Kata siapa lahir di keluarga tentara itu menyenangkan? Tidak sama sekali!
Aku, Anjali Geraldyn ingin sekali kabur dari rumah karena peraturan ketat yang ada di dalam rumah.
Bahkan aku harus menikah dengan seorang tentara yang usianya jauh dariku! Aku benar-benar membenci hal ini!
Apakah lambat laun Anjali akan mencintai suami tentaranya itu?
Cerita ini di buat hanya untuk penghibur semata, tidak ada niat untuk menyinggung orang, pangkat dan pekerjaan sama sekali✌🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOMBONG
Arumi masuk ke dalam rumahnya dengan hati-hati karena dia takut kalau orang tuanya sudah kembali dari kantor.
Arumi dan Arsena bisa saja menipu siapa pun, tapi tidak dengan kedua orang tua mereka. Tentu saja, karena orang tua mereka sudah mengenal mereka sejak lahir jadi tidak bisa tertipu walaupun Arumi dan Arsena memiliki wajah bagai pinang di belah dua.
Dengan jalan berjinjit seperti maling, Arumi memasuki kamarnya. Dia yang awalnya mau bernapas lega seketika terlonjak kaget saat melihat saudara kembarnya sedang duduk di tempat tidurnya.
“Kamu ngapain di kamar aku Sena? Sejak kapan?” tanya Arumi sambil melepaskan tas selempangnya dan menaruh kembali di tempatnya.
“Dari tadi! Aku penasaran banget, gimana ketemuannya? Lancar? Kamu udah nolak dia kan?” tanya Arsena dengan penuh semangat.
“Aku belum nolak dia, malah aku minta bertemu beberapa kali lagi agar bisa menilai dia baik atau tidak.” Balas Arumi.
“What!? Kenapa Rumi!?” Arsena syok mendengar jawaban dari Arumi.
“Kayaknya orangnya baik Sen, ganteng juga loh.” Ucap Arumi.
“Apa? Engga ah! Aku ga mau ya ga mau Rumi!” balas Arsena.
“Jangan bilang, kamu yang suka sama dia ya? yaudah ayo kita bilang sama mama dan papa kalo perjodohan ini buat kamu dan dia aja.” Lanjut Arsena.
“Tunggu Sena! Sebelum mengambil keputusan lebih baik kamu pikirin baik-baik, kamu harus ketemu dulu sama dia.” Ucap Arumi.
“Engga Rumi! Aku ga mau ketemu dia! Udah fix, kamu yang harus di jodohkan dengan dia!” tegas Arsena.
Arumi hanya menghela napas panjang, dia tidak tau harus membujuk Arsena seperti apa.
Arumi tau kalo Arsena sangat menyukai laki-laki tampan, jika perjodohan ini di pindahkan kepadanya, Arumi takut kalau saat hubungan mereka sudah dalam dan jauh, tiba-tiba Arsena menginginkan Arnold.
Tapi Arumi juga tidak ingin menolak jika dia yang di jodohkan dengan Arnold, karena dari perkenaan sikat tadi, Arumi bisa menilai kalau Arnold adalah laki-laki yang baik, sopan, dan sangat menghargai wanita, tentu saja Arnold adalah laki-laki yang sangat tampan dan sepertinya juga bertanggung jawab.
***
Hari ini adalah hari terakhir outbond, setelah melewati tiga hari yang cukup melelahkan dengan latihan fisik, di hari ke empat ini adalah jadwal mereka latihan menembak dan api unggun nanti malam sebelum besok mereka kembali ke rumah masing-masing.
“Morning Jel!!” seru Nurul yang pagi-pagi sudah berada di tenda Anjali.
Ya, semenjak kejadian hilangnya Anjali, Nurul jadi lebih sering menghampiri Anjali lebih dulu walau hanya sekedar menyapa.
“Lo pagi-pagi udah gangguin gue sih Nur!” protes Anjali.
“Ini bukan pagi lagi Jeli! Ayo cepet bangun, kita harus bersiap buat nembak!” ucap Nurul sambil menarik tangan Anjali agar bangun dari tempat tidurnya.
“Nembak apaan sih Nur?” tanya Anjali dengan malas.
“Kalo bisa sih gue maunya nembak cowok biar ga jomblo terus gue!” jawab Nurul asal.
“Gila lo Nur! Kayak ga laku aja lo.”
“Hahaha, kan emang ga laku, buktinya gue ga punya cowok Jel.”
“Karepmu Nur! Minggir lo, gue mau mandi!” ketus Anjali sambil tangannya menyuruh Nurul untuk pergi dari sana.
“Anjali emang ga bisa bergaul ya Nur? Lo ga batin emang tiap hari denger kata-kata dia yang kasar dan menyinggung perasaan gitu?” tiba-tiba saja seeorang berdiri di sebelah Nurul yang sedang menatap Anjali.
Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Nurul langsung menoleh ke samping dengan tatapan tidak suka.
“Maksud lo apa ngomong gitu?” ketus Nurul.
“Ya gue penasaran aja, kenapa sampe saat ini lo masih betah temenan sama dia? Karena dia terkenal? Percuma terkenal kalo attitude nya ga baik.”
“Attitude Jeli yang kayak gimana yang menurut lo ga baik?” tanya Nurul.
“Yah, dia sombong, mentang-mentang terkenal jadi dia sombong seperti itu!”
“Lo bahkan baru beberapa hari satu tempat sama dia tapi lo bisa nilai dia sombong? Hembat sekali!” seru Nurul sambil tertawa sinis lalu bertepuk tangan tidak ikhlas.
“Ga semua orang mudah bergaul kayak lo! Se enggaknya Jeli ga munafik kayak orang-orang yang mudah akrab dan tersenyum tapi di belakang ngomongin orang!” ketus Nurul.
“Gue bahkan ga pernah tuh denger Jeli ngomongin orang, malah kalo gue ngomongin orang, dia yang ngingetin gue buat berhenti.” Lanjut Nurul.
“Maksud lo? Gue munafik?!”
“Gue ga bilang lo munafik, lo sendiri yang bilang diri lo munafik.” Balas Nurul tersenyum mengejek lalu berjalan meninggalkan orang yang tiba-tiba bergosip tadi.
Hal itu membuat siswi yang tadi berbicara dengan Nurul menjadi kesal, namun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
Sejak tadi pembicaraan Nurul dan siswi itu di dengar oleh Radit tanpa sengaja, Radit baru tahu kalau ternyata ada banyak orang terutama wanita yang tidak menyukai Anjali.
Tapi menurut Radit, meremka semua bukannya tidak suka, hanya saja mereka iri dengan Anjali yang memiliki hampir semuanya.
Radit memutuskan untuk pergi dari sana, namun dia terkejut saat membalikkan tubuhnya, dia melihat Anjali sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
“K-kamu sejak kapan ada di sini?” tanya Radit namun Anjali tidak menjawab sama sekali.
“Bukannya kamu mau mandi? Kenapa malah ada di sini? Apa kamu mendengar semuanya?” tanya Radit kembali.
Lagi-lagi Anjali tidak menjawab, dia hanya diam sambil berjalan melewati Radit. Namun laki-laki itu langsung menmarik lengan Anjali membuat Anjali langsung menoleh ke arahnya.
“Lepas!” ketus Anjali.
“Saya ga akan lepas sebelum kamu jawab pertanyaan saya!” tegas Radit.
“Pertanyaan yang mana yang harus aku jawab!?’ tanya Anjali.
“Semua!”
“Ya, aku denger semuanya! Dari awal sampai akhir, puas!?” ketus Anjali.
“Apa kamu ga marah denger semuanya? Kamu harusnya marah sama orang itu, dia yang menilai kamu seenaknya padahal ga tau apa-apa!” ucap Radit.
“Apa kamu cuma mau bersabar setelah mendengar semua itu?” lanjutnya.
Mendengar ucapan Radit membuat Anjali kesal, dia langsung menepis tangan Radit dengan kasar dan berdiri tegak sambil menatap Radit dengan tajam.
“Apa peduli abang sama masalah aku? Ga semuanya harus aku jawab bang.” Ucap Anjali.
“Ada banyak orang yang ngomongin aku di belakang bukan hanya satu orang, aku ga bisa nutup semua mulut orang-orang itu, jadi akulah yang harus menutup mata dan telinga untuk pura-pura ga denger apa-apa!” lanjutnya.
Mendengar penjelasan Anjali membuat Radit terpaku, dia tidak percaya wanita yang dia anggap sebagai anak kecil ini ternyata memiliki sifat yang sangat dewasa.
“Ga ada lagi yang mau di bicarain kan? Aku harus cepat-cepat, aku ga mau di hukum karena terlambat.” Ucap Anjali yang langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam tenda.
Radit masih diam di tempatnya, dia terus menatap punggung Anjali yang sudah menghilang dari pandangannya.