Daratan Xuanwu penuh dengan Pendekar hebat sepanjang sejarahnya, seorang pemuda lugu berna Ling Tian berhasil menjadi salah satu deretan Pendekar hebat yang melegenda selama seribu tahun namun tidak terduga Dewa iri kepadanya dan membuatnya jatuh ke dalam jurang keputus asaan selama lima ratus tahun. Dalam keputus asaan itu Ling Tian mendapat sebuah kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua penyesalannya, Ling Tian kembali dengan menentang takdirnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laghrima~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba Di Pasukan Bulan Terang
"Guru Bai, tolong selamatkan aku!"
Qin Mu berteriak keras setelah melihat Bai Duan yang baru saja menyelesaikan pertarungannya dan baru menyadari jika muridnya sudah tidak berada di lokasi yang sama.
Bai Duan langsung melesat ke arah Qin Mu dengan wajah sedikit panik, dia mengira jika muridnya itu telah di kejar oleh pembunuh yang sama. Namun, setelah tidak melihat serta merasakan aura membunuh apapun Bai Duan barulah merasa sedikit tenang.
"Bukankah sudah 'kukatakan jika jangan ikut bertarung jika tidak perlu?!" Bai Duan menyarungkan kembali pedangnya.
"Ukhh..." Qin Mu memegangi bagian perutnya dengan wajah kesakitan.
Menyadari hal itu, Bai Duan langsung memeriksanya dan mendapati luka sayatan di bagian perut kiri Qin Mu. Bai Duan dengan cepat mengalirkan tenaga dalamnya untuk menghentikan pendarahannya dan tidak jadi memarahi Qin Mu.
Untungnya luka sayatan itu tidak terlalu dalam sehingga Qin Mu tidak dalam bahaya, Bai Duan memeluk Qin Mu dengan erat seolah takut akan kehilangannya.
'Haha... Sepertinya aku terlalu berlebihan...' Batin Qin Mu setelah menyadari kemarahan Bai Duan karena dirinya terluka.
Bai Duan mengatur nafasnya sebelum pergi memangil Kakek beserta cucunya itu setelah memastikan tidak ada lagi pembunuh yang akan kembali.
Awalnya Bai Duan ingin pergi mengejar pembunuh itu tapi di hentikan oleh Qin Mu yang mengatakan jika mereka semua pasti sudah lari jauh dan kemungkinan tidak akan kembali lagi.
Tentu saja Qin Mu tidak mengatakan kebenarannya jika sebagian besar pembunuh itu telah tewas dan mayatnya telah di buang olehnya ke tempat hewan buas sering lewat.
Tanpa Bai Duan sadari, luka Qin Mu sudah perlahan menutup hingga hampir tidak meninggalkan bekas. Hal itu di kerenakan efek berkepanjangan dari banyaknya Ginseng Emas yang pernah di telan Qin Mu serta adanya dukungan dari qi di tubuhnya.
Meski demikian Qin Mu tetap membalutnya agar Bai Duan tidak heran serta menaruh curiga padanya, setidaknya dia akan tetap melakukan hal yang sama dalam tiga hari ke depannya.
☆☆☆
Di karenakan jalan setapak yang terhubung dengan kota kecil Ji An runtuh dan tidak bisa di lalui lagi, terpaksa rombongan Bai Duan mengambil jalan memutar yang lumayan jauh menuju kota.
Sepanjang perjalanan itu Bai Duan memberikan beberapa nasehat pada Qin Mu agar berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu, seperti tindakan meledakkan jalan setapak itu yang pada akhirnya membuat warga kota kesusahan saat ingin pergi ke perkebunan mereka.
'Benar-benar orang yang baik hati...' batin Qin Mu sedikit miris dengan pemikiran Bai Duan.
Andaikan jalan itu tidak di ledakkan olehnya maka yang akan di ledakkan adalah mereka berdua yang tentunya para pembunuh akan menarik mereka sebelum meledakkannya.
Qin Mu tidak pernah habis pikir jika dia akan di ceramahi oleh orang yang bahkan usianya tidak setengah dari usianya dulu, memikirkannya membuat Qin Mu sedikit merasa Deja Vu.
"Pendekar muda, apa tidak berlebihan membuat muridmu membawanya?" Kakek tua itu merasa kasihan dengan Qin Mu yang membawa keranjang buahnya padahal sedang terluka.
"Tidak apa-apa, kakek! Aku ini seorang pendekar dan sudah seharusnya begini..." Qin Mu berkata cepat, sedikit takut jika Bai Duan menambah ceramahnya dan membuat telinganya semakin panas.
"Wahh, gege sangat hebat!" Bao'er memuji kekuatan Qin Mu yang mampu membawa keranjang besar yang satu kali lipat besarnya dari tubuhnya.
"Bukan apa-apa..." Qin Mu tertawa kecil.
Bai Duan menambahkan jika walau terluka sekalipun asalkan kaki dan tangan masih utuh tidak ada waktu bagi pendekar pemula untuk bermalas-malasan dalam berlatih dan itu berlaku untuk Qin Mu.
Lagi pula Bai Duan tahu jika luka muridnya itu tidak ada masalah lagi setelah di obatinya dengan herba khusus luka di tambahkan dengan tenaga dalamnya.
"Rupanya aku tidak menyadari jika guru Bai ini cukup kejam juga..." Qin Mu bergumam pelan hampir tidak terdengar.
"Wahh, gege kejam? Kenapa?" Bao'er menutup setengah mulutnya saat mendengar sesuatu dari mulut Qin Mu.
Qin Mu tersedak oleh nafasnya sendiri setelah mendengarnya, dia langsung menggeleng cepat dan menjelaskan jika dirinya tidak mengatakan apapun. Sementara Bai Duan sudah menatapnya dengan alis mengerut.
Lama berjalan akhirnya rombongan mereka tiba juga di kota Ji An dan penjaga disana membiarkan mereka masuk setelah Bai Duan membayar satu keping perak sebagai biaya masuk.
Bai Duan dan Qin Mu membawakan dua keranjang penuh buah-buahan itu sampai ke tempat bangsawan yang akan menikah sebelum pergi melanjutkan perjalanan mereka.
"Ingat, di masa depan jika membantu seseorang harus sampai tuntas dan sepenuh hati! Kau mengerti, Xiao Mu?" Bai Duan mengelus hangat kepala muridnya itu.
"Murid akan mengingatnya guru!" Qin Mu menyatukan tinjunya walau di dalam hatinya sudah merasa hampir depresi mendengar semua ceramah Bai Duan hampir sepanjang jalan.
Ke duanya kemudian kembal menggunakan tehnik meringankan tubuh untuk segera sampa ke kediaman Pasukan Bulan Terang sebelum malam hari tiba yang memang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.
☆☆☆
"Ohh, tuan muda sudah tiba?" pemimpin pasukan Bulan Terang meletakkan cangkir araknya saat mendapatkan laporan dari bawahannya.
Bawahannya itu mengangguk lalu mengatakan jika Bai Duan datang bersama seorang anak berusia sekitar sepuluh tahunan dan saat ini menunggunya di pintu masuk kediaman Pasukan Bulan Terang.
"Hebat juga dia!" pemimpin pasukan berdecak pelan, "Apa mungkin dia di usir karena memiliki anak haram?" tanyanya setelahnya.
"Itu... Bawahan kurang mengerti...." sahut bawahannya dengan wajah kurang enak hati.
"Pastilah begitu!" Tukas pemimpin pasukan, dia kemudian memerintahkan bawahannya untuk membersihkan kediaman kiri untuk Bai Duan tinggali.
"Baik!"
Setelah bawahannya pergi, pemimpin pasukan menyempatkan diri untuk menghabiskan arak terakhirnya dengan santai lalu pergi menyambut Bai Duan.
Sementara itu Bai Duan masih menunggu dengan tenang di luar gerbang kediaman Pasukan Bulan Terang namun tidak dengan Qin Mu yang sudah mati-matian menahan dirinya agar tidak menghajar anggota pasukan yang kurang ajar itu.
'Bisa-bisanya dia tidak marah sedikit 'pun?! Arggh... Aku hampir gila!' Qin Mu berteriak kesal di dalam hatinya.
"Ada apa denganmu, Mu'er?" tanya Bai Duan setelah melihat tingkah Qin Mu yang terus menggertakkan giginya.
"Tidak, aku tidak apa-apa guru Bai!" jawab Qin Mu sambil berusaha terseyum dan berekspresi biasa saja.
Bai Duan mengangguk pelan, dia hampir mengira jika Qin Mu sedang sakit perut dan hendak buang hajat lantaran terus menggertakkan gigi sesekali menghentakkan kakinya.
Tidak lama pemimpin pasukan datang dengan wajah santai dan masih sempat melemparkan tawa kecil kepada Bai Duan, yang membuat Qin Mu semakin kesal adalah tidak adanya permintaan maaf setelah membuat mereka menunggu hingga hampir larut malam.
"Sudah lama tidak bertemu paman Bai Yan..." Bai Duan menyapa dengan hangat.
Pemimpin pasukan mengangguk pelan, "Kau bertambah rupawan tuan muda, lalu ini..." dia melirik Qin Mu yang terus menatapnya sinis.
"Ahh, ini muridku. Xiao Mu!" Bai Duan mengenalkan Qin Mu.
"Hahah, aku pikir dia anakmu tuan muda!" pemimpin pasukan tertawa keras.
'Anak kepalamu, pak tua bangka!' lagi-lagi Qin Mu mengutuk di dalam batinnya.
Tidak banyak penyambutan yang diberikan oleh pemimpin pasukan, dia hanya mengantarkan Bai Duan ke kediaman yang akan di tinggalinya dan karena hari sudah larut malam terpaksa Qin Mu beristirahat di ruangan Bai Duan.
Sepanjang malam itu Bai Duan sering batuk menandakan jika luka dalamnya kembali bertambah parah setelah pertarungan dengan pembunuh sebelumnya.
Qin Mu mengepalkan tangannya sambil bertekat akan membantu menyembuhkan Bai Duan bagaimanapun caranya setelah dia berhasil memulihkan sedikit kekuatannya di masa depan.