Katarina Scotlyn, dia seorang wanita malam yang menghabiskan waktunya untuk memuaskan ranjang laki-laki hidung belang atau sekedar menjadi penari latar. Berawal dari kedua orangtuanya yang dengan sengaja merusak tubuhnya dengan menjual tubuhnya ke laki-laki di luar sana membuat hidupnya kini menjadi liar.
Ia hidup bebas bagaikan kupu-kupu di tengah gelapnya malam. Hingga kebebasannya itu harus berhenti saat ada seorang laki-laki yang menawarkan uang 2 juta dolar hanya untuk sebuah keturunan. Tanpa tahu siapa laki-laki itu dan akan dibawa kemana dirinya nanti, ia menerima tawaran itu.
Hingga sampailah ke sebuah rumah yang cukup besar. Disanalah dia tahu siapa laki-laki itu bahkan ia tahu jika dia telah memiliki seorang istri yang sangat baik.
Niat awal Katarina memang hanya untuk melakukan tugasnya sebagai wanita sang pemilik rahim pengganti. Tapi ketika ia hamil, bagaimana jika dirinya mencintai laki-laki yang menghamilinya? Apakah Katarina akan merebut dia dari istri sahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Erlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana kedua
"Lalu jika bukan dia, siapa?" tanya Brendan yang seketika membuat Sabrina terdiam. Ia memikirkan siapa dalang di balik masalah kecil ini?
"Entahlah aku juga tidak tahu." Sabrina menggedikkan bahunya.
"Ya sudah jangan pikirkan itu lagi. Setelah ini aku akan memasang CCTV di dalam kamar kita," ucap Brendan menemukan solusi yang mungkin bisa menangani masalah tersebut. Siapa tahu kan jika kamar mereka telah terpasang CCTV akan memudahkan mereka berdua untuk menemukan pelaku yang sebenarnya. Dan solusi itu diangguki setuju oleh Sabrina.
"Jadi karena kamu belum tidur, bagaimana kalau kita olahraga," ucap Brendan sembari menaik-turunkan alisnya yang justru membuat Sabrina terkekeh. Ia pun kini melingkarkan tangannya di leher sang suami, menyembunyikan wajahnya di ceruk laki-laki itu sebagai jawaban atas permintaan Brendan barusan.
Brendan yang tentu tahu jika Sabrina menyetujui permintaannya, ia dengan semangat 45 mengangkat tubuh Sabrina, membawa istrinya itu menuju ke lantai dua dengan langkah lebar, sepertinya ia benar-benar tak sabar melakukan aktivitas olahraga itu.
Kepergian sepasang suami-istri itu tak lepas dari tatapan tajam milik Katarina. Kedua tangannya terkepal erat dengan rahang yang mengeras, menahan amarah yang siap untuk meledak kapan saja.
Ia sedari tadi berada di balik tembok yang menghubungkan antara ruang keluarga dan ruang tamu, tanpa sepengetahuan sepasang suami-istri itu. Dan sama seperti yang Sabrina lakukan, ia dengan sengaja begadang demi menguping serta melihat keributan yang akan terjadi diantara Sabrina dan Brendan seperti yang ia inginkan. Tapi harapan tinggal harapan, ekpektasi tak sesuai dengan realita yang terjadi. Bukannya melihat keributan yang akan mengakibatkan keretakan di dalam rumah tangga pasangan suami-istri itu, ia justru melihat keduanya tampak tenang, tidak lebih tepatnya Brendan yang jauh lebih tenang dari perkiraannya karena ia sempat melihat Sabrina tampak marah dan mengucapkan tuduhannya tadi dengan intonasi suara yang sedikit meninggi serta raut wajah yang berapi-api.
Katarina yang sebelumnya pernah mendapatkan perlakukan kasar dari Brendan, dan melihat karakter Brendan yang sering meledak-ledak kepada dirinya itu, membuat Katarina berpikiran jika Sabrina juga akan merasakan apa yang ia rasakan. Mendapatkan perlakuan kasar dari Brendan entah dari suara laki-laki itu yang meninggi atau dengan kekerasan fisik karena Sabrina berhasil membuat Brendan emosi dengan tuduhan tak mendasar Sabrina, tentang dirinya yang bermain api dengan wanita lain di luar sana. Terlebih kondisi laki-laki itu yang pastinya lelah karena baru pulang dari bekerja, yang Katarina anggap akan semakin mudah memancing emosi Brendan. Namun lagi-lagi ia melihat perlakuan berbeda dari Brendan kepada istrinya. Laki-laki itu lebih tenang menghadapi emosi Sabrina. Sungguh sangat berbeda saat menghadapi Katarina.
Tapi sayangnya, semua itu tak terjadi. Rencananya untuk membuat keduanya bertengkar hebat dan membuat mereka perlahan berpisah, gagal total!
Dan kegagalan itu lah yang memicu emosi di dalam diri Katarina. Terlebih amarahnya itu semakin membara saat ia melihat Brendan justru memangku tubuh Sabrina, mencium wajah wanita itu bahkan hampir mencumbu dia dan yang lebih parahnya lagi mereka akan melakukan hubungan badan malam ini. Sungguh hal itu benar-benar membuat hati Katarina mendidih seketika.
Dengan langakah lebar penuh kekesalan, Katarina kembali kedalam kamar yang selama beberapa bulan ini telah ia tempati. Dan sesaat ia sudah masuk kedalam kamar itu, luapan emosi yang ia pendam kini bisa ia keluarkan.
Brak!!!
Prang!
"Sial sial sial! Kenapa mereka masih saja akur?! Kenapa tidak ada perdebatan sama sekali diantara mereka berdua?! Kenapa hubungan mereka tidak merenggang?! Dan kenapa usahaku sia-sia?! Arkhhh sialan!" ucap Katarina penuh dengan umpatan.
"Kenapa wanita bodoh itu tidak menyangkal saja atas semua penjelasan Brendan! Kenapa proviksiku tadi tidak mempan kepada wanita itu! Arkhhh!" Katarina mendudukkan tubuhnya dengan kasar diatas ranjang yang sudah berantakan itu. Ia menjambak rambutnya, berharap kekesalannya itu bisa berkurang.
"Arkhhh! Bajingan! Jika seperti ini saja gagal, lalu apa lagi yang harus aku lakukan untuk menghancurkan hubungan mereka berdua?!" Katarina mengusap wajahnya dengan kasar. Rencana mudah yang ia yakini akan menghancurkan rumah tangga Sabrina dan Brendan nyatanya tak sesuai dengan ekspektasi Katarina. Dan karena kegagalannya itu ia harus memutar otak untuk memikirkan rencana lainnya.
"Rencana satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah dengan menyangkut pautkan anak ini," ucap Katarina yang terpaksa membawa nama janin yang tak bersalah itu kedalam rencananya kali ini.
Katarina menundukkan kepalanya, mengusap perutnya yang sudah mulai menonjol itu.
"Aku harap kamu bisa bekerjasama denganku. Aku yang telah mengandungmu sekarang ini, jadi apa yang aku perintahkan harus bisa kamu lakukan. Jika kamu mau rewel entah itu membuat aku mual muntah atau lebih parah dari mual dan muntah, tidak masalah untukku, lakukan saja karena dengan kamu rewel dan menyusahkan aku, aku bisa menarik perhatian ayahmu. Aku akan memanfaatkan keadaan itu untuk mengikat ayahmu agar terus bersamaku dan tentunya juga bersamamu. Bukankah kamu merindukan ayahmu? Dan bukankah selama kamu hadir di dalam sini, ayahmu itu tak pernah menyentuhmu walaupun lewat usapan di perutku ini? Jadi jika kamu ingin merasakan kehangatan ayahmu itu, turuti kemauanku! Dan jika kamu tidak mau menurutiku maka jangan salahkan aku jika akan menyakitimu," perintah Katarina seakan-akan janin yang masih di dalam perutnya itu sudah berada di hadapannya.
Namun entah seakan mengerti dengan ucapan sang ibu, janin itu tampak memberikan sinyal sebuah kedutan di perut Katarina yang membuat wanita itu tersenyum miring.
"Bagus, jika kamu mengerti akan perintahku. Dan lakukan itu di pagi hari nanti," ucapnya lagi. Lalu setelahnya, Katarina menegakkan kepalanya kembali dengan tatapan mata yang terarah ke pintu kamar yang ia tutup rapat.
"Aku pastikan rencanaku kali ini tidak akan gagal. Dengan dalih aku mengidam dan mengalami morning sickness parah, aku akan membuat Brendan berada disisi terus menerus. Tidak akan pernah aku biarkan dia mengalihkan perhatiannya dariku. Dan untuk Sabrina, aku rasa wanita itu justru akan mendorong suaminya untuk melakukan semua keinginanku, mengingat wanita itu sendiri yang meminta Brendan meniduriku hanya demi seorang keturunan. Dan sekarang keturunan mereka sudah ada di dalam sini yang pastinya Sabrina tak akan tega jika memilih egois mempertahankan Brendan disisinya," ujar Katarina dengan seringaian iblis di wajahnya.
Membayangkan rencananya kali ini yang ia pastikan akan berhasil, perlahan meredam luapan amarah yang sedari tadi berkobar di dalam hatinya. Ia bahkan kini merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak perduli seberapa berantakan kamarnya saat ini, Katarina memilih untuk memejamkan matanya mencoba untuk tidur agar ia bisa menyambut paginya dengan rencana baru yang sudah tersusun di dalam otaknya.
aku juga merasa kasihan terhadap Sabrina ,seterpuruk apa ketika rahim nya diangkat , tapi di sisi lain aku ingin Jeral di asuh Katarina hiks 😭😭😭🙏
untuk Brendan terserah mau koma beberapa bulan pun gak peduli aku
kecuali kalau Brendan tiba tiba amnesia dan melupakan Sabrina ah puas sekali aku 😂🤗
kayak dapat lotre berhadiah hahaha
yes Jeral milik Kat
pada tetua yang terhormat terimakasih juga