Indira Necelia Mahatma seorang gadis yang baik, periang dan pemberani yang bisa meluluhkan hati Andris sang ketua dan pendiri gangster Hellboy. Gangster Hellboy yang suka bertarung dan balap dengan geng lainnya termasuk dengan Logitacht yang notebenya dalah musuh terbesarnya.
Andris Matteo ketua gangster Hellboy yang disegani dan ditakuti. Dia adalah lelaki tampan yang digilai para siswi disekolah. Andris yang susah didekati dan susah meluluhkan hatinya kini menjadi kekasih Indira yang lembut terhadapnya saja.
Apa yang terjadi dalam cerita cinta mereka nantinya?
Ketika rahasia yang menyakitkan akan terungkap berlahan dan akan mengores sedikit demi sedikit hati keduanya. Tetapkah mereka akan bersama atau malah memutuskan cerita cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuangTilyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dedaunan
Kelas XI IPA-1 yang biasanya hening dan damai saat jam pelajaran terakhir sekarang menjadi ribut karena guru mata pelajaran biologi berhalangan hadir karena ada tugas diluar kota. Biarpun dikata unggul tetap saja kalau ada jam kosong pasti akan ribut juga menikmati kelas yang tidak belajar.
Karena kejadian dikantin membuat Indira juga menjadi bahan perbincangan dikelasnya karena penasaran atas gossip beredar kalau Indira berangkat sekolah bersama Delvin dan pulang bersama Andris. Entah gossip darimana tersebar membuat Indira menjadi topik disekolah bahkan dikelasnya. Meja Indira yang dulu jarang disamperin kini menjadi menjadi tempat kumpulan. Sampai-sampai ketua kelas hanya diam dibangkunya tanpa mengusik kegiatan mereka.
“Indira gossip itu benaran ya kau pergi dan pulang bersama senior popular itu?” Pertanyaan itu yang selalu didengar Indira sampai kupingnya panas.
“Indira benar juga ya kau berani melawan geng pinkgirl apalagi Dela itu sampai dia malu?” Pertanyaan yang kini menjadi bahan gossip kedua.
“Bagus juga Ra kau lawan geng cabai-cabai itu, nggak ada bagusnya.” Kata salah satu siswi yang tidak suka keberadaan geng pinkgirl.
Rasanya Indira mau keluar dari kelasnya sekarang juga bahkan Tyas sahabatnya kewalahan menghadapi berbagai pertanyaan dari teman-temannya yang kepo maksimal. Indira bingung harus berbuat apa sekarang, apakah harus diam atau menjawab.
“Indira ikut aku keluar.” Kata Juna mengeluarkan Indira dari kumpulan-kumpulan cewek-cewek itu.
“Ha, Kemana Jun?” Indira bingung dengan ajakan Juna.
“Keruang guru, tadikan disuruh sama pak dedi keruangnya.” Juna mengedipkan matanya.
Seakan tahu kode dari Juna. “Aku lupa Jun. Aku keluar dulu ya.” Permisi Indira pada teman-temannya.
Juna jalan duluan keluar kelas dan diikuti Indira dari belakang. Sampai perbelokan mau keruang guru Indira menghentikan langkahnya. “Juna, kita benaran mau keruang guru?” Tanya Indira.
Juna menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Indira.
“Tidak Ra, aku hanya mau selamatkan kau dari kerumunan tadi. Kulihat tadi kau seperti mati dalam tempat, hahaha.” Juna tertawa dengan candanya.
Untuk kali ini Indira bisa selamat dari pertanyaan – pertanyaan yang mencekik tadi.
“Kau ngerti juga Jun, emang kau ketua kelas pengertian deh.” Kata Indira.
“Iya dong makannya aku bisa jadi ketua teladan dan bertahan dari kelas satu.” Bangga Juna yang dari kelas satu sampai kelas dua bertahan menjadi ketua kelas.
“Iyalah yang menyombongankan diri itu yang bentar lagi menjadi ketua osis” Ucap Indira tersenyum.
“Masih calon Ra. Kita keperpustakan atau kekantin nanti dilihat guru pula.” Tanya Juna yang takut terlihat guru.
“Kau kekelas saja Jun nanti kelas makin ricuh nggak ada ketua kelas, kau kan tahu wakilmu juga termaksud ribut hehehe.” Ingat Indira yang tahu perilaku wakil ketua kelas.
“Tapi kau Ra gimana?” Tanya Juna yang sebenarnya ingin bersama Indira.
“Tenang saja, aku bisa sendiri kok. Kalau mau bel pulang aku kekelas. Sudah sana pergi.” Usir Indira.
“Ok, kalau ada apa-apa hubungi aku saja iya. Aku kelas dulu.” Juna melangkahkan kakinya meninggalkan Indira.
“Juna” Kata Indira yang menghentikan langkah Juna. “Iya Ra?” Tanya Juna membalikkan badan.
“Makasi ya.” Kata Indira dengan senyum tulusnya.
Juna yang mendengar dan melihat senyum tulus Indira hanya membalas anggukan sambil tersenyum. Juna senang melihat Indira bisa tersenyum seperti itu, dirinya tidak tahu kenapa bisa seperti itu yang penting dia ingin selalu bisa menolongnya.
Indira menyusuri lorong sekolah yang sepi pada pelajaran terakhir hanya terlihat lapangan yang dihuni kelas yang memiliki jam olahraga. Indira bersandung kecil sambil mengerakkan kaki yang berjalan. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang familiar baginya, tanpa memperdulikan sosok itu dia hanya berjalan santai.
Indira terkejut ada yang memegang bahunya dari belakang. Indira takut kalau itu guru atau BP yang bertuga dan Indira menoleh kebelakang tepat kearah sosok tadi dan betapa terkejutnya dia.
Indira membulatkan matanya “Kau!! Ngapain pegang-pegang bahuku segala.”
“Ya.” Ucap Andris melepaskan tangannya dari bahu Indira.
Ya orang yang mengejutkan tadi ada Andris. Entah darimana sosok Andris datang padahal yang jam olahraga dilapangan kelas Delvin bukan kelas Andris.
“Kenapa harus ketemu kau dimana-mana. Lagian ku kira Delvin yang jam olahraga, lah yang ku temui orang lain.” Ucap Indira mendengus kesal.
“Garis takdir.” Ucap Andris.
“Takdir sama kau? Jangan sampai deh yang bisa ketenangan hidup aku teganggu.” Tolak Indira amit-amit.
“Terkadang penolakan dari mulut berbanding terbalik dalam hati.” Sahut Andris enteng.
“Tumben itu mulut bisa ngeluari kata lebih dari dua. Ternyata ada kamajuan.” Kata Indira. “Eh tunggu dulu, kau ngapain disini bolos ya?” Tanya Indira menatap curiga.
“Iya. Hayo ikut aku.” Ajak Andris sambil menarik tangan Indira.
Indira yang melihat tangannya ditarik, menarik kembali tangannya untuk menolak.
“Jangan main narik tanganku, sakit. Lagian mau kemana, ini masih jam pelajaran aku nggak mau bolos.” Tolak Indira masih berdiri ditempatnya.
“Kau juga bolos. Buktinya keluar dari kelas.” Andris memancing Indira.
“Beda kali, aku bukan bolos tapi keluar kelas karena banyak… Intinya kelas lagi nggak ada guru dan aku sudah izin sama ketua kelas.” Indira membela dirinya.
Andris menghela napas pelan, “Ikut aku.”
“Kemana dulu?” Tanya Indira lagi.
“Bersihkan toilet lagi.” Jawab asal Andris.
“Ogah banget ikut kau bersihkan toilet lagi. Ogah.” Tolak Indira yang masih ingat capeknya membersihkan toilet.
“Yaudah kalau nggak mau ikut disitu saja biar dilihat guru.” Kata Andris meninggalkan Indira.
Mendengar kata guru Indira takut dan ikut kemana Andris pergi. Entah itu benar atau nggak yang dipikiran Indira sekarang jangan sampai dia tertangkap guru sedang berkeliaran pas pelajaran masih berjalan.
Andris ternyata membawanya kebelakang sekolah tepat dibelakang gudang terdapat pohon sangat besar yang tersedia bangku panjang. Indira baru menyadari ada pohon besar sekaligus bangku disini, dikira hanya terdapat pohon ditaman belakang saja.
Indira langsung duduk dibangku panjang menghirup udara yang sedang menari-nari bersama dedaunan yang berjatuhan dari pohon. Indira sangat suka dengan suasana dedaunan yang berjatuhan. Andris yang melihat Indira hanya tersenyum kecil sambil duduk disampingnya.
“Kenapa ngikuti?” Tanya Andris memulai percakapan.
“Takut ada guru tadi.” Jawab Indira sambil melihat keatas.
“Suka?” Tanya Andris lagi.
“Iya, aku suka dengan dedaunan yang berjatuhan. Apalagi menari-nari diudara, aku seperti merasakan betapa bahagianya dedaunan itu.” Ucap Indira masih melihat keatas.
“Dedaunan bahagia tapi tidak dengan pohon.” Kata Andris mengikuti Indira melihat keatas.
“Kau salah, tanpa izin pohon daun tidak akan pergi begitu saja. Daun yang jatuh akan diganti dengan daun yang baru, karena daun berjanji akan selalu ada buat pohon sampai pohon itu menua.” Ucap Indira melirik Andris yang menatap keatas.
- - -
Bagi pembaca yang baik hati tolong beri dukungan buat author ☺️☺️ dengan cara :
saran/komen
Like
Vote
Favorit
Vote
Bintang Lima/rate lima...
Terimakasih, Salam hangat dari The Gengster Boy❣️❣️.
next kk semngt💪💪
Next kk,,,semangat kk buat nulisnya