Amalia, Anak gadis yang bekerja di salah satu perusahaan ternama diKota itu, keberuntungan telah berpihak kepadanya karena dengan ini dia akan mampu membayar utang budi kepada Pamannya yang telah merawat dirinya selama dia kecil hingga sekarang, Amalia adalah sosok gadis cantik dan periang, senyuman indah akan melelehkan kaum hawa. Amalia telah bekerja keras selama beberapa tahun ini dan akhirnya bisa mencapai ke tahap ini, yaitu posisi sekretaris bos keduanya. Walau sekretaris kedua Amalia tetap bersyukur.
Hingga suatu hari Amalia di kagetkan kedatangan mamah yang tidak lain istri paman nya, mendorong Letizia agar mau menjadi istri pria kaya, agar bisa menolong, usaha mereka yang lagi di ambang kebangkrutan. Amalia menolak apa lagi dia tidak mengenal pria yang akan menjadi Suaminya. Jihan mamah Amalia, membujuk Amalia dan mengimingi perkataan yang meluluhkan hati Amalia. Dengan berat hati Amalia menerima dan pasrah.
APAKAH AMALIA BERHASIL MENJALANI RUMAH TANGGA BARUNYA ATAU TIDAK??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pulang
Amalia sangat ketakutan melihat Peter, Amalia mengikuti Peter kembali ke kamar inap mereka sepanjang perjalanan tidak ada percakapan. Setibanya Peter menutup pintu sangat keras membuat jantung Amalia seraya mau melompat.
"Kau mau menjual tubuh mu hah...?", bentak Peter, hati Amalia teriris mendengar perkataan Peter.
"Kita pulang aku sudah muak dengan ini semua", ucap Peter emosi, Amalia menurut dan mulai mengemasi barang miliknya, barang Peter pihak hotel yang melakukannya.
Amalia menitikkan air matanya ketika mengemasi pakaian miliknya. Pelayan hotel sekilas melirik dan iba dengan Amalia, pelayan tersebut tahu jika Amalia sedang memiliki masalah dengan Peter. Pelayan tersebut tidak berani berkata apa-apa dengan Amalia dan fokus bekerja.
"Terimakasih sudah membantu saya mbak", ucap Amalia.
"Tidak masalah Nona muda, sudah tugas kami", ucap para pelayan yang berkisar 3 orang.
"Baiklah terimakasih sekali lagi, kalian boleh keluar", ucap Amalia tidak bersemangat. Para pelayan pergi dan Amalia dadanya tiba-tiba sesak, Amalia berusaha menahan namun sakit itu tetap malah semakin membuatnya tidak bisa bernafas.
"Ahk...!", erangnya Amalia terjatuh di lantai sambil memegang dadanya, wajahnya sudah sangat pucat dan keringat bercucuran.
"Ayah ibu tolong Amalia sakit sekali", ucapnya, Amalia melihat botol air mineral di meja dan berusaha mengambil dengan ini rasa sesak di dadanya akan berkurang, Amalia berhasil meraih botol air mineral milik Peter dan meminumnya sangat cepat.
Amalia menstabilkan pernapasannya dan bersandar di dinding kamar tersebut, perlahan sakit di dada Amalia berkurang, satu jam kemudian Peter kembali dan melihat Amalia sudah siap.
"Semua sudah siap Tuan muda", ucap Amalia tenang karena dia ingat dadanya bisa-bisa kambuh lagi.
"Baik kita berangkat sekarang...!", ucap Peter tanpa melirik Amalia sama sekali.
"Baik Tuan muda", Amalia dan Peter keluar dan menuju tempat mobil mereka berada, Rafles melihat Amalia dan Peter dan menghampiri.
"Nona Amalia", panggilnya. Amalia dan Peter melihat bersamaan.
"Tuan muda Rafles bagaimana ini?", ucapnya dalam hati sambil melirik Peter.
"Kalian mau kembali?", tanyanya.
"Iya kami mau kembali", jawab Peter tidak suka.
"Tapi tunggu, Tuan Peter bolehkah saya bisa mengobrol dengan Nona Amalia sebentar?", wajah Amalia pucat kala Peter menatapnya sangat tajam.
"Bersikap baiklah kau jika tidak akan ku habisi Rafles", sorot mata itu membuat nyali Amalia menciut.
"Baik...!", Amalia semakin gugup.
"Nona Amalia...!", panggil Rafles, Peter sudah masuk ke dalam mobil
"Maaf Tuan saya harus masuk Tuan muda saya sedang menunggu ku", ucapnya gugup.
"Tunggu, jika kamu tidak mau memberikan Nomor kamu, ini kartu nama saya, aku akan selalu welcome jika kamu butuh bantuan", Amalia merasa bersalah dan rasanya air matanya keluar mendengar perkataan Rafles.
"Baiklah Tuan muda tapi saya tidak janji, Permisi", Amalia masuk ke dalam mobil dan duduk di depan dan Peter di belakang.
"Wanita yang sangat unik aku cinta kamu Amalia", ucap Rafles. Di dalam mobil Amalia terdiam dan Peter memperhatikan dengan wajah keras.
"Rafles dia tidak henti-hentinya mengganggu Amalia bagaimana ini?", batin Peter. sedangkan Amalia merasa tidak enak kepada Rafles, karena dia sudah berumah tangga. Di perjalanan pulang Amalia pergi ke Toilet pesawat. Amalia meminum obat mengurangi nyeri di dadanya. Amalia membeli dengan bantuan pelayan Hotel.
"Aku harap aku baik", gumamnya