Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Rivalitas dengan Kwak Jung
Dua minggu telah berlalu sejak Seol menjadi murid dalam. Dua minggu yang seharusnya menjadi masa penyesuaian, tetapi berubah menjadi medan perang diam-diam antara dirinya dan Kwak Jung.
Sejak hari pertama latihan, Kwak Jung tidak pernah menyembunyikan niatnya. Ia tidak mengancam secara terbuka—tidak ada makian, tidak ada kekerasan fisik yang terang-terangan. Tapi setiap hari, ia menemukan cara baru untuk membuat hidup Seol sengsara.
---
Pagi Hari – Tugas yang Tidak Masuk Akal
Matahari baru saja terbit saat Seol tiba di area latihan. Ia sudah berganti pakaian, pedang kayu di tangan, siap untuk berlatih seperti biasa. Tapi hari ini, Kwak Jung berdiri di tengah lapangan dengan senyum tipis yang sudah menjadi ciri khasnya, dan di tangannya—bukan pedang, tetapi selembar kertas.
“Ryu Seol,” katanya, suaranya cukup keras untuk didengar oleh murid-murid lain yang mulai berdatangan. “Ada perubahan jadwal. Hari ini kau tidak akan berlatih.”
Seol berhenti. “Lalu?”
“Kau akan membersihkan Gudang Senjata Lama.” Kwak Jung melemparkan kertas itu pada Seol. Seol menangkapnya dengan refleks. “Perintah langsung dari kepala instruktur.”
Seol membaca kertas itu. Tulisannya rapi, stempel resmi sekte tertera di sudut bawah. Tidak ada yang salah secara administratif. Tapi Seol tahu ini bukan perintah biasa.
Gudang Senjata Lama terletak di lereng paling bawah gunung, sebuah bangunan batu tua yang sudah tidak digunakan selama puluhan tahun. Tempat itu terkenal sebagai lokasi yang dihindari semua orang—bukan karena angker, tetapi karena pekerjaan membersihkannya adalah yang paling berat dan paling kotor di seluruh sekte. Debu bertahun-tahun, sarang laba-laba, tikus-tikus besar, dan tumpukan senjata berkarat yang harus dipindahkan satu per satu.
“Sendirian,” tambah Kwak Jung, senyumnya melebar. “Kau punya waktu sampai sore. Jika tidak selesai, kau akan dihukum.”
Seol melipat kertas itu dan menyelipkannya di saku bajunya. “Baik.”
Ia berbalik, berjalan meninggalkan lapangan tanpa ekspresi. Di belakangnya, beberapa murid dalam yang lebih muda menatap dengan mata iba, tetapi tidak ada yang berani berkata apa-apa.
---
Gudang Senjata Lama
Tempat itu lebih buruk dari yang Seol bayangkan.
Gudang itu berdiri sendiri di lereng bawah, dikelilingi oleh semak belukar yang sudah setinggi pinggang. Pintu kayunya hampir copot dari engselnya, dan begitu Seol mendorongnya, awan debu tebal menyambutnya. Ia batuk, mengibaskan debu dari wajahnya, dan melangkah masuk.
Di dalam, kegelapan pekat. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah dinding yang retak, menciptakan pilar-pilar cahaya yang menerangi debu yang beterbangan. Rak-rak kayu berjajar di sepanjang dinding, penuh dengan senjata-senjata tua—pedang berkarat, tombak patah, kapak tumpul, dan berbagai senjata aneh yang bahkan tidak bisa ia kenali. Lantainya berlumuran kotoran tikus dan debu yang menumpuk setebal dua jari.
Seol mengambil sapu lidi yang tergantung di dinding—sapu itu sudah hampir botak, hanya menyisakan beberapa helai lidi—dan mulai membersihkan.
Ia tidak mengeluh. Ia tidak membuang waktu. Ia bekerja dengan metode yang sama seperti saat ia membersihkan area latihan murid dalam: efisien, sistematis, tanpa gerakan yang terbuang.
Pertama, ia membuka semua jendela dan pintu untuk sirkulasi udara. Kedua, ia menyapu debu dari sudut terjauh ke pintu keluar. Ketiga, ia memindahkan senjata-senjata dari rak, membersihkan setiap bilah dengan kain basah, lalu menata ulang berdasarkan jenis dan ukuran.
Jam berganti. Matahari naik ke puncak, lalu mulai condong ke barat. Seol tidak berhenti untuk makan siang. Ia tidak punya bekal, dan tidak ada yang mengantarkannya. Tapi ia tidak lapar. Atau setidaknya, ia tidak membiarkan rasa lapar menghentikannya.
Di tengah pekerjaannya, ia menemukan sesuatu yang menarik. Di rak paling belakang, di balik tumpukan tombak patah, ada sebuah peti kayu kecil yang tidak berdebu—seperti baru saja diletakkan di sana. Seol membukanya.
Di dalam peti itu, ada beberapa gulungan kertas tua. Ia membuka salah satunya, dan matanya melebar.
Itu adalah diagram teknik pedang—bukan teknik dasar seperti yang diajarkan di sekte, tetapi teknik tingkat lanjut dengan catatan-catatan di pinggirnya. Tulisan di pinggir itu terlihat seperti catatan pribadi seseorang, dengan gaya tulisan yang berbeda dari kitab-kitab di perpustakaan.
“Teknik Pedang Angin tingkat tiga: Angin Topan. Kombinasi putaran qi yang sangat cepat, menciptakan pusaran udara yang dapat memotong batu. Peringatan: hanya boleh digunakan oleh murid dengan tingkat qi minimal Geumgang.”
Seol membaca dengan saksama. Ia tidak bisa mempraktikkannya sekarang—level qi-nya masih jauh dari Geumgang. Tapi ia mencatat setiap detail di kepalanya, menyimpannya untuk nanti.
Ia melipat gulungan itu, mengembalikannya ke peti, dan menyembunyikan peti itu di balik tumpukan senjata yang sudah ia tata ulang. Bukan untuk dicuri, tetapi untuk dilindungi. Barang ini terlalu berharga untuk dibiarkan begitu saja.
Ketika matahari mulai tenggelam, Seol berdiri di depan gudang yang sudah bersih. Rak-rak tersusun rapi, senjata-senjata tertata berdasarkan jenis, lantai disapu hingga tidak ada debu tersisa. Bahkan jendela-jendela kayu yang tadinya miring kini sudah ia perbaiki dengan paku-paku yang ia temukan di sudut gudang.
Ia lelah. Sangat lelah. Tangannya penuh luka kecil dari bilah-bilah berkarat, bajunya basah oleh keringat, dan perutnya keroncongan sejak siang. Tapi gudang itu bersih.
Kwak Jung datang saat matahari hampir sepenuhnya tenggelam. Ia berdiri di depan gudang, matanya menyapu dari luar, mencari kesalahan. Tapi tidak ada. Gudang itu bersih—lebih bersih dari yang ia kira.
“Kau… kau benar-benar membersihkannya,” katanya, nada tidak percaya.
Seol tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Kwak Jung dengan mata yang tenang.
Kwak Jung menggerutu. “Besok, kau akan membersihkan Gudang Ramuan Tua. Itu lebih besar dari ini. Dan lebih kotor.”
Seol mengangguk. “Baik.”
Kwak Jung menatapnya untuk waktu yang lama, seolah mencari tanda-tanda kelelahan, kemarahan, atau keputusasaan. Tapi tidak ada. Wajah Seol datar, matanya jernih, tubuhnya tegak meski jelas lelah.
“Kau… kau aneh,” kata Kwak Jung akhirnya. Ia berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Seol berdiri di depan gudang, menatap punggung Kwak Jung yang menjauh. Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan—denyut yang terasa seperti persetujuan.
---
Hari-Hari Berikutnya – Tugas-Tugas Mustahil
Pola itu berulang setiap hari. Seol datang ke area latihan, Kwak Jung memberinya tugas tidak masuk akal, Seol melakukannya tanpa mengeluh.
Gudang Ramuan Tua. Dua kali lebih besar dari gudang senjata, dengan ribuan botol dan guci yang harus dibersihkan dan ditata ulang. Seol menghabiskan dua hari di sana, bekerja dari pagi hingga malam, tidak berhenti untuk makan.
Area Latihan Bawah Tanah. Sebuah ruang latihan yang sudah ditinggalkan selama puluhan tahun, sekarang digunakan sebagai tempat penyimpanan peralatan rusak. Seol harus membersihkan semuanya sendirian, termasuk memindahkan patung-patung latihan batu yang beratnya dua kali lipat tubuhnya.
Taman Ramuan Langka. Seol harus menyiangi rumput liar di taman yang luasnya setengah lapangan latihan, dengan tangan kosong, tanpa alat. Akar-akar rumput itu dalam dan kuat, dan setelah seharian bekerja, jari-jarinya lecet dan berdarah.
Setiap hari, tugas yang berbeda. Setiap hari, lebih berat dari sebelumnya. Setiap hari, Kwak Jung datang untuk memeriksa, mencari kesalahan, mencari alasan untuk menghukum. Dan setiap hari, Seol menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.
Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah meminta bantuan. Tidak pernah menunjukkan kelelahan di wajahnya.
Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Di malam hari, ia terbaring di tempat tidurnya dengan otot-otot yang terasa seperti diremas-remas, tangan penuh luka, dan rasa lapar yang terus menggerogoti. Namun setiap pagi, ia bangun sebelum matahari terbit, memakai seragam birunya, dan pergi ke area latihan untuk menerima tugas berikutnya.
---
Simpati dari Murid-Murid Lain
Pada hari ketujuh, sesuatu berubah.
Seol sedang membersihkan gudang peralatan latihan ketika seorang murid muda masuk. Ia mengenakan seragam murid dalam dengan lencana perak biasa—bukan senior, tetapi bukan baru juga. Wajahnya bulat dengan pipi tembam, matanya lebar dan terlihat canggung.
“Hei,” katanya, suaranya pelan. “Aku… aku mau bantu.”
Seol menoleh, sedikit terkejut. Selama seminggu ini, tidak ada yang berani mendekatinya. Kwak Jung adalah senior yang disegani, dan tidak ada yang ingin bermasalah dengannya.
“Kenapa?” tanya Seol.
Murid itu menggaruk kepalanya. “Aku melihat kau bekerja setiap hari. Sendirian. Tanpa makan siang. Aku pikir itu… tidak adil.”
Ia mengulurkan bungkusan kecil. “Ini. Aku ambil dari ruang makan. Sedikit, tapi… mungkin bisa membantu.”
Seol menerima bungkusan itu. Di dalamnya, ada dua potong roti dan sepotong ikan asin. Ia menatap makanan itu, lalu menatap murid itu.
“Terima kasih,” katanya. “Namamu?”
“Yoon,” kata murid itu, tersenyum canggung. “Yoon Jae.”
Seol mengangguk. Ia makan roti itu perlahan, merasakan rasa yang selama seminggu ini tidak pernah ia rasakan. Bukan hanya rasa makanan, tetapi rasa diperhatikan.
Setelah hari itu, lebih banyak murid mulai mendekatinya. Bukan secara terang-terangan—mereka tidak berani menentang Kwak Jung secara langsung. Tapi mereka meninggalkan makanan di depan kamarnya, atau sebotol air di tempat kerjanya, atau kadang hanya sekadar membantu diam-diam ketika Kwak Jung tidak melihat.
Mereka adalah murid-murid rendahan—murid-murid yang juga sering mendapat tugas-tugas berat dari senior, yang juga sering diabaikan, yang juga tahu apa rasanya diperlakukan tidak adil. Dan dalam diam-diam, mereka mulai melihat Seol sebagai salah satu dari mereka.
Pada hari kesepuluh, ketika Seol sedang membersihkan selokan di belakang dapur umum—tugas yang paling kotor yang pernah ia terima—tiga murid datang membantunya. Mereka tidak berkata apa-apa, tidak memperkenalkan diri. Mereka hanya mengambil sapu dan sekop, dan mulai bekerja di sampingnya.
Kwak Jung datang untuk memeriksa, dan melihat empat orang membersihkan selokan bersama. Wajahnya berubah—bukan marah, tetapi ada sesuatu yang lebih gelap di matanya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berbalik dan pergi.
Tapi Seol melihatnya. Ia melihat bagaimana Kwak Jung mengepalkan tangannya sebelum pergi. Ia melihat ketegangan di rahangnya. Ia melihat bahwa kemarahannya bukan lagi karena Seol, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam.
---
Malam Hari – Suara dari Batu Giwa
Seol terbaring di tempat tidurnya, tubuhnya lelah seperti biasa. Tangannya yang penuh luka sudah ia balut dengan kain tipis, dan otot-ototnya terasa seperti karet yang sudah kehilangan elastisitasnya. Tapi pikirannya jernih. Selama sepuluh hari ini, ia belajar banyak—bukan hanya tentang kesabaran, tetapi tentang orang-orang di sekitarnya.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia mendengar suara itu.
“Kau… masih hidup?”
Seol terkesiap. Ia duduk di tempat tidur, tangannya meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu hangat—hangat seperti pertama kali Gu berbicara padanya.
“Gu!” bisiknya. “Kau bangun!”
“Tidak sepenuhnya. Hanya… sebentar. Ada yang menggangguku.” Suara Gu lemah, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang, tetapi ada nada sinis khasnya yang mulai kembali. “Kau… kau melakukan banyak hal bodoh akhir-akhir ini.”
“Apa maksudmu?”
“Membersihkan gudang. Menyiangi rumput. Membuang kotoran. Itu bukan pekerjaan murid dalam. Itu pekerjaan budak.”
Seol tersenyum kecil. “Aku tahu.”
“Dan kau tetap melakukannya?”
“Aku tidak punya pilihan. Kwak Jung punya wewenang memberiku tugas. Jika aku menolak, ia bisa melaporkanku ke kepala instruktur. Aku bisa dikeluarkan.”
“Hm.” Gu terdiam sejenak. “Dan kau tidak marah?”
“Aku marah. Tapi kemarahan tidak akan membantuku. Yang akan membantuku adalah menyelesaikan tugas-tugas itu, dan menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu kesempatan. Menunggu ia membuat kesalahan. Menunggu saat yang tepat untuk… membalas.”
Gu tertawa. Tawanya lemah, tetapi ada kebanggaan di dalamnya.
“Kau belajar dengan cepat, bocah. Tapi satu hal yang kau lupakan.”
“Apa?”
“Kau tidak perlu menunggu kesempatan. Kau bisa menciptakannya.”
Seol mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Kwak Jung. Kau sudah melihatnya setiap hari. Kau sudah merasakan cara ia bergerak, cara ia berbicara, cara ia memerintah. Apa yang kau pelajari tentang dia?”
Seol berpikir. Selama sepuluh hari ini, ia memang mengamati Kwak Jung—bukan hanya saat ia memberi tugas, tetapi saat ia berinteraksi dengan murid lain, saat ia berlatih, saat ia berpikir tidak ada yang melihat.
“Dia… sombong,” kata Seol perlahan. “Dia suka diperhatikan. Dia tidak suka jika ada yang lebih baik darinya. Itu sebabnya ia membenciku—karena aku, murid luar, mendapat perhatian dari Seol Hwa dan kepala instruktur.”
“Lanjutkan.”
“Dia… ada yang tidak beres dengan teknik pedangnya. Saat ia berlatih, kadang-kadang tangannya gemetar di bagian akhir gerakan. Bukan karena lelah. Seperti ada yang sakit.”
“Bagus. Apa lagi?”
Seol memejamkan mata, mengingat kembali semua pengamatannya.
“Dua kali, ia meninggalkan latihan lebih awal. Ia bilang ada urusan, tapi aku melihat ia pergi ke arah timur—ke arah bangunan tua di belakang sekte. Bukan area latihan, bukan perpustakaan. Tempat yang tidak biasanya dikunjungi murid.”
“Dan?”
“Aku… aku tidak tahu. Tapi itu tidak biasa.”
Gu terdiam. Seol merasakan denyut batu itu berdetak lebih cepat—seperti jantung yang berdegup kencang.
“Kau harus mencari tahu,” kata Gu akhirnya. “Kelemahan terbesar seseorang bukan pada tubuhnya, tetapi pada rahasianya. Setiap orang punya rahasia. Kwak Jung juga. Temukan rahasianya, dan kau akan memiliki kekuatan atas dirinya.”
“Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak bisa meninggalkan tugas-tugas itu. Kwak Jung selalu mengawasi.”
“Kau punya teman sekarang. Murid-murid yang membantumu. Gunakan mereka.”
Seol terdiam. Ia tidak pernah memikirkan itu. Selama ini, ia selalu bertarung sendirian. Tapi Gu benar. Ia tidak sendirian lagi.
“Aku akan mencoba,” katanya.
“Lakukan. Dan Seol…” Suara Gu mulai melemah, seperti orang yang akan tertidur lagi. “Hati-hati. Kwak Jung bukan hanya sombong. Ada… sesuatu di qi-nya. Sesuatu yang tidak bersih. Aku merasakannya, bahkan dari dalam sini.”
“Apa maksudmu?”
Tapi Gu sudah pergi. Denyut di sakunya kembali tenang, teratur, seperti orang yang tertidur.
Seol berbaring kembali di tempat tidur, matanya terbuka lebar di kegelapan.
Sesuatu yang tidak bersih. Qi yang kotor.
Ia teringat pada Cheonmyeong—pada teknik terlarang yang ia gunakan di duel di hutan belakang. Apakah Kwak Jung juga menggunakan teknik seperti itu? Apakah itu sebabnya tangannya gemetar? Apakah itu sebabnya ia pergi ke bangunan tua di timur?
Ia harus mencari tahu. Bukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi karena jika Kwak Jung benar-benar menggunakan teknik terlarang, itu adalah ancaman bagi seluruh sekte.
Ia memejamkan mata, memutuskan. Besok, ia akan mulai menyelidiki.
---
Pagi Hari – Awal Penyelidikan
Seol bangun lebih awal dari biasanya. Sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di depan kamar Yoon Jae—murid yang pertama kali memberinya roti.
Yoon membuka pintu dengan mata masih setengah terpejam, rambutnya acak-acakan. Ketika melihat Seol, ia terkesiap.
“Ryu Seol? Ada apa? Masih pagi sekali…”
“Aku butuh bantuanmu,” kata Seol. “Tapi kau tidak boleh memberi tahu siapa pun.”
Yoon mengerjap, lalu mengangguk cepat. “Baik. Aku akan bantu.”
Seol membisikkan rencananya. Yoon mendengarkan dengan saksama, wajahnya berubah dari mengantuk menjadi serius.
“Kau yakin?” bisik Yoon setelah Seol selesai. “Jika ketahuan…”
“Kita tidak akan ketahuan,” kata Seol. “Kau hanya perlu mengalihkan perhatiannya. Sebentar saja. Cukup untuk aku melihat apa yang ada di bangunan timur.”
Yoon menggigit bibirnya, berpikir. Kemudian ia mengangguk.
“Baik. Aku akan lakukan. Tapi…” Ia menatap Seol dengan mata yang tiba-tiba terlihat lebih dewasa dari usianya. “Kau harus hati-hati. Kwak Jung bukan orang yang bisa dianggap enteng. Ada desas-desus tentang dia. Tentang dari mana ia mendapatkan kekuatannya.”
“Desas-desus apa?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi ada yang bilang ia sering keluar sekte di malam hari. Dan ketika ia kembali, qi-nya… berbeda. Lebih gelap.”
Seol mengangguk. “Aku akan hati-hati.”
Ia berbalik, berjalan menuju area latihan. Di belakangnya, Yoon mulai bergerak, menjalankan bagiannya dari rencana.
Hari ini, Seol tidak akan hanya membersihkan gudang. Hari ini, ia akan mencari kelemahan Kwak Jung.
Dan ketika ia menemukannya, keseimbangan kekuatan di antara mereka akan berubah.
---