Hahh.... hahh...
arrkkkkhh!! Ampun!! ampun!! sakit sekali!!
kumohon, aku mohon ampun buuu....
Suaraku bergetar memohon ampun pada ibu Tiriku yang menjambak rambutku dan menampar wajahku berkali-kali. Tatapannya yang tajam dan pukulannya yang kasar tak akan ku lupakan bahkan sampai aku mati.
ini kah takdirku? aku hanya ingin hidup bahagia, meski hanya sehari saja. Jika aku hidup kembali, kumohon Tuhan, Langit, Dewa atau apapun itu, kumohon berikan aku setetes kebahagiaan agar dahagaku terpuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Virus Botan
Juan berlari menuju kamar majikannya, masalah tabib dia serahkan pada penduduk.
"Tuan, penduduk berkumpul di depan kediaman, mereka mengkhawatirkan kondisi nyonya," ucap Juan.
"Mereka bahkan membawa banyak obat untuk membantu nyonya," terang Juan bahkan sebelum Evan mengijinkannya berbicara.
Brakk!!
Pintu dibuka dengan kasar. Tampak Evan keluar dari dalam kamar dalam keadaan kacau. Pakaiannya compang-camping bahkan rambutnya terlihat kacau, " apa kau bilang!?"
"warga sampai berkumpul!? Bagaimana bisa? Bukankah mereka membenci istriku!?" Tanya Evan tak habis pikir.
Juan sempat terdiam saat mendengar sebutan Evan pada sang Duchess, tapi sedetik kemudian dia kembali tersadar.
"Semua terjadi karena kebaikan nyonya dan ketulusan nyonya untuk membantu desa ini pulih dari kemiskinan, meski belum ada hasil nyata, tapi niat nyonya dan semangat nyonya telah menggerakkan hati warga perbatasan,"
"Seharusnya hari ini adalah duel antara ksatria Lala Land dengan dataran Kiros, tapi karena nyonya jatuh sakit, pangeran mahkota Aaron Maltis menunda duel sampai batas yang tidak ditentukan," terang Juan.
Deghh!!!
Evan tidak tahu apa-apa, dia hanya menerima laporan dari Tristan tentang gambaran besar kegiatan Shuvin, siapa sangka yang dilakukan Shuvin lebih dari yang dia pikirkan.
"Jadi dia jatuh sakit karena mengambil tanggung jawab itu?" Tanya Evan dan diberi balasan anggukan kepala oleh Juan.
Evan syok, dia benar-benar menyesali semua kebodohannya selama ini. Rasa takut dan rasa tidak percaya membuatnya menutup mata akan kehadiran Shuvin di sisinya.
Dia berjalan mendekati jendela, jelas dia melihat penduduk berbaris di sana dengan perasaan gelisah.
Evan memilih keluar dan menemui penduduknya. Dengan perasaan kacau dan penampilan yang kacau dia kini berdiri di hadapan para warga.
"Itu Duke!"
" Duke keluar, tapi penampilannya sangat kacau!"
"Jangan bilang terjadi sesuatu pada Duchess!"
"tidak! Aku tidak siap mendengar kabar buruk!"
Mereka semua bergemuruh, merasa takut akan kehilangan sosok Duchess penuh tawa itu.
"Salam Kemakmuran Lala Land," seru para penduduk memberi salam pada Duke.
"Kondisi Duchess memang kurang baik, tapi aku akan memastikan bahwa dia akan kembali bersama kita setelah dirawat dengan baik,"
" Oleh karena itu, kembalilah ke kediaman kalian, dan berdoalah untuk keselamatan Duchess,"
"Kediaman akan langsung memberikan kabar begitu Duchess sembuh!" Ucap Evan.
Mereka terlihat kecewa tapi juga pasrah dan lega mendengar Duke akan menjaga sang Duchess dengan baik.
"Baiklah Duke, kalau begitu kami undur diri, mohon menjaga Duchess kesayangan kami dengan baik!" Ucap mereka sebelum semuanya bubar dan kembali ke kediaman mereka.
"Duchess tidak akan jatuh sakit jika Duke memperhatikannya sedikit saja!"
"benar, keadaan Duchess seperti ini karena Duke!"
"Kasihan sekali Duchess, padahal kemarin saat Pangeran Aaron berkunjung, beliau tertawa bahagia bahkan seperti anak kecil, tapi sekarang beliau jatuh sakit!"
"Ku harap Tuhan melindungi sang Duchess!"
Para warga dengan lantang membicarakan Evan yang memang bersalah. Tetapi Evan memilih diam dan tidak mempermasalahkan kekecewaan warganya padanya. Dia sadar bahwa dirinya jugalah yang membuat istrinya jatuh sakit seperti ini.
Tak butuh waktu lama beberapa penduduk datang bersama Baroness Olivia ditemani Baron Greek. Mereka tiba dengan membawa peralatan medis milik desa juga milik Olivia.
Dengan langkah terburu-buru mereka masuk ke kediaman dan langsung memeriksa kondisi Shuvin.
Evan, ketiga dayang dan para pelayan menunggu dengan khawatir di depan pintu masuk kamar. Hati mereka gelisah dan tubuh mereka tak tenang.
Di saat yang sama, Han tiba-tiba datang dengan membawa laporan.
" Duke, pangeran Aaron tiba bersama tabib pribadinya, beliau ada di depan, "
"Katanya gejala yang dialami oleh Duchess Shuvin mirip dengan gejala sebelum ibu sang pangeran meninggal, pangeran juga pernah mengalaminya, beliau khawatir," ucap Han.
Hati Evan menjadi gelisah. Di satu sisi dia cemburu melihat Aaron dekat dengan istrinya sedang di sisi lain dia khawatir akan keadaan istrinya.
"Apa dia bisa dipercaya?" Tanya Evan.
"Beliau bersedia diborgol jika anda tidak yakin tuan," balas Han.
Evan menghela nafas berat, dia mengangguk memberi ijin," biarkan dia masuk, tak perlu diborgol karena istriku percaya padanya," ucap Evan.
Aaron kembali lagi ke desa itu dengan membawa tabib.
Flashback
"Kak, bisa ku lihat lehermu? Ini mungkin tidak sopan, tapi aku ingin memastikan sesuatu, sebab gejalamu sangat familiar bagiku," ucap Aaron seraya menunjuk jemari Shuvin yang terjangkit ruam aneh di setiap ujung nya.
Shuvin menatap Aaron," apa kau tahu sesuatu?" Tanya Shuvin.
Aaron tampak resah," gejala ini, mirip dengan gejala virus Botan yang membunuh ibuku dan sempat terjangkit padaku," terang Aaron.
Shuvin terhenyak, virus Botan? Baru kali ini dia mendengar virus itu, di dunia modern tidak ada virus seperti itu, terlebih gejala yang Shuvin alami lebih mirip Virus COVID-19 yang membunuh jutaan populasi di dunia. Tetapi anehnya gejala Shuvin tidak menular.
"Virus Botan? Apa itu?" Tanya Aaron.
"Virus akibat bersentuhan dengan hewan pengerat, tetapi terkadang akibat bulu hewan yang menempel di pakaian, mendiang ibuku sangat sensitif dengan bulu hewan, ternyata seseorang menggunakan kelemahan ini untuk membunuhnya," terang Aaron.
"Bulu hewan? Hewan apa maksudmu? Seingatku aku hanya alergi Kacang Kenari dan makanan laut, selebihnya belum pernah ada kasus," ucap Shuvin.
"Virus ini masih dipelajari, tidak menular antar manusia, tetapi menular melalui bulu hewan, mungkin saja tempatmu membeli pakaian atau pelayanmu atau siapapun di sisimu tidak higienis dan sudah terjangkit virus ini," ucapnya.
Shuvin tidak sejenak, dia tahu bahwa bulu hewan pengerat akan menyebabkan sebuah masalah. Tetapi dia tidak menyangka, buku yang sengaja dia telan beberapa hari lalu ternyata memberikan efek samping ini pada tubuhnya.
"Lilian Smith, jadi ini tujuanmu? Membunuh tanpa menyentuh korban? Kau licik, tapi kau tidak akan bisa mengalahkan aku!" batinnya penuh emosi.
"Cepat lihat leherku, apa gejalanya Sama!" Ucap Shuvin segera duduk di atas kasur meski kepalanya terasa berat dan pusing.
Shuvin menyingsingkan rambut peraknya yang berkilau, dengan teliti Aaron melihat kulit leher wanita itu. Benar saja, ada bercak merah seperti gumpalan darah di bagian leher Shuvin, ukurannya kecil dan berjumlah sangat banyak.
"Ini gejalanya!! Ini benar Virus Botan!" Ucap Aaron panik.
Mendengar Aaron panik, Shuvin menatapnya dengan santai, " tenanglah, jika kau tahu obatnya, datanglah besok, virus ini juga harus kita selesaikan, jangan sampai tersebar ke seluruh negeri!" Ucap Shuvin.
"Tapi kak... Bagaimana kalau kau ikut denganku ke Kerajaan Maltis, lebih cepat lebih baik, aku takut terjadi sesuatu padamu!" Ucapnya khawatir.
Shuvin menggelengkan kepalanya," tidak Aaron, reputasimu akan buruk di mata rakyatmu, lagipula aku lebih nyaman di wilayah kekuasaanku, jika ingin berkunjung ke negerimu, aku harus bersama suamiku," tuturnya lembut memberi pengertian pada Aaron.
Aaron panik, kematian ibunya disebabkan virus yang sama, " kalau begitu, besok aku akan datang, aku akan membawa penawarnya!" Ucap Aaron.
Flashback end
...****************...
Uhukk... Uhuk... Uhukk...
"Arrkhhh.... Sakit..... Sakit.... Hiks hiks hiks.... Jangan pukul lagi... Kumohon ..." Gumaman lirih terus keluar dari bibir Shuvin. Wanita itu menangis dan mengigau bahkan tak kunjung sadarkan diri karena virus yang menggerogoti tubuhnya.
Baroness Olivia sudah berusaha yang terbaik. Dia dikejutkan dengan gejala aneh yang dialami oleh Shuvin.
" Ini virus berbahaya, tidak menular melalui manusia tetapi melalui bulu hewan, nyawa nyonya dalam bahaya!"
"Kita harus mencari penawarnya dari kerajaan Maltis atau York!" Ucap Baroness Olivia khawatir.
Dia sudah memberikan obat penurun demam juga penghilang rasa sakit, tetapi semua itu sama sekali tidak berguna. Shuvin terus gemetar bahkan menggelinjang hebat tetapi tak kunjung sadarkan diri.
Tatapan khawatir dan takut tergambar jelas di wajah Baron dan istrinya.
Pintu kamar dibuka, tampaklah pangeran Aaron masuk bersama tabib kerajaan Maltis.
"Tuan, nyonya, biar tabib yang saya bawa memeriksa kak Shuvin ahh.. maksud saya Duchess," ucap Aaron dengan sopan.
Greek dan Olivia saling melemparkan pandangan, mereka terkejut melihat sosok Aaron d sana.
"Ya-yang mulia Pangeran Mahkota Maltis, ba-bagaimana anda tiba di sini!?" Ucap Greek dengan wajah terkejut.
Penasaran ....
T O P banget !!!!