Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pertemuan
Setelah mendapatkan telepon dari Andra, Rafael segera bergegas pergi. Langkahnya lebar menuruni anak tangga rumah besar keluarga Dirgantara dengan wajah datar khasnya. Bahkan saat berpapasan dengan Keisya yang menyapanya pun hanya menjawab singkat.
"Kliennya sudah sampai, Pak Rafael." ujar Andra melalui sambungan teleponnya barusan.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Rafael langsung melajukan mobilnya menuju ke sebuah kafe di tempat pertemuan itu berlansung.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi pembahasan proyek kerja sama yang akan di bicarakan nanti. Baginya, urusan bisnis bukan sesuatu yang bisa di anggap sepele.
Tak lama kemudian, mobil hitamnya berhenti di depan kafe bernuansa sederhana namun terlihat elegan. Rafael turun dengan langkah tenang namun tegas. Kehadirannya seketika menarik perhatian beberapaa pengunjung disana.
Begitu masuk ke dalam, pandangannya langsung tertuju pada Andra yang berdiri di dekat meja reservasi.
"Mereka sudah menunggu dari tadi Pak," ucap Andra pelan.
Rafael hanya mengangguk singkat sebelum berjalan menuju meja di sudut kafe. Disana, dua orang klien bisnis berdiri menyambut kedatangannya dengan ramah.
"Maaf membuat anda menunggu," ujar Rafael dengan suara rendah dan tenang sebelum duduk di kursinya.
Percakapan bisnis pun dimulai. Atmosfer di meja itu terasa serius, dipenuhi pembahasan angka, proyek properti, hingga rencana kerjasama besar yang akan menguntungkan kedua belah pihak.
Setelah mencapai kesepakatan yang cukup memuaskan bagi kedua belah pihak. Rafael menutup map hitam yang ada di hadapannya lalu menyandarkan tubuhnya pelan di kursi.
"Saya harap kerja sama ini bisa berjalan dengan baik," ujar salah satu klien sambil tersenyum.
Rafael menganggukan kepalanya singkat, "Tentu."
Pria itu kemudian berdiri dari duduknya, di ikuti oleh kedua klien bisnisnya. Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda resmi berakhirnya pertemuan tersebut.
"Terimakasih sudah meluangkan waktunya, Pak Rafael."
"Sama-sama," balasnya singkat namun tetap sopan.
Setelah berpamitan, Rafael lebih dulu beranjak dari tempat duduknya di ikuti Andra di belakangnya.
Rafael merapikan jam tangan di pergelangan tangannya, sebelum melirik Andra yang kini sudah berjalan di sampingnya.
"Hari ini kamu langsung pulang saja, aku tidak akan lembur malam ini." lirihnya.
Andra mengganguk, "Baik Pak. Tapi saya ijin balik ke perusahaan sebentar untuk mengambil beberapa berkas yang masih tertinggal disana."
"Hm.."
Rafael dan Andra terpisah di depan kafe, karena tempat parkir mobil mereka juga tidak terletak di tempat yang sama.
Saat Rafael berjalan keluar kafe menuju tempat parkir mobilnya, tiba-tiba seorang gadis menabrak dirinya.
Brukk!
Dengan sigap ia menahan lengan gadis itu.
Seorang pakaian berbalut jaket dan celana panjang, dengan rambut di kucir kuda berponi. Wajahnya cantik, dengan bibir mungil berwarna peach alami.
"Kanaya !"
Terdengar seruan seseorang memanggil nama gadis itu, membuatnya menoleh menatap seorang pemuda yang sedang berjalan setengah berlari ke arah mereka.
Gadis itu, ya.. Kanaya tiba-tiba memegang lengan Rafael.
"Tolong saya.." bisiknya.
Rafael sedikit mengernyit menatap gadis di depannya.
"Pura-pura jadi pacar saya.. Cuma sebentar. please..."
Tatapan Rafael turun pada jemari Kanaya yang mencengkeram lengannya dengan gugup. Wajah gadis itu terlihat pucat dan benar-benar panik. Seolah sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu.
Belum sempat Rafael menjawab, Raditya sudah berdiri beberapa langkah dari mereka.
Pria itu membeku sesaat saat melihat Kanaya begitu dekat dengan Rafael.
"Kanaya..." suara Raditya melemah.
Dengan jantung berdegup kencang, Kanaya memberanikan diri melangkah mendekat ke sisi Rafael hingga hampir menempel pada pria itu.
"Aku sudah bilang kita sudah selesai kan.. ?" ucap Kanaya berusaha untuk terdengar tegas . "Jadi jangan pernah ganggu aku lagi, pergi dari sini!"
Raditya menatap Rafael tidak suka, "Dia siapa Nay ? Jangan bilang kalau..."
Kanaya menggigit bibir bawahnya pelan sebelum menjawab cepat.
"Ya.. Dia pacar aku. Bukan, lebih tepatnya calon suami aku.." kata Kanaya tegas, membuat Rafael menoleh menatap gadis disampingnya.
Begitupun Raditya yang melebarkan matanya menatap Kanaya dengan rasa tak percaya. Bagaimana mungkin, mereka baru putus dua hari yang lalu. Sekarang dengan terang-terangan dia bilang punya calon suami di depannya.
Kanaya menahan napas takut kalau Rafael akan menyanggah dan mempermalukannya, namun pria itu tetap dalam diamnya membuat Kanaya sedikit lega, setidaknya dia tidak menyanggah ucapannya itu.
Tatapan Raditya berpindah bergantian antara Kanaya dan Rafael sebelum rahangnya mengeras menahan emosi.
Rafael tetap tenang, tatapan dinginnya membuat suasana di sekitar mereka terasa menekan.
Melihat sedikit keributan di sekitar area parkir, seorang satpam segera berjalan menghampiri mereka bertiga. Wajah pria paruh baya itu tampak bingung sekaligus waspada, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Permisi, ada masalah apa ini ?" tanya nya sopan, menatap bergantian kearah mereka bertiga.
"Dia membuat rusuh Pak," tunjuk Kanaya pada Raditya, "Lebih baik Bapak usir dia dari sini, dia sudah menganggu ketenangan saya dan pacar saya." lanjutnya.
"Baik, kalau begitu lebih baik anda pergi dari sini Mas. Ayo ikut saya." Pak Satpam yang percaya akan ucapan Kanaya, menarik tangan Raditya agar menjauh dari tempat itu.
Namun Raditya menepis kasar tangan satpam paru baya tersebut, "Lepas.. Saya bisa jalan sendiri." lirihnya, lalu beralih menatap Kanaya.
"Dengar Nay, pembicaraan kita belum selesai." katanya pelan namun penuh tekanan disana. Sebelum pergi meninggalkan Kanaya.
Sedangkan Kanaya dengan wajah pura-pura tegarnya itu, menatap Raditya dengan tatapan malas sampai pria itu pergi.
"Hufft.. Akhirnya.." gumamnya, saat melihat Raditya sudah tak terlihat lagi.
"Bisa lepas pegangannya," suara pelan namun terasa dingin menusuk itu membuat kesadaran Kanaya kembali.
Ia menoleh, lalu melepaskan tangannya dari lengan Rafael.
"Eh.. Iya, Maaf." lirih Kanaya dengan cengiran khasnya.
Namun Rafael hanya menatapnya sekilas, lalu berbalik pergi menuju mobilnya.
"Maaf tadi saya reflek Pak, tadi itu saya udah bingung banget ngadepin mantan saya itu. Terimakasih atas bantuannya yah, sekali lagi saya..."
Belum sempat Kanaya menyelesaikan perkataannya, pintu mobil Rafael sudah tertutup dengan keras.
Brakk!
Membuat Kanaya terjingkat kaget. "Kok di tutup sih, kan aku belum selesai bicaranya.." teriak Kanaya dari luar.
Namun tidak di hiraukan oleh Rafael. Ia menancap gas mobilnya meninggalkan area parkir kafe tersenyum
"Haissshh.. ganteng-ganteng tapi jutek banget." gerutunya, sambil menandang-nendang udara di depannya.
"Semoga aja aku nggak ketemu lagi dengan pria modelan gitu, ganteng sih.. Tapi dingin.. brrrrr" ucapnya bergidik, lalu berjalan menuju parkiran motor matic Pak Ujang yang ia pinjam tadi.
* *
Kanaya berjalan menuruni anak tangga dengan penampilan rapi khas mahasiswi yang hendak pergi kuliah. Rambut panjangnya di biarkan tergerai indah sementara tas selempang sudah bertengger di bahunya. Langkahnya pelan menuju ruang makan, tempat kedua orang tuanya duduk menikmati sarapan pagi.
"Pagi.. Mom, Dad.." sapanya lembut.
Kanaya menghampiri mereka lebih dulu, lalu mencium pipi sang ibu dan ayahnya secara bergantian yang selalu berhasil mencairkan suasana rumah di pagi hari.
"Pagi juga sayang.." jawab Kirana hangat sambil mengusap lembut lengan putrinya.
Sementara ayahnya mematikan ipad di tangannya setelah selesai membaca email dari kantor, lalu menatap Kanaya beberapa detik sebelum tersenyum tipis. "Semangat banget.. udah nggak galau-galauan lagi ?" cibir Harun.
Kanaya memajukan bibirnya saat mendengar cibiran ayahnya, lalu menarik kursi di samping ibunya. "Apa sih Dad, aku udah move on. Jadi nggak usah julid gitu.."
Harun tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil. "Bagus..." lirihnya, "Hari ini kamu tidak usah masuk kuliah, nanti malam kita akan kedatangan tamu untuk makan malam." ucap Harun selanjutnya, menatap kedua orang kesayangannya.
Kanaya yang sedang menyuapkan roti dengan selai coklat kemulut, menoleh menatap ayahnya. "Nggak bisa Dad, hari ini ada materi penting dari dosen. Naya nggak bisa ijin." ucapnya, masih menguyah roti.
"Daddy udah bicara sama dosen kamu, materinya akan dikirim ke email kamu setelah selesai kelas."
Kanaya menelan rotinya, lalu meneguk segelas susu miliknya. "Daddy.. Nggak bisa enaknya gitu dong menyalah gunakan kekuasaan Daddy gitu aja, ih.. Tau ah.." protes Kanaya, ia paling tidak suka kalau ayahnya sudah ikut campur dengan kuliahnya apalagi sampai menyalah gunakan kekuasaannya itu.
Kirana mengusap lengan putrinya lembut, "Udah kamu nurut aja, Mommy juga udah booking salon buat kamu perawatan hari ini." ucapnya, dengan mata berbinar menatap putrinya.
Sedangkan Kanaya melebarkan matanya tak percaya, "Emang siapa sih tamunya ? Spesial banget emang.. Sampai aku juga harus perawatan ?"
Kirana mengangguk pelan. Sedangkan Kanaya masih menatap kedua orang tuanya tak habis pikir, bisa-bisanya mereka melakukan hal ini padanya.
"Kalau gitu kalian lanjutkan sarapannya, Daddy berangkat ke kantor dulu." kata Harun, beranjak dari duduknya.
Tak lupa ia mencium sang istri dan putri kesayangannya itu secara bergantian.
* *
Disisi lain, Rafael tampak sibuk diruang kerjanya yang luas dan di penuhi nuansa elegan khas seorang pewaris perusahaan besar. Jemarinya bergerak cepat di keyboard laptop, sementara beberapa berkas kerja menumpuk rapi di meja kerjanya. Sejak pagi, pria itu hampir tak berhenti menghadiri rapat dan menandatangani berbagai dokumen penting milik Dirgantara group.
Sorot matanya terlihat fokus menatap layar di depannya.
Tok.. Tok.. Tok
Suara ketukan pintu membuat Rafael mengalihkan pandangannya sejenak.
"Masuk," ucapnya singkat dengan nada datar khas dirinya.
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan Andra yang berjalan masuk sambil membawa beberapa map di tangannya.
"Tuan, berkas kerja sama kemarin sudah selesai di periksa. Tinggal menunggu tanda tangan anda," ujar Andra sopan.
Rafael mengangguk pelan lalu menerima map tersebut. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka halaman demi halaman dengan teliti. Sikapnya memang terkenal dingin dan irit bicara, tetapi semua orang di kantor itu tahu bahwa Rafael sangat perfeksionis dalam urusan pekerjaan.
Beberapa detik kemudian, Rafael mengambil pena hitam miliknya lalu menandatangani dokumen itu.
"Pastikan meeting untuk besok tidak ada yang terlambat," katanya tegas.
"Baik, Pak."
Andra mengangguk cepat sebelum keluar kembali dari ruangan itu.
Kini suasana kembali hening, dengan Rafael yang masih fokus menatap layar di depannya. Hingga terdengar suara pintu terbuka kembali.
"Apalagi, An.." ucapnya terhenti saat pandangannya menatap seseorang yang masuk ke dalam ruangannya ternyata bukan Andra.
"Segitu sibuknya sampai tidak sadar yang datang bukanlah Andra sekertarismu itu." kata Opa Theo, saat berjalan masuk ke dalam ruangan Rafael.
"Opa.." Rafael yang melihat kakeknya, langsung berdiri dari tempat duduknya menyusul sang kakek. Dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Opa kenapa ke kantor, bukannya lagi sakit ?" tanyanya khawatir.
"Ck.. Kalau Opa tidak datang kesini, mana sempat kamu datang kerumah untuk bertemu kakekmu, hem." kata Opa Theo sedikit meninggi.
"Maaf, tapi memang akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."
Ya.. Sebenarnya dia ingin kembali menjenguk sang kakek, namun pekerjaan di kantor yang menumpuk tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
"Nanti malam kamu ikut Opa, kita makan malam bersama untuk membahas perjodohanmu." kata Opa Theo yang terdengar tegas.
"Tapi sepertinya nanti malam..."
"Opa sudah batalkan semua jadwalmu malam dari sore sampai besok, jadi tidak ada alasan buat kamu membantah Opa." kata Opa Theo lagi, memotong ucapan Rafael.
Sebelum masuk ke dalam ruangan Rafael tadi, ia sudah terlebih dulu bertemu Andra menanyakan jadwal cucunya hari ini. Ia tidak mau membuang waktu lagi, saat ia mendapat kabar kalau Rafael bersedia menuruti keinginan sang kakek, walaupun itu harus menerima perjodohan yang sudah di atur oleh kakeknya itu.
Rafael terdiam menatap kakeknya, ucapannya kali ini terdengar sudah final dan tidak bisa ganggu gugat.
"Opa sudah janji dengan keluarga Harun nanti malam, Opa harap kamu datang tepat waktu dan tidak mengecewakan keluarga kita." lanjutnya.
Rafael mengernyitkan alisnya sedikit berpikir, "Maksud Opa Harun Wijaya ?" tanyanya.
Opa Theo mengangguk pelan, "Hm.."
"Kalau begitu Opa pulang dulu.. Ingat jangan sampai kamu mengecewakan keluarga apalagi Opa."
Opa Theo berjalan keluar ruangan Rafael. Sedangkan Rafael sendiri hanya mengangguk pelan dengan sesuatu yang sedikit menganggu pikirannya.
"Kanaya.." gumamnya pelan.
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣