Dengan kasar Arga melepas manik-manik yang menghiasi kepala istrinya, melepas kasar jilbab beserta ikatan rambutnya. Banyak helaian rambut yang tercabut membuat Mawar meringis kesakitan.
“hentikan aku mohon!! Hiks hiks”
Allih-alih memperdulikan Mawar yang menangis ketakutan Arga lebih memilih meneruskan perbuatannya memaksa melepaskan kebaya putih yang menutupi tubuh mawar. Sekuat apapaun mawar melawan jelas tenaganya tak sebanding dengan Arga yang kini telah tersulut emosi. Perkataan mamahnya mengiang jelas difikirannya bukan pernikahan seperti ini yang mawar harapkan, memang dengan Arga ia ingin membangun rumah tangga tapi tidak seperti ini. Dirinya dipaksa melepas pakaian dengan kasar oleh suaminya sendiri hingga kini ia sudah pasrah karna kebaya yang menutupi tubuh atasnya telah terlepas menyisakan bra hitam yang dengan setia menutupi gunung kembarnya. Arga menghentikan aktivitasnya menatap manik mata sang istri yang segera menunduk ketakutan.
“ini pilihanmu Mawar, jangan salahkan aku”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon afrabaik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasutan
Pagi itu melinda melancarkan aksinya, mendatangi anne selly yang kebetulan sedang sendirian di rumah karena ayah faruk sedang pergi untuk membeli burung peliharaan yang baru.
“ada apa kamu kesini??” tanya anne selly ketus.
Dari dulu saat anne melihat alif dekat dengan melinda, anne sudah tidak menyukainya. Entah karena apa, tapi feeling seorang ibu sangat kuat.
“anne apa kabar??”
“baik”
“ini buah kesukaan anne” melinda memberikan sekantong kelengkeng
“aku sudah punya banyak kelengkeng dari menantu tercintaku. Jadi bawalah pulang kelengkengmu”
Melinda kembali menyimpan kereseknya
“mawar maksudnya?? Hmmm sebenarnya aku ke sini karena ingin memberitau ibu sesuatu yang sangat penting”
“apa hal penting yang bisa keluar dari mulut berbisamu hah?” tanya anne selly semakin kasar
“maaf anne, tapi… mawar sebenarnya tidak bisa hamil”
“hah!! jangan bercanda kamu cha!! Mana mungkin wanita sesehat mawar tidak bisa hamil! Tidak usah karena kamu sangat ingin memiliki putraku sampai memfitnah menantuku seperti itu!”
“aku tidak berbohong anne, aku bersumpah! Aku memberitahu anne karena aku sangat menyayangi anne dan mas alif. Aku tidak ingin anne tertipu oleh wajah polosnya mawar”
“maaf echa, tapi aku tidak percaya padamu!!” anne meninggalkan melinda memasuki rumah
“anne, jika anne tidak percaya. Buktikanlah sendiri. Wanita normal akan hamil setelah 3/4 bulan setelah pernikahan. Anne bisa memberi rentang waktu satu bulan pada mawar untuk dia hamil dan aku yakin sampai waktu yang di tentukan tiba, mawar tidak akan pernah hamil. Dan satu lagi anne, saat hari itu tiba, aku siap memberikan cucu untuk keluarga besar faruk. Fikirkanlah perkataanku baik-baik ne. echa pamit pulang, semoga anne selalu diberi kesehatan”
Dengan sengaja melinda mengeraskan suaranya agar ane yang belum benar-benar meninggalkannya bisa mendengar. Melinda pergi dengan bibir tersungging, puas karena ia yakin bisa menghasut anne. Sementara anne yang memang mendengar perkataan melinda mulai berfikir, menerka apa benar menantunya itu tidak bisa memberinya cucu.
***
Pagi itu mawar sedang sibuk menyusun skripsi, hingga saat ia mendapat pesan dari suaminya untuk membawakan dokumen penting ke kantor, ia pun dengan sigap mematuhinya. Senang rasanya para suster dan beberapa dokter menyapanya kala ia berjalan menyusuri lorong.
“ibu gak mau tau alif! Jika dalam waktu satu bulan ini mawar tidak hamil! Ibu akan carikan penggantinya!”
Drezzzt!! ⚡⚡
Seperti tersambar petir ia mendengar kata-kata sang mertua. Ia mematung di depan pintu kantor yang memang sedikit terbuka. Seluruh sendi badannya tak kuasa ia gerakan hanya air matanya yang tiba-tiba jatuh.
“mawar sedang skripsi ne, jangan paksa dia”
“kalau begitu kamu harus cari istri baru, ibu menikahkan kamu dengan mawar karena ibu ingin segera punya cucu!! Tau begini, tak sudi ibu nikahkan kalian”
“sebenarnya anne tau dari siapa klo mawar tidak bisa hamil?? Kami tidak sering melakukannya ne, wajar saja klo dia belum hamil”
“maka dari itu ibu beri waktu satu bulan, manjakanlah istrimu itu dan segera beri ibu cucu”
“walaupun mawar tidak mengandung dalam tempo yang ibu berikan, aku tidak akan menceraikannya ne. maaf”
“kalau begitu mawar harus terima kalau dimadu!”
“tapi ne…”
“tidak ada bantahan FARUK!”
Sebelum anne keluar dari kantor, mawar lebih dulu bersembunyi. Perih rasanya mendengar kata ‘madu’ lagi dalam pernikahannya yang ke dua. ‘aku tidak suka madu’ batinnya.
Alif frustasi karena ibunya, ia berusaha mencari jalan keluar. Bagaimanapun juga ia tidak akan mau menceraikan mawar dan apa lagi harus memadunya, tidak akan pernah.
Mawar menemui alif setelah beberapa menit membasuh mukanya agar terlihat seperti biasa. Dengan senyum yang dipaksakan mawar memasuki kantor.
“sayaaang” panggilnya
Alif yang sedang terduduk sambil pelan memijat pelipisnya, terdongkak karena mendengar suara orang yang sangat ia cintai.
“hmm? Sudah datang??”
Alif merentangkan tangannya, menyambut sang istri yang kini duduk di pangkuannya.
“mas sedang banyak masalah yah?? Mukanya suram bgt”
“hmmm… mungkin karena pekerjaan rumah sakit yang semakin banyak”
“emm, ini berkasnya mas”
“terimakasih sayang”
“sama-sama, mas aku pulang dulu yah. Aku masih harus mengerjakan skripsiku di rumah”
“iya, hati-hati. Jangan lupa sholat”
“iya”
Cup!
***
Pening rasanya memikirkan masalah ini, bagaimana mencari jalan keluarnya? Apa mawar harus rela kembali di madu?? Atau lebih baik pergi dan menjadi janda untuk yang kedua kalinya? Sekeras apapun ia menahan tangis tetap saja tidak bisa ‘oh ya tuhan, tolonglah’.
Sementara mawar dengan tangisnya berusaha mencari jalan keluar di rumah, alif dengan terus memijat pelipisnya juga mencoba mencari jalan keluar di kantor. Hingga dirasa ia sudah menemukan jalan terbaik, barulah alif pulang.
Tok tok
“assalamu’alaikum”
Mawar bergegas membasuh wajahnya dan segera turun kebawah membukakan pintu.
“wa’alaikunussalam, sudah pulang mas??” mawar mengambil tas dan jas alif
“sudah makan??” tanya alif sambil mencium kening mawar
“sudah mas” jawabnya
“ada yang ingin aku bicarakan… tunggu aku di kamar setelah selesai mandi”
“iya, mas”
Beberapa menit setelahnya, dengan senyum mawar menyambut suaminya, duduk di atas ranjang.
“mas mau bicarakan apa??”
“hmmm, tadi siang anne ke kantor”
“benarkah?? Tadi siang kan aku juga ke kantor mas kok gak ketemu anne yah”
“kamu datang setelah anne pulang, jadi kalian tidak bertemu”
“ohh… pantesan gk ketemu. Anne meminta kita kesana lagi yah mas??”
“bukan, dengarkan aku baik-baik mawar. Kamu tau dari dulu anne memang sudah sangat terobsesi memiliki cucu kan? Anne datang menemuiku untuk meminta itu. Anne memberi kita waktu satu bulan untuk mewujudkan keinginannnya. Anne, menyangkamu bahwa kamu tidak bisa hamil. Kamu mau kan klo kita cek kesuburan dulu??”
“cek kesuburan?? Ak aku tidak mau mas”
“kenapa sayang??”
“karena yah aku tidak bisa”
“dengarkan aku mawar, apapun hasilnya nanti aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku janji”
“aku juga tidak mau di madu mas, sakit rasanya lebih baik mas ceraikan aku daripada aku harus dimadu lagi”
“itu tidak akan pernah terjadi, percayalah”
“aku tetap gk mau mas”
“klo bergitu bagaimna klo kita adopsi bayi saja?? Kamu mau kan??”
“tidak mas, anne pasti ingin bayi dari darah daging kamu bukan adopsian. Ceraikan saja aku mas”
“tidak akan! Kita cari jalan keluarnya sama-sama”
Alif memeluk mawar yang kini sudah tak kuasa membendung tangis. Mengusap punggungnya pelan dan mengecup pucuk kepala sang istri dengan hangat.
Author...
"maaf, kayaknya author gk bisa up lgi Minggu minggu ini 🙏🙏🙏🙏"
buat author, semangat ya, tetap lanjutkan donk ceritanya...