Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Pelabuhan Terakhir di Seoul
Pagi terakhir di Manila disambut dengan suasana yang jauh lebih hangat daripada saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di sana. Tidak ada lagi kecurigaan yang tersisa, hanya ada rasa haru saat koper-koper mulai dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
Di teras mansion yang megah, perpisahan itu terasa sangat emosional. Chae-young melangkah menghampiri Sheena. Tanpa kata, ia menarik adik iparnya itu ke dalam pelukan erat. Ada rasa bersalah yang tulus mengalir di sana; rasa bersalah karena sempat meragukan ketulusan Sheena dan kesetiaan suaminya.
"Terima kasih, Sheena," bisik Chae-young di telinga Sheena.
Chae-young menatap wajah Mark yang sekilas memang sangat identik dengan suaminya itu. Namun ia kini mengerti perbedaannya. Ia kagum bagaimana Sheena tetap teguh memilih Mark sebagai cinta sejatinya, meski Matteo sempat tersesat di masa lalu. Kesetiaan Sheena-lah yang menjaga keutuhan keluarga besar ini.
"Sama-sama, Kak. Berbahagialah di Seoul. Jaga si kaku Matteo itu ya," goda Sheena sambil tertawa kecil, melirik Matteo dan Mark yang sedang asyik menggendong Kendrick dan Chanyeol secara bergantian untuk berpamitan.
Chae-young kemudian beralih kepada Lee Young-ae. Ibu mertuanya itu memegang kedua pipi Chae-young dengan kasih sayang seorang ibu kandung. Selama sepuluh hari ini, Chae-young merasa jiwanya yang sempat yatim piatu kembali utuh karena perhatian wanita tua itu.
"Kalian harus rajin datang menjenguk Ibu. Jangan menunggu sampai tahun depan baru kemari," ucap Lee Young-ae dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Ibu. Jaga kesehatan selalu ya. Kami akan sering menelepon," jawab Chae-young lembut sambil mencium tangan ibu mertuanya.
"Pasti, Sayang. Pergilah, anak-anak sudah tidak sabar ingin naik pesawat lagi."
Begitu jet pribadi lepas landas meninggalkan cakrawala Manila, suasana di dalam kabin sangat tenang. Chanyeol dan Chaerin tertidur lelap di kursi first class mereka, kelelahan setelah bermain seharian dengan Kendrick.
Matteo duduk di samping Chae-young, namun kali ini ia tidak membuka laptopnya untuk bekerja. Ia hanya menatap istrinya yang sedang memandangi gumpalan awan dari balik jendela. Perlahan, Matteo menarik tangan Chae-young dan menyatukan jemari mereka, mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Matteo rendah.
Chae-young menoleh, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Matteo. "Aku hanya berpikir, betapa beruntungnya aku. Aku kehilangan satu adik yang jahat, tapi aku mendapatkan seorang ibu, seorang adik ipar yang baik, dan..."
"Dan?" Matteo menaikkan sebelah alisnya, menggoda.
"Dan seorang suami yang ternyata sangat cengeng kalau sedang minta maaf," canda Chae-young sambil terkekeh.
Matteo mendengus, namun ia tidak membantah. Ia merangkul bahu Chae-young, menariknya semakin rapat ke dalam pelukannya.
Chae-young memejamkan mata, merasakan detak jantung Matteo yang tenang di bawah telinganya. Sepuluh hari di Manila telah mengubah segalanya. Mereka pulang ke Seoul bukan lagi sebagai dua orang asing yang terikat kontrak anak, melainkan sebagai pasangan yang baru saja menemukan arti cinta yang sebenarnya di tengah badai masa lalu.
Pesawat terus melaju membelah langit, membawa mereka kembali ke rumah, ke kehidupan baru yang kini penuh dengan warna dan kepastian.
Setelah perjalanan yang melelahkan itu. Pesawat jet pribadi Matteo Smith, akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Gimpo, Seoul, tepat saat matahari terbenam. Langit Korea yang berwarna jingga keunguan menyambut kepulangan keluarga Smith Park. Tidak ada lagi rasa berat di dada Chae-young kali ini, menghirup udara Seoul terasa jauh lebih melegakan.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara sejuk Seoul langsung menyapu wajah mereka. Matteo turun lebih dulu sambil menggendong Chae-rin yang masih mengantuk, sementara Chanyeol berjalan dengan langkah tegak di samping ibunya, tampak jauh lebih dewasa setelah menghabiskan waktu bersama Kendrick di Manila.
Iring-iringan mobil hitam yang sudah menunggu di apron bandara segera membawa mereka membelah jalanan Seoul menuju kawasan Seongbuk-dong. Chae-young menatap keluar jendela, melihat gemerlap lampu kota yang dulu terasa sangat asing dan menakutkan baginya saat ia masih berjuang sendirian sebagai janda muda. Namun sekarang, setiap sudut kota ini terasa seperti miliknya.
Sesampainya di depan gerbang besar kediaman mereka, para pelayan sudah berbaris rapi untuk menyambut. Chae-young turun dari mobil dan menatap bangunan megah itu dengan perasaan yang berbeda. Ini bukan lagi sekadar rumah besar milik pria kaya yang menikahinya secara kontrak; ini adalah istananya.
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya," sapa kepala pelayan dengan hormat.
Matteo menyerahkan Chae-rin yang tertidur kepada pengasuh, lalu ia menoleh ke arah Chae-young. Tanpa peduli pada pandangan para pelayan, Matteo merangkul pinggang istrinya dan menariknya mendekat tepat di depan pintu utama.
"Kita pulang, Chae-young-ah," bisik Matteo rendah, suaranya dipenuhi rasa lega yang mendalam.
Chae-young tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Matteo sebelum melangkah masuk ke dalam kehangatan rumah mereka. Di dalam, aroma terapi favorit Chae-young sudah memenuhi ruangan, tanda bahwa Matteo telah mengatur segalanya agar istrinya merasa nyaman seketika.
Malam itu, setelah anak-anak terlelap di kamar masing-masing, Matteo dan Chae-young berdiri di balkon kamar mereka, menatap pemandangan lampu kota Seoul dari kejauhan. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Hanya ada genggaman tangan yang erat, sebuah janji tanpa suara bahwa mulai detik ini, apa pun badai yang datang di Seoul, mereka akan menghadapinya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.