menginjak usia pernikahan ke tahun ke lima. aku dan suamiku masih tinggal dirumah orang tua dari suamiku.
bersama dengan dua saudara ipar yang setiap hari tiada henti nya merengek pada suamiku untuk memenuhi gaya hidup mereka.
padahal mereka tau suami ku hanya seorang buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa, bahkan uang dapurpun aku hanya diberi separuh dari gajinya. itu pun masih untuk jajan anak anak kami juga untuk membeli listrik.
mau tau gimana kelanjutannya, ikutin terus ceritanya yaa .
terus dukung outhornya dengan like dan komen ya readers😋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22.
"maaf ya sayang, nanti mas akan bicara dengan ibu" kata mas Radit menenangkanku.
"iyaa mas, maaf ya aku sudah berlebihan" kataku pada mas Radit yang dibalas dengan anggukan kepala serta senyum tulus dari bibirnya.
"aku berangkat dulu ya sayang" kata mas Radit, aku pun menghampiri mas Radit dan menyalami punggung tangannya dibalas dengan kecupan dikening ku.
setelah selesai sarapan, aku memutuskan untuk menonton tv diruang keluarga sambil menemani Aska bermain.
tepat pukul setengah sepuluh terdengar ketukan pintu, aku pun bangkit dri duduk dan melangkah membuka pintu.
"assalamualaikum" salam orang yang tak lain adalah Mpok Juleha.
"waalaikumsalam Mpok, tumben nih main kesini" kataku mempersilahkan Mpok Juleha masuk, dan mengajaknya duduk diruang keluarga bersama Aska disana.
"iyaaa nih, biasa biar bisa gosip bareng hehehe" jawab Mpok Juleha,aku pun terkekeh kecil dibuatnya.
"Mpok,, Mpok kesini cuma buat gosip doang" kataku menggelengkan kepala.
"hehehe, namanya juga ibu ibu sar" jawab Mpok Juleha terkekeh.
"btw, tdi pagi ibu mertua kamu kedatangan tamu. perempuan cantik sekali sar, apa kamu tau?" lanjut mpok Juleha yang membuat ku seketika membisu.
"sar, sarii haloooo" lanjut mpok Juleha menggoyangkan bahuku karna tak ada respon dari ku soal pertanyaannya.
"eeehh iyaa Mpok, ada apa tadi?" tanyaku kembali pada Mpok Juleha.
"kamu ada apa sih sar? tadi tuh aku tanya kamu tau kalo tdi pagi ibu kamu kedatangan perempuan cantik sekali" tanya mpok Juleha kembali
"iyaa tau Mpok" jawab ku dengan lirih.
"oohh, siapa ya sar kira-kira perempuan itu?" tanya mpok Juleha lagi.
"dia mantan pacar mas Radit dulu Mpok" jawabku.
"oohh mantan pacar Radit, berarti tdi pagi mereka kesini dong sar?" tanya mpok Juleha dengan membulatkan mulutnya.
"yaiyaalah Mpok, makanya aku tau kalo tadi pagi ada perempuan cantik sama ibu mertuaku" jawabku pada Mpok Juleha dengan ketus. Mpok Juleha pun hanya terkekeh dengan jawabanku.
"waaaww gimana rasanya ketemu sama mantan pacarnya suami sar, pasti jedag jedug takut suaminya flashback ya!" kelakar Mpok Juleha yang langsung aku lempar menggunakan bantal sofa.
"jangan sembarangan Mpok" kataku dengan ketus.
"hehehe abis kamu gitu aja langsung cemberut, cemburu yaaa suaminya dicari sama mantannya hahahaha" kata Mpok Juleha semakin meledekku.
"mpoooookkk, jangan sampai aku suruh pulang lagi ya" kataku mengancam Mpok Juleha
"hehe oke oke sorry, btw gimana reaksi Radit sar?" tanya mpok Juleha penasaran.
"dih kepo banget deh" jawabku sinis.
"hehehe iyalaah, ceritaa dongg" mohon Mpok Juleha untuk menceritakan kejadian tadi pagi.
aku pun menceritakan kejadian tadi pagi ketika ibu bersama perempuan bernama saira itu datang kerumah ini, Mpok Juleha yang aku ceritakan menahan geram dengan tingkah ibu mertua.
"hati-hati sar, kayanya sebentar lagi ada drama perjodohan antara suami kamu dengan mantan pacarnya melalui ibu mertuamu" kata Mpok Juleha mengingatkan.
"maksudnya Mpok?" tanyaku yang tak paham dengan omongan Mpok Juleha.
"maksudnya begini sar, hati-hati jika ibu mertua sudah memasukkan perempuan lain kedalam rumah tangga anaknya berarti dia ada maksud tertentu" kata Mpok Juleha memperjelas perkataannya.
"maksud tertentu?" aku mengulang perkataan Mpok Juleha dengan perasaan bingung.
"iyaaaa, sudahlah semoga apa yang aku pikirkan ngga mungkin terjadi" kata Mpok Juleha kembali,aku pun hanya menganggukan kepala.
aku sebetulnya mengerti dengan perkataan Mpok Juleha, tapi aku berusaha menepisnya. aku percaya mas Radit tidak akan menduakan aku dan menghilangkan kepercayaan aku begitu saja, tapi ntah jika ibu mertua memaksa.
aku dan Mpok Juleha pun membicarakan hal lain yang bukan lagi seputar ibu mertua, kami mengobrol dan bergurau sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas. aku pun harus memasak makan siang untuk ku dan Aska. Aska pun sudah tidur siang dari pukul setengah sebelas siang tadi.
"Mpok aku mau masak, bantu aku mau?" kataku pada Mpok Juleha.
"mau dongg, mau masak apa kamu? apa kamu udah belanja bahan masakan?" tanya mpok Juleha sambil berjalan mengikutiku menuju dapur.
"sudahlah Mpok, aku kan harus berhemat untuk mencukupi segala kebutuhan perekonomian keluarga Mpok" kataku pada Mpok Juleha sambil mengambil bahan masakan yang berada dalam kulkas.
"oh iyaa ya sar, berat ya jadi kamu. suami ngaji ngga seberapa tapi harus dibagi-bagi" kata Mpok Juleha.
"yaa begitulah Mpok" jawabku sambil mengolah bahan masakan yang sudah aku siapkan.
aku dan Mpok Juleha pun berkutat didapur sampai jam menunjukan pukul setengah satu siang, aku pun membangun Aska dan menyurihkan sholat Zuhur kemudian makan siang bersama.
aku pun juga kembali kedalam kamar untuk melakukan sholat Zuhur, sedangkan Mpok Juleha sedang menata meja makan karna saat diajak sholat berjamaah dia berkata sedang berhalangan.
setelah selesai kami pun mekan siang bersama disertai canda dan tawa yang renyah dari Aska.
***********************************
sedangkan dirumah ibu Ningsih, suasana tampak tidak baik-baik saja. dia terus saja uring-uringan sejak pulang dari rumah kontrakan Radit, hingga membuat pusing seisi rumah. seperti gadis yang saat ini ada didepannya.
"ibu itu dari tdi ngomel-ngomel terus sih Bu, pusing dengerinnya" kata Sarah kepada ibu Ningsih.
"kamu tau sar, tadi pagi Radit dan sari membuat ibu malu didepan saira. benar-benar Kaka kamu itu sudah termakan dengan guna-guna dari sari, ibu harus menyembuhkannya" kata ibu mertua sambil terus mendumel.
"ibu yang bener saja, mana mungkin mbak sari seperti itu" jawab Safira menepis perkataan ibu Ningsih.
"anak kecil tau apa kamu!" jawab Bu Ningsih sedikit meninggi.
"terserah ibulah" jawab Safira lagi, kemudian dia pun melangkahkan kaki nya menuju kamar dimana tempat dulu sari dan Radit.