NovelToon NovelToon
DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."



Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.

"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."

Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.

"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."

"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."

Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENJAGA BERBAHAYA

Keyla rasanya mau pingsan lagi. Otaknya seakan berputar-putar tak karena mencoba mencerna semua informasi yang baru saja diterimanya. Misi rahasia? Tinggal di sini? Jagain dia?

"Ha?! Jagain aku?! Maksud kamu apa sih Mas?! Jangan bikin aku makin bingung dong!" seru Keyla, tangannya secara refleks memegang kepalanya yang terasa berat. "Arsenio... dia kan udah... dia udah nggak ada. Misi apa lagi yang bisa dia kasih ke kamu?"

Arsyad tidak langsung menjawab. Pria itu justru kembali memasang senyum lebarnya yang super menawan namun juga super menjengkelkan itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya, berdiri santai seolah mereka sedang ngobrol di taman bunga, bukan di tengah pemakaman yang berkabut dan mencekam ini.

"Yahhh... namanya juga rahasia dong Kak Keyla. Kalau diceritain sekarang, nanti gak seru lagi kan?" jawabnya santai, nada suaranya masih terdengar ceria dan penuh godaan. "Pokoknya instruksinya jelas banget dari si Boss. 'Syad, jagain istri gue baik-baik. Jangan sampai dia sedih, jangan sampai dia kesepian, dan yang paling penting... JANGAN SAMPAI ADA COWOK LAIN YANG DEKETIN DIA!' Gitu katanya."

Keyla ternganga. "A-apa?! Itu... itu kata-kata Arsenio beneran?"

"Bener dong! Seratus persen asli! Tanda tangan basah!" Arsyad tertawa lagi, suaranya yang keras dan renyah memecah keheningan bukit. "Jadi mulai detik ini, status aku resmi jadi Bodyguard sekaligus Humoris pribadi Kakak! Nanti kalau Kakak sedih, aku yang buat ketawa. Kalau Kakak lapar, aku yang masakin—eh wait, wait, aku gak bisa masak sih. Yaudah aku yang beliin! Hahaha!"

Keyla benar-benar kehilangan kata-kata. Ini terlalu absurd. Baru beberapa menit yang lalu dia merasa dunia ini hancur, sepi, dan gelap. Tapi sekarang, di hadapannya berdiri sosok yang wajahnya persis seperti mendiang suaminya, tapi kelakuannya 1000% berbeda total!

Arsenio itu seperti gunung es—dingin, tenang, dan misterius. Sedangkan Arsyad... Arsyad itu seperti kembang api! Berwarna-warni, berisik, cerah, dan bikin jantung berdegup kencang karena kaget!

"Tapi... kenapa harus sekarang? Kenapa kamu baru muncul sekarang?" tanya Keyla lagi, mencoba mencari logika di tengah kekacauan perasaannya. "Selama ini kamu di mana? Kenapa gak pernah datang ke rumah atau ke acara pemakaman?"

Senyum di wajah Arsyad sedikit memudar, tapi tidak hilang sepenuhnya. Matanya yang tajam itu menatap Keyla dalam, seakan sedang menelusuri setiap sudut jiwa wanita itu.

"Aku ada urusan penting banget di luar negeri Kak. Urusan yang... hmm, cukup rumit dan rahasia juga. Aku baru bisa terbang balik ke Indonesia semalam. Begitu tau Kakak kesini pagi-pagi buta, aku langsung kejar sampai ke sini," jelas Arsyad. Suaranya sedikit lebih serius sekarang, tapi nadanya tetap hangat. "Lagipula... kalau aku muncul pas acara pemakaman yang penuh orang formal itu, takutnya suasana duka malah jadi rusak karena aku ketawa-ketiwi nggak jelas kan? Hahaha! Makanya aku milih ketemu Kakak sendirian dulu kayak gini. Lebih intimate~"

Dia mengedipkan sebelah matanya genit.

"Argh! Kamu ini bisa serius gak sih sebentar aja?!" Keyla akhirnya kehilangan kontrol, dia memukul pelan lengan bidang milik Arsyad. "Aku lagi panik nih! Aku takut! Aku bingung!"

Sentuhan itu terasa nyata. Terasa hangat. Dan itu membuat Keyla sadar kalau pria ini benar-benar manusia, bukan hantu atau halusinasi.

"Aduh... sakit lho Kak," rengek Arsyad sambil memegang lengannya pura-pura kesakitan, tapi matanya malah berbinar senang. "Nah gitu dong! Mukul-mukul gitu bagus! Itu tandanya Kakak udah mulai hidup lagi! Jangan melamem terus dong, cantiknya ilang lho."

Arsyad lalu berbalik badan, menatap gundukan tanah di depan mereka yang menjadi peristirahatan terakhir Arsenio. Ekspresinya berubah sedikit lebih tenang dan hormat untuk sesaat.

"Kak Arsen itu orangnya keras kepala banget ya. Dari dulu emang gitu. Dia selalu ngerasa kalau dia harus nanggung semuanya sendirian. Dia selalu pengen kelihatan kuat, padahal dalemnya juga capek," gumam Arsyad pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Makanya dia nitip aku. Dia tau, kalau dia pergi, Kakak pasti bakal hancur kayak gini. Dia butuh seseorang yang bisa bikin Kakak ketawa lagi. Seseorang yang kebalikan dari dia."

Dia menoleh lagi ke arah Keyla, senyumnya kembali mekar namun kali ini terasa lebih tulus dan menenangkan.

"Dan siapa lagi yang cocok selain aku kan? Wajahku kan sama persis. Jadi Kakak bisa lihat wajah Kak Arsenio terus tiap hari, tapi dapet perlakuan yang jauh lebih asik dan seru! Win-win solution dong!"

Keyla menatap wajah itu lagi. Benar-benar sama. Persis. Tapi getaran yang dia rasakan berbeda. Kalau dengan Arsenio, dia merasa tenang dan terlindungi seperti di balik benteng batu yang kokoh. Dengan Arsyad... dia merasa hidup, berdebar, dan dunia terasa lebih berwarna.

"Tapi... aku gak bisa," bisik Keyla pelan, air matanya mulai menetes lagi. "Aku masih sayang sama Arsenio. Aku belum siap buat ada orang lain di sekitar aku. Apalagi kamu... kamu adiknya. Rasanya aneh."

Arsyad menggeleng pelan, lalu dia dengan santainya merangkul bahu Keyla lagi—sama persis seperti posisi tadi. Tapi kali ini Keyla tidak kaku lagi.

"Siapa bilang ada orang lain? Aku kan bagian dari dia Kak. Kita kan kembar. Dua jiwa dalam satu wadah yang beda sifat," bisik Arsyad lembut di telinga Keyla. "Aku gak minta Kakak buat lupain Kak Arsen. Justru aku bakal nemenin Kakak inget dia terus. Tapi janji ya... jangan sedihnya yang dibawa terus. Bawa kenangan manisnya aja, oke?"

Keyla terdiam. Angin masih berhembus kencang, tapi entah kenapa hawa dingin itu tidak terasa menusuk lagi. Mungkin karena kehadiran pria di sampingnya ini yang membawa aura hangat yang luar biasa.

"Terus... rencana kamu apa sekarang?" tanya Keyla lemas.

"Rencananya?" Arsyad menghela napas panjang lalu memandang langit yang mulai sedikit terang. "Pertama, kita pulang dari tempat angker ini dulu. Udara disini bikin kulit kering tau gak! Kedua, kita sarapan! Perut aku bunyi gini lho dari tadi," dia menepuk perutnya keras-keras, "Krucuk krucuk! Ketiga, aku bakal pindah barang-barang aku ke rumah. Jadi mulai besok, kita serumah!"

"HAH?! SERUMAH?!" Keyla melompat kaget.

"Iyalah! Tadi kan udah bilang tugas aku jagain Kakak! Masa jagain dari jauh? Nggak efektif dong! Hahaha!" Arsyad tertawa lepas, suaranya bergema di antara bukit-bukit. "Tenang aja Kak Keyla! Aku ini gentleman banget kok! Aku tidur di kamar tamu! Atau kalau Kakak masih takut sendirian... boleh kok aku tidur di depan pintu jadi anjing penjaga! Wahahaha!"

"Dasar gila!" Keyla akhirnya tidak bisa menahan diri. Sudut bibirnya perlahan terangkat naik. Sedikit. Sangat tipis. Tapi itu ada.

Dia tersenyum.

Dan melihat itu, mata Arsyad berbinar-binar penuh kemenangan.

"Nah! Nah gitu dong! Cantik banget kalau senyum! Jangan ditutup-tutupi dong!" seru Arsyad antusias. "Yuk yuk yuk! Kita turun sekarang! Mobil aku parkir di bawah, mobil sport lho! Kencang banget! Kita balapan sama mobil Kakak gimana?!"

"Eh jangan dong, aku gak mau ngebut-ngebut..."

"Yahh... masa sih? Coba aja sekali rasa, dijamin nagih!"

Arsyad dengan sigap mengambil tas dan jaket Keyla, lalu dengan sangat protektif mengajak wanita itu berjalan menuruni bukit. Sepanjang jalan, dia tidak berhenti bicara. Menceritakan hal-hal lucu, melucu, dan membuat Keyla sesekali terkekeh kecil tanpa sadar.

Suasana yang tadinya kelabu dan menyedihkan, seakan tersapu bersih oleh kehadiran pria kembar yang super energik ini.

Namun, di balik tawa dan candanya yang tak henti, di saat Keyla sedang tidak melihat...

Senyum ceria Arsyad perlahan menghilang. Tatapan matanya berubah tajam dan sangat serius, persis seperti Arsenio saat sedang marah atau memikirkan sesuatu yang berat. Dia melirik sekilas ke arah makam itu, lalu berbisik dalam hati.

'Tenang aja Bro. Aku janji. Aku bakal bawa dia keluar dari kesedihan ini. Aku bakal jagain dia. Dan aku juga bakal cari tau... siapa dalang dibalik semua ini. Mereka pikir kamu udah pergi dan semuanya selesai? Mereka salah besar. Karena sekarang giliran aku yang main.'

Lalu secepat kilat, dia kembali menyunggingkan senyum nakal dan cerianya saat Keyla menoleh ke arahnya.

"Kenapa liatin aku terus Kak? Jangan-jangan mulai naksir sama adek ipar ganteng nih ya? Hahaha!"

"Ah apaan sih! Jangan ngawur!"

"Hehehe... ayo jalan pelan-pelan, jalannya licin. Pegang tangan aku sini, nanti jatoh lho."

Dan tanpa sadar, Keyla meraih tangan besar itu. Tangan yang hangat, kuat, dan membuatnya merasa... aman.

Hari ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak pernah Keyla duga sebelumnya. Kehadiran Arsyad bagaikan badai tropis yang datang tiba-tiba, mengacaukan segalanya, tapi membawa hujan yang menyegarkan dan menumbuhkan kembali harapan yang hampir layu.

Petualangan baru, tawa baru, dan mungkin... rahasia-rahasia besar yang belum terungkap, baru saja di mulai.

1
M ipan
😭🌹
Nesya
mencintai sampai maut memisahkan nyeseeek bgt euy 😭😭😭😭
meongming
semangat thor💪
M ipan: terima kasih kakak atas dukungan nya❤️
total 1 replies
Nesya
baru baca sinopsis nya udah nyesek duluan membayangin bab2 berikutnya fikx bikin mewek ni novel 😭
M ipan: terima kasih kakak sudah mau mampir
total 1 replies
Zia Zee
😭😭😭😭
M ipan: insakallah kakak, semoga kakak setia di buku saya ya🌹
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!