Karena ingin mendapatkan uang yang banyak, Brian nekat menculik bayi kembar crazy rich seorang janda bernama Diva. Brian sendiri tak tahu kalau bayi kembar yang diculiknya adalah anaknya sendiri atas hasil kesalahan semalam.
Awalnya Brian mengira semuanya bisa dilakukan dengan mudah, tetapi pada kenyataannya tidak. Bayi kembar Aron dan Alan bukanlah bayi biasa. Meski baru berusia 9 bulan, mereka sudah sangat pintar dan membuat Brian kewalahan.
Siapa yang menduga? Penculikan yang dilakukan Brian justru membawanya lebih dekat dengan si kembar sekaligus ibu mereka. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Terancam
...༻⎚༺...
Brian terdiam saat mendengar pertanyaan Diva. Jujur saja, alasan dia melindungi Alan dan Aron karena adanya rasa peduli. Brian sendiri tidak tahu kapan rasa kepeduliannya itu muncul.
Sepertinya jati diri Brian berperan penting terhadap hati nurani yang dirinya rasakan. Dia benar-benar tidak mau kedua darah dagingnya hidup sebatang kara seperti dirinya.
"Karena aku peduli." Brian menjawab pertanyaan Diva dengan singkat. Ia menatap perempuan tersebut dengan tatapan sayu.
Diva menarik sudut bibirnya ke atas. "Kenapa tiba-tiba? Bukankah penjahat sepertimu tak punya rasa peduli?" balasnya.
"Awalnya begitu. Tapi sekarang tidak. Dan satu hal lagi, sebenarnya kedatanganku ke sini bukan hanya untuk Alan dan Aron, melainkan juga karena ingin bertemu denganmu," ungkap Brian.
Diva menyilangkan tangan ke depan dada. "Kenapa tidak langsung menemuiku saja dari awal?! Kau tidak tahu betapa cemasnya aku saat..." Diva membekap mulutnya sendiri karena tak sengaja keceplosan. Dia tentu tidak mau Brian mengetahui kalau dirinya sempat khawatir karena menghilangnya lelaki itu.
"Oh... Jadi kau cemas?" Kini Brian yang menarik sudut bibirnya ke atas. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Diva.
"Jangan salah sangka! Aku cemas karena itu adalah hal wajar. Karena aku adalah manusia yang punya banyak emosi. Jadi aku mencemaskanmu saat tahu kalau kau tak kunjung kembali..." lirih Diva sembari tertunduk.
Brian tersenyum. Dia menatap wajah cantik Diva yang menunduk itu.
"Ya, tentu saja. Kecemasanmu itu hal wajar," ujar Brian berusaha memahami.
"Benar kan?" Diva mencoba bersikap santai. Entah kenapa dia merasa sedikit gugup. "Oh iya. Kau bilang tadi tujuanmu ke sini bukan hanya untuk Alan dan Aron, tapi juga menemuiku. Kenapa?" tanyanya.
"Karena kau mantan istri kembaranku. Aku butuh bantuanmu untuk mencari tahu apa yang terjadi di masa lalu. Jika benar aku saudara kembar suamimu, maka bagaimana bisa aku hidup sebatang kara selama ini? Keluargaku pasti sudah melakukan sesuatu," kata Brian panjang lebar.
Diva terdiam sepersekian detik. Dia merasa apa yang dikatakan Brian ada benarnya.
"Apa kau berniat kembali pada keluargamu?" tanya Diva.
"Entahlah. Mungkin bisa saja kalau memungkinkan. Yang jelas, aku ingin mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu," sahut Brian.
"Baiklah kalau begitu." Diva mengangguk pelan. Dia memberitahu kalau minggu depan ada acara pernikahan Bram. Diva mengusulkan Brian untuk ikut bersamanya ke sana. Dengan begitu, mereka bisa mencari tahu bersama-sama.
...***...
Malam telah tiba. Untuk pertama kalinya, Brian tidur di kamar Alan dan Aron. Dia menengok Alan dan Aron terlebih dahulu secara bergantian. Kedua bayi itu sama-sama tertidur pulas.
Setelah memastikan keadaan Alan dan Aron, Brian tidur ke sofa. Dia tak butuh waktu lama menunggu waktu untuk terlelap.
Ketika tengah malam, mata Diva terbuka lebar saat mendengar bunyi alarm yang menggema. Namun saat dia bangun, alarm itu sudah berhenti berbunyi. Diva menduga kalau Brian yang sudah mengatasinya.
Meskipun begitu, Diva tetap bangun. Hal utama yang dia lakukan adalah mendatangi kamar Alan dan Aron.
Diva kaget sekali saat melihat ada sekumpulan orang asing di lantai bawah. Orang-orang itu tampak membekuk para pelayan rumah Diva.
"Apa-apaan it--" perkataan Diva terpotong saat sebuah tangan membekap mulutnya. Pemilik tangan tersebut tidak lain adalah Brian.
"Tenanglah. Sepertinya orang-orang Jax Jones sudah menemukan jejak Alan dan Aron," bisik Brian.
Mata Diva terbelalak. Dia tentu di serang perasaan panik. Diva tepuk-tepuk tangan Brian yang menutupi mulutnya. Brian yang mengerti, segera menjauhkan tangan dari mulut Diva.
"Kita harus lapor polisi!" seru Diva dengan suara pelan sekali.
"Tidak! Jangan gila! Kita berhadapan dengan orang-orang Jax Jones sekarang. Dan mereka bukan penjahat biasa. Penjahat sepertinya pasti punya koneksi dengan polisi!" Brian berusaha memperingatkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Diva.
"Ayo kita amankan Alan dan Aron terlebih dahulu!" ucap Brian. Dia dan Diva bergegas mendatangi kamar Alan dan Aron. Mereka tentu melakukannya dengan hati-hati sekali.
Diva menggendong Alan, sedangkan Brian membawa Aron. Keduanya buru-buru membawa si kembar ke tempat aman.
"Kalian mau kemana? Serahkan dua bayi itu!" ujar lelaki asing yang baru saja masuk. Kedatangannya segera di iringi oleh rekan-rekannya yang lain.
Sayang sekali Brian dan Diva tidak sempat pergi. Keduanya membeku di tempat tatkala para anak buah suruhan Jax Jones memergoki mereka. Orang-orang suruhan Jax Jones itu semuanya menodongkan pistol ke arah Brian dan Diva.
Diva takut sekali. Seluruh tubuhnya gemetaran. Mengingat dia tidak pernah menghadapi pengalaman seperti ini sebelumnya. Diva hanya bisa mengharapkan bantuan Brian.