadia dengan perasaan campur aduk.
“Sepertinya aku memang harus membiasakan diri hidup tanpa Nadia,” pikirnya pelan.
Ia menghela napas berat.
“Nadia memang baik... tapi sayang dia enggak bisa punya anak.”
Yuni lalu menelan obatnya.
Wajahnya langsung meringis.
“Pahit sekali obatnya.”
Tari yang berdiri di dekatnya hanya diam.
Dalam hati ia berkata, “Bukannya semua obat memang pahit?”
Namun tentu saja ia tidak berani mengucapkannya.
Yuni kembali menghela napas panjang.
Biasanya kalau ia mengeluh obatnya pahit, Nadia akan segera mengambilkan kurma atau air hangat.
Namun sekarang Nadia berubah dingin.
Dan untuk pertama kalinya, Yuni harus menelan rasa pahit itu sendirian.
“Nanti sampai kapan saya harus minum obat?” tanya Yuni akhirnya pada Tari.
“Maaf, Bu,” jawab Tari hati-hati. “Saya enggak tahu. Saya tanyakan dulu sama Bu Nadia ya?”
“Enggak usah!” potong Yuni tegas.
Tari langsung diam.
Setelah selesai menjemur pakaian, Nadia kembali ke kamarnya.
Baru saja ia duduk di tepi tempat tidur, ponselnya tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal.
Nadia mengernyit pelan, lalu mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
“Dengan Ibu Nadia?” suara seorang wanita terdengar dari seberang sana.
“Iya, dengan saya sendiri.”
“Anak Ibu, Nanda Safitri, sakit, Bu.”
Deg.
Ponsel Nadia langsung terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
Wajahnya seketika pucat.
Jantungnya berdetak sangat keras sampai telinganya berdenging.
Dengan tangan gemetar Nadia buru-buru mengambil kembali ponselnya.
“S-sakit apa?” tanyanya panik.
“Mohon Ibu datang saja ke sekolah.”
Napas Nadia langsung memburu.
“Baik, Bu,” jawabnya cepat sambil meraih tas. “Saya akan segera ke sekolah.”
Nadia langsung mengambil jilbab bergo miliknya yang tergantung di belakang pintu kamar. Dengan tangan gemetar ia buru-buru memakainya tanpa bercermin terlebih dahulu.
Wajahnya polos tanpa riasan.
Ia bahkan tidak sempat merapikan rambut ataupun mengganti pakaian rumahnya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Nanda.
Begitu selesai memakai jilbab, Nadia langsung keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa.
“Nadia, mau ke mana kamu?”
Suara Yuni terdengar dari teras depan. Wanita itu sedang duduk berjemur sambil memegang segelas teh hangat.
Namun Nadia sama sekali tidak menjawab.
Ia terus berjalan cepat menuju gerbang rumah.
“Nadia!” panggil Yuni lagi dengan nada kesal.
Tetap tidak ada jawaban.
Nadia bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Rahang Yuni langsung mengeras melihat sikap dingin menantunya.
“Kenapa anak itu?” gerutunya kesal sambil mendecak pelan.
Sementara itu Nadia sudah keluar dari gang rumah dengan napas memburu. Sandalnya bahkan beberapa kali hampir terlepas karena langkahnya terlalu cepat.
Sesampainya di jalan besar, Nadia langsung memesan ojek online dengan tangan gemetar.
Kakinya terus bergerak gelisah selama menunggu.
Tak lama kemudian motor ojek online datang.
“Dengan Bu Nadia?” tanya pengemudi.
“Iya, Mas,” jawab Nadia cepat sambil langsung naik ke motor.
Sepanjang perjalanan Nadia duduk dengan tubuh tegang. Jemarinya terus meremas ujung tas di pangkuannya.
“Ya Allah... kamu sakit apa, Sayang?” gumamnya panik.
Dadanya bergemuruh hebat.
Pikiran buruk terus bermunculan di kepalanya.
Rahang Nadia mengeras saat mengingat Ratna.
“Semua ini gara-gara Ratna,” batinnya penuh emosi. “Dia kasih Nanda makanan sembarangan malam-malam.”
Nadia semakin gelisah.
“Mas, tolong dipercepat sedikit,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Baik, Bu,” jawab pengemudi itu sambil menambah kecepatan motornya.
Angin menerpa wajah Nadia sepanjang perjalanan, tetapi tidak sedikit pun membuat pikirannya tenang.
Bayangan Nanda terbaring lemas di rumah sakit terus menghantui kepalanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di sekolah Nanda.
Nadia buru-buru turun dari motor lalu mengambil dompetnya dengan tangan gemetar.
“Ini, Mas.”
Pengemudi itu memberikan uang kembalian.
“Kembaliannya, Mbak.”
“Ambil saja buat Mas.”
“Wah, makasih, Mbak,” ucap tukang ojek itu senang sambil mencium uang pemberian Nadia.
Namun Nadia sudah tidak memperhatikan lagi.
Ia langsung berjalan cepat menuju ruang keamanan sekolah.
“Saya orang tua dari Nanda Safitri,” ucap Nadia terburu-buru. “Saya dapat telepon kalau anak saya sakit.”
Melihat wajah Nadia yang pucat dan panik, satpam sekolah langsung berdiri.
“Oh iya, Bu. Mari ikut saya.”
Pria itu segera mengantar Nadia menuju ruang kepala sekolah.
Sepanjang berjalan, jantung Nadia terus berdetak keras.
Ia takut terjadi sesuatu pada Nanda.
Takut anak itu tiba-tiba kambuh alerginya.
Takut Nanda menangis mencari dirinya.
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, satpam itu mengetuk pintu pelan.
“Permisi, Bu.”
Di dalam ruangan, seorang wanita paruh baya berjilbab krem sedang mengetik di depan laptop.
“Assalamualaikum,” ucap Nadia cepat begitu masuk.
“Waalaikumsalam,” jawab wanita itu sambil menghentikan aktivitasnya.
Ia melepas kacamatanya lalu menatap Nadia lebih jelas.
“Oh, ibunya Nanda ya?”
“Iya, Bu,” jawab Nadia cepat. “Nanda dirawat di rumah sakit mana, Bu? Di ruangan berapa?”
Nadia langsung bertanya tanpa basa-basi.
Wajahnya terlihat sangat panik sampai napasnya tidak beraturan.
Namun Ibu Rosidah malah terlihat bingung.
Wanita itu berdiri lalu mendekati Nadia perlahan.
“Ibu duduk dulu,” ucapnya lembut.
Nadia langsung merasa kesal dan kecewa.
Dalam kondisi seperti ini, pihak sekolah malah menyuruhnya duduk dulu.
“Bu, anak saya di mana?” tanya Nadia lagi.
Kini air matanya sudah mulai berlinang.
“Nanda baik-baik saja, Bunda,” jawab Ibu Rosidah tenang.
Nadia langsung menggeleng cepat.
“Jangan bohongi saya, Bu,” ucapnya dengan suara gemetar. “Tolong bilang, anak saya di mana?”
Ibu Rosidah tampak menghela napas kecil.
“Mari ikut saya.”
Wanita itu langsung berjalan keluar ruangan.
Nadia buru-buru mengikuti dari belakang dengan dada berdebar kencang.
Langkahnya terasa lemas karena terlalu takut.
Sesampainya di depan kelas Nanda, Ibu Rosidah berhenti lalu menunjuk ke dalam kelas.
“Itu Nanda, Bunda,” ucapnya pelan. “Sedang belajar.”
Nadia langsung menoleh cepat.
Dan di sana...
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪