Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Akhir Masa Kecil
Julukan itu terus terngiang di kepala Arda.
monster kecil valdarez.
Bahkan setelah lelaki bertopeng hitam menghilang ke dalam kegelapan malam, kata-kata itu tidak ikut pergi.
Mereka tetap tinggal.
Menempel di pikirannya.
Mengganggunya.
Mengikutinya ke mana pun ia melangkah.
Arda berdiri sendirian di halaman belakang selama beberapa menit.
Mungkin lebih lama.
Ia tidak menghitung.
Angin malam terasa dingin.
Namun pikirannya jauh lebih dingin daripada udara di sekitarnya.
Monster.
Ia tidak pernah ingin menjadi monster.
Tidak pernah bermimpi menjadi penerus dunia mafia.
Tidak pernah bercita-cita memimpin organisasi kriminal.
Tidak pernah menginginkan semua kekacauan ini.
Ia hanya ingin hidup normal.
Seperti anak-anak lain.
Pergi ke sekolah.
Bermain bersama teman.
Pulang ke rumah.
Mengeluh soal tugas.
Memikirkan masa depan.
Hal-hal sederhana yang kini terasa seperti kehidupan orang lain.
Karena hidupnya sudah berubah.
Dan mungkin tidak akan pernah kembali.
Saat Arda kembali masuk ke dalam rumah, hampir semua lampu telah dimatikan.
Rumah persembunyian terlihat tenang.
Namun ketenangan itu hanyalah ilusi.
Semua orang tahu perang masih berlangsung.
Hanya menunggu waktu sebelum serangan berikutnya datang.
Di koridor lantai dua, Arda bertemu Elena.
Gadis itu tampaknya baru selesai membantu bagian medis.
Ketika melihat wajah Arda, ia langsung mengernyit.
"Kau tidak tidur lagi."
Arda tersenyum tipis.
"Bisa ditebak?"
"Sudah sangat jelas."
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang keluarga kecil.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Keheningan di antara mereka terasa nyaman.
Bukan keheningan yang canggung.
Melainkan keheningan dua orang yang sudah terlalu lama melewati masa sulit bersama.
"Aku bertemu dia lagi."
ucap Arda akhirnya.
Elena langsung tahu siapa yang dimaksud.
"Lelaki bertopeng?"
Arda mengangguk.
"Apa yang dia katakan?"
Arda terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan.
"Dia bilang aku monster."
Elena menatapnya.
Kemudian menggeleng.
"Dia salah."
Arda tertawa hambar.
"Bagaimana kalau dia benar?"
Elena tidak langsung menjawab.
Ia memikirkan pertanyaan itu dengan serius.
Karena ia tahu.
Arda tidak sedang bercanda.
"Aku melihatmu setelah kejadian di gudang."
ucap Elena.
"Aku melihat bagaimana kau tidak bisa tidur."
"Aku melihat bagaimana kau menyalahkan dirimu sendiri."
"Aku melihat bagaimana kau masih memikirkan orang yang kau bunuh."
Arda diam mendengarkan.
"Monster tidak melakukan itu."
lanjut Elena.
"Monster tidak peduli."
"Monster tidak merasa bersalah."
"Monster tidak takut menyakiti orang."
Tatapan Elena bertemu dengan tatapan Arda.
"Dan kau masih peduli."
Untuk beberapa saat Arda tidak mampu menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ia ingin mempercayai kata-kata itu.
Sangat ingin.
Namun dunia tempat mereka hidup jarang memberi pilihan mudah.
Keesokan paginya.
Sebuah kabar baru datang.
Dan seperti kebanyakan kabar akhir-akhir ini...
Kabar itu buruk.
Salah satu tempat persembunyian kecil milik Valdarez ditemukan kosong.
Semua orang di dalamnya menghilang.
Tanpa jejak.
Tanpa perlawanan.
Tanpa penjelasan.
Ravian membaca laporan itu beberapa kali.
"Ini tidak masuk akal."
gumamnya.
Kael setuju.
Karena lokasi tersebut hanya diketahui segelintir orang.
Sangat sedikit orang.
Terlalu sedikit.
"Itu berarti kebocoran masih ada."
ucap Kael.
Ruangan langsung hening.
Karena semua orang memahami arti kalimat tersebut.
Pengkhianat belum ditemukan.
Dan selama pengkhianat masih bebas...
Tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Arda berdiri di dekat jendela ruang kerja.
Kini ia tidak lagi terkejut mendengar kata-kata seperti itu.
Tidak lagi terkejut mendengar laporan kematian.
Tidak lagi terkejut mendengar kabar pengkhianatan.
Dan saat menyadari hal itu...
Ia merasakan sesuatu di dadanya.
Kesedihan.
Karena beberapa bulan lalu dirinya pasti akan bereaksi berbeda.
Beberapa bulan lalu dirinya masih anak-anak.
Sekarang?
Bahkan ia tidak tahu dirinya masih bisa disebut anak-anak atau tidak.
Siang hari.
Kael memanggil Arda ke ruang latihan pribadi.
Tempat itu kosong.
Tidak ada Darius.
Tidak ada Ravian.
Hanya mereka berdua.
"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
ucap Kael.
Nada suaranya serius.
Sangat serius.
Arda mengangguk.
Kael berjalan mendekati rak kayu tua di sudut ruangan.
Kemudian mengambil sebuah kotak kecil.
Kotak yang tampak sangat tua.
Tepinya mulai aus.
Warnanya memudar.
Namun jelas dirawat dengan baik.
Kael membawa kotak itu ke tengah ruangan.
Lalu meletakkannya di depan Arda.
"Apa ini?"
tanya Arda.
Kael menatap kotak tersebut beberapa saat.
Seolah sedang melihat masa lalu.
Kemudian menjawab.
"Peninggalan Leon."
Jantung Arda langsung berdetak lebih cepat.
Perlahan ia membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat beberapa benda.
Jam tangan lama.
Sebuah cincin.
Dan sebuah surat yang sudah menguning dimakan waktu.
Arda menatap surat tersebut.
Tangannya sedikit gemetar.
Karena ia mengenali tulisan itu.
Tulisan Leon.
Ayahnya.
"Kapan surat ini ditulis?"
tanya Arda pelan.
"Beberapa bulan sebelum dia meninggal."
jawab Kael.
Arda langsung membuka surat itu.
Matanya bergerak membaca setiap baris.
Dan semakin jauh ia membaca...
Semakin berat napasnya.
Karena surat itu memang ditujukan untuknya.
Leon menulis tentang banyak hal.
Tentang kesalahan yang pernah ia lakukan.
Tentang pilihan-pilihan buruk yang ia sesali.
Tentang dunia mafia yang telah merenggut terlalu banyak hal dari hidupnya.
Namun ada satu bagian yang membuat Arda berhenti membaca.
Satu bagian yang membuat matanya terasa panas.
Jika kau membaca surat ini, kemungkinan besar aku tidak ada di sisimu lagi.
Dan jika itu terjadi, maka aku gagal melakukan satu hal yang paling penting.
Menjadi ayah yang cukup baik untukmu.
Arda menunduk.
Tangannya mencengkeram kertas itu lebih erat.
Aku tidak pernah ingin kau mewarisi dunia ini.
Aku tidak pernah ingin kau tumbuh dengan darah dan kekerasan.
Aku ingin kau memiliki hidup yang lebih baik daripada hidupku.
Tapi terkadang dunia tidak memberi kita pilihan.
Arda merasakan tenggorokannya mengeras.
Karena untuk pertama kalinya...
Ia mendengar isi hati Leon yang sebenarnya.
Bukan pemimpin mafia.
Bukan sosok yang ditakuti orang.
Melainkan seorang ayah.
Surat itu berakhir dengan satu kalimat sederhana.
Namun kalimat itu menghantam Arda jauh lebih keras daripada apa pun.
Apa pun yang terjadi nanti, jangan kehilangan dirimu sendiri.
Ruangan menjadi sunyi.
Sangat sunyi.
Kael tidak mengganggunya.
Ia hanya berdiri di sana.
Memberi Arda waktu.
Karena ia tahu.
Beberapa luka tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.
Hanya bisa diterima.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Menjelang sore.
Arda kembali ke halaman belakang.
Tempat yang kini terasa seperti satu-satunya lokasi yang masih memberinya ketenangan.
Ia membawa surat itu bersamanya.
Duduk di bawah pohon tua.
Dan memandang langit.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Ia tidak memikirkan perang.
Tidak memikirkan pengkhianat.
Tidak memikirkan musuh.
Ia hanya memikirkan ayahnya.
Dan ibunya.
Tentang semua hal yang telah hilang.
Tentang semua hal yang tidak bisa kembali.
Tentang masa kecil yang perlahan menjauh.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Masa kecilnya tidak berakhir malam ketika ia membunuh seseorang.
Tidak juga saat seseorang mencoba menembaknya.
Tidak juga ketika perang dimulai.
Masa kecilnya berakhir jauh lebih pelan.
Sedikit demi sedikit.
Saat ia kehilangan rasa aman.
Saat ia kehilangan keluarganya.
Saat ia dipaksa tumbuh lebih cepat daripada yang seharusnya.
Dan sekarang...
Ia akhirnya menerima kenyataan itu.
Arda menutup mata.
Menarik napas panjang.
Lalu membuka mata kembali.
Tatapannya berbeda.
Lebih tenang.
Lebih kuat.
Bukan karena ia sudah tidak takut.
Melainkan karena ia memahami ketakutan itu.
Dan memilih terus berjalan meskipun ketakutan masih ada.
Di kejauhan.
Di balik pepohonan.
Seseorang memperhatikan semuanya.
Mantel hitam.
Topeng gelap.
Lelaki misterius itu.
Ia melihat Arda beberapa saat.
Kemudian mengangguk pelan.
Seolah baru saja memastikan sesuatu.
Lalu menghilang.
Sementara itu...
Arda tetap duduk di bawah pohon.
Tanpa menyadari bahwa sebuah babak baru dalam hidupnya akan segera dimulai.
Karena perang belum selesai.
Pengkhianat belum ditemukan.
Dan rahasia orang kelima masih menunggu untuk diungkap.
Namun satu hal telah berubah selamanya.
Anak laki-laki yang dulu berusaha bertahan hidup...
Kini telah menjadi pewaris keluarga Valdarez yang sesungguhnya.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪