[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22: Ini adalah Cinta
Hidup ini memiliki masalah dan ujian
Tapi itu misteri yang paling manis
Ketika kamu bersamaku
Kita mengucapkan seribu kata
Tetapi tidak ada orang lain yang mendengarkan
Aku akan
Setiap malam dan setiap hari
Tidak peduli apa yang akan terjadi pada kita
Kita ada di sini bersama
Gelap berubah menjadi terang
Kita berdua hidup, malam ini
Aku berbicara tentang selamanya
Tak pernah membiarkanmu pergi
Memberimu hati dan jiwaku
Aku akan ada di sini bersamamu seumur hidup
Oh Sayang, semua yang ingin kulakukan
Adalah menghabiskan setiap detik denganmu
Jadi lihatlah di mataku
Aku akan berada di sisimu
Badai mungkin datang
Dan angin bisa bertiup
Aku akan menjadi tempat tinggalmu selamanya
Cinta ini, cinta ini
Aku bersungguh-sungguh sampai hari aku mati
Haerin tersenyum membaca tulisan rapi yang dibuat sendiri oleh Lee Sun. Surat terakhir untuknya dari seseorang yang memiliki cinta yang sangat tulus.
Jenazah Lee Sun dikebumikan Sore tadi, tidak ada perayaan atau tabuhan gendang dalam pemakamanya. Karena ia meninggal dengan cap sebagai 'Pemberontak'. Semua orang terkejud pasalnya mereka tidak menyangka jika Lee Sun masih hidup. Kekacauan di istana telah dibereskan, keadaan kotor dan mayat mayat kini telah raib.
Dalam kekacauan itu, Seluruh keluarga Istana selamat. Jenderal Jung orang kepercayaan Hwan meregang nyawa bersama beberapa kasim dan banyak sekali dayang.
Ibu Suri agung tidak berhentinya menangis, ia sangat sedih karena terjadi Pertumpahan darah lagi di luar istana. Dulu, pada masa pemerintahan anaknya terjadi dan sekrang Saat cucu nya duduk di kursi kekaisaran juga terjadi pemberontakan.
Sampai kapankah orang orang jahat di dalam istana akan habis?
"Apakah tabib telah selesai mengobati Jeonha?" Tanya Haerin kepada dayang yang baru saja datang di kediamanya.
"Ye Mama"
"Lalu bagaimana Keadaanya?"
"Tabib berkata luka Jeonha Mama lumayan dalam dan saat ini Jeonha Mama tengah tertidur"
Haerin mengangguk lalu meletakan Surat dari Lee sun kembali ke atas Meja.
Begitu sampai disana Haerin sedikit heran karena tidak ada orang sama sekali yang menjenguk atau menjaga Hwan. Hanya ada dua orang pelayan yang menjaga Hwan. Kalau Ibu Suri Guangxin sudah di pastikan tidak akan menjeguk Hwan tetapi Ibu Suri Agung? Dan juga Naeri, mengapa Wanita itu tidak menjaga Hwan kemana perginya Wanita itu. Bukankah ia adalah yang paling dekat dengan Hwan.
"Apakah tidak ada yang kesini?" tanya Haerin kepada Pelayan.
"WangDaebbi Mama baru saja keluar sedangkan Yeonsan-gun dan Daesung-gun Tadi sudah datang "
"Apakah Ui Bin tidak datang?"
Kedua pelayan itu hanya menggeleng.
"Yasudah pergilah siapkan makanan Jeonha"
"Ye mama" Ucap kedua pelayan itu lalu langsung beranjak pergi.
Haerin beranjak mendudukan dirinya di pinggiran ranjang, tanganya mulai bergerak mengusap pelan surai rambut Sang Raja.
Kelopak mata itu perlahan terbuka membuat senyum Haerin mengembang. Mata itu terlihat sangat sayu. Lalu manik mata keduanya saling bertemu. Hwan melengkungkan senyum tipisnya. Entahlah, kali ini ia merasa hatinya sangat tenang.
"Saranghae Rin-Ah" Bisik Hwan Lirih.
Tes,
Entah karena apa air mata Haerin menetes. Hatinya bergetar saat pertama kali kalimat itu keluar dari bibir Hwan. Terdengar sangat tulus dan meluluhkan.
Sebenarnya sangat sulit bagi Haerin untuk membuka hatinya dan memaafkan Hwan mengingat betapa buruknya perlakuan Hwan kepadanya. Tamparan yang selalu menjadi pemerah pipi nya dan yang tidak akan pernah Haerin lupakan adalah kata kata tajam yang mampu mengoyak hatinya. Ucapan tajam itu hampir setiap hari Haerin dengar secara langsung.
"Apakah kau tidak bisa memaafkanku?"
Hening,
"Rin-ah"
Kali ini tangan Hwan mengenggam erat tangan Haerin.
"Aku akan memaafkan anda di saat nanti And mampu menghapus segala luka ini" ucapnya menunduk.
"Anda seharusnya bisa berpikir seberapa besar anda mampu melukai hati saya selama ini, berapa kalihkah anda menyakiti saya. Apakah anda tidak bisa mengira sebera besar sakit hati saya"
Hwan sadar jika selama ini ia bahkan hampir tidak pernah membahagiakan, menyakiti hati bahkan fisik wanita itu dulunya seakan menjadi kesenanganya. Dan mulai saat ini ia berjanji tidak akan sama sekali mengotes sedikit saj Hati Haerin. Ia akan menjaga Haerin melebihi ia menjaga sebuah berlian.
"Saranghae Rin-ah"
"Saranghamnida"
Akhirnya kalimat itu mendapat balasan yang memuaskan. Tidak bisa ia pungkiri jika di hati kecilnya menyimpat sebuah rasa, yang selalu orang sebut dengan nama cinta. Cinta itu bahakn sudah ada untuk Hwan sebelum lelaki itu mencintainya dan mungkin lebih besar dari Rasa cinta milik lelaki itu.
Perlahan Hwan berusaha untuk bangkit, didekatkanya wajahnya pada Haerin. Haerin yang sedikit terkejut reflek memejamkan matanya.
Chu...
Dengan perlahan benda kenyal itu saling menempel, Hwan semakin ******* bibir yang menurutnya sangat manis itu. Semakin tidak bisa menehan dirinya untuk menjadikan benda kenyal itu menjadi candu. Di tariknya mendekat tengkuk Haerin untuk memerdalam tautan bibir mereka. Dan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya hanya mereka dan tuhan yang tahu.