Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: SKAKMAT DI MEDIA MASSA
SKAKMAT DI MEDIA MASSA
Pagi itu, jagat maya dan ruang publik fajar Jakarta mendadak diguncang oleh gelombang artikel fitnah yang terstruktur rapi. Beberapa situs berita daring kelas dua dan akun-akun gosip media sosial dengan pengikut jutaan serentak mengunggah narasi miring yang menyudutkan Amira.
"DIBALIK SUKSES SHINTA GROUP: APAKAH AMIRA SHINTA MEMANFAATKAN ANAK DI DALAM KANDUNGAN UNTUK MEMISKINKAN MANTAN SUAMI?"
"Seorang sumber dalam menyebutkan bahwa Amira Shinta sengaja merekayasa kasus KDRT ringan dan memanipulasi surat wasiat kuno demi merebut seratus persen saham Snack Pratama, mendepak ibu mertuanya yang sedang stroke ke jalanan, dan mengunci mantan suaminya di penjara tanpa hak asuh anak."
Foto-foto Ibu Ratna yang sedang terduduk lemas di rumah sakit sengaja disebarkan dengan sudut pandang drama yang menyayat hati, mencoba menggiring opini publik bahwa Amira adalah wanita ambisius yang kejam dan tidak berhati nurani. Ini adalah manuver keputusasaan dari Mega Food Korporasi yang panik setelah tim sabotase pabrik mereka tertangkap basah kemarin malam.
Pukul satu siang, Aula Utama Gedung Shinta Group dipenuhi oleh ratusan jurnalis dari berbagai media nasional, mulai dari jurnalis bisnis, hukum, hingga infotainment. Mikrofon-mikhofron berlambang stasiun televisi berjejer rapat di atas meja podium panjang.
Amira melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat anggun dan tenang. Siang ini, ia tidak menunjukkan raut wajah panik atau tertekan. Amira mengenakan setelan blazer formal berwarna biru safir yang tegas, dipadukan dengan riasan wajah yang natural namun menonjolkan sorot matanya yang tajam dan berwibawa. Kandungan bulan ketiganya mulai memberikan aura keibuan yang bersinar (pregnancy glow), namun keanggunannya tetap memancarkan dominasi mutlak.
Begitu Amira duduk di kursi tengah podium didampingi Pak Sanusi, puluhan jurnalis langsung berebut mengangkat tangan dan melontarkan pertanyaan yang menyudutkan.
"Ibu Amira! Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor bahwa Anda sengaja mengeksploitasi kehamilan Anda demi memenangkan simpati hakim dan merebut harta keluarga Pratama?!" teriak salah seorang wartawan dengan vokal.
Amira tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tenang, lalu mendekatkan mikrofon ke arahnya.
"Terima kasih atas pertanyaannya," ujar Amira, suaranya terdengar begitu renyah, jernih, dan bergaung penuh wibawa di seluruh penjuru aula. "Saya berdiri di sini hari ini bukan untuk membela diri dengan kata-kata kosong atau air mata palsu. Karena bagi seorang Shinta, bukti hukum adalah satu-satunya bahasa yang sah."
Amira menjentikkan jarinya ke arah Pak Sanusi. Detik itu juga, layar proyektor digital raksasa berukuran sepuluh meter di belakang Amira menyala, menampilkan serangkaian dokumen rahasia yang selama ini sengaja ia simpan.
Bzzzt!
Gambar pertama yang muncul adalah hasil lembar visum et repertum resmi dari Rumah Sakit Medika, lengkap dengan foto-foto memar keunguan di wajah dan perut Amira akibat hantaman tangan Aris di ruang arsip dulu.
"Ini adalah bukti visum medis otentik, yang membuktikan bahwa mantan suami saya, Aris Pratama, melakukan kekerasan fisik berulang yang nyatanya justru hampir menggugurkan janin di dalam rahim saya," tegas Amira, nadanya mendatar namun menusuk sanubari siapa pun yang mendengar.
Sebelum para jurnalis sempat mencerna keterkejutan mereka, Amira mengganti slaid proyektor ke dokumen berikutnya: salinan rekening koran dan surat perjanjian pranikah kuno almarhum ayahnya, lengkap dengan daftar utang miliaran rupiah keluarga Pratama di masa lalu.
"Dan mengenai tuduhan merebut harta... perlu publik ketahui, perusahaan ini berdiri di atas fondasi modal dan cucuran keringat almarhum ayah saya, Broto Shinta. Keluarga Pratama-lah yang memiliki utang moral dan finansial yang tidak pernah mereka bayar selama sepuluh tahun, hingga memicu aktifnya klausul wasiat maut ketika Aris terbukti berkhianat."
Ruang konferensi pers mendadak senyap bak kuburan. Narasi "wanita kejam pengejar harta" yang sengaja dibangun oleh musuh Amira runtuh total dalam waktu kurang dari lima menit di hadapan bukti-bukti legalitas yang begitu tak terbantahkan.
Sebagai serangan pamungkas yang badas, Amira menampilkan rekaman video CCTV pabrik pusat Tangerang dari kejadian jam dua pagi tadi, memperlihatkan dua orang penyusup utusan Mega Food yang sedang diborgol polisi saat mencoba meracuni tangki bahan baku ekspor.
"Kampanye hitam yang kalian lihat di media sosial sejak pagi tadi bukan berasal dari rasa iba," lanjut Amira, sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah kamera televisi yang sedang menyiarkan acara tersebut secara langsung. "Melainkan keputusasaan dari kompetitor bisnis saya, Mega Food, yang baru saja gagal melakukan sabotase berencana terhadap produk ekspor Shinta Group. Saya sampaikan secara terbuka di sini: tim hukum saya telah resmi melaporkan setiap akun penyebar fitnah dan perusahaan dalang di baliknya dengan UU ITE dan pasal berlapis."
Amira berdiri dari kursinya dengan anggun, merapikan blazernya tanpa menunggu sesi tanya jawab lanjutan.
Efek dari konferensi pers maut ini luar biasa instan. Dalam hitungan menit, opini publik di jagat maya berbalik 180 derajat. Netizen yang sempat ragu kini justru berbalik memuja Amira sebagai ikon Alpha Woman yang cerdas, tangguh, dan wajib dilindungi. Sebaliknya, saham Mega Food langsung terjun bebas di lantai bursa akibat kepanikan investor atas skandal percobaan sabotase dan fitnah tersebut.
Amira melangkah keluar dari aula dengan kepala tegak, meninggalkan kekacauan mental musuh-musuhnya yang kini hancur berkeping-keping akibat skakmat media yang ia lancarkan.
Amira masuk ke dalam lift VIP dengan helaan napas lega, menyadari bahwa satu duri besar di ruang publik telah ia patahkan seutuhnya. Namun, tepat saat lift bergerak turun menuju area parkir, Amira mendadak menghentikan langkahnya dan memegang dinding lift dengan erat. Wajahnya yang semula tegas perlahan melunak, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang emosional saat ia merasakan sebuah getaran dan gerakan halus dari dalam perutnya.