Raisa mana uang hasil jualanmu hari ini. Saat Mas Iwan melihat Raisa sedang menurunkan bahan - bahan makanan dari sepeda motornya. Habis mas," jawab Raisa singkat. Kamu itu ya suka banget capek - capek kalau hasilnya gak ada sama sekali. Mendingan gak usah kamu kerjakan!!! buang - buang waktu kamu dan juga buang - buang gas aja. Gas ibu jadi cepat habis karena kamu boros!!! Mas gimana to, gas juga tiap habis aku juga yang beli. Mana pernah ibu beli gas. Semua alat masak juga aku yang beli. Kompor mamaku yang kasih ya. Jangan lupa ya mas!!! Rumah yang kamu tempati saat ini juga rumah Mama aku!!! Harusnya kamu, ibu dan juga adikmu bersyukur sudah aku tampung dirumah ini. Dan satu lagi uang yang kau nikmati bersama ibu dan adikmu itu hasil jerih payahku bekerja di pabrik selama ini!!!1 Kamu hanya pengangguran pemalas yang sukanya memanfaatkan uang istri," seru Raisa penuh penekanan sambil berlalu meninggalkan Mas Iwan sendiri di teras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AULIA KHAIRIN NISA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Mana Raisanya cepat. Dea mau minta motor yang dipinjam sama Raisa. Balikin sekarang. Bawa kesini malah kabur lagi!!!
Heh anak kecil, yang sopan kamu kalau bicara sama orangtua. Kamu dan keluarga kamu itu hanya numpang hidup di rumah yang saya beli buat anak saya," jawab Papa Raisa penuh penekanan.
Apa - apaan rumah Raisa. Ini tuh rumah yang beli Mas Iwan, Masnya Dea. Yang numpang hidup itu Raisa bukan kami ya," jawab Dea semakin menantang tak tahu malu.
Iwan mana. Saya mau ngomong," titah Papanya Raisa.
Sebentar Dea, panggilkan dulu.
Mas, Mas, Mas Iwan ada yang mau ngomong nih," teriak Dea memanggil kakaknya itu.
Siapa," tanya Iwan heran.
Nih, ngomong sendiri saja. Dea males," jawab Dea menyerahkan ponselnya langsung pergi ninggalin Iwan masuk ke kamarnya lagi.
Halo, siapa ya," tanya Iwan dari seberang ponsel.
Iwan. Tolong ajarkan adik kamu itu sopan santun. Kalian itu sudah saya kasih tumpangan. Dan hidup kalian itu sudah enak. Tidak usah beli rumah buat tinggal. Sudah ada saya dan mamanya Raisa yang kasih, adik kamu bisa sekolah dari sd, smp sampai sma pun semuanya dari gaji anak saya Raisa.
Semua keperluan ibu kamu, dan juga keperluan kamu juga semuanya dari gaji anak saya yang telah kamu rampas. Kamu kira saya tidak tahu semua kebusukan kamu dan keluarga kamu. Hah!!!," bentak Papa Raisa murka.
Saya akan panggil pengacara keluarga saya. Untuk menuntut kamu dan juga ibu serta juga adik kamu Dea yang gak punya sopan santun sedikit pun itu.
Segera kembalikan semua gaji anak saya, yang kamu rampas selama lima belas tahun ini.
Kalau tidak, jangan anggap remeh saya. Saya akan jebloskan kamu dan juga keluarga kamu ke dalam penjara. Jangan kamu kira saya tidak punya bukti. Saya punya semua bukti kejahatan kamu.
Termasuk perselingkuhan kamu dengan pelacur kamu yang bernama Romlah itu. Ingat Iwan segera kembalikan semua gaji anak saya selama lima belas tahun yang kamu rampas.
SEGERA!!!
Jangan harap kamu akan lolos dari penjara!!!," seru Papa Raisa amarahnya sudah memuncak di atas ubun - ubun, dengan kasar langsung memutuskan saluran telepon dan melempar ponsel milik anaknya itu di depan Raisa.
Baru kali ini Raisa melihat kemarahan dan amukan dari Papanya, Raisa sendiri juga sangat terkejut. Padahal Papanya itu terkenal orang yang sangat baik, suka senyum, suka bercanda, tak pernah marah, dermawan, tegas.
Baru kali ini selama Raisa dilahirkan. Raisa baru melihat kedahsyatan dari kemurkaan Papa kandung Raisa itu.
Raisa hanya diam membisu saja. Mematung. Melihat kemurkaan Papa Raisa itu ke Iwan suaminya dan juga Dea adik iparnya itu.
Papa, Raisa langsung pecah tangisannya dan memeluk Papanya erat.
Papanya langsung mengelus lembut rambut hitam lurus milik anak gadisnya itu. Dibiarkannya Raisa menangis di dalam pelukannya itu.
Pa, maafin Raisa ya. Raisa sudah gak sanggup lagi. Hidup dengan para benalu itu," isak tangis Raisa sudah tidak bisa Raisa bendung dan pada akhirnya mereka lolos dengan sendirinya keluar berlari - larian keluar di paras ayunya itu dan hidungnya yang mancung.
Ya sayang Papa paham kok, selama ini itu Papa hanya diam saja dan cuma bisa mengawasi kamu saja dari kejauhan, karena kamu bahagia sayang.
Walaupun sebenarnya hati kecil Papa menolak melihat kamu hidup dengan mereka.
Tak ada salahnya kamu urus Syarikat Pak Anggoro di samping itu kamu bisa aja jalankan perniagaan yang kamu minat , Pak Anggoro tidak punya anak yang lain selain hanya Raisa ,
Berbaktilah kepada orang tua selagi mereka masih hidup Raisa jangan terlalu megah .