Srikandi, gadis cantik yang selalu digilai oleh setiap laki laki yang mengenalnya. karena selain cantik dan berasal dari keluarga kaya, Srikandi juga baik hati.
Srikandi memiliki seorang kekasih bernama Arjun, tetapi tanpa sepengetahuan Srikandi ternyata Arjun hanya menganggap dirinya sebagai piala yang dia menangkan dari hasil taruhan saja. Arjun tidak pernah mencintai Srikandi yang dia anggap sebagai gadis manja, yang hanya bisa mengandalkan harta orang tua.
Padahal tanpa sepengetahuan Arjun, Srikandi juga memiliki sebuah bisnis tersembunyi, yang hanya ayahnya saja yang tahu.
Saat Srikandi tahu kebusukan Arjun, Srikandi tidak marah. Srikandi bersikap santai tapi memikirkan sesuatu untuk membalas sakit hatinya. Apalagi hadirnya pria tampan yang mencintai dirinya dengan tulus. menambah lengkap rencana Srikandi.
Arjun harus merasakan juga mencintai tapi tidak di anggap. Arjun harus tahu rasanya patah hati .
ikuti kisah selengkapnya dalam
BUKAN LELAKI CADANGAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Revisi
Sore hari tiba. Jam pulang bagi para pekerja membuat setiap lorong perusahaan menjadi sedikit berjubel. Berdesakan ingin menjadi yang tercepat untuk berada di luar.
Begitupun dengan Yudistira. Pria itu yang biasanya mengemasi pekerjaannya dengan tenang kini malah seperti sedang dikejar deadline.Berjalan keluar dari ruangannya sambil bersiul-siul.
Asisten Arkan mengernyit heran. Pasalnya sejak beberapa hari yang lalu, bahkan sampai jam makan siang tadi sang CEO tampan itu masih tampak bermuram durja.
“Kau boleh pulang, aku akan pergi sendiri!” titah Yudistira pada asisten pribadinya itu.
“Saya tidak keberatan mengantar kemanapun Anda pergi,” jawab Arkan. Sebenarnya bukan tidak keberatan, akan tetapi sekretaris tampan itu merasa penasaran.
Tidak biasanya Tuan Yudistira membenahi penampilan sebelum keluar dari ruangan. Rambutnya tampak lebih klimis dari beberapa menit yang lalu. Begitupun dengan pakaiannya yang telah berganti menjadi baru dari yang seharian dikenakannya.
Sikap sang Tuan tampak seperti seorang remaja sedang jatuh cinta. Apa mungkin tuanya ini sedang hendak berkencan. Arkan tahu kalau tuannya sedang dekat dengan Nona Srikandi. Tapi Dia juga tahu bagaimana status hubungan mereka. Status yang membuat tuannya sering sekali uring-uringan, dan akhirnya dia yang terkena dampaknya.
Lalu apa yang sekarang ini membuat tuannya itu terlihat begitu bahagia. Sayangnya seribu kali pun dia bertanya-tanya dalam hati, Dia takkan menemukan jawabannya.
Jika saja dia bisa mengikuti tuannya....
***
“Apa kau sudah siap?”
Setelah meninggalkan tanda tanya besar di benak sekretarisnya, sekarang di sini lah Yudistira berada, di ruang kerja milik Srikandi.
Sudah kebiasaan pria itu masuk tanpa mengetuk pintu, membuat Srikandi yang baru saja selesai berkemas mendongakkan kepalanya.
“Humm. Aku sudah siap. Sekarang katakan ke mana kau akan mengajakku.” Srikandi melangkah mendekati pria yang baru saja datang dan mengulurkan buket bunga yang tak pernah ketinggalan.
“Bunga yang sangat cantik, terima kasih.” Srikandi mendekatkan bunga itu ke hidungnya untuk menghirup harumnya.
“Tetap tak ada yang secantik dirimu.” Yudistira menatap wajah Srikandi lekat-lekat.
Srikandi melengos menyembunyikan wajahnya yang memerah mendengar ucapan Yudistira. Dia tidak tahu kenapa dia harus tersipu.
“Ke mana pertama kali kau berkencan dengan pria pecundang itu?” Yudistira bertanya sambil meraih pinggang Srikandi dan membawanya berjalan. Tak kan dia biarkan wanita itu menjauh sedikitpun darinya. tidak peduli meski wanita itu terus berusaha untuk melepaskan tangannya.
“Pertama ataupun terakhir tempat yang aku kunjungi dengannya tak pernah jauh dari mall, pusat perbelanjaan ataupun restoran tempat makan. Yang pasti selalu ke tempat di mana dia bisa meminta traktiran tanpa terlihat nyata.” Srikandi mendengus kesal mengingat kebodohannya di masa lampau.
“Tapi untuk apa kau bertanya tentang hal itu?” postur Yudistira yang lebih tinggi darinya membuatnya harus mendongak jika ingin bertatapan.
Yudistira menghentikan langkahnya membuat langkah Srikandi juga ikut terhenti. Ditatapnya lekat wajah wanita yang kini ada di hadapannya.
“Kita akan ke tempat yang pernah kau kunjungi dengan ya. Aku ingin menghapus semua kenangan yang pernah kau ciptakan dengannya. Lalu membuat kenangan baru tentang Kita. Hanya kita. Kau dan Aku.”
Srikandi tertegun. Ada yang berdesir dalam hatinya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Yudistira. Se cinta itukah laki-laki ini padanya.
***
Srikandi menghentikan langkahnya saat mereka berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan. Yudistira yang di tangan kiri dan kanannya tertenteng beberapa paper bag ikut berhenti. Mengernyit heran menatap ke arah Srikandi. Kenapa harus berhenti?
Yudistira mengikuti arah pandang Srikandi. Dalam jarak beberapa langkah di hadapannya dari arah berlawanan, Yudistira melihat seorang laki-laki yang dia cap sebagai pecundang sedang melangkah perlahan menuju ke arah mereka.
“Arjun..?”
“Si pecundang..!”
Srikandi dan Yudistira bergumam bersamaan.
Tangan Yudistira yang sedang menenteng paper bag mengepal erat. Tiba-tiba ada bara api yang menyala di sorot matanya. Baru saja dia hendak bersenang-senang bersama dengan Srikandi. Kini ada gangguan datang. Apakah setelah melihat pria itu Srikandi juga akan mengabaikannya kembali seperti sebelumnya.
Srikandi berdecih sinis melihat pria yang berjalan ke arahnya terlihat salah tingkah. Ada seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya. Tampak tangan Arjun mencoba melepaskan tangan yang melingkar di lengannya. Tetapi Si wanita tampak enggan untuk terlepas.
Yudistira tersentak kaget, menoleh ke arah Srikandi yang tiba-tiba melingkarkan tangan di lengannya. Sejak kapan wanita di sampingnya ini mau bersentuhan fisik. Bahkan ketika berjalan berdua saja, tak pernah sekalipun mereka bergandengan tangan. Srikandi wanita yang memegang teguh prinsip no skinship before married.
Yudistira kembali mengalihkan pandangannya pada Arjun yang jarak mereka semakin dekat. Kini dia tahu apa alasan Srikandi melakukan itu. Tampaknya Srikandi sedang ingin menunjukkan sesuatu pada Arjun.
Yudistira tersenyum dalam hati. Entahlah. Tiba-tiba saja dia jadi berharap sering-sering saja dia dan Srikandi bertemu Arjuna. Dengan begitu akan sering pula Srikandi menggenggam tangannya.
“Honey..?”
Rahang Yudistira mengeras. Ingin rasanya menonjok mulut Arjun, yang dengan lancang memanggil Srikandi dengan sebutan seperti itu.
Srikandi enggan menjawab sapaan Arjun. Dia menelisik wanita yang kini tengah bergelayut manja di hadapannya. "Siapa ya dia? Aku seperti pernah melihatnya?" pikirnya.
"Ahh,,, dia rupanya" batinnya lagi saat mengingat di mana pernah melihat wanita itu. Itu adalah wajah dalam foto yang pernah diberikan oleh orang yang dia suruh untuk mencari semua informasi tentang Arjun.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” ucap Arjun yang masih nampak salah tingkah. Wajahnya memerah dan nada suaranya pun gugup.
“Aku lebih tidak menyangka. Bukankah Kamu bilang Kamu begitu sibuk? Tapi ternyata masih bisa juga jalan-jalan shopping shopping.” Srikandi berbicara sambil menatap lengan Arjun yang masih digenggam oleh wanitanya.
“Ah, itu…” Arjun menggaruk tengkuknya mencoba merangkai kata. Srikandi menanti alasan apa yang akan diberikan oleh Arjun. “Ini, Aku sedang mengantarkan adik sepupuku.”
"Oh, adik sepupu, ya?" Srikandi bisa melihat, wanita di samping Arjun tampak tidak terima diperkenalkan sebagai adik sepupu.
"Ita6. Adik sepupu. Oh, iya. Dia siapa?" Arjun bertanya dengan mata menelisik barang belanjaan yang berada di tangan Yudistira. Dari paper bag-nya saja Arjun tahu itu adalah barang-barang branded.
"Siapa ya? Sayang, kamu siapa nya aku?" Srikandi menoleh ke arah Yudistira. "Ah, kalau dia adik sepupunya, berarti Kamu kakak sepupuku kan?" Srikandi tertawa geli sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Aku tidak mau jadi Kakak sepupumu!" Sentak Yudistira tidak terima. Enak saja dia dianggap sebagai kakak sepupu. Tidak, dia tidak mau.
Arjun mengerutkan kening. Merasa bingung dengan interaksi antara Srikandi dengan pria di sampingnya. Jadi sebenarnya pria yang saat ini sedang bersama ke Srikandi itu siapanya.
Naomi, wanita yang bersama Arjun, sejak tadi bahkan pandangannya tak lepas dari wajah Yudistira. Sorot matanya menyimpan kekaguman. Jika tadi tak ingin tangannya terkepas dari lengan Arjun, kini dia sendiri yang melepaskan diri. “Pria ini tampan sekali. Dan tampaknya juga lebih kaya dari Arjun.”
“Jadi Anda adalah kakak sepupu Srikandi? Salam kenal saya Arjun.” walaupun dia tidak mengenal siapa pria yang berada di samping Srikandi tetapi dia mencoba bersikap ramah.
Yudistira hanya menatap saja ke arah tangan Arjun dan membiarkannya menggantung di udara. Tidak sudi pria itu menerima jabat tangan Arjun.
Arjun menarik kembali tangannya yang menggantung tak bersambut. Dalam hati dia memaki kakak sepupu Srikandi yang begitu sombong dan angkuh. Apalagi tatapan mata pria itu terlihat seperti orang jijik, sungguh membuatnya merasa direndahkan.
“Salam, Tuan. Perkenalkan, saya Naomi. Adik sepupu Arjun.” Wanita yang bersama Arjun, dengan penuh percaya diri dan suara yang mendayu-dayu mencoba menarik perhatian Yudistira.
“Ayo pulang. Aku sudah kehilangan selera untuk jalan-jalan.”
Sayangnya uluran tangannya pun tak bersambut. Jangankan bersalaman berkenalan. Yudistira bahkan menatapnya jijik.
Arjun menatap kepergian dua orang itu dengan hati penuh tanda tanya. siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Srikandi?