Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.
Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.
Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.
Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Gelora Kalang Kabut
Sementara itu, setelah Faheera berhasil meminjam uang dari Moya, malam itu juga Faheera bergegas dan pamit pada Moya untuk melakukan perjalan lagi.
"Sebetulnya elu mau ke mana? Kasih tahu gue supaya gue tidak khawatir dengan keadaan elu. Apalagi elu muntah dan mual-mual seperti ini, sebaiknya elu istirahat semalam di rumah gue, besok baru berangkat." Moya mendesak Faheera untuk tinggal sehari saja di rumahnya, karena kondisi Faheera yang terlihat mengkhawatirkan.
"Tidak, Moy, gue harus segera pergi agar Mas Lora tidak menemukan gue. Semua keluarga itu pada dasarnya tidak suka gue, buat apa gue harus tinggal di sini lagi. Gue harus pergi dari sini," ucap Faheera seraya berpamitan pada Moya.
"Terimakasih, uang pinjamannya Moy. Nanti gue balikin kalau gue sudah kerja dan duitnya ada."
"Iya, elu jangan pikirkan apa-apa dulu, yang penting elu selamat dan aman. Kenapa juga elu tidak pakai cincin kawin itu supaya bisa elu jual kalau elu kesusahan."
"Sengaja gue tinggal, supaya mereka tidak berpikiran buruk lagi sama gue, dan menganggap gue menikah dengan Mas Lora karena ingin morotin hartanya. Kalau begitu, gue pamit, Moy. Gue takut keberadaan gue diketahui mereka." Faheera segera pergi dengan sedikit tergesa, di sana dia mencegat ojek entah tujuannya ke mana.
Moya menatap penuh rasa kasihan kepergian Faheera, bahkan uang yang dipinjam Faheera ia relakan dan tidak perlu dikembalikan.
"Sungguh nasibmu tidak secantik paras wajahmu Fa. Semoga kamu selamat di manapun berada," doa Moya untuk Faheera.
Obrolan terakhir tadi bersama Moya, masih terngiang-ngiang di telinga Faheera yang kini sedang melakukan perjalanan dengan kereta api dengan tujuan Yogyakarta.
Kereta tujuan Yogyakarta tiba tepat jam 06.00 WIB. Masih pagi, dan Faheera masih harus melakukan perjalanan lagi ke suatu tempat. Tempat di mana warung kondang milik saudara jauh ibunya berada.
Setahunya saudara ibunya itu berada di daerah Malioboro dan berjualan di sana. Namun, sayangnya saat becak yang mengantar Faheera ke sana, warung kondang milik saudara jauh ibunya sampai siang hari belum juga ketemu.
Faheera sudah lelah dan perutnya lapar, jalan satu-satunya adalah berjalan menuju mesjid di alun-alun Malioboro untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Faheera menaiki tangga mesjid dan menduduki salah sudut teras mesjid. Sejenak dia meraih Hpnya. Faheera menatap Hp itu yang sejak kemarin dia matikan data seluler maupun dayanya, sehingga siapapun tidak ada yang bisa menghubunginya.
Dengan perasaan yang campur aduk, Faheera menyalakan Hp yang layarnya sudah retak itu. Layarpun menyala dan mulai terkoneksi.
Faheera membuka pesan WA yang membuat tangannya bergetar. Dia takut pesan itu dari Gelora. Belum sampai Faheera membuka aplikasi WA, tiba-tiba sebuah panggilan berdering.
Sebuah nama tertera di sana, nama Gelora. Faheera mendiamkan panggilan itu, dia sama sekali tidak mau mengangkatnya. Karena rasa sakit hatinya pada Gelora masih terasa dan membekas.
Panggilan itu berhenti, Faheera puas, lalu dengan rasa ingin tahu Faheera membuka pesan WA yang ternyata dipenuhi pesan dari Gelora.
"Heera kamu di mana, pulang Sayang. Aku tahu sebetulnya kamu tidak salah. Maafkan aku."
Salah satu pesan dari Gelora berhasil dibacanya, tapi Faheera tidak bermaksud untuk membalasnya. Dia justru tersenyum getir membaca kalimat yang dituliskan Gelora. Gelora meminta pulang dan memanggil sayang. Kemarin-kemarin ke mana, Gelora justru sibuk dengan pengaruh dari ibu dan adiknya.
Saat Faheera akan mematikan daya Hp, tiba-tiba sebuah panggilan dari Gelora masuk. Faheera bermaksud menekan tombol reject. Namun sayang, Hp itu secepat kilat disambar seseorang. Mungkin jelasnya jambret.
"Ehhhh, jambretttt, jambretttt. Kembalikan Hp saya. Tolong, tolong Mas," teriak Faheera meneriaki jambret yang berlari dengan cepat paa sebuah kerumunan.
Faheera berdiri terpaku di depan mesjid, sementara sebagian orang yang mendengar teriakannya, kembali menghampiri dan turut prihatin dengan apa yang menimpa Faheera.
"Wis toh Mba'e. Hpnyo wis dicolong uwong, sing sabar yo." Salah satu ibu-ibu menghibur dengan bahasa jawa yang logatnya medok. Meskipun Faheera bukan orang Jawa, akan tetapi ia sedikit paham dengan bahasa Jawa. Faheera sangat sedih, ingin rasanya dia menjerit dan menangis sejadi-jadinya di tempat itu.
Faheera kembali duduk di sudut teras itu, perasaannya yang sedih masih saja belum hilang. Sekarang dia bingung harus berbuat apa tanpa Hp itu.
"Keroncong reogggg."
Perut Faheera tiba-tiba saja berbunyi keroncong dan reog Ponorogo. Dia sangat lapar, disertai kepala yang pusing, sepertinya Faheera lebih memilih berdiam diri dulu di teras mesjid daripada berjalan tanpa tujuan yang jelas.
"Wedang jahe, sepertinya enak dan bisa mengganjal perutku yang lapar dan meredakan kepala yang sakit." Hati Faheera berbisik, seraya berdiri menghampiri penjual wedang jahe.
"Berapa Mas?" tanyanya.
"Regane pitung ewu," jawab si penjual. Faheera segera mengeluarkan uang sepuluh ribu, lalu penjual itu memberi kembalian tiga ribu beserta semangkuk wedang jahe.
"Matur nuwun sanget, Mas'e," balasnya dengan sedikit bahasa jawa yang dia bisa. Faheera kembali ke sudut teras tadi dan mulai mencicipi wedang jahe yang dibelinya barusan.
***
Sementara itu, di kota Jakarta yang hawanya panas, Gelora kelabakan saat dirinya mencoba menghubungi Faheera dan Hp nya aktif. Namun saat diangkat, terdengar suara Faheera menjerit dan meneriaki jambret. Sepertinya Faheera kena jambret Hp nya.
Gelora frustasi, dia sangat khawatir dengan keadaan Faheera. Dengan sedikit panik, Gelora mencoba melacak keberadaan Faheera lewat GVS. Beruntung, Hp milik Faheera masih bisa dilacak keberadaannya.
"Yogyakarta? Faheera di Yogyakarta? Aku harus segera mencarinya ke sana. Mungkin saja dia sedang di Malioboro." Gelora bicara sendiri dan segera bergegas keluar rumah. Tujuan dia kini bandara Soekarno-Hatta, untuk itu dia meminta Pak Arman sang supir tembak untuk mengantarnya ke bandara Soetta.
Sepanjang jalan ke bandara, Gelora menghubungi teman-temannya yang kebetulan ada di kota gudeg itu, berharap Faheera bisa ditemukan oleh salah satu temannya di sana.
Hanya satu jam saja, pesawat yang membawa Gelora ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta sampai. Gelora segera mencari taksi dan mencegatnya. Beruntung dia segera menemukan taksi. Tujuannya ia arahkan ke Malioboro.
Gelora turun, tepat di depan masjid alun-alun Malioboro. Ia segera bergegas menuju kerumunan dan melihat satu per satu orang di sana. Belum menyerah, Gelora masih mencari ke tempat lain. Setiap kerumunan dia datangi tidak putus asa.
Tiba waktunya sholat Zuhur, Gelora istirahat sejenak menuju Mesjid. Dia ambil wudhu dan melaksanakan sholat Zuhur. Sementara itu, tepat di belakang shafnya Gelora, hanya dihalangi tirai bambu, Faheera baru saja menyudahi sholat Zuhur. Untuk sejenak dia akan tiduran di dalam Mesjid sampai menunggu hari teduh.
"Lebih baik aku istirahat dulu dan tiduran di sini, nanti sore setelah teduh aku akan berjalan kembali mencari kafe yang mungkin menerima pekerja baru. Cuci piring juga tidak masalah," bisiknya dalam hati sungguh-sungguh.