NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Darah dan Debu

Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Nara begitu ia melangkah melewati koridor panjang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Lantai marmer putih yang dingin seolah memantulkan beban berat yang menggantung di pundaknya. Di ruangan kelas tiga yang pengap, di antara tirai-tirai kain yang mulai memudar warnanya, terbaring sosok yang menjadi seluruh alasan Nara untuk tetap bernapas, Ibu Rahayu.

Wajah ibunya yang dulu ayu kini pucat pasi, tulang pipinya menonjol, dan kulitnya tampak setipis kertas perkamen. Kanker darah, leukemi, telah menggerogoti vitalitas wanita yang membesarkan Nara seorang diri itu.

Sejak ayah Nara pergi meninggalkan mereka demi wanita lain saat Nara masih balita, dunia mereka hanya berisi mereka berdua. Nara tidak pernah bertanya tentang lelaki itu, baginya, sosok ayah adalah ruang hampa yang tidak perlu diisi.

"Nara..." Suara ibunya terdengar parau, nyaris seperti bisikan angin.

Nara segera duduk di kursi plastik di samping tempat tidur, menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.

"Ibu bangun? Mau minum?"

Rahayu menggeleng lemah, matanya yang sayu menatap putri tunggalnya dengan tatapan bersalah.

"Maafkan Ibu, Cah Ayu. Ibu malah merepotkanmu lagi. Uang tabunganmu pasti habis untuk biaya rawat inap ini. Seharusnya kamu fokus pada karier tarimu, bukan malah mendekam di sini."

Nara mengusap punggung tangan ibunya dengan lembut. Wajahnya yang biasanya dingin dan tak suka basa-basi kini melunak, meski matanya tetap memancarkan ketegasan.

"Jangan bicara begitu, Bu. Uang bisa dicari. Tugas Ibu hanya satu, bertahan. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu. Jangan pernah terpikir untuk menyerah."

"Tapi biaya kemoterapi itu mahal sekali, Nak. Ibu tahu berapa penghasilan dari sanggar tari tradisional. Tidak mungkin cukup untuk semua ini," Rahayu terbatuk kecil, membuat Nara segera membetulkan letak bantalnya.

"Aku punya beberapa pekerjaan sampingan, Bu. Acara-acara perusahaan sedang ramai," bohong Nara dengan lancar. Jantungnya berdenyut nyeri setiap kali ia harus berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa setiap malam, setelah melepaskan selendang tari tradisionalnya, ia mengenakan pakaian minim dan menari di bawah lampu remang Club Black Rose. Baginya, martabat adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli saat nyawa ibunya menjadi taruhan.

Tak lama kemudian, Dokter Rian, dokter spesialis hematologi yang menangani Rahayu, memanggil Nara ke ruangannya. Suasana ruangan itu hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur bagi Nara.

"Duduklah, Nara," ujar Dokter Rian sambil menatap rekam medis di layar komputernya.

"Bagaimana kondisi Ibu, Dok? Hasil lab terakhirnya sudah keluar?" Nara bertanya tanpa basa-basi, langsung pada intinya.

Dokter Rian menghela napas panjang, sebuah gestur yang selalu membuat nyali Nara menciut.

"Kondisi Ibu Rahayu sedang drop. Sel kankernya berkembang sangat agresif. Kita tidak bisa menunda siklus kemoterapi berikutnya. Selain itu, beliau membutuhkan transfusi trombosit secara rutin dalam beberapa hari ke depan."

"Lakukan saja apa yang terbaik, Dok. Saya akan urus administrasinya."

"Masalahnya bukan hanya prosedur, Nara. Biayanya akan melonjak drastis karena kita harus menggunakan obat-obatan penunjang agar tubuhnya tidak semakin lemah. Setidaknya, kamu harus menyiapkan dana sekitar seratus juta rupiah dalam minggu ini untuk deposit tindakan lanjutan dan obat-obatan khusus," Dokter Rian menatap Nara dengan simpati. "Saya tahu ini berat, tapi jika tidak segera dilakukan, risiko kegagalan organ sangat besar."

Nara terdiam. Seratus juta dalam seminggu. Penghasilannya dari menari tradisional di acara pertunangan Bagaskara kemarin memang cukup besar, tapi sudah habis untuk melunasi tunggakan sebelumnya. Pikirannya langsung melayang ke Club Black Rose. Ia butuh lebih banyak sesi tarian privat. Ia butuh tips yang lebih besar. Ia butuh menjadi lebih berani di bawah lampu disko, meski itu berarti mengubur sisa-sisa harga dirinya lebih dalam lagi.

"Saya akan menyediakannya, Dok. Tolong pastikan Ibu mendapatkan perawatan terbaik. Jangan sampai dia tahu soal biayanya," ucap Nara datar, berdiri dari kursinya tanpa menunjukkan guncangan emosi sedikit pun.

Malam itu, Club Black Rose berdenyut lebih kencang dari biasanya. Aroma alkohol, keringat, dan obsesi memenuhi udara. Nara berdiri di balik tirai panggung VVIP, mengenakan kostum sutra hitam transparan yang memeluk lekuk tubuh sintalnya. Rambut hitam lebatnya dibiarkan terurai liar, menutupi sebagian punggungnya yang terbuka.

Ia menarik napas panjang, menutup matanya sejenak. Di pikirannya, terbayang wajah pucat ibunya di rumah sakit. Ini untuk Ibu, batinnya. Hanya tarian. Jangan gunakan perasaan.

Saat musik mulai mengalun, sebuah melodi blues yang berat dan sensual, Nara melangkah keluar. Ia mulai meliukkan tubuhnya, mengikuti irama yang seolah menyatu dengan detak jantungnya. Matanya yang tajam menatap ke depan, namun ia berusaha mematikan rasa pada sekelilingnya.

Namun, di tengah-tengah tariannya, saat ia berputar dan pandangannya menyapu barisan kursi terdepan, tubuhnya nyaris membeku.

Di sana, di tengah keremangan cahaya biru dan merah, duduk seorang pria yang seharusnya berada di rumah mewahnya merayakan pertunangan. Bagaskara.

Bagaskara duduk sendirian di meja pojok, menjauh dari teman-temannya yang berisik. Wajahnya yang tegas tampak muram, dan matanya... matanya menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan tatapan lapar penuh nafsu seperti pria-pria lain di ruangan itu, melainkan tatapan yang penuh dengan keterkejutan, kekecewaan, sekaligus ketertarikan yang mendalam.

Nara tetap menari. Ia tidak boleh berhenti. Sebagai pribadi yang benci basa-basi, ia tidak memberikan reaksi berlebihan. Ia tetap menggerakkan tubuhnya dengan profesionalisme yang mematikan, namun ada sesuatu yang berubah di dalam dadanya.

Jantungnya berdebar bukan karena gerakan fisik, melainkan karena rasa malu yang tiba-tiba menyeruak,sesuatu yang sudah lama ia lupakan.

Bagaskara tidak berpaling. Pria itu terus mengamati setiap gerak-gerik Nara. Ia teringat wanita yang sama yang berdiri dengan sangat agung di samping tunangannya, Sinta, hanya beberapa belas jam yang lalu.

Kontras antara kemben batik yang sakral dan pakaian transparan yang erotis ini membuat kepala Bagaskara berdenyut. Ia merasa seolah sedang melihat dua jiwa yang terperangkap dalam satu tubuh yang indah.

Tidak ada kata yang terucap. Di antara dentuman musik yang memekakkan telinga, hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Nara sengaja memutar tubuhnya, membelakangi Bagaskara untuk menyembunyikan kilatan emosi di matanya.

Sementara itu, Bagaskara mencengkeram gelas wiskinya hingga buku jarinya memutih.

Ada perasaan aneh yang mulai merayap di hati mereka masing-masing. Bagi Nara, kehadiran Bagaskara adalah ancaman bagi rahasianya.

Bagi Bagaskara, Nara bukan lagi sekadar hiburan, wanita itu telah menjadi obsesi yang mengusik nuraninya. Di ruangan penuh dosa itu, sebuah ikatan tanpa suara mulai terjalin, lebih kuat dari janji pertunangan yang Bagaskara ucapkan pada Sinta, dan lebih rumit dari tarian apapun yang pernah Nara bawakan.

Saat Nara mengakhiri tariannya dan menghilang ke balik tirai, ia merasa lututnya lemas. Ia tahu, mulai malam ini, dunianya tidak akan pernah sesederhana mencari uang untuk pengobatan ibunya lagi. Bagaskara telah masuk ke dalam kegelapannya, dan Nara tidak tahu apakah pria itu akan menjadi penyelamat atau justru penghancur hidupnya.

Di sisi lain, Bagaskara tetap terpaku di kursinya, mengabaikan panggilan telepon dari Sinta yang muncul di layar ponselnya berkali-kali. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, siapa sebenarnya Nara Indira?

1
deeRa
Bacanya aku berkaca-kaca ini, Tegar ya Nara 🥺
susilawatiAce
baca novel. ini tegang
deeRa
This story is very sufficient to describe the simplicity of love, Gak sengaja baca Seruni akhirnya baca yang lain juga karya Kak Lemari kertas ini.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊
deeRa
Lagi boleh gak? 👀👉👈
Lemari Kertas: maleman ya 😄
total 1 replies
susilawatiAce
ceritanya menarik
deeRa
Setelah ini sepertinya aku juga jatuh suka sama Nara setelah Seruni😍😍
Lilla Ummaya
Lanjutt
Mira Hastati
bagus
stnk
bagus ceritanya...dari awal udah bikin emosi...
Afternoon Honey
semakin seru jalan ceritanya
Sri Astuti
seru
Putri dewi Mulya Syania
lanjut Thor seru bangett
Afternoon Honey
makin tegang dan seru jalan ceritanya
susilawatiAce
bakalan rumit nih kisah vinya bagas dan nara
Afternoon Honey
tetap menyimak cerita bersambung ini
susilawatiAce
sebentat Nara akan jadi milik mi bagas
Lemari Kertas
udah up ya guys masih nunggu review
susilawatiAce
Hasrat mengalahkan logika
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor..😍
Meiny Gunawan
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!