Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Amukan Harimau Putih dan Kekaguman Sang Pendekar Cantik
"Siapa kau?!" bentak dari pemimpin orang bertopeng emas memecah keheningan yang mencekam di halaman Perguruan Mawar Putih.
Ketakutan merayap di antara gerombolan penyerbu, terlihat dari langkah mundur mereka yang ragu.
Arya Wiguna berdiri tegap di tengah puing-puing gerbang yang hancur, jubahnya berkibar samar, auranya memancar kuat dan menekan.
Pedang yang bilahnya telah Arya patahkan masih tergenggam di tangan pemimpin bertopeng emas itu, sebagai bukti nyata kekuatan Arya yang di luar nalar.
Anggun Sari, yang masih berlutut dengan paha terluka, menatap Arya dengan mata membelalak.
Anggun Sari ingat bagaimana pemuda ini kalah tak berdaya oleh jurusnya di tepi sungai, terbalik dengan apa yang ia lihat sekarang:
Sosok tenang namun penuh kekuatan, mematahkan pedang baja dengan tangan kosong, ada rasa malu dan kebingungan membanjiri dirinya.
"Aku adalah Arya Wiguna," ulang Arya, suaranya kini lebih keras, menggelegar di seluruh halaman, " Aku datang untuk menghentikan kejahatan kalian. Perguruan Mawar Putih ini ada di bawah perlindunganku!"
Mendengar itu, pemimpin orang bertopeng emas itu menggeram marah, berusaha menepis ketakutannya.
"Omong kosong! Jangan berlagak pahlawan, bocah! Kami adalah Orang-orang Topeng Emas! Tidak ada yang bisa menghentikan kami!" bentak laki-laki yang seperti nya pemimpin kelompok itu menunjuk ke arah anak buahnya.
"Hajar dia! Jangan pedulikan kekebalannya! Kita kepung dia dan habisi bersama-sama!" perintah laki-laki itu.
Puluhan orang bertopeng emas itu kembali menyerang, kali ini dengan koordinasi yang lebih baik. Mereka melancarkan serangan serentak dari segala arah, senjata mereka berkilat-kilat di bawah sinar matahari pagi.
Ada yang mengayunkan pedang, golok, bahkan rantai berujung pemberat. Mereka tidak tahu Arya kebal, jadi mereka mengincar titik lemah, mencoba menjatuhkannya dengan tekanan jumlah.
Arya tidak gentar, pemuda itu bahkan tidak mengeluarkan Pusaka Harimau Putihnya.
Arya Wiguna memejamkan mata sesaat, memusatkan tenaga gajah purba dan menggunakan Ilmu Harimau Seribu hingga batas maksimalnya. Ketika Arya Wiguna membuka mata, tubuhnya seolah lenyap dari pandangan.
SRAAAK! WUSHHH!
Arya bergerak cepat. Arya Wiguna bukan lagi manusia biasa, melainkan seperti bayangan harimau yang tak terlihat, menari di antara hujan serangan.
Pukulan dan tebasan para penyerang meleset begitu saja, mengenai udara kosong. Mereka saling bertabrakan, saling melukai, karena Arya terlalu cepat dan mereka tidak bisa mengenainya..
BUAGH! DBRAK! KRETAK!
Setiap kali Arya memukul seorang penyerang, hasilnya selalu fatal, namun tak membunuh.
Pendekar muda itu melancarkan pukulan, tendangan, dan cengkeraman dengan ketepatan luar biasa.
Sebuah pukulan tangan kosongnya yang diperkuat tenaga gajah purba menghantam dada seorang penyerang, merobek baju dan membuatnya terlempar jauh, tak sadarkan diri dengan tulang rusuk remuk.
Tendangan memutar ke arah lutut membuat perampok lain ambruk dengan tempurung lutut yang hancur. Sebuah cengkeraman ke bahu meremukkan sendi, membuat lengan terkulai lemas.
"Dia... dia bukan manusia!" teriak salah satu orang bertopeng emas, panik, "Kita tidak bisa mengenainya! Kekuatannya tak terbatas!"
Arya Wiguna tidak memberi mereka kesempatan. Pemuda itu adalah amukan harimau putih yang tak terhentikan.
Arya Wiguna bergerak begitu cepat sehingga Anggun Sari dan murid-murid Perguruan Mawar Putih hanya bisa terbelalak menyaksikan.
Mereka melihat kilatan jubah putih Arya, mendengar suara benturan tubuh, dan kemudian melihat musuh-musuh mereka terlempar bagai boneka kain dan berserakan di tanah.
"Mustahil!" bisik Anggun Sari, rasa sakit di pahanya terlupakan digantikan oleh kekaguman dan keterkejutan.
"Dia... dia jauh lebih kuat dariku!" ucap Anggun Sari terbata.
Pemimpin orang bertopeng emas, melihat anak buahnya dihajar habis-habisan dengan mudah, mulai terlihat panik. Pemimpin kelompok itu berteriak memerintahkan mundur, namun sudah terlambat. Arya sudah melesat ke arahnya.
"Kau pikir topeng emas ini bisa menyembunyikan kejahatanmu?" kata Arya dingin, dengan sebuah gerakan kilat, ia mencengkeram topeng emas pemimpin itu.
KRTAK!
Topeng itu hancur dalam genggaman murid Datuk Panglima Hijau tersebut, memperlihatkan wajah yang penuh ketakutan dan bekas luka lama.
Arya kemudian melancarkan satu pukulan terakhir yang didukung tenaga gajah purba ke ulu hati pemimpin itu.
DUG!
"AAA!!!"
Pemimpin rombongan itu menjerit, tubuhnya terlempar tinggi, dan jatuh ke tanah dengan suara keras, pingsan seketika setelah muntah darah.
Pertarungan berakhir. Dalam waktu yang sangat singkat, seluruh gerombolan orang bertopeng emas telah dilumpuhkan.
Mereka tergeletak tak berdaya di halaman, beberapa meringis kesakitan, yang lain sudah pingsan.
Arya berdiri di tengah-tengah mereka, jubahnya sama sekali tidak ternoda, napasnya teratur, ia seolah baru saja melakukan latihan ringan.
Anggun Sari dan murid-murid Perguruan Mawar Putih menatapnya dengan mulut ternganga.
Mereka tidak pernah menyaksikan kekuatan seperti ini. Kekuatan yang begitu dahsyat, namun digunakan dengan pengendalian diri yang luar biasa, tidak membunuh, hanya melumpuhkan.
Anggun Sari merasakan gelombang rasa malu dan bersalah yang luar biasa. gadis itu teringat bagaimana ia menghajar Arya habis-habisan di sungai, memaki-makinya sebagai pengintip dan lelaki hidung belang.
Rupanya Arya... Arya hanya pura-pura kalah, ia tidak membalas sama sekali. Pemuda ini dengan mudah bisa membunuhnya saat itu juga.
Perlahan, Anggun Sari bangkit berdiri, menahan rasa sakit di pahanya. gadis cantik berpakaian serba hijau muda itu melangkah mendekati Arya, wajahnya menunduk, tidak berani menatap mata Arya Wiguna.
"Tuan Arya," suara Anggun Sari lemah nyaris tak terdengar, "Aku... aku minta maaf. Aku... aku tidak tahu siapa kau."
Anggun Sari mengangkat kepalanya sedikit, mata indahnya kini dipenuhi penyesalan,"Aku sungguh telah lancang menuduhmu, dan... dan bahkan menghajarmu sampai tak berdaya di sungai. Aku... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyangka bahwa... bahwa kau tidak mengadakan perlawanan," ucap Anggun Sari terbata-bata.
Arya menatap Anggun Sari, senyum tipis terukir di bibirnya. Arya Wiguna melihat ketulusan dalam permintaan maaf Anggun Sari.
"Tidak apa-apa, itu bisa saja terjadi. Tapi yang membuat ku sedih adalah..., itu terjadi saat aku kelaparan, " kata Arya pura-pura merajuk.
"Aku mengerti. Wajar jika kau salah paham. Lagi pula, aku memang sengaja tidak menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya saat itu. Aku hanya ingin menghindari pertengkaran dan melihat situasi perguruan ini lebih dulu," lanjut Arya tegar.
Anggun Sari semakin merasa bersalah. Gadis cantik itu menyadari betapa bodoh dirinya, dan betapa sabarnya Arya Wiguna.
"Tapi... mengapa kau tidak membalas? Mengapa kau membiarkan dirimu dihajar olehku?" tanya Anggun Sari penuh keingin tahuan.
"Karena aku tahu kalian bukan orang jahat," jawab Arya tulus, "Aku juga ingin menguji apakah Perguruan Mawar Putih ini masih memiliki pendekar yang berhati bersih dan setia pada kebenaran," lanjut Arya lagi.
Nyi Delima, yang kini telah keluar dari aula dan menyaksikan seluruh pertarungan, mendekati Arya dengan wajah pucat namun mata penuh syukur.
"Nak Arya," ucap Nyi Delima, suaranya lemah, "Terima kasih banyak. Kau telah menyelamatkan perguruan kami. Kau... kau adalah murid Panglima Hijau, bukan?"
Arya mengangguk hormat. "Benar, Ketua. Saya Arya Wiguna, murid kakek Panglima Hijau."
Nyi Delima menghela napas lega, "Aku tahu kekuatan ini! Hanya kakandaku Panglima Hijau yang bisa memiliki murid dengan kekuatan seperti ini. Berarti kakakku Panglima Hijau mengirimkanmu untuk membantuku..?" tanyanya.
"Ya, Ketua. Kakek Panglima Hijau mengirimku untuk membantu mengakhiri teror penculik gadis ini, dan juga untuk membantumu menyembuhkan penyakitmu," jelas Arya.
Para murid Perguruan Mawar Putih yang tadinya ketakutan kini mulai berbisik-bisik, menatap Arya dengan tatapan penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam.
Mereka telah menyaksikan sendiri kedikjayaan Arya. Cerita tentang seorang pemuda tak di kenal yang dihajar Anggun Sari di sungai tapi kemudian mengalahkan gerombolan Topeng Emas sendirian menyebar seperti api di seluruh perguruan.
Arya Wiguna dengan cepat menjadi buah bibir di kalangan murid-murid Perguruan Mawar Putih.
Anggun Sari, setelah mendengar penjelasan Arya dan menyadari kebenaran di balik semua itu, kini merasa sangat malu sekaligus kagum.
Anggun Sari melihat Arya bukan lagi sebagai pengintip tak tahu malu, melainkan sebagai pendekar sejati, pahlawan, yang jauh lebih hebat dari siapa pun yang pernah ia temui.
Beberapa kali saat Arya berbicara dengan Nyi Delima, Anggun Sari terlihat melirik malu-malu ke arah Arya Wiguna.
Senyum tipis yang mempesona itu, tatapan mata yang tenang namun penuh wibawa, dan kekuatannya yang luar biasa, semua itu mulai menumbuhkan benih-benih perasaan yang tak ia duga di hatinya.
"Kami akan mengurus para penjahat ini, Nak Arya," ucap Nyi Delima, "Kami sangat berterima kasih atas bantuanmu."
Bersambung...
makin seru kisahnya