Selomitha tau Arsen hanya menganggapnya sebagai sahabat. Ya, pria yang lebih muda tiga bulan darinya itu adalah putra dari Tante Sarah dan Om Demian, sahabat orangtuanya, Grasian dan Desty (Novel "Mendadak Menikah").
Entah sejak kapan datangnya getaran di hati Mitha untuk pria itu. Mungkin karena sifat protektif dan posesif Arsen padanya, karena sejak kecil Arsen memang seakan sengaja ditugaskan oleh orangtua mereka untuk menjaga Mitha.
Yang pasti pada satu titik waktu, persahabatan mereka tak lagi sama. Mitha memutuskan melanjutkan program Magister-nya ke luar negeri demi melupakan perasaan terlarang yang sudah tumbuh bersemi untuk Arsen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rejected.
"Lo ngapain di sini...?" tanya Mitha pelan. Ternyata melihat wajah Arsen dan mendengar suara pria itu sekarang justru membuat Selomitha mengingat kembali kejadian tadi siang. Kata-kata Arsen terngiang-ngiang lagi di kepalanya : "kita cuma sahabatan, udah dibilangin kan berkali-kali?"
Hatinya berdenyut lagi seiring dengan mood baiknya yang seketika terjun bebas. Dia yang tadi sempat terbuka untuk berbicara dengan Arsen, kembali menutup diri dan tidak suka memandang wajah pria itu.
"Mit... ijinkan gue jelasin semuanya..." Arsen turun dari mobil dengan wajah yang begitu sendu. Seakan seluruh semangat hidupnya sudah hilang dan berbicara dengan Mitha adalah obatnya. Namun Mitha refleks mundur begitu Arsen mendekatinya.
"Lo... nggak ada gunanya datang ke sini... sebaiknya lo pulang..." Mitha juga tidak berkenan melihat ke arah pria itu. Di bayangan wanita itu, tadi Arsen memanggil Prita dengan sebutan Sayang. Tadi pria itu sedang membahas studi mereka di California. Mitha lagi-lagi mengingat itu, membuat kebenciannya kembali menguak.
"Sayang..." Arsen berusaha meraih tangan Selomitha.
"STOP! Stop bicara dan stop mendekat! Gue nggak lagi bercanda. Gue nggak kenal lagi lo siapa. Lo terlalu banyak menyimpan rahasia dan gue udah muak dengan sikap sok manis lo itu. Stay away from me, Arsen. Gue harap kita nggak usah ketemu dulu..."
Lutut Arsen lemas seketika. Mata memerah dan berkaca-kaca di hadapannya begitu ketara walaupun dia memakai lensa berwarna gelap. Suara gadis itu bergetar menahan tangis. Andai Arsen bisa memeluknya sekarang. Dia ingin mereka menangis bersama sekarang juga.
"Jangan, Mitha... gue nggak bisa hidup tanpa lo, Mit..." lagi-lagi Arsen bergerak ingin memeluk gadis itu. Dia pun sudah ingin menangis sekarang, tapi malu pada gadis cantik di hadapannya itu.
"Gue nggak peduli lagi, Sen," lagi-lagi Selomitha mundur dengan cepat. "Urus diri lo sendiri. Gue harap kita benar-benar saling tahu diri untuk tidak saling mengusik lagi..." tandas Mitha tegas sebelum dia berbalik pergi meninggalkan Arsen yang mematung. Kata-kata Mitha tadi seperti petir yang menyambar pria itu. Mitha sangat marah padanya, namun dia tidak menyangka gadis itu bisa mengeluarkan kata-kata menyakitkan seperti itu.
Namun Arsen mengabaikan perasaannya. Kakinya bergerak mengejar Selomitha sebelum gadis itu sampai di pintu rumah. Dia cepat-cepat menarik bahu Mitha dan memeluknya dari belakang.
"Gue hanya cinta sama lo, Mit. Please kasih gue kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Please. Gue butuh lo dalam hidup gue. Gue nggak bisa seperti yang lo minta barusan untuk nggak saling mengusik. Lo pegangan hidup gue, Mit..." ujarnya dengan suara putus asa. Dipeluknya Mitha dengan erat, karena sejak tadi siang itulah yang ingin sekali dia lakukan. Dia tidak ingin Mitha pergi dari hidupnya. Tidak. Jangan sampai.
Sementara itu, Mitha berusaha melepaskan dirinya dari Arsen. Sekuat hati dia mencoba untuk tidak menangis agar tidak terlihat lemah di depan Arsen. Dia harus kuat. Dia sudah memutuskan tidak akan kembali pada pria itu. Semuanya terlalu menyakitkan jika diingat terus menerus.
"Itu urusan lo. Lepas Arsen!!!!"
"Mitha, please..." Arsen semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Demi Tuhan, dia sangat lemah sekarang. Ketakutan akan ditinggalkan Selomitha menghantuinya dan itu menakutkan.
"Sen... kita cuma sahabatan. Jangan kayak gini bisa? Gue bisa salah paham..."
Arsen terisak. Dia sadar kata-katanya sudah melukai perasaan Mitha. Mana ada sahabat yang sudah berbuat jauh seperti mereka. Mitha pasti marah mendengar kata-katanya tadi.
"Gue punya alasan Mit. Gue nggak ada perasaan sa_"
"Stop!! Gue nggak mau dengar! Lepasin nggak??!!! Atau gue panggilin satpam!!" Mitha sama sekali tidak sudi mendengar apa pun itu. Dia sangat membenci Arsen sekarang.
Mitha sampai menggigit tangan Arsen supaya melepasnya, tapi pria itu tidak terpengaruh. Melonggar pun tidak.
"Lepasin atau gue benci sama lo, Sen..."
"Bukannya udah benci? Ini bukan Mitha yang gue kenal."
"Gue juga udah nggak kenal lo. Udah please... jangan menyakiti gue lagi."
Arsen teramat sedih. Selomitha benar-benar tidak ingin memberinya kesempatan. Padahal dia ingin menceritakan semua tentang dirinya dan Prita. Tidak seperti yang Mitha bayangkan. Dia juga kesulitan di sini. Dia ingin Mitha ada untuk menguatkannya.
Namun Arsen melihat Mitha benar-benar tertekan. Hatinya sudah terlanjur sangat sakit sekarang. Arsen mau tidak mau harus melepasnya. Tapi sebelum dia melonggarkan pelukannya, dia mencium puncak kepala gadis itu dalam-dalam. Mencurahkan segala kegundahannya dalam bentuk kecupan yang lama. Berharap Mitha bisa merasakannya dan mau menoleh padanya. Tapi... tentu saja nihil.
Saat dekapan Arsen melonggar sedikit saja, Mitha langsung melepaskan diri dan berlari tanpa mempedulikan pria itu lagi. Dadanya sudah penuh dan air matanya sudah meminta untuk dikeluarkan dari peraduannya. Saat berjalan ke kamarnya dia terisak tanpa henti. Hatinya sakit memperlakukan Arsen seperti itu. Dia tidak tahan mendengar pria itu menangis dan memohon-mohon padanya.
"Maafin gue, Sen. Gue nggak bisa terus-terusan kayak gini. Gue mencintai lo tapi lo nggak cinta sama gue. Lo pembohong. Gue nggak bisa percaya sama lo lagi..." jeritnya di dalam hati sambil meraung-raung di dalam bantal.
Di luar sana Arsen duduk di lantai, bersandar pada tembok, terisak sambil menutupi wajahnya dengan satu tangan. Pundaknya naik turun tidak kuasa lagi menahan sakit di dalam dadanya. Sakit sekali saat wanita yang dirasanya bisa menjadi pegangannya justru melepaskan diri darinya. Arsen tidak sanggup membayangkan hari esok jika Mitha tidak berkenan bertemu dengannya. Arsen menangis dalam diam. Ah malu sekali. Andai saja ada yang melihatnya pasti dia sudah ditertawakan.
"Arsen..." suara seseorang mengejutkannya. Desty dan Grasian datang dari arah parkiran. Sejak kapan mereka sampai? Arsen spontan berdiri dan membersihkan wajahnya.
"Malam Om, Tante..." sapanya sambil memaksakan senyum.
"Malam, Nak..." Desty menatap anak muda itu dengan penuh iba. Mitha pasti mengabaikannya. Dan lihatlah air matanya ini. Mereka sama-sama sedang kesakitan sekarang. Lebih tepatnya saling menyakiti.
"Kamu pulang dulu ya? Istirahat. Mungkin besok dia sudah bisa diajak bicara..." Desty mengelus punggung Arsen untuk menghibur anak laki-laki tersebut.
"Iya Tante. Titip salam saya ya, Tan..." Arsen tidak bingung lagi mengapa wanita itu tahu kalau dia sedang menunggu putri mereka. Mungkin dia sudah mendengar cerita lengkapnya dari Mitha.
Desty mengangguk dan merangkulnya sebentar. Desty jadi mengingat sewaktu dia dan Grasian pernah berpisah karena salah paham. Sakit sekali rasanya. Arsen dan Selomitha juga sedang mengalaminya sekarang.
"Arsen... Om hanya berpesan... apapun nanti keputusan Mitha, tolong kamu hargai ya, Nak. Kalian masih sangat muda. Masih banyak waktu untuk membenahi diri. Kalau jodoh, pasti akan bersatu," Grasian pun tidak mau ketinggalan memberikan wejangan. Dia paham perasaan sentimental anak muda jaman sekarang. Masih sangat labil. Dia tidak ingin Arsen tenggelam dalam sentimental yang tidak penting begitu. Dia harus ingat bahwa dia seorang pria.
"Iya Om. Siap," Arsen menjawab dengan pasti. Setidaknya kedua orangtua Mitha ada dalam posisi netral. Tidak memojokkannya dan tidak terlalu melindungi putri mereka.
Arsen masih punya harapan.
*****
Jangan lupa feedback-nya ya guyss.
Like, comment dan vote-nya ditunggu 😘😘
Casing bawaan ,🤭
lagian km gtu si sen...sukanya phpin anak orang🤭
visual selomitha cocok sama karater di novel.
aku ngikutin jg dr sarah demian,, crish amber, chalondra dominic, brandon, selomitha arsen. tngl baca yg arsy.
tp krn tll mendalami peran mereka kok ikut geli ya
dl aja nyuruh delia nyurangin.
bener jata mama sarah, arsen emg bege