Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Ada Yang Diam Diam Suka
Mereka bertiga saling berpandangan satu sama lain, mencoba memastikan siapa pemilik ponsel yang hilang itu. Tiba-tiba, Ella mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya.
"Gue nggak pernah ninggalin ponsel gue di tempat lain kalau lagi tidur. Soalnya benda ini aset yang sangat penting banget buat gue," jelas Ella tenang.
Mendengar itu, wajah Dinda seketika berubah pucat. Dia sadar betul siapa pemilik ponsel yang tertinggal di meja tadi. Tanpa sadar Dinda langsung berteriak histeris.
"Aaaaaa… Itu ponsel gue!" seru Dinda dengan suara yang sangat keras dan melengking.
Dinda menjadi panik luar biasa. Dia benar-benar histeris karena ternyata ponsel milik nyalah yang dibawa kabur oleh pencuri itu. Bianca berusaha menenangkan Dinda dan menyuruhnya duduk dulu, tapi Dinda tetap saja gelisah dan cemas. Baginya, ponsel itu bukan sekadar alat komunikasi biasa, melainkan sesuatu yang sangat berharga dan penting.
"Itu ponsel yang sangat berarti, Bi. Isinya…" kata Dinda terhenti, suaranya menggantung di udara.
"Apa isinya? Kok Lo malah diam begitu? Ceritain dong sama gue," tanya Bianca dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Isinya itu seluruh kisah hidup gue, Bi. Sesuatu yang cuma gue sendiri yang tau. Di sana tersimpan banyak hal tentang Dia," batin Dinda dalam hatinya, tak sanggup mengungkapkannya secara langsung.
Melihat Dinda yang melamun dan tampak bingung, Bianca langsung menyadarkannya. "Kok malah melamun begitu? Jadi sebenarnya apa isi ponsel Lo?" tanya Bianca kembali.
Akhirnya Dinda menjelaskan kalau di dalam ponsel itu tersimpan begitu banyak kenangan yang sangat berharga baginya. Isinya sangat berarti dan nilainya tak ternilai harganya. Itulah sebabnya dia merasa sangat kehilangan dan sedih.
Bianca terus berusaha menenangkan Dinda agar dia bisa bersabar dan berpikir jernih. Namun di sisi lain, Ella masih merasa sangat curiga. Ada hal yang janggal menurutnya. Kenapa pencuri itu cuma mengambil satu ponsel saja? Padahal jelas-jelas ada tiga buah ponsel yang tergeletak rapi di atas meja itu dan sangat mudah untuk diambil semuanya.
"Apa yang lagi Lo pikirin, El?" tanya Bianca penasaran melihat wajah Ella yang tampak serius dan sedang memikirkan sesuatu.
"Gue masih bingung dan heran. Kenapa malingnya cuma ambil satu ponsel aja? Padahal kan jelas-jelas ada tiga di sana, gampang banget buat diambil semuanya. Rasanya ada yang aneh aja sih kejadian ini," ucap Ella menjelaskan kecurigaannya.
Dinda dan Bianca saling berpandangan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ella, hal itu masuk akal dan logis sekali. Mendengar itu, Dinda kembali merasa panik dan histeris. Berbagai pikiran negatif mulai berkecamuk hebat di dalam kepalanya.
"Apa yang dibilang Ella itu bener-bener masuk akal. Kenapa harus ponsel gue yang diambil? Apakah ada orang yang udah tau kalau selama ini gue adalah pengagum rahasianya? Ya Tuhan, gimana ini nasib gue kalau semuanya terbongkar?" jerit Dinda dalam hatinya penuh kekhawatiran.
Melihat Dinda yang masih terus histeris karena ponselnya hilang, Ella menawarkan dirinya untuk membantu mencari dan menemukan kembali ponsel Dinda. Mendengar tawaran itu, wajah Dinda yang tadinya sedih, panik, dan pucat seketika berubah cerah kembali. Dia langsung tersenyum lebar, lalu bangkit dari duduknya dengan semangat membara.
"Lo serius bisa balikin lagi ponsel gue dari tangan maling itu? Kalau Lo berhasil dapetin ponsel gue lagi, gue janji bakal anggep Lo sahabat gue sendiri selamanya," ucap Dinda dengan antusias sambil memegang tangan Ella dengan erat.
Ella tersenyum senang mendengarnya dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga mencari ponsel Dinda besok pagi. Bianca bertanya dengan nada khawatir, bagaimana caranya Ella akan mendapatkan kembali benda itu. Dia takut kalau hal itu akan membahayakan keselamatan Ella, apalagi Ella sendirian dan seorang perempuan.
Ella tersenyum tulus dan hangat. Dia merasa bahagia karena ternyata Bianca masih sangat peduli padanya, padahal dulu dia pernah berbuat jahat dan menyakiti hati Bianca berkali-kali.
"Tenang aja, gue nggak bermaksud ngejar malingnya kok. Tapi gue tau ke mana tujuan akhir barang-barang hasil curian kayak gitu biasanya disalurkan dan dijual. Lo tau kan, gue kan udah biasa bergaul di lingkungan kayak gitu, jadi gue paham jalur-jalurnya," ucap Ella meyakinkan Bianca agar tidak khawatir lagi.
Setelah suasana hati Dinda mulai tenang dan terlihat lebih baik, Bianca dan Ella mengajak Dinda untuk kembali tidur. Saat ini masih tengah malam, besok mereka harus bangun pagi. Mereka bertiga pun kembali masuk ke kamar untuk beristirahat.
Di tempat lain, Bayu segera menghubungi Aza dan memberitahukan kalau dia telah berhasil mendapatkan satu buah ponsel sesuai perintah tuannya.
"Saya sudah membawa satu ponsel sesuai perintah Tuan. Tapi saya kurang yakin apakah ini benar-benar yang Tuan cari, soalnya ponselnya terkunci dan punya kata sandi," lapor Bayu melalui sambungan telepon.
Aza melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kalau dia keluar rumah pada jam sejauh ini, pasti mamanya akan bertanya macam-macam dan mencurigai pergerakannya.
Akhirnya Aza menyuruh Bayu untuk mengirimkan saja ponsel itu ke rumahnya lewat kurir khusus yang bisa dipercaya. Tapi sebelum dikirim, Aza berpesan agar Bayu menyuruh orang yang ahli untuk membuka kunci sandinya terlebih dahulu. Nanti Aza sendiri yang akan memeriksa isinya secara langsung.
Satu jam kemudian...
Ponsel yang dikirimkan oleh Bayu akhirnya sampai di tangan Aza. Aza tersenyum sangat licik dan puas. Dia merasa menang telak atas rencananya untuk membungkam Ella.
"Sekarang ponsel Lo ada di tangan gue, El. Lo nggak bakal bisa ngancam gue lagi. Dan mulai sekarang, Lo harus nurutin semua perintah gue," gumam Aza dengan senyum penuh kemenangan.
Namun, setelah Aza berhasil membuka dan memeriksa isi ponsel itu, wajahnya seketika berubah drastis menjadi sangat kaget dan kesal luar biasa.
"Ini bukan yang gue mau! Ini bukan ponsel milik Ella!" seru Aza dengan nada marah seketika itu juga, lalu dia membanting ponsel itu ke atas kasurnya dengan kasar.
Tanpa membuang waktu, Aza segera menelepon Bayu dengan nada bicara yang sangat tinggi dan penuh kemarahan karena ternyata bukan ponsel Ella yang didapatkan oleh Bayu. Di seberang sana, Bayu mencoba menjelaskan dengan hormat kalau di sana ada tiga orang perempuan, jadi dia bingung dan tidak tahu persis mana ponsel milik Ella yang harus diambil.
Aza sedikit terkejut mendengar penjelasan dari Bayu. Dia bertanya dengan penasaran, dari mana tepatnya Bayu mendapatkan ponsel ini.
"Saya mengambil ponsel ini dari rumah seorang gadis bernama Bianca. Dan di sana saat ini ada tiga gadis yang sedang menginap, yaitu Bianca, Dinda, dan Ella," jelas Bayu panjang lebar dan rinci.
Aza langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia semakin penasaran dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ella bisa ada dan menginap di rumah Bianca? Besok Aza bertekad akan mencari tahu kebenaran dan fakta di balik semua ini.
Aza kembali memeriksa isi ponsel itu dengan teliti, mencoba mencari tahu siapa pemilik asli benda tersebut. Saat dia membuka galeri ponsel itu, ternyata isinya penuh dengan foto Leo. Dan anehnya, hampir semua foto itu diambil secara diam-diam dari jarak jauh seolah orangnya tidak sadar difoto.
Tak lama kemudian, Aza menemukan satu foto keluarga di dalam ponsel itu. Dia pun langsung mengenali wajah gadis yang ada di dalam foto itu. Itu adalah Dinda!
"Ooooh… jadi selama ini ada orang yang diam-diam menyukai dia. Pantas saja dia semarah itu waktu itu. Apakah Bianca tau soal perasaan sahabatnya ini?" gumam Aza sambil tersenyum licik dan jahat, teringat kejadian saat Dinda menampar Leo dengan keras dulu.
Amarah Aza perlahan mereda seketika dengan penemuan baru yang sangat berharga ini. Dia berdiri tegak di depan cermin besar di kamarnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan yang kuat.
"Gue nggak pernah gagal dan gue pasti bakal dapetin apa pun yang gue mau. Gue nggak bakal kalah sama cewek miskin dan kampungan kayak Lo, Bianca!" seru Aza dengan nada penuh kebencian.
Tiba-tiba saja, Aza melempar vas bunga ke arah kaca dengan sangat keras hingga kaca itu pecah berkeping-keping berserakan di lantai.
"Hancurlah semuanya… Tunggu aja… Lo semua bakal ngerasain akibatnya…" ucap Aza sambil tersenyum mengerikan dan menakutkan.
(Apa yang akan dilakukan oleh Aza selanjutnya dengan rahasia besar yang baru dia temukan ini?)