Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Makan Malam
"Mah keluarin Dila dari sini... Dila janji nggak akan bilang sama Papah."
Adila menggedor-gedor pintu kamar gudang yang pengap dan juga gelap.
"Mamah tidak mau, kamu pasti bohong." Ucapnya dengan geram.
"Enggak Mah Dila janji."
"Kalau kamu bilang, Dira yang akan jadi taruhannya."
"Iya Mah... Dila janji, tolong buka pintunya. Dila takut disini."
Tidak ada jawaban lagi dari Mamahnya, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Mah cepat buka pintunya...!" Teriak Adila lagi karena Mamahnya belum juga membuka pintu.
"Tidak, Mamah tidak akan buka walau kamu sudah berjanji. Malam ini kamu tidur disana sebagai hukuman karena kamu sudah berani masuk kedalam kamar dan melihat semuanya." Ucap Mamahnya dengan meninggalkan suara sepatu yang berjalan semakin jauh.
"Ma... Mama.... buka pintunya, jangan pergi.. Maaaaa...." Teriak Adila seraya menangis histeris.
******
"Adila.... Adila...."
Aditya yang tadi sedang meneliti laporan keuangan, bergegas menghampiri Adila yang mengingau sangat keras dengan memanggil-manggil nama Mama.
"Dila kamu mimpi buruk, bangunlah!" Aditya menepuk-nepuk pipi Adila yang belum juga terbangun.
"Ma... Mama buka...." Adila kembali mengigau.
"Adila bangunlah....!" Seru Aditya yang semakin cemas karena Adila semakin bergerak gelisah.
"Mamaaaa...." Seketika Adila bangun dengan langsung memeluk Aditya yang ada didepannya.
"Pah jangan tinggalin Dila...."
Adila yang belum benar-benar sadar memeluk Aditya dengan sangat kuat. Mimpi buruk itu membawanya kembali ke masa lalu, dimana Adila yang masih kecil dan juga rapuh ketakutan dengan sikap kasar Mamanya.
Aditya terpaku, merasakan ketakutan yang begitu hebat pada tubuh Adila yang bergetar.
"Adila tenanglah, kamu hanya mimpi buruk."
Mendengar suara yang bukan milik Papanya, Adila terhenyak, pelukannya melonggar, tangisannya pun mereda. Sadar kini ia sudah kembali kedalam dunia nyata.
Adila melihat pemandangan yang ada didepannya, ini bukan di lift yang gelap tadi, melainkan sebuah ruangan yang baru pertama ini dia lihat, bukan kamarnya bukan juga kamar Rumah Sakit.
Adila melepas tangan dan mengurai pelukan yang melingkar di badan kekar seseorang. Perlahan melihat wajah yang sudah dengan lancangnya dia peluk.
"Pak Aditya...," Adila beringsut menjauh,".... Maaf aku..."
Aditya mengambil segelas air," Minumlah..!" Seraya menyodorkan gelas itu kepada Adila.
Perlahan Adila menerima gelas itu dan meminumnya sedikit.
"Maaf, aku dimana.... kenapa aku bisa ada disini?"
Aditya mengeluarkan sapu tangan, memberikannya kepada Adila agar ia menyeka wajahnya yang basah karena keringat.
"Kamu masih di kantor saya dan ini ruangan pribadi saya. Tadi kamu pingsan di lift."
Adila terperangah, mengumpulkan ingatan yang bertebaran dimana-mana, memungutnya satu persatu.
"Kalau kamu mau istirahat, kamu bia gunakan kamar ini. Saya harus melanjutkan pekerjaan saya kembali." Ucap Aditya tanpa melihat Adila sedikitpun.
"Ah tidak, aku sudah tidak apa-apa. Aku akan pulang sekarang, terima kasih sebelumnya."
Adila menjatuhkan kaki ke lantai, beranjak bangun dan mendahului Aditya untuk keluar dari kamar ini.
"Tunggu."
Adila yang baru saja sampai di ambang pintu, seketika menghentikan langkahnya dan berbalik.
Aditya berjalan mendekatinya dengan sorotan mata yang menyiratkan beribu pertanyaan. Deru jantung Adila semakin bergejolak tatkala Aditya sudah berdiri tepat didepannya.
Mata Adila terpejam erat saat tiba-tiba Aditya mendekatkan wajahnya.
"Kamu tunggu disini, saya akan memberi tahu adik kembarmu, kalau kamu sudah sadar." Bisiknya ditelinga Adila.
Huuuh... Adila menghembuskan nafasnya bulat-bulat setelah Aditya melengang pergi meninggalkannya.
Kirain dia mau... mesum banget sih gue. Adila menonjor kepalanya sendiri.
Dengan langkah pelan, Adila berjalan melewati meja Aditya menuju sofa yang berbentuk melingkar. Dengan canggung ia duduk disana dengan memperhatikan seluruh sudut ruangan yang didesain sangat nyaman.
Dan saat melihat meja Aditya, pandangannya enggan kembali berpaling. Adila bertopang dagu, tanpa sadar ia memperhatikan semua gerakan yang Aditya lakukan. Keningnya yang tiba-tiba berkerut, bibirnya yang kadang dibuat mengatup, matanya yang kadang dibuat menyipit dan jari jemari yang dengan cekatan menggerakan pena hingga berbentuk sebuah lingkaran.
Pikirannya kembali melanglang buana. Bibir itu, mata itu, tangan itu dan tubuh itu, semuanya pernah bergumul dan merajalela disetiap inci tubuhnya. Ya Tuhan....
"Eheem..."
Suara Aditya membuyarkan semua lamunannya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Adila gelagapan, tapi untungnya suara ketukan di pintu tidak mengharuskan Adila menjawab pertanyaan Aditya.
"Masuk....!"
"Permisi Pak, maaf menganggu."
"Dira...." Seru Adila yang begitu bahagia karena kedatangan Adira menjadi dewi penolong saat ini.
"Kamu udah nggak papa kan?" Ucap Adira yang berjalan mendekatinya.
"Gue baik-baik aja, yuk kita balik?"
"Yuk." Jawabnya sambil membantu Adila untuk berdiri.
"Pak Aditya kalau begitu kami permisi, sekali lagi terima kasih atas semua pertolongan Bapak." Ucap Adira dengan sedikit membungkukan badannya.
"Sama-sama."
Sampai di ambang pintu. Adila tak kuasa menahan matanya yang ingin menoleh, melihat Aditya. Dan tanpa diduga mata Aditya pun tengah mengiringi kepergiannya. Namun buru-buru ia menekuri kembali filenya diatas meja setelah pandangan mereka kembali beradu.
Tersenyum, Adila melangkahkan kaki keluar dari ruangan Aditya.
*******
"Kamu yakin udah baikan Dil?" Tanya Adira yang jika dihitung sudah sepuluh kali dia bertanya itu dan itu lagi.
"Aduh lu tuh nggak percayaan banget sih."
"Ih aku tuh khawatir banget tahu."
"Emang lu nggak sadar kita nyampe rumah gue yang nyetir. Itu buktinya gue udah fine-fine aja."
Adira berdecak," Ish kamu ini."
Adira dan Adila yang baru saja masuk kedalam rumah, menghentikan langkah saat Dona memanggil mereka untuk bergabung bersamanya di ruang tamu.
"Dila... Dira...ayo kesini..!"
Dengan malas Adila mengikuti langkah Adira yang berjalan mendahuluinya.
Seorang wanita cantik yang asing untuk mereka, duduk dengan anggun ditemani Dona dan juga Dimitri.
"Kenalin ini keponakan Mami yang baru datang dari Singapura tiga hari yang lalu, namanya Moza.... Moza ini seorang arsitek terkenal loh disana, iya kan sayang?"
"Ah Tante bisa aja."
Moza bangun dari duduknya, mengulurkan tangan kepada Adira dan Adila.
"Moza..."
"Adira..."
"Adila..."
"Katanya kalian kembar ya?"
"Iya Mbak Moza." Jawab Adira yang memanggil nama Moza dengan tambahan Mbak karena sepertinya Moza lebih tua dibanding mereka berdua.
"Kembar tapi beda ya?"
"Iya Mbak." Ucap Adira yang masih menjawab dengan kata-kata yang sama.
"Kalian harus ikut ya nanti malam, kita akan makan malam bersama diluar."
"Kayaknya kita nggak bisa ikut, maaf...kita lagi banyak kerjaan, iya nggak Dir?" Ujar Adila yang menyela perkataan Adira yang pastinya akan menjawab Iya, tak pernah bisa menolak.
"Ah iya Mbak, maaf."
"Yah nggak seru dong... padahal aku mau kenalin kalian sama temen deket aku. Aku pengen dia mengenal keluarga Tante Dona dan Om Dimitri yang sudah seperti orang tua kandung aku sendiri." Jawabnya dengan mengiba.
"Emmm sayang... kamu buat Tante terharu mendengarnya." Ucap Dona sambil berdiri merangkul Moza.
Dimitri yang sedari tadi diam, ikut bicara," Ya sudah bagaimana kalau makan malamnya dirumah saja, biar Dila Dan Dira bisa tetap ikut." Sarannya sambil melihat Moza dan Dona.
"Ah ide yang bagus tuh Om... makanannya aku order dari Restoran saja, biar Tante nggak perlu capek buat masak."
"Tante setuju."
Adila memutar bola matanya, sejak kapan si Mak lampir suka masak...ngarang.
"Kalau begitu kita ke kamar dulu, mau istirahat." Ucap Adila yang tak ingin lama berbasa basi dengan keponakan kesayangan Mami tirinya itu.
"Permisi Mbak." Tambah Adira.
"Iya...jangan lupa dandan yang cantik ya!" Seru Moza karena Adila dan Adira sudah pergi menjauh darinya.
Sampai di pintu kamar, Adila menarik tangan Adira agar ikut masuk kedalam kamarnya.
"Lu pernah liat sebelumnya sama tuh orang?"
Adira menggeleng.
"Dari sekian lama Papah nikah sama si Mak Lampir, kok baru sekarang dia bawa tuh ponakannya kemari?"
Adira mengedikan bahu, tidak tahu.
"Kalau bener dia ponakannya, itu tandanya tuh cewek sifatnya bakalan sama kayak tuh Mak Lampir, penuh drama."
Adira mengerutkan keningnya.
"Jadi mulai sekarang kita harus ektra hati-hati, bener nggak?"
Adira menganggukan kepala, mengiyakan ucapan Adila.
Adila menepak keningnya," Lu lagi puasa ngomong.... kesel gue, berasa ngomong sama tembok.... mendingan gue ngomong sama si Momon kalau gini caranya."
Eh si Moly kemana, jangan-jangan dibawa sama Malaikat lagi...