Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: KELOPAK YANG GUGUR DI ATAS BETON
Pagi itu, Jakarta Utara yang biasanya gersang dan dipenuhi debu konstruksi tampak sedikit lebih bersahabat. Di sebuah lahan yang dulunya merupakan tempat pembuangan barang bekas milik keluarga Pratama, kini berdiri sebuah bangunan megah berpola minimalis dengan jendela-jendela besar yang menangkap cahaya matahari pagi. Sekolah Harapan Bangsa 1 bukan sekadar gedung; bagi Larasati, ini adalah monumen penebusan dosa atas segala siasat kotor yang pernah melingkupi hidupnya.
Larasati berdiri di depan cermin kecil di dalam tenda transit. Ia mengenakan kebaya modern berwarna putih tulang dengan kain batik motif parang—simbol perjuangan yang tidak pernah putus. Di sampingnya, Baskara sedang membantu merapikan kancing lengan kemeja batiknya yang seragam dengan Larasati.
"Kamu gugup?" tanya Baskara lembut, sambil menatap pantulan wajah istrinya di cermin.
Larasati mengembuskan napas panjang. "Lebih dari saat aku harus menghadapi dewan komisaris, Baskara. Di sana, yang dipertaruhkan adalah uang. Di sini, yang dipertaruhkan adalah masa depan anak-anak ini. Aku tidak ingin mengecewakan mereka."
Baskara memutar tubuh Larasati, memegang kedua bahunya dengan kokoh. "Kamu sudah memberikan yang terbaik, Laras. Jembatan di Ngargoyoso sudah berdiri, dan sekolah ini akan menjadi jembatan selanjutnya. Kamu adalah cahaya mereka sekarang."
Acara peresmian berlangsung khidmat. Tidak ada dentum musik yang terlalu keras, hanya paduan suara anak-anak jalanan yang menjadi calon siswa pertama di sekolah tersebut. Saat pita merah dipotong, riuh tepuk tangan warga sekitar pecah. Larasati merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya—sebuah rasa puas yang tidak pernah ia dapatkan dari kemenangan saham mana pun.
Namun, di tengah keriuhan itu, Aditama mendekat dengan wajah yang sulit diartikan. Ia membisikkan sesuatu di telinga Larasati yang membuat senyum wanita itu sedikit memudar.
"Dia ada di gerbang belakang, Laras. Dia memaksa ingin bertemu sebentar. Katanya, dia tidak akan masuk ke area utama jika kamu tidak mengizinkan."
Larasati menatap Baskara, seolah meminta pertimbangan. Baskara mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa ia akan menemani.
Mereka berjalan menuju gerbang belakang sekolah, menjauh dari kerumunan wartawan. Di sana, berdiri seorang wanita yang nyaris tidak dikenali lagi sebagai sosok Maya yang dulu angkuh. Ia mengenakan daster sederhana yang ditutup dengan jaket lusuh. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan ia tampak jauh lebih kurus. Di tangannya, ia mendekap sebuah kotak kecil yang dibungkus kain beludru hitam.
"Maya?" suara Larasati terdengar bergetar antara benci dan iba.
Maya mendongak. Begitu melihat Larasati dan Baskara, air mata langsung membanjiri pipinya yang tirus. Ia tidak berani mendekat, hanya berdiri terpaku di batas gerbang.
"Aku... aku hanya ingin memberikan ini," ucap Maya dengan suara yang serak, nyaris seperti bisikan. Ia menyodorkan kotak itu ke arah Aditama, yang kemudian meneruskannya kepada Larasati.
Larasati membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah set perhiasan kuno—sebuah kalung dan sepasang anting yang sangat dikenal oleh Larasati. Itu adalah perhiasan milik almarhumah ibunda Larasati yang dulu dirampas oleh Tuan Pratama saat rumah keluarganya disita.
"Aku menemukannya di brankas tersembunyi Ibu Lastri sebelum dia ditangkap," lanjut Maya dengan isak tangis yang mulai pecah. "Aku tahu ini tidak akan menghapus apa yang keluargaku lakukan padamu, Larasati. Tapi... aku tidak ingin barang ini ada di tanganku lagi. Benda ini membawa beban terlalu berat."
Baskara melangkah maju satu tindak. "Maya, bagaimana keadaanmu? Aditama bilang kamu sedang dalam masa rehabilitasi."
Maya tersenyum pahit, sebuah senyum yang penuh dengan rasa lelah. "Aku sedang mencoba belajar bernapas tanpa benci, Mas Baskara. Ternyata itu sulit sekali. Aku kehilangan segalanya... ibuku dipenjara, ayahku sudah tiada, dan aku... aku bahkan tidak pantas memanggil namamu lagi."
Larasati menggenggam kalung ibunya erat-hal. Ia menatap Maya, melihat seorang wanita yang telah benar-benar hancur berkeping-keping. Dendam yang selama ini membara di hati Larasati seolah padam disiram oleh pemandangan menyedihkan di depannya.
"Kenapa kamu memberikannya hari ini, Maya?" tanya Larasati.
"Karena aku dengar hari ini adalah peresmian sekolahmu," jawab Maya, menyeka air matanya dengan ujung jaketnya. "Aku ingin memulai langkah baruku dengan mengembalikan apa yang bukan milikku. Aku akan pergi jauh dari Jakarta, Larasati. Aku akan pindah ke sebuah panti asuhan di luar kota untuk mengabdi di sana. Aku ingin mencuci tanganku dari semua emas yang berdarah ini."
Maya kemudian berlutut di tanah yang berdebu. Tindakan itu mengejutkan semua orang. "Maafkan aku, Gendis... Maafkan aku, Larasati. Jika tidak bisa memaafkanku sekarang, setidaknya jangan biarkan anakku membenciku suatu hari nanti karena perbuatanku."
Larasati mendekat, ia berjongkok di depan Maya. Ia tidak menyentuhnya, namun ia menatapnya dengan pandangan yang tenang. "Bangunlah, Maya. Tanah ini sekarang adalah tanah pendidikan. Jangan kotori dengan rasa bersalah yang berlebihan. Aku sudah memaafkanmu... demi kedamaian jiwaku sendiri, bukan karena kamu pantas mendapatkannya."
Maya mendongak, matanya yang basah menatap Larasati dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih... terima kasih banyak."
Setelah Maya pergi dengan langkah gontai namun tampak lebih ringan, Larasati kembali ke area sekolah. Ia berdiri di balkon lantai dua, menatap anak-anak yang sedang berlarian di lapangan sekolah yang baru diresmikan.
"Dia sudah pergi," ucap Baskara yang muncul di belakangnya.
"Iya. Dia pergi membawa lukanya, dan dia meninggalkan milikku," jawab Larasati sambil menunjukkan kalung ibunya. "Ternyata benar apa yang ayahku katakan, Baskara. Kebenaran tidak perlu dikejar dengan kekerasan. Ia akan mencari jalannya sendiri untuk pulang, asalkan kita memberikan ruang bagi hati untuk memaafkan."
Baskara memeluk Larasati dari belakang. "Kamu wanita yang luar biasa, Laras. Menghancurkan musuh itu mudah, tapi memaafkan mereka yang telah merenggut kebahagiaanmu adalah kekuatan yang sebenarnya."
Malam harinya, Larasati duduk di ruang kerjanya yang kini lebih banyak diisi oleh buku-buku pendidikan daripada laporan saham. Aditama masuk membawa berita terbaru tentang Adrian Wijaya.
"Adrian menolak untuk dikunjungi siapa pun di penjara, Laras. Tapi dia menitipkan sebuah surat melalui pengacaranya. Surat itu hanya berisi satu kalimat," Aditama menyodorkan secarik kertas.
Larasati membacanya: "Jembatanmu memang kuat, tapi pastikan kamu tidak jatuh karena rasa kasihanmu sendiri."
Larasati tersenyum tipis. Adrian tetaplah Adrian—pria yang penuh dengan sinisme. Namun bagi Larasati, peringatan Adrian itu justru menjadi pengingat bahwa ia harus tetap waspada tanpa harus kehilangan rasa kemanusiaannya.
"Biarkan dia, Adit. Suatu hari nanti, dia akan mengerti bahwa hidup bukan tentang siapa yang jatuh, tapi tentang siapa yang membantu orang lain berdiri kembali," ucap Larasati tenang.